Connect with us

Sejarah

Gol Ke-200 Persebaya Di Liga 1

Published

on

Daftar Pencetak Gol Monumental Persebaya di Liga 1 (Grafis #StatsRawon)

Persebaya menang besar dengan skor 0-5 di pekan ke-19 BRI Liga 1 2022/23 atas tuan rumah Persita Tangerang di Indomilk Arena, Tangerang (18/01). Gol pembuka Tim Bajul Ijo dicetak oleh Marselino Ferdinan pada menit ke-27.

Gol ini dicetak melalui tendangan roket dari anak muda yang identik dengan jersey bernomor punggung tujuh. Tendangan khas seorang Marselino Ferdinan yang masih berusia 18 tahun. Disini mentalitas dan pengalaman berbicara. Selain proses gol yang indah, gol ini merupakan gol ke-200 Persebaya Surabaya sejak promosi dan berkompetisi di Liga 1 musim 2018. (dpp)

ASN Kemenkeu | Founder #StatsRawon | Anggota Bonek Writers Forum

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Sejarah

Aksi Boikot Sepak Bola di Surabaya Mei 1932

Published

on

Membaca berita hari-hari ini tentang Persebaya, ingatan melayang pada apa yang terjadi di persepakbolaan Surabaya 90 tahun yang lalu. Pada Mei 1932 terjadi peristiwa yang menggegerkan dunia sepak bola sekaligus dunia perpolitikan di Surabaya. Bayangkan, ada sebanyak 48 organisasi yang memboikot turnamen sepak bola antar kota, Stedenwedstrijden, yang digelar oleh Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB).

Kenapa memboikot? Karena ada tulisan Bekker, pegawai Soerabaia Voetbal Bond, di D’Orient edisi 2 April 1932 yang menyebutkan bahwa sepak bola adalah hak istimewa warga Eropa atau kulit putih. Oleh karena itu NIVB tidak perlu mengundang wartawan Sin Tit Po dan Pewarta Soerabaia, dua surat kabar berbahasa Melayu yang terbit di Surabaya, untuk meliput turnamen tersebut. Alasannya karena mereka sering mengritik sepak bola Belanda di tulisan-tulisan mereka.

Karuan saja tulisan bernada rasis itu direspon oleh Liem Koen Hian sebagai hoofdredacteur (pemimpin redaksi) koran Sin Tit Po. Ia menulis seruan boikot turnamen pada artikelnya di Sin Tit Po tanggal 14 April 1932:

Publiek boekan bangsa Eropa! Ingetlah selaloe itoe gebed: KITA TIDA NONTON STEDENWEDSTRIJDEN. Ini moesti djadi salah satoe batoe fondament dari itoe barisan bangsa berwarna.”

Harap maklum kalau darah Liem Koen Hian mendidih, karena ia sudah banyak dipengaruhi oleh ide-ide dr. Tjipto Mangoenkoesoemo mengenai Indisch Burgerschap, bahwa golongan peranakan, termasuk Tionghoa peranakan adalah juga bagian dari rakyat pribumi dan karenanya akan menjadi warga negara Indonesia jika bangsa Indonesia merdeka.

Provokasi Liem Koen Hian berhasil. Kawan dekatnya, Radjamin Nasution, pemimpin Soerabajasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB), cikal bakal Persebaya, mendukung idenya. Surat kabar Soeara Oemoem milik dr Soetomo, Koran Al Jaum milik Alamoedi dan kelompok Arab Surabaya mendukung seruan Liem Koen Hian tersebut.

8 Mei 1932, terlihat kesibukan di Nan Yang Societeit, tempat pertemuan komunitas Tionghoa di Surabaya yang didirikan oleh Liem Koen Hian. Di sana dilakukan rapat yang dipimpin oleh Liem Koen Hian dan dihadiri oleh wakil dari 48 organisasi di Surabaya. Mereka tengah merencanakan aksi besar berupa boikot.

Walaupun sempat ditegur Polisi Rahasia Hindia Belanda, rapat menghasilkan keputusan penting: mereka akan membuat turnamen sendiri. Turnamen diikuti oleh enam kesebelasan, yaitu Soerabajasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB), Indonesische Marine XI, PIVB XI, Chineesch XI, Arabsich XI dan Poetra Maloeka XI. Hasil keuntungan dari turnamen, separuhnya diberikan kepada SIVB dan sisanya untuk membantu para penganggur, anak yatim dan membantu Poliklinik Muhammadiyah Surabaya.

Turnamen sukses diadakan 13-16 Mei 1932 di lapangan sepak bola SIVB di Pasar Turi. Sukses pula menggembosi turnamen NIVB yang walaupun telah memberikan karcis harga diskon tapi tidak mampu mendatangkan banyak suporter dan penonton. Harap diketahui bahwa lapangan Pasar Turi tidaklah seterkenal lapangan yang digunakan oleh NIVB yaitu Lapangan Ketabang yang sekarang menjadi lokasi THR itu.

Siauw Giok Tjhan menulis dalam memoarnya bahwa saat itu ia ditugaskan piket untuk berdiri dekat loket di Lapangan Ketabang. Di sana ia mengimbau supaya calon pembeli karcis pertandingan lebih baik menonton sepak bola di Lapangan Pasar Turi saja karena tokoh-tokoh Surabaya bermain di sana. Karena kurang hati-hati ia dipergoki oleh Necker, ketua NIVB yang sekaligus wartawan Soerabajasch Handelsblad. Juga oleh Dr. Zijp, pengurus NIVB yang juga menjabat sebagai Direktur HBS. Karuan saja Siauw Giok Tjhan digelandang ke kantor polisi. Di sana ia bertemu dengan Liem Koen Hian yang sudah lebih dulu diciduk polisi Hindia Belanda. Ia memang akhirnya dibebaskan karena memang tidak menggunakan kekerasan dalam menjalankan aksinya, tetapi ia sempat dihukum oleh HBS, sekolahnya.

Liem Koen Hian sempat ditahan semalam, tapi masih sempat mengikuti pertandingan eksibisi dengan para tokoh pergerakan Surabaya pada 16 Mei 1932. Ia bermain dengan para tokoh Tionghoa, Arab dan Maluku di tim Voormannen-elftal Tionghoa Arab Maluku. Kwee Thiam Tjing (alias Tjamboek Berdoeri) mencatat bahwa ia juga bermain di tim itu bersama Boen Liang, Alamoedi, A.R. Baswedan, Jonoes Sijaranamual. Hanya Joenoes yang bisa bermain sepak bola karena ia pemain kesebelasan semi-profesional, sedang lainnya hanya penggembira saja. Begitu juga lawan mereka, tim Voormannen-elftal Indonesier beranggotakan Radjamin Nasution, Roeslan Wongsokoesoemo, Gondo, Tjindarboemi, Soedirman (kelak sebagai Residen Surabaya) dan Pamoedji, para tokoh nasionalis Surabaya.

Sumber: koleksi pribadi Didi Kwartanada

Nyonya Liem Koen Hian dan Nyonya Soedirman bertugas menendang bola pertama untuk memulai pertandingan eksibisi itu. Tjamboek Berdoeri menulis bahwa setelah main belum cukup setengah jam, para pemain sudah ngos-ngosan dan terpincang-pincang jalannya seiring dengan keringat yang mengucur deras. Tentu saja pemandangan itu mengundang tawa para penontonnya.

Baru setelahnya, pertandingan final yang sebenarnya dimulai dan berjalan dengan sangat menarik. Penonton puas dan hasil penjualan karcis tidak mengecewakan.

Liem Koen Hian harus menghadapi sidang pengadilan atas provokasi aksi boikotnya tersebut. Mohamad Hoesni Thamrin adalah salah satu anggota Volksraad yang memperjuangkan pembebasannya. Lepas dari tuntutan pengadilan, pada tanggal 25 September 1932, Liem Koen Hian dan kawan-kawannya mendirikan Partai Tionghoa Indonesia. Sebuah partai yang mengusung ide Nasionalisme Indonesia, bahwa orang Indonesia keturunan Tionghoa adalah juga seorang bangsa Indonesia dan turut berjuang untuk kemerdekaan Indonesia.

***

Aksi boikot sepak bola di atas adalah penggalan sejarah yang menarik. Alih-alih sebagai mesin kapitalisme yang hanya menuntut kemenangan dalam setiap pertandingan sebagai cara mendatangkan cuan dan kebanggaan, warga Surabaya harus mengerti sejarah klub Persebaya sebagai alat perjuangan, persatuan dan solidaritas rakyat terjajah menghadapi kolonialis Belanda.

Sebagai alat perjuangan, persatuan dan solidaritas, maka tentu saja dibutuhkan kesehatian antara pemain, pengurus dan suporter. Sebagaimana aksi boikot 1932, kesehatian bisa dibangun karena ada musuh besar bersama yang dihadapi oleh publik Surabaya, yaitu rasisme dan kolonialisme. Mungkin sekarang perlu dibicarakan apa musuh bersama Persebaya yang bisa dijadikan alasan untuk mengokohkan perjuangan, apakah dana, regulasi atau aspek lainnya?

Apa yang dilakukan oleh Liem Koen Hian dan para tokoh nasionalis Surabaya yang menggelar pertandingan eksibisi juga perlu ditiru. Atmosfer yang santai dan penuh canda tawa seringkali diperlukan untuk menyegarkan suasana dalam mencari solusi untuk memenuhi harapan bersama. Tidak selalu segala masalah bisa diselesaikan dengan amarah, nada tinggi dan suasana tegang.

Demikianlah sejarah telah mengajarkan. L’histoire se repete. (*)

Continue Reading

Sejarah

Boling Tak Ubahnya Pengkhianat dan Bunglon, Sebuah Catatan Basofi Sudirman

Published

on

Gubernur Jawa Timur periode 1993–1998, Basofi Sudirman, dalam sebuah catatannya di buku “Bonek: Berani Karena Bersama” pernah mengulas fenomena Boling (bondho Maling) yang meresahkan. BWF menayangkan kembali tulisan yang terbit 1997 ini agar kita bisa belajar dari masa lalu.

***

Secara umum, kalau boleh kalau boleh dianalogikan dengan kehidupan manusia, penonton bagi pertandingan sepakbola, misalnya, tak ubahnya dengan jantung bagi kehidupan seorang manusia.

Penonton yang baik akan merupakan “jantung” yang sehat bagi kesebelasan. Karena melalui penonton, ada semangat yang didistribusikan ke tengah lapangan. Akan halnya dengan penonton yang tidak bergairah, ia tak ubahnya dengan “jantung” yang lemah. Berfungsi, namun kemampuannya memompa dan mendistribusikan semangat, relatif lemah. Sebaiknya, penonton yang urakan, dan tidak sejalan dengan “sportifitas” jantung sehat, tak ayal lagi, bisa melahirkan serangan jantung yang bahkan bisa mematikan.

Dari ilustrasi diatas, maka penonton pertandingan olahraga -yang paling populer di dunia, sepakbola- bisa dipilah dalam tiga kalangan.

Pertama, adalah mereka yang dapat diidentifikasi sebagai pecinta murni olahraga yang tahu pula caranya mencintai olahraga. Kalangan ini adalah mereka yang selain suka terhadap olahraga, juga suka terhadap kondusifitas dan “suasana” perolahragaan yang baik.

Kedua, adalah mereka yang sesungguhnya murni mencintai olahraga, dan mencurahkan segala potensinya -terkadang dengan tanpa mempertimbangkan keterbatasan dirinya- demi olahraga yang digemarinya. Tipologi kalangan ini dikenal dengan Bonek. Bondho nekad.

Salah satu yang menonjol dari bonek adalah kekuatan gairah dukungannya yang dengan luar biasa dicurahkan tim andalannya. Kalangan ini bahkan rela mempertaruhkan apa saja. Secara sosiologis, kalangan ini sangat potensial untuk menggairahkan dunia perolahragaan kita.

Bahkan di bidang apa pun, Bonek sesungguhnya menempati posisi yang strategis. Kalau tidak ada “Boneknya” yang berani kamikaze, menyerang sambil nekat, Jepang mungkin tidak terlalu diperhitungkan di perang dunia kedua. Dan kalau boleh jujur, syaratnya, kalau tidak ada Bonek yang berani mencegat moncong NICA, mungkin 10 Nopember akan meninggalkan kisah yang lain buat bangsa Indonesia. Begitulah bonek yang dalam kehidupan bidang apapun itu sesungguhnya dibutuhkan. Sebab Bonek dalam perspektif yang positif, merupakan sebuah simbol bagi kesungguhan yang dahsyat untuk mencapai atau memperjuangkan sebuah kemenangan.

Ketiga, adalah mereka yang pura-pura murni mencintai sepak bola, tapi perilakunya justru murni tidak mencintai sepakbola. “Inilah tipologi Boling (Bondho Maling). Mereka, memanipulasikan dan menghitamkan citra Bonek untuk menciderai olahraga dengan bertamengkan fanatisme: Termasuk dalam kalangan ini juga mereka yang bersih sebagai “mat kipas”, atau “mat bela” yang dengan lagak gayanya yang seolah mencintai sepak bola tapi pikiran justru menghasut dan membela perilaku yang tidak sportif.

Dan bahkan sebagaimana kita saksikan di final Liga Indonesia III, mereka para boling ini menyamar menjadi Bonek, lantas menjambret, merampok, meresahkan, merusuhkan, dan menyusahkan warga masyarakat. Jumlah mereka ya sesungguhnya tidak banyak, tapi karena proses penyamarannya dilakukan di tengah-tengah para bonek, mereka menjadi setetes tinta masuk ke air. Terkesan mewarnai -meskipun dengan warna kemungkaran.

Sepanjang diamati, ternyata penyamarannya, tak hanya dilakukan di event sepak bola saja. Melainkan juga di mana saja. Cara kerjanya bisa dilihat pada waktu kampanye pemilu yang lalu, misalnya. Atau dalam beberapa kerusuhan yang teriadi di masyarakat. Poko’e, selama ada yang bisa ditunggangi, di situ ia jadi bunglonnya.

Maka, dalam bahasa perjuangan, Boling ini tak ubahnya dengan pengkhianat. Yang bukan saja memberi andil negatif bagi setiap event yang positif. Tapi para boling juga sangat berperan dalam melahirkan kerancuan. Untuk merealisasikan peran itu, mereka menerapkan dua format. Pertama, format bunglon. Itulah yang mereka gunakan tatkala menyusup ke tengah Bonek untuk menyebarkan kemungkaran.

Kedua, tampil dengan format yang “antitesa”. Yang ini boling intelektual namanya. Cara kerjanya ditujukan untuk mem-back up rekannya di lapangan dengan menggunakan opini dan dalil-dalil sosial. Sehingga tatkala para boling tadi berbuat kemungkaran di masyarakat, orang-orang ini lantas mencari kambing hitamnya, atau mencarikan dasar legitimasinya. Agar kemungkaran para Boling terhapus mudharat-nya (kejelekannya).

Oleh karenanya, mumpung masih belum terlalu jauh, mari kita bertimbang pada kepentingan nasional. Kita hadapi Boling ini bersama-sama. Dan untuk itu, mesti ada gairah untuk bersatu-padu menghalau mereka.

Lebih-lebih lagi bagi para Bonek. Rasanya karena mereka yang ditunggangi dan diperalat untuk kemungkaran, merekalah yang mestinya lebih jelas, lebih tahu dan lebih jeli melihat Boling-Boling yang menyusup ke tubuhnya. Sebab kesukaan Boling itu memang membuat keruh. Setelah itu baru mereka mengail. Tinggallah para bonek yang menanggung beban psikologisnya. Lha herannya, kok Bonek yang diperalat iku adem ayem thok? Yo opo rek? (*)

Continue Reading

In Memoriam Legend

Rusdy Bahalwan, Ustaz Total Football Persebaya

Published

on

Apakah kamu menikmati cara bermain Persebaya di musim lalu?

Jika iya, applause tersendiri memang seharusnya diberikan pada peracik strategi tim kita saat ini, coach Aji Santoso. Permainan Persebaya terlihat begitu mengalir dan atraktif. Mengandalkan umpan-umpan pendek dan pemain yang terus bergerak mencari ruang kosong kala menyerang, juga begitu ketat melakukan pressing saat kehilangan bola. Banyak yang menyebut pola permainan ini ibarat tiki-taka ala Barcelona. Namun sebenarnya ini adalah implementasi dari strategi total football.

Lantas, apa yang dinamakan total football?

Total football diperkenalkan Rinus Michels, pelatih top Ajax Amsterdam, Barcelona, dan Timnas Belanda di era 70-80an. Skema permainan ini mengedepankan sistem permainan cepat yang cenderung menyerang dan atraktif. Posisi pemain yang begitu rapat membuat aliran bola saat menyerang menjadi cepat dan sulit ditebak, begitu pun juga saat bertahan mereka bisa menekan lawan yang sedang menguasai bola dengan ketat. Bola mengalir begitu cepat dari kaki ke kaki tanpa harus digiring terlalu lama. Pemain dituntut bermain secara kolektif untuk bisa saling mengisi posisi yang ditinggalkan rekannya. Maka dari itu, total football membutuhkan pemain-pemain yang bisa bermain di banyak posisi.

Begitulah pola permainan yang melekat pada skuad Persebaya kala menjuarai Liga Indonesia 1996/97. Pada musim tersebut Persebaya menjadi tim paling produktif selama kompetisi digulirkan. Tercatat ada 62 gol dicetak selama penyisihan wilayah, 14 gol selama penyisihan grup dan 6 gol di fase semifinal dan final. Totalnya ada 82 gol! Sementara sang striker, Jacksen F. Tiago menjadi topscorer dengan torehan 26 gol dalam semusim. Fantastis!

Ada yang tahu siapakah sosok pelatih Persebaya di saat menjuarai kompetisi saat itu?

Tak lain dan tak bukan, dia adalah Rusdy Bahalwan, pelatih yang juga melatih coach Aji Santoso kala memperkuat Persebaya saat itu. Sebagai catatan tambahan, Rusdy juga memercayakan ban kapten disematkan pada Aji Santoso sepanjang musim berlangsung.

Rusdy begitu identik dengan Persebaya. Lahir dan besar di Surabaya, dia mengawali karirnya sebagai pemain Assyabaab Surabaya. Saat menjadi pemain, Rusdy adalah sosok yang begitu disiplin dalam berlatih dan mengembangkan skill dan performanya. Tak jarang, Rusdy menambah jam latihan sendiri di luar jam latihan klub. Berkat ketekunannya dalam berlatih itulah, tak lama berselang dia sudah dipanggil menjadi bagian skuad Persebaya Junior dalam turnamen Piala Soeratin di tahun 1967.

Rusdy Bahalwan saat masih menjadi pemain.

Awalnya Rusdy berposisi sebagai libero saat masih bermain di Assyabaab. Namun saat masuk di skuad Persebaya, dia dipindah sebagai bek kiri. Posisi ini tidak berubah hingga Rusdy bermain di Persebaya senior dan juga Timnas Indonesia.

Justru saat menjadi bek kiri itulah, performanya semakin teruji dan mendapatkan pengakuan publik. Pemain yang identik dengan nomor punggung 3 ini terkenal sebagai bek yang tangguh dan sangat sulit dilewati lawan, kuat dalam bertahan dan juga saat menyerang. Puncak prestasinya sebagai pemain adalah saat mengantarkan Persebaya menjuarai Divisi Utama Perserikatan di musim 1977/78.

Di partai final, Rusdy selaku kapten tim, bersama beberapa legenda Persebaya semacam Hadi Ismanto, Abdul Kadir, Rudi W. Keltjes, Djoko Malis, Soebodro, berhasil mengalahkan skuad Persija dengan skor dramatis, 4-3. Persebaya meraih gelar juara nasional setelah berpuasa selama 27 tahun.

Seusai gantung sepatu, Rusdy melanjutkan karirnya sebagai pelatih tim Assyabaab. Catatan emas yang dia torehkan di kompetisi Liga Kansas musim 1996/97 kala mengantarkan Persebaya kembali menjadi juara sepakbola nasional. Ini mengulangi prestasinya di musim 1977/78, bedanya kali ini dia menjadi pelatih tim. Kala itu strategi racikan pada tim Persebaya sangat terlihat elegan. Persebaya tampil dengan gaya total football , permainan bola-bola pendek yang mengalir cepat, pressing ketat, dan atraktif. Yang menjadi ciri khas lainnya adalah coming from behind, yaitu berfungsinya para gelandang sebagai second striker, menusuk dari lini kedua, memberikan tembakan-tembakan dari luar kotak penalti untuk menjebol gawang lawan ketika lini depan kita dijaga ketat. Terhitung beberapa gol dicetak gelandang-gelandang kita yang produktif seperti Uston Nawawi, Eri Irianto, dan Carlos de Mello.

Rusdy juga tak ragu untuk mengorbitkan pemain-pemain muda guna mengisi skuad senior. Sejumlah nama macam Uston Nawawi, ‘Bejo’ Sugiantoro, Anang Ma’ruf adalah sejumlah nama pemain muda yang berhasil diorbitkannya. Hal ini sepertinya dinapaktilasi oleh pelatih Persebaya saat ini, Aji Santoso, yang juga mengandalkan pemain muda untuk mengisi skuadnya.

Satu hal yang menjadi ciri khas dari Rusdy adalah sosoknya yang rendah hati serta religius. Dia dikenal sebagai guru/ustaz di mata para pemainnya. Dia menggunakan sholat berjamaah sebagai media pendekatan dan memotivasi pemain (yang muslim khususnya). Seringkali seusai memimpin sholat berjamaah bersama para pemain dan pengurus, dia juga memanfaatkan waktu seusai wirid untuk memberikan motivasi, briefing dan mendengarkan permasalahan yang dihadapi oleh para pemain.

Cara-cara seperti ini menumbuhkan kedekatan emosional antara dirinya, para pemain, dan pengurus klub. Jika ada pemain yang tampil buruk dan bermasalah, Rusdy sering mengajaknya bicara di ruangan tertutup untuk memotivasinya lebih lanjut. Semangat kedekatan kekeluargaan terpupuk melalui pendekatan-pendekatan yang beliau lakukan. Persebaya bukan sekedar klub sepakbola, namun lebih menjadi sebuah keluarga besar.

Selain hal-hal tersebut di atas, ada beberapa kalimat motivasi yang Rusdy sering katakan kepada para pemain untuk berusaha keras memenangkan setiap pertandingan, di antaranya adalah:

“Kalian pasti bisa, kerahkan semua kemampuan yang telah dilatih. Jangan setengah-setengah, kita bergerak dengan bola. Jangan takut salah.”

“Jika lawan bisa mencetak 3 gol, maka tim kamu harus bisa mencetak 4 gol.

 “Bahwa pertahanan terbaik adalah menyerang. Tidak ada kata lain.”

“Jika depan buntu, maka lini selanjutnya harus membantu atau coming from behind.”

Nama Rusdy Bahalwan akan selalu dikenang sebagai pemain, pelatih, bapak, ustaz total football, dan legenda Persebaya Surabaya. (*)

*) image credit to twitter @aprilia_jiwa

Continue Reading

Trending