Connect with us

Catatan Penulis

Mengapa Azrul Mundur, Sebuah Perspektif

Published

on

Keputusan Azrul Ananda mundur dari jabatannya sebagai CEO Persebaya memang mengejutkan namun bisa diprediksi, terutama bagi orang bisnis. Persebaya memang punya basis massa besar dan punya potensi kuat secara bisnis. Namun resikonya juga tinggi.

High risk, high return. Ini merupakan jargon yang umum di dunia investasi. Namun ini tidak berlaku untuk Persebaya. High risk, low return.

Saya selalu merasa keberadaan Azrul di Persebaya merupakan kesalahan dari awal. Persebaya awalnya milik Jawa Pos. Saat itu Azrul adalah CEO koran yang bermarkas di Graha Pena itu. Azrul mungkin tidak menyangka jika setahun setelah mengakuisisi Persebaya, Jawa Pos pecah kongsi dengan Dahlan Iskan, bapak Azrul. Jadilah dia mundur dari Jawa Pos.

PT DBL dan Persebaya juga dia bawa. Namun itu tidak gratis. Azrul harus mengeluarkan duit banyak untuk mengakuisisi keduanya. Akuisisi PT DBL mungkin masih menguntungkan secara hitung-hitungan bisnis. Namun akuisisi Persebaya mungkin keputusan yang tidak rasional dan emosional.

Mengapa saya bilang begitu?

Azrul ini masih polos di dunia sepakbola Indonesia. Keterlibatannya di sepakbola hanya saat dia menjadi pemain amatir di tim internal Persebaya, Indonesia Muda. Itupun hanya sebentar. Selebihnya dia tidak mengetahui sama sekali bagaimana sepakbola Indonesia bekerja.

Hanya “orang gila” yang mau berbisnis bola di Indonesia. Namun orang gila pun tahu jika sepakbola Indonesia butuh duit besar yang tak akan bisa kembali. Seorang pengusaha yang bertahun-tahun di sepakbola Indonesia tahu jika 1+1 tidak sama dengan 2 melainkan 9 atau 10. Tak ada yang bisa diprediksi di sepakbola Indonesia. Azrul tidak paham.

Bisa dibilang, Azrul mulai mengelola Persebaya tidak dari nol melainkan minus. Ada biaya investasi besar yang dia keluarkan. Tapi dia optimis meski biaya investasinya besar, namun di masa depan, biaya itu akan kembali.

Di samping itu, Azrul butuh mainan baru setelah lepas dari Jawa Pos. Selama di Jawa Pos, dia dipandang orang. Hanya di Persebaya, dia bisa dilihat orang. Para pejabat, mulai wali kota, menteri, bahkan Presiden pun bisa duduk bersama dengannya.

Optimisme Azrul juga didasari fakta jika dia bisa membawa Persebaya promosi ke Liga 1 di musim pertamanya. Namun dia lupa jika saat itu ada Jawa Pos di balik kesuksesan Persebaya. Kini dia sendirian karena Jawa Pos melepasnya.

Kembalinya Persebaya di Liga 1 disambut gembira Bonek. Sayang, masa bulan madu harus berakhir saat Bonek meminta Alfredo Vera dipecat. Kekalahan dari Persib di kandang menjadi pemicunya. Pada akhirnya Djajang Nurdjaman yang menggantikannya. Di musim itu, Persebaya hanya meraih peringkat 5.

Yang membuat hubungan antara Bonek dan manajemen renggang adalah adanya drama gagalnya Andik Vermansyah ke Persebaya di musim berikutnya. Saat itu, Bonek ingin si anak hilang itu kembali mengenakan kostum hijau-hijau. Namun pada akhirnya Andik bermain untuk Madura United. Bonek juga kecewa karena ada drama yang mengiringi. Setelah tarik ulur antara manajemen dan Andik, Azrul mengakhirinya dengan menulis jika kereta tidak akan menunggu penumpangnya.

Bonek pun terbelah. Ada yang pro, banyak juga yang kontra. Pola-pola komunikasi yang buruk ini tak hanya berhenti di Andik. Azrul juga menyebut suporter hanyalah konsumen. Mungkin bagi Azrul ini hal sepele. Namun drama-drama ini bisa menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak.

Dan benar, kerusuhan pecah usai Persebaya dikalahkan PSS Sleman di GBT di musim 2019. Aksi Bonek ini membuat Persebaya dihukum tak boleh bermain tanpa penonton di kandang hingga akhir musim. Anehnya, permainan Persebaya membaik meski tak ada Bonek yang mendukungnya. Persebaya mengakhiri musim itu di peringkat 2.

Meski ada “clash”, Azrul tetap melakukan investasi dengan membeli pemain-pemain top untuk musim 2020. Optimisme juara menyeruak apalagi Bajol Ijo menjadi pemenang di Turnamen Piala Gubernur Jatim. Sayang, optimisme itu harus cepat berakhir setelah adanya pandemi yang membuat liga dihentikan.

Yang membuat kecewa Azrul adalah sikap PSSI yang tidak tegas sebelum memutuskan liga dihentikan. Manajemen tidak bisa menentukan sikap dengan cepat. Azrul selalu berkomitmen jika dia akan membayar gaji pemain hingga tuntas. Dia tidak ingin Persebaya seperti klub-klub lain yang memotong ataupun menunggak gaji pemain.

Musim 2020 sangat membekas bagi Azrul. Kerugian yang diderita manajemen cukup banyak. Estimasi kerugian Persebaya mencapai Rp 20 miliar.

“Jujur saya seperti merasa kena prank waktu itu. Jadi, ternyata dibatalkan lagi, kompetisi 2020 dibatalkan. Kami menunggu Liga 1 2021. Berdasarkan pengalaman ini, investasi yang dilakukan 2020 itu menjadi mubazir,” kata Azrul Ananda melalui kanal YouTube Official.

Liga Indonesia adalah liga yang tak bisa diprediksi. Namun, Azrul masih percaya jika sepakbola Indonesia bisa berubah. Tak heran, dia kena prank. Azrul memang orang yang optimis. Baginya, jika sesuatu dijalankan sesuai jalur maka hasilnya akan baik. Namun seringkali, kenyataan tak seindah angan-angan. Persebaya masuk di kompetisi yang jauh dari kata sportifitas. Kiblat Azrul adalah Amerika yang menjunjung tinggi sportifitas. Tapi Indonesia bukan Amerika.

Bisa dibilang tingkat kepercayaan Azrul dalam mengelola Persebaya mengalami penurunan. Jika dihitung memakai skala 5-10, tingkat kepercayaannya berada di angka 8.

Musim 2021, Persebaya kembali berkompetisi. Namun Bonek masih belum bisa menonton langsung di stadion. Musim itu, liga dijalankan secara bubble tanpa penonton. Bisnis belum bisa dilakukan secara normal karena masih dalam masa pandemi. Namun di lapangan, Persebaya menunjukkan grafik permainan yang bagus. Persebaya memunculkan bintang-bintang seperti Taisei Marukawa, Bruno Moreira, hingga Marselino Ferdinan. Peringkat 5 adalah posisi Persebaya saat musim berakhir.

Menghadapi musim 2022/2023, Azrul harus realistis. Dia sadar prestasi adalah cost. Moncernya penampilan beberapa pemain Persebaya di musim sebelumnya membuat harga pemain naik gila-gilaan. Dia harus mulai berhitung. Persebaya sudah mengalami kerugian puluhan miliar. Dia tidak ingin lagi terjebak dalam lingkaran setan ini.

Tingkat kepercayaannya turun di angka 7. Hal itu tercermin dari pemain-pemain yang didatangkan. Tak ada yang istimewa jika melihat skuad Persebaya musim ini. Tak ada nama besar di sana. Bonek ragu target 3 besar yang dicanangkan manajemen bisa tercapai dengan skuad yang ada. Bonek tidak percaya manajemen dengan selalu mengolok-olok “onok rego onok rupo”.

Dan memang benar, penampilan Persebaya cukup buruk. Hingga pekan ke-10, Persebaya mengalami 6 kekalahan, 3 menang, dan 1 seri. Dua kekalahan di antaranya didapatkan di kandang.

Di laga terakhirnya, Persebaya dikalahkan tim kemarin sore, RANS Nusantara. Kekalahan ini tak bisa diterima Bonek. Mereka merangsek ke tengah lapangan saat peluit tanda berakhirnya pertandingan berbunyi. Sebagian merusak fasilitas stadion. De javu kerusuhan musim 2019 kembali terulang. Dan itu disaksikan Azrul langsung di Stadion GDS.

Tingkat kepercayaan Azrul sudah di titik terendah. Malam itu, dia rapat bersama jajarannya hingga larut malam di stadion. Dia memutuskan mundur sehari kemudian.

“Saya pernah bilang Persebaya menjadi juara dengan cara yang benar, di tengah situasi yang kita tahu, mungkin cara saya ini kurang disukai atau kurang cocok dengan harapan semua. Jadi karena itu saya membuat keputusan bahwa saya akan mengundurkan diri dari CEO Persebaya,” ucap Azrul.

Azrul begitu percaya diri mengucapkan kata mundur. Baginya, kondisi ini sudah tidak bisa ditawar. Awalnya dia optimis Bonek bisa berubah. Tapi realita berkata lain. Meski tidak secara terbuka mengkritik Bonek, Azrul mengatakan bahwa manajemen tidak akan bisa bekerja dengan baik jika “diganggu” secara terus-terusan oleh suporternya.

Ini sudah seperti lingkaran setan, kata Azrul. Tak ada beban saat dia mengucapkan kata itu. Dia tahu jika hari-harinya di Persebaya telah berakhir.

Ekspresi wajahnya begitu emosi. Setelah lima tahun, dengan drama-drama yang mengiringi, Azrul harus membuat keputusan. Dan mundur adalah jawabannya.

Saya hafal dengan ekspresi Azrul saat konpers di Sutos siang itu. Saya sangat familiar dengan ekspresi itu karena pernah menjadi anak buahnya selama 15 tahun di Jawa Pos. Karena itu, saya tahu bahwa tekad untuk mundur sudah bulat. Meski Koperasi Persebaya menolaknya, Azrul akan tetap mundur.

Saya salut dan respek dengan keputusannya untuk mundur. Karena itu adalah hal yang harus dilakukan. Dari musim ke musim, Azrul menghadapi lingkaran setan yang sama. Penderitaan itu harus diakhiri.

Azrul masih punya mainan di luar Persebaya. Meski tidak sebesar Persebaya, mainan itu setidaknya memberinya kebahagiaan dan rasa tenang. (*)

Content creator, digital media watch, public transport enthusiast, die hard Persebaya and Arsenal fans, love to write about life | Anggota BWF

Continue Reading
1 Comment

1 Comment

  1. Wahyu

    September 18, 2022 at 9:12 am

    Opini yg bagus dan cukup objektif dengan menarik dari awal Azrul “masuk lingkaran setan”. Bagi saya pribadi, Azrul adalah sebenar2nya oase bagi Persebaya yg bertahun2 sebelumnya selalu menjadi “mainan” polutikus, bahkan mungkin jg oase bagi Sepakbola nasional pada umumnya, bagi saya juga ininadalah kerugian bagi Persebaya dan Sepkbola Nasional, seorang yang sportifitas memilih menarik diri dari upayanya menjalankan sepakbola dengan prinsip dan idealisme.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Catatan Penulis

Patah Hati Melihat Liga Indonesia

Published

on

Liga Indonesia sejatinya memiliki potensi menjadi liga terhebat di Asia bahkan dunia. Indonesia memiliki 275 juta penduduk yang menjadikan sepakbola olahraga nomor 1. Jutaan suporter fanatik yang rela mendukung timnya dengan segenap hati. Ribuan klub bola di seantero negeri. Ratusan perusahaan dan investor yang siap menggelontorkan dana. 

Sayang, potensi itu lenyap karena PSSI tidak becus mengelola liga. Liga Indonesia gagal menjadi liga yang layak tonton bagi keluarga-keluarga di Indonesia. Banyak laga yang jauh dari kata sportivitas. Belum lagi keributan-keributan di luar lapangan yang membuat siapa saja muak membahas liga PSSI.

Mengapa bisa begitu? Jawabannya karena keserakahan, kerakusan, rasa tidak tahu malu yang dimiliki mayoritas pengurus PSSI.

Kita mulai dari jabatan Ketua Umum PSSI.

Sudah menjadi rahasia umum jika jabatan orang nomor 1 di federasi ini adalah jabatan seksi. Banyak figur yang tertarik menduduki singgasana PSSI 1. Bukan untuk memajukan sepakbola tanah air. Namun sebagai batu loncatan menduduki jabatan-jabatan publik hingga tujuan-tujuan pribadi atau golongan.

Eddy Rahmayadi sukses menjadi Gubernur Sumatera Utara saat masih menjabat Ketum PSSI. Iwan Bule, Ketum PSSI sekarang, getol membuat baliho kampanye Gubernur Jawa Barat. Hingga usia 92 tahun, Ketum-Ketum PSSI terpilih seperti tidak mengerti sepakbola. Dan lebih aneh lagi, para pemilik suara PSSI terus memilih orang-orang yang tidak kompeten menduduki singgasana orang nomor 1 federasi dan para pengurusnya.

Namun jika kita menilik komposisi pemilik suara, kepentingan PSSI lebih terakomodasi ketimbang kepentingan pemilik klub. Pada kongres tahunan PSSI 2019, terdapat 85 anggota PSSI yang menjandi pemilik suara. Dari jumlah itu, 40 persen atau 34 suara dikuasai Asprov PSSI daerah. Sisanya 18 klub Liga 1, 6 klub Liga 2, 16 klub Liga 3, dan 1 Asosiasi Futsal.

Jika Asprov adalah kepanjangan tangan PSSI, butuh tambahan suara 10 persen + 1 agar status quo bisa tetap menang. Dalam statuta PSSI juga ditetapkan aturan yang bisa menghalangi orang-orang dengan kompetensi tinggi untuk menjadi pengurus.

Di Kongres Pemilihan PSSI 2019-2024, calon ketum harus punya riwayat aktif mengurus sepak bola di lingkungan PSSI alias bukan sekadar aktif di kegiatan sepak bola.

Sistem ini tentu saja melanggengkan posisi orang-orang lama di PSSI. Tak heran, dari periode ke periode, wajah-wajah PSSI selalu dipenuhi muka-muka lama. Meski prestasi sepakbola Indonesia di kancah internasional buruk, para pengurusnya dengan tanpa malu tak mau mengundurkan diri.

Dengan tetap bercokolnya muka-muka lama, tak banyak perubahan hadir di sepakbola kita. Liga Indonesia dari musim ke musim kualitasnya semakin menukik tajam. Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 135 orang adalah bom waktu yang meledak akibat bobroknya liga.

Mirisnya, tragedi yang seharusnya menjadi momen mereformasi sepakbola hanya dianggap business as usual. Mungkin juga karena peristiwa tewasnya suporter di stadion bukanlah yang pertama. Menurut data Save Our Soccer (SOS), sebelum Tragedi Kanjuruhan, 78 suporter tewas baik di stadion maupun luar stadion selama Liga Indonesia berlangsung. Tragedi kematian suporter sudah dianggap peristiwa lumrah. Saking biasanya, PSSI seperti kehilangan akal untuk menghentikannya.

Liga 1  Bergulir di Tengah Skeptisme Publik

Di tengah skeptisme publik akan adanya perubahan sepakbola di negeri ini, Liga 1 kembali bergulir. Tuntutan suporter untuk menghentikan sementara liga hingga ada perubahan dalam sepakbola ternyata tidak diindahkan.

Seperti layaknya template, insiden-insiden yang melibatkan wasit kembali terlihat di laga-laga Liga 1. Banyak keputusan wasit yang kontroversial yang menguntungkan atau merugikan beberapa klub. Hal ini memicu suporter saling menyalahkan dan akhirnya menjadi bahan bakar untuk “berkelahi” di medsos.

Persebaya beberapa kali dirugikan dengan keputusan wasit. Saya juga melihat klub-klub lain juga ada yang dirugikan. Di Liga Indonesia, klub apapun bisa jadi korban keputusan buruk wasit. Dan seperti biasa, PSSI tidak bisa berbuat banyak mengatasi permasalahan yang sudah seperti kanker ini.

Kondisi yang telah bertahun-tahun tak pernah berubah ini membuat saya menjadi patah hati melihat Liga Indonesia. Jika sebelumnya saya menulis Patah Hati Melihat Bonek dan Persebaya, kini saya menulis hal yang sama tentang Liga Indonesia. Saya tak lagi bergairah menyaksikannya. Rasanya, dukungan yang saya berikan untuk liga ini tak ada manfaatnya. Tak ada kegembiraan seperti yang saya rasakan saat saya masih menaruh harapan agar liga kita menjadi lebih baik. Kini harapan itu sudah saya buang jauh-jauh.

Meski Persebaya masih berkompetisi, saya tak punya semangat lagi menontonnya. Saya masih tetap sedih saat Persebaya kalah, namun kesedihan itu tidak berlarut-larut. Di liga yang tak lagi menjunjung tinggi sportivitas, kemenangan atau kekalahan tak lagi ada artinya.

Para petinggi PSSI yang telah terbukti gagal membawa prestasi juga tak pernah mengeluarkan pernyataan untuk mundur. Mereka malah sudah ancang-ancang menjabat lagi di kongres PSSI yang digelar tahun depan.

Sikap pesimis akan berubahnya Liga Indonesia membuat saya apatis dan antipati. Melihat potensi yang diabaikan segelintir orang-orang yang memanfaatkan liga ini untuk kepentingan pribadinya membuat saya muak.

Kapan Liga Indonesia bisa memberikan kegembiraan dan kebahagiaan kepada para suporter? Kapan sportivitas yang menjadi roh kompetisi dijunjung tinggi? Kapan PSSI menjadi federasi yang waras?

Rasanya pertanyaan-pertanyaan ini mustahil ada jawabannya. (*)

Continue Reading

Catatan Penulis

Pentingnya Merawat Sejarah Persebaya, Agar Bonek Tidak Mudah Pindah Sebelah

Published

on

Apa pentingnya sejarah? Banyak yang bilang pelajaran sejarah itu membosankan. Beberapa lirik lagu menyiratkan jika kita sebaiknya melupakan masa lalu.

“Yang lalu biarlah berlalu.”

Sepotong lirik lagu “Lamunan” milik Andromeda ini menyiratkan peristiwa di masa lalu tidak penting untuk dibahas. Namun bagi saya, peristiwa di masa lalu yang seringkali disebut sejarah itu sangat penting untuk dibicarakan.

Saya baru mengerti pentingnya sejarah setelah masalah dualisme Persebaya terselesaikan dengan baik. Persebaya yang sempat mati suri kembali dibangkitkan dan mengikuti kompetisi resmi di bawah PSSI.

Dan pahlawan yang membuat Persebaya berdiri kokoh adalah Bonek.

Namun, membangkitkan Persebaya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bonek sempat terpecah antara mendukung Persebaya asli yang sarat masalah atau Persebaya sebelah yang penuh bintang.

Pada akhirnya, suara mayoritas Bonek tetap keukeuh mendukung Persebaya yang asli. Lem perekat yang membuat Bonek mantap memilih Persebaya yang bermarkas di Karanggayam adalah sejarah yang mesti dirawat.

Perlawanan atas ketidakadilan tidak harus memakai senjata, namun bisa dengan kata-kata. Dan bisa kita lihat saat Persebaya dalam periode mati suri, banyak Bonek menuliskan curahan hatinya di akun-akun Facebook pribadinya. Banyak Bonek yang menulis tentang sejarah Persebaya. Tulisan-tulisan itu menunjukkan dukungan mereka kepada tim kebanggaannya. Meski saat itu banyak hujatan dan makian dari pendukung Persebaya sebelah, mereka tetap teguh pendirian.

Ingatan saya akan dualisme Persebaya dan pentingnya merawat sejarah kembali hadir saat saya datang ke acara Mahakarya Bonek Campus #4. Bonek Campus mengundang pelatih Persebaya saat juara 2004, Jacksen F Tiago dan dua pemain skuad 2004, Uston Nawawi dan Chairil “Pace” Anwar. Acara yang diadakan di Kayoon Heritage, Minggu (18/11) ini memang mengusung tema “Spirit 2004”.

Riswan Lauhin dan Atta Ballah mengamati kliping perjalanan Persebaya saat juara 2004.

Dua pemain Persebaya saat ini, Atta Ballah dan Riswan Lauhin, juga dihadirkan. Tema yang diangkat Bonek Campus bukan tanpa alasan. Prestasi Persebaya musim ini kurang bagus. Meski di laga terakhir menorehkan sejarah dengan mengalahkan Arema FC di Kanjuruhan, Persebaya masih berada di papan tengah. Target 3 besar yang dicanangkan manajemen tampaknya susah diwujudkan. “Spirit 2004” memberikan pesan agar semangat juara tertanam di dada skuad Persebaya sekarang.

Acara yang berisi talkshow, pameran dokumentasi perjalanan Persebaya juara 2004, dan pertunjukan musik ini cukup ramai dihadiri Bonek. Mereka antusias mengikuti acara demi acara. Tak hanya Bonek lawas, Bonek muda pun datang ke acara yang lebih banyak membahas sejarah Persebaya itu.

Lewat acara-acara yang mengulas sejarah terjadi transfer pengetahuan sejarah.

Kehadiran Bonek di acara-acara seperti ini patut diapresiasi. Bonek telah sadar pentingnya merawat sejarah Persebaya. Merawat sejarah sangat penting karena bisa memperkuat akar Persebaya. Semakin kuat akar, Persebaya akan tetap berdiri kokoh meski ada banyak masalah menghadang.

Klub adalah representasi para pendukungnya. Setiap klub memiliki karakteristik tertentu yang mewakili suporternya. Bisa dikatakan, klub adalah cermin pendukungnya. Seperti Persebaya yang mengusung karakter kota Surabaya yang Wani dan Ngeyel, jati diri itulah yang selalu diperjuangkan Bonek. Sejarah selalu mengingatkan pentingnya menjaga karakter-karakter itu karena membawa memori Persebaya dari jaman ke jaman.

Persebaya yang lahir sejak 1927 mengusung karakter Surabaya yang selalu konsisten dijalankan stakeholder Persebaya dari tahun ke tahun. Penelitian-penelitian sejarah tentang Persebaya di masa lalu menjadi pelajaran generasi sekarang agar mereka terus memperjuangkan semangat para pendahulunya.

Jacksen F Tiago dan Uston Nawawi.

Sejarah juga bisa menjadi refleksi jika di masa mendatang terjadi konflik yang mengancam eksistensi Persebaya. Kita juga bisa belajar untuk tidak mengulangi kesalahan di masa lalu. Karena sejarah akan terus berulang sehingga kita dituntut tetap waspada. Dengan melek sejarah Persebaya, Bonek akan selalu membawa semangat timnya dan tak akan mudah tergoda untuk berpaling.

Di sinilah pentingnya sejarah karena mampu menghubungkan generasi sekarang dengan generasi pendahulu.

Acara-acara seperti ini harus selalu digelar di masa-masa mendatang. Agar Bonek tidak putus hubungan dan konsisten memperjuangkan apa yang diperjuangkan para pendahulunya. Saya yakin, Bonek akan amanah dalam memperjuangkan Persebaya hingga kapan pun. Dan itu sangat membanggakan.

Jika bukan Bonek, siapa yang akan merawat sejarah Persebaya? (*)

Continue Reading

Catatan Penulis

Membakar Habis Kebencian, Mencari Jalan Keadilan

Published

on

Sampaikan sekarang, agar tidak menjadi bisul di kemudian hari. Karena pondasi kondusifitas seyogyanya dibangun atas dasar koreksi pada diri sendiri. Hilangnya banyak nyawa adalah tragedi dan kami turut berbela sungkawa sebagaimana layaknya menghormati mereka yg terlebih dahulu menghadap Illahi Robbi.

Sekali lagi, kami hanya mengingatkan bahwa penyerangan terhadap ofisial tim kami, bukanlah suatu hal yang bisa dinormalisasi, tidak bisa! Kami sangat concern terhadap hal ini, karena pernah mengalami pedihnya kehilangan talenta kami, Nurkiman di tahun 1995 silam. Abah Nurkiman yang kala itu menjadi pemain Persebaya harus kehilangan satu matanya. Meski pecahan kaca yang masih tertanam di dalam kelopak matanya, Abah Nurkiman tak menyimpan dendam. Beliau berbesar hati, memaafkan pelaku dan berpesan “Boleh fanatik tapi jangan anarkis. Kalah menang dihargai, pemain sudah berjuang. Kemudian suporter hanya mendukung, selesai pertandingan ya sudah.”

Hormat kami pada beberapa suporter Malang (melalui akun medsos mereka) yang mau mengakui bahwa adanya penyerangan kepada tim Persebaya itu salah dan meminta maaf karenanya. Mereka-mereka yang bukan figur-figur signifikan adalah sebenar-benarnya jiwa yang tabah dalam menjalani proses “terbakar” habis menjadi abu agar bisa terlahir kembali sebagaimana burung Phoenix. Terbakar habis egonya, terbakar habis kebenciannya terbakar habis hal-hal negatif yg menunggangi kecintaan mereka kepada tim kebanggaannya.

Saya yakin, mereka-mereka juga yang turun ke jalan beberapa minggu silam untuk memperjuangkan keadilan bagi kejadian Kanjuruhan tanpa takut ditunggangi. Mereka yang sudah menempatkan hatinya tepat (dununge roso) di tengah tidak akan mudah ditunggangi, karena yang mudah ditunggangi adalah mereka yg membawa hati terlalu ke kiri karena benci atau membawa hati terlalu ke kanan karena bangga, sehingga posisi sentral yg kosong mudah di tunggangi anasir-anasir dari luar baik secara fisik (agitasi, provokasi dsb) maupun secara metafisik sebagaimana sumpah iblis untuk mencelakakan anak Adam (jika tidak bisa membuat buruk anak Adam maka dia akan membuat anak Adam merasa baik).

Kemudian terjadi ketololan federasi yang membuat mereka (yang sedang tercerahkan) seolah-olah hendak dibentur-benturkan antara klub dan supporter lain dengan membuka wacana bahwa seluruh klub terancam laga usiran. Menggelar lanjutan kompetisi dengan sistem bubble seperti di jaman pandemi, seperti sebuah tindakan gebyah uyah dimana kesalahan satu pihak mengakibatkan jatuhnya hukuman yang diterima semuanya.

Jika ingin memberi arti agar berpulangnya ratusan jiwa di Kanjuruhan benar-benar mewariskan hal-hal yang benar, baik dan sehat bagi sepak bola Indonesia inilah saatnya. Hukum yang adil sesuai kadar kesalahan semua yang punya andil dalam terbentuknya kejadian tragedi 1 Oktober lalu. Dari atas sampai ke bawah secara menyeluruh baik yang terjadi di dalam maupun yang terjadi di luar lapangan. Sekali lagi, semuanya agar tidak ada lagi ganjalan di dalam hati yang menghalangi terbangunnya pondasi ini.

TTragedi ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Tragedi ini menjadi monumen pengingat akan betapa rusaknya hasil rivalitas yang didasari kebencian. Tragedi ini bisa menjadi batu pijakan akan sebuah kontemplasi dan kedamaian namun sebelum bicara soal jalan menuju damai maka kondusifitas harus diciptakan dan keadilan harus ditegakkan terlebih dahulu.

Seperti kata Gus Dur, “Kedamaian tanpa keadilan adalah ilusi.”

Continue Reading

Trending