Connect with us

Catatan Penulis

Mengapa Azrul Mundur, Sebuah Perspektif

Published

on

Keputusan Azrul Ananda mundur dari jabatannya sebagai CEO Persebaya memang mengejutkan namun bisa diprediksi, terutama bagi orang bisnis. Persebaya memang punya basis massa besar dan punya potensi kuat secara bisnis. Namun resikonya juga tinggi.

High risk, high return. Ini merupakan jargon yang umum di dunia investasi. Namun ini tidak berlaku untuk Persebaya. High risk, low return.

Saya selalu merasa keberadaan Azrul di Persebaya merupakan kesalahan dari awal. Persebaya awalnya milik Jawa Pos. Saat itu Azrul adalah CEO koran yang bermarkas di Graha Pena itu. Azrul mungkin tidak menyangka jika setahun setelah mengakuisisi Persebaya, Jawa Pos pecah kongsi dengan Dahlan Iskan, bapak Azrul. Jadilah dia mundur dari Jawa Pos.

PT DBL dan Persebaya juga dia bawa. Namun itu tidak gratis. Azrul harus mengeluarkan duit banyak untuk mengakuisisi keduanya. Akuisisi PT DBL mungkin masih menguntungkan secara hitung-hitungan bisnis. Namun akuisisi Persebaya mungkin keputusan yang tidak rasional dan emosional.

Mengapa saya bilang begitu?

Azrul ini masih polos di dunia sepakbola Indonesia. Keterlibatannya di sepakbola hanya saat dia menjadi pemain amatir di tim internal Persebaya, Indonesia Muda. Itupun hanya sebentar. Selebihnya dia tidak mengetahui sama sekali bagaimana sepakbola Indonesia bekerja.

Hanya “orang gila” yang mau berbisnis bola di Indonesia. Namun orang gila pun tahu jika sepakbola Indonesia butuh duit besar yang tak akan bisa kembali. Seorang pengusaha yang bertahun-tahun di sepakbola Indonesia tahu jika 1+1 tidak sama dengan 2 melainkan 9 atau 10. Tak ada yang bisa diprediksi di sepakbola Indonesia. Azrul tidak paham.

Bisa dibilang, Azrul mulai mengelola Persebaya tidak dari nol melainkan minus. Ada biaya investasi besar yang dia keluarkan. Tapi dia optimis meski biaya investasinya besar, namun di masa depan, biaya itu akan kembali.

Di samping itu, Azrul butuh mainan baru setelah lepas dari Jawa Pos. Selama di Jawa Pos, dia dipandang orang. Hanya di Persebaya, dia bisa dilihat orang. Para pejabat, mulai wali kota, menteri, bahkan Presiden pun bisa duduk bersama dengannya.

Optimisme Azrul juga didasari fakta jika dia bisa membawa Persebaya promosi ke Liga 1 di musim pertamanya. Namun dia lupa jika saat itu ada Jawa Pos di balik kesuksesan Persebaya. Kini dia sendirian karena Jawa Pos melepasnya.

Kembalinya Persebaya di Liga 1 disambut gembira Bonek. Sayang, masa bulan madu harus berakhir saat Bonek meminta Alfredo Vera dipecat. Kekalahan dari Persib di kandang menjadi pemicunya. Pada akhirnya Djajang Nurdjaman yang menggantikannya. Di musim itu, Persebaya hanya meraih peringkat 5.

Yang membuat hubungan antara Bonek dan manajemen renggang adalah adanya drama gagalnya Andik Vermansyah ke Persebaya di musim berikutnya. Saat itu, Bonek ingin si anak hilang itu kembali mengenakan kostum hijau-hijau. Namun pada akhirnya Andik bermain untuk Madura United. Bonek juga kecewa karena ada drama yang mengiringi. Setelah tarik ulur antara manajemen dan Andik, Azrul mengakhirinya dengan menulis jika kereta tidak akan menunggu penumpangnya.

Bonek pun terbelah. Ada yang pro, banyak juga yang kontra. Pola-pola komunikasi yang buruk ini tak hanya berhenti di Andik. Azrul juga menyebut suporter hanyalah konsumen. Mungkin bagi Azrul ini hal sepele. Namun drama-drama ini bisa menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak.

Dan benar, kerusuhan pecah usai Persebaya dikalahkan PSS Sleman di GBT di musim 2019. Aksi Bonek ini membuat Persebaya dihukum tak boleh bermain tanpa penonton di kandang hingga akhir musim. Anehnya, permainan Persebaya membaik meski tak ada Bonek yang mendukungnya. Persebaya mengakhiri musim itu di peringkat 2.

Meski ada “clash”, Azrul tetap melakukan investasi dengan membeli pemain-pemain top untuk musim 2020. Optimisme juara menyeruak apalagi Bajol Ijo menjadi pemenang di Turnamen Piala Gubernur Jatim. Sayang, optimisme itu harus cepat berakhir setelah adanya pandemi yang membuat liga dihentikan.

Yang membuat kecewa Azrul adalah sikap PSSI yang tidak tegas sebelum memutuskan liga dihentikan. Manajemen tidak bisa menentukan sikap dengan cepat. Azrul selalu berkomitmen jika dia akan membayar gaji pemain hingga tuntas. Dia tidak ingin Persebaya seperti klub-klub lain yang memotong ataupun menunggak gaji pemain.

Musim 2020 sangat membekas bagi Azrul. Kerugian yang diderita manajemen cukup banyak. Estimasi kerugian Persebaya mencapai Rp 20 miliar.

“Jujur saya seperti merasa kena prank waktu itu. Jadi, ternyata dibatalkan lagi, kompetisi 2020 dibatalkan. Kami menunggu Liga 1 2021. Berdasarkan pengalaman ini, investasi yang dilakukan 2020 itu menjadi mubazir,” kata Azrul Ananda melalui kanal YouTube Official.

Liga Indonesia adalah liga yang tak bisa diprediksi. Namun, Azrul masih percaya jika sepakbola Indonesia bisa berubah. Tak heran, dia kena prank. Azrul memang orang yang optimis. Baginya, jika sesuatu dijalankan sesuai jalur maka hasilnya akan baik. Namun seringkali, kenyataan tak seindah angan-angan. Persebaya masuk di kompetisi yang jauh dari kata sportifitas. Kiblat Azrul adalah Amerika yang menjunjung tinggi sportifitas. Tapi Indonesia bukan Amerika.

Bisa dibilang tingkat kepercayaan Azrul dalam mengelola Persebaya mengalami penurunan. Jika dihitung memakai skala 5-10, tingkat kepercayaannya berada di angka 8.

Musim 2021, Persebaya kembali berkompetisi. Namun Bonek masih belum bisa menonton langsung di stadion. Musim itu, liga dijalankan secara bubble tanpa penonton. Bisnis belum bisa dilakukan secara normal karena masih dalam masa pandemi. Namun di lapangan, Persebaya menunjukkan grafik permainan yang bagus. Persebaya memunculkan bintang-bintang seperti Taisei Marukawa, Bruno Moreira, hingga Marselino Ferdinan. Peringkat 5 adalah posisi Persebaya saat musim berakhir.

Menghadapi musim 2022/2023, Azrul harus realistis. Dia sadar prestasi adalah cost. Moncernya penampilan beberapa pemain Persebaya di musim sebelumnya membuat harga pemain naik gila-gilaan. Dia harus mulai berhitung. Persebaya sudah mengalami kerugian puluhan miliar. Dia tidak ingin lagi terjebak dalam lingkaran setan ini.

Tingkat kepercayaannya turun di angka 7. Hal itu tercermin dari pemain-pemain yang didatangkan. Tak ada yang istimewa jika melihat skuad Persebaya musim ini. Tak ada nama besar di sana. Bonek ragu target 3 besar yang dicanangkan manajemen bisa tercapai dengan skuad yang ada. Bonek tidak percaya manajemen dengan selalu mengolok-olok “onok rego onok rupo”.

Dan memang benar, penampilan Persebaya cukup buruk. Hingga pekan ke-10, Persebaya mengalami 6 kekalahan, 3 menang, dan 1 seri. Dua kekalahan di antaranya didapatkan di kandang.

Di laga terakhirnya, Persebaya dikalahkan tim kemarin sore, RANS Nusantara. Kekalahan ini tak bisa diterima Bonek. Mereka merangsek ke tengah lapangan saat peluit tanda berakhirnya pertandingan berbunyi. Sebagian merusak fasilitas stadion. De javu kerusuhan musim 2019 kembali terulang. Dan itu disaksikan Azrul langsung di Stadion GDS.

Tingkat kepercayaan Azrul sudah di titik terendah. Malam itu, dia rapat bersama jajarannya hingga larut malam di stadion. Dia memutuskan mundur sehari kemudian.

“Saya pernah bilang Persebaya menjadi juara dengan cara yang benar, di tengah situasi yang kita tahu, mungkin cara saya ini kurang disukai atau kurang cocok dengan harapan semua. Jadi karena itu saya membuat keputusan bahwa saya akan mengundurkan diri dari CEO Persebaya,” ucap Azrul.

Azrul begitu percaya diri mengucapkan kata mundur. Baginya, kondisi ini sudah tidak bisa ditawar. Awalnya dia optimis Bonek bisa berubah. Tapi realita berkata lain. Meski tidak secara terbuka mengkritik Bonek, Azrul mengatakan bahwa manajemen tidak akan bisa bekerja dengan baik jika “diganggu” secara terus-terusan oleh suporternya.

Ini sudah seperti lingkaran setan, kata Azrul. Tak ada beban saat dia mengucapkan kata itu. Dia tahu jika hari-harinya di Persebaya telah berakhir.

Ekspresi wajahnya begitu emosi. Setelah lima tahun, dengan drama-drama yang mengiringi, Azrul harus membuat keputusan. Dan mundur adalah jawabannya.

Saya hafal dengan ekspresi Azrul saat konpers di Sutos siang itu. Saya sangat familiar dengan ekspresi itu karena pernah menjadi anak buahnya selama 15 tahun di Jawa Pos. Karena itu, saya tahu bahwa tekad untuk mundur sudah bulat. Meski Koperasi Persebaya menolaknya, Azrul akan tetap mundur.

Saya salut dan respek dengan keputusannya untuk mundur. Karena itu adalah hal yang harus dilakukan. Dari musim ke musim, Azrul menghadapi lingkaran setan yang sama. Penderitaan itu harus diakhiri.

Azrul masih punya mainan di luar Persebaya. Meski tidak sebesar Persebaya, mainan itu setidaknya memberinya kebahagiaan dan rasa tenang. (*)

Digital content creator | Social media specialist l Writer l Kartunis l Photoshop, Indesign, Illustrator, Premiere l Saat ini bekerja di stasiun televisi | Anggota Bonek Writers Forum

Continue Reading
1 Comment

1 Comment

  1. Wahyu

    September 18, 2022 at 9:12 am

    Opini yg bagus dan cukup objektif dengan menarik dari awal Azrul “masuk lingkaran setan”. Bagi saya pribadi, Azrul adalah sebenar2nya oase bagi Persebaya yg bertahun2 sebelumnya selalu menjadi “mainan” polutikus, bahkan mungkin jg oase bagi Sepakbola nasional pada umumnya, bagi saya juga ininadalah kerugian bagi Persebaya dan Sepkbola Nasional, seorang yang sportifitas memilih menarik diri dari upayanya menjalankan sepakbola dengan prinsip dan idealisme.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Catatan Penulis

Pernyataan Sikap dan Beberapa Rekomendasi Bonek Writers Forum Atas Tragedi Kanjuruhan

Published

on

Tragedi Kanjuruhan di laga Arema FC vs Persebaya yang menyebabkan 127 orang tewas (data terakhir dari Polda Jatim saat konpers, Minggu, 2 Oktober 2022) membuat kita prihatin. Peristiwa yang dimulai adanya ricuh suporter dan dibalas aparat dengan menembakkan gas air mata bukan yang kali pertama. Korban tewas di stadion dengan sebab-sebab lain juga telah banyak berjatuhan.

Bonek Writers Forum (BWF) mendesak agar semua stakeholders fokus untuk menyelesaikan permasalahan di dalam sepakbola Indonesia. Penghentian liga memang salah satu langkah, namun jangan lupakan akar dari permasalahan yakni tak adanya regulasi untuk mengantisipasi agar peristiwa serupa tidak terjadi di masa mendatang.

Selain mengucapkan duka cita mendalam atas jatuhnya korban baik suporter maupun petugas keamanan, BWF memberikan beberapa rekomendasi agar peristiwa serupa tidak terulang:

  1. Mendesak DPR RI membuat pansus untuk menyelidiki peristiwa berdarah ini.
  2. Mendorong pemerintah bersama DPR menyusun dan membuat UU suporter seperti di Inggris saat pemerintah dan parlemennya membuat UU usai tragedi Hillsborough.
  3. Meminta PSSI bertanggungjawab atas peristiwa ini karena jatuhnya korban tewas dan luka di stadion telah berulangkali terjadi.
  4. Menstandarisasi prosedur penanganan massa sepakbola oleh petugas keamanan.
  5. Petugas keamanan mengikuti aturan FIFA dengan tidak lagi menggunakan gas air mata untuk mengatasi ricuh penonton di dalam stadion.
  6. Announcer pertandingan wajib menyebutkan titik kumpul serta arah evakuasi sebelum laga dan sepanjang laga, dan waktu lainnya mengantisipasi kericuhan.
  7. Seluruh stadion harus berkursi atau all seater stand. Tidak boleh ada lagi terrace stand atau tribun beton. Ini penting untuk menentukan dengan akurat jumlah penonton di stadion.
  8. Kapasitas tiket yang dicetak hendaknya tidak full, tapi ada spare 5 persen kursi kosong untuk proses evakuasi.
  9. Jam pertandingan untuk laga-laga bertensi tinggi harus digelar sore atau kalau perlu tanpa penonton.
  10. Pembatasan jam tanding paling larut pukul tujuh malam, sehingga penonton tidak pulang kemalaman mengingat sistem transportasi di Indonesia belum sebagus sistem transportasi di eropa yang memungkinkan pertandingan digelar larut malam.
  11. Wasit harus menghentikan pertandingan saat dari tribun ada nyanyian provokatif dan rasis dengan lirik penuh kebencian seperti ajakan pembunuhan.

Demikian beberapa rekomendasi dari BWF. Semoga stakeholders sepakbola nasional bisa bersatu dan fokus dalam menyelesaikan permasalahan ini. Tidak ada pertandingan sepakbola yang sebanding dengan nyawa. (*)

Continue Reading

Catatan Penulis

Gelora Drama

Published

on

Banyak yang bilang kalau drama Korea menjadi begitu meledak karena para pesona fisik para pemerannya. Pemeran prianya ngganteng-ngganteng dan pemeran wanitanya huayu-huayu. Kemampuan akting para aktor dan aktrisnya tak bisa dianggap biasa-biasa saja, mereka begitu menjiwai peran yang mereka lakoni.

Tapi jangan salah, drakor memiliki kekuatan terhebat justru pada alur ceritanya yang bisa menggeret emosi penonton hingga masuk ke dalam drama itu sendiri. Adegan demi adegan dalam alur ceritanya seringkali kita temui dalam kehidupan sehari-hari, tidak sama persis namun mirip dengan apa yang pernah kita alami. Hingga seolah-olah para penggemarnya bisa berada di dalamnya dan menjadi pemerannya! Itulah mengapa drakor begitu melekat di hati penggemarnya. 

Hal ini saya temui juga pada klub kebanggan saya, Persebaya Surabaya. Tak mau kalah dengan drakor-drakor yang merajai sinema, Persebaya selalu menghadirkan sekian banyak drama setiap musimnya. Drama terbesarnya adalah saat Persebaya mengalami dualisme kepemilikan klub di tahun 2010, disanksi PSSI tidak boleh berkompetisi, pertarungan secara hukum akan hak penggunaan nama klub Persebaya, hingga akhirnya kembali ke kancah sepakbola nasional dan langsung menjadi juara Liga 2 di musim 2017.

Apakah selepas itu dramanya selesai? Tidak!

Sepanjang Persebaya berada di era baru di bawah pimpinan Azrul Ananda, drama-drama terus berlanjut setiap musimnya. Yang paling sering dan terus berulang adalah slow start yang dialami tim. Chants“lek gak seri kalah, lek gak seri kalah, …kapan menange?” menjadi playlist utama yang sering dinyanyikan semua sisi tribun Gelora Bung Tomo. Ujungnya adalah pemecatan pelatih bahkan sebelum pertengahan musim dilalui. Di musim 2019 malah terjadi pemecatan pelatih hingga 2 kali dalam semusim kompetisi.

Dan menurut saya yang paling fenomenal adalah mundurnya CEO sekaligus presiden klub, Azrul Ananda, baru-baru ini setelah timnya mengalami kekalahan memalukan di kandang sendiri yang disusul dengan aksi vandalisme yang dilakukan Bonek karena kecewa timnya kalah.

Sebentar, kandang sendiri? Enggak juga, karena sebenarnya kalau boleh mengoreksi, stadion yang digunakan adalah stadion Gelora Delta Sidoarjo, kota satelit di sebelah selatan Surabaya. Bertamu, meminjam stadion dan akhirnya melakukan vandalisme, saya sedih, saya malu, mohon maaf buat segenap warga Sidoarjo (Kabar terakhir, Bonek melakukan patungan hingga memperoleh dana lebih dari 50 juta rupiah untuk didonasikan lewat klub guna mengganti dan memperbaiki kerusakan di stadion GDS).

Jika tim-tim lain hanya sekedar memecat pelatih kepala atau manajer, Persebaya sebagai Drama King (saya tak menyebutnya lagi sebagai drama queen, Persebaya lebih dari sekedar queen) justru membuat episode di mana presiden klubnya mundur dan berencana melepas semua saham kepemilikannya dari Persebaya dan mengembalikan mandat  kembali kepada Koperasi Surya Abadi Persebaya (KSAP) sebagai pemilik 30 persen saham PT Persebaya Indonesia. Drama ini berlanjut dengan penolakan surat pengunduran Aza (sebutan untuk Azrul Ananda) dari posisinya sebagai presiden dan CEO klub oleh koperasi KSAP melalui ketuanya, Cholid Ghoromah.

Apakah drama ini berakhir sampai disini? Sepertinya belum.

Keputusan Aza untuk mundur justru menjadi bola panas liar yang menggelinding tak terkendali kemana-mana. Sebuah keputusan yang shocking the world  hingga mengalahkan kabar duka meninggalnya Ratu Elizabeth 2 di Inggris sana. Banyak yang menyayangkan keputusan Aza yang mendadak ini.  Terjadi friksi-friksi diantara Bonek sendiri dalam menyikapi drama kali ini. Ada yang mendukung pengunduran dirinya, ada pula yang menyesalkannya. Tak sedikit pula yang menuduh Aza “tinggal glanggang, colong playu” dalam urusan Persebaya ini, meski dia memperkuat argumennya bahwa dia dan semua jajaran manajemennya akan menyelesaikan semua ini hingga akhir musim 2022 berakhir. Namun siapa yang tahu apa yang terjadi besok?

Bagi pihak yang mendukung pengunduran dirinya, menilai kinerja Aza selama ini dirasa tidak cukup untuk membawa Persebaya kembali berprestasi. Menurut mereka ada beberapa kelemahan manajemen di bawah Aza sebagai berikut:

  • Manajemen dinilai terlalu pelit mengeluarkan dana guna merekrut pemain-pemain kelas atas baik lokal maupun asing, apalagi selepas musim lalu berakhir, hampir 80 persen pondasi inti tim lepas, sementara penggantinya dinilai tak sepadan. 
  • Manajemen terlalu meremehkan sektor-sektor penting seperti psikolog tim di saat tim yang berisikan skuad muda minim pengalaman perlu dibentengi oleh psikiater guna mengarungi kompetisi yang panjang. (Gak gampang dadi pemain Persebaya cak!)
  • Terlalu berlindung pada kata-kata langit semacam sustainable, percaya proses (progressnya mana? kok proses ae terus!), growing pain (it’s getting hurt more and more cuk!)
  • Tidak memiliki target yang jelas (jelas antara target, proses dan bagaimana implementasinya di proses itu sendiri) guna kembali meraih puncak prestasi (Juara! Gawe opo kabeh iki lek ga juara juara?)
  • Manajemen dianggap kurang bisa mendekat dan berkomunikasi dengan baik kepada publik (Bonek), selama ini selalu dianggap terlalu eksklusif 

Sedangkan bagi kelompok yang menentang pengunduran diri Aza serta menyesalkan keputusan ini , memiliki deretan argumen sebagai berikut :

  • Manajemen ala Aza ini adalah bentuk manajerial terbaik sepanjang sejarah Persebaya.
  • Bisa mandiri, tidak menggantungkan suntikan dana APBD yang rawan diselewengkan, dengan mampu menggandeng sponsor-sponsor yang loyal mendukung kinerja Persebaya baik sebagai PT ataupun klub sepakbola
  • Memiliki sistem penjualan merchandise terbaik yang bisa mengangkat sumber pendapatan bagi klub
  • Menghidupkan dan tentu saja membiayai kompetisi klub-klub internal yang menghasilkan pemain-pemain muda didikan akademi yang bisa menjadi sumber pemain berbakat bagi klub dan bahkan tim nasional
  • Tidak pernah ada kasus pemain telat gaji apalagi sampai tak terbayarkan , sebuah hal yang masih sering ditemui di klub-klub lain liga 1
  • Visioner dan progresif dalam menjalankan klub ini secara profesional. Bahkan mentargetkan bisa IPO (initial public offering) alias melempar saham ke publik sebelum usia Persebaya mencapai 100 tahun di 2027 nanti. Bonek selaku supporter setia bisa memiliki kesempatan memiliki saham klub dan turut serta menentukan arah kemana Persebaya ke depannya nanti

Drama yang sesungguhnya masih belum masuk pada fase klimaksnya. Masih panjang ceritanya mengingat akan ada babak baru di mana akan ada proses transisi kepemilikan PT Persebaya Indonesia kepada pemiliknya yang baru nanti (ini berpotensi membuka keruwetan, benang kusut dan luka lama bagaimana sebuah klub perserikatan berubah menjadi sebuah PT).

Lantas, setelah ini bagaimana? Tim bagaimana kelanjutannya? Bertahan atau tambah melorot hingga terdegradasi (semoga tidak)? Manajemen bagaimana? Apakah Aza benar-benar sudah muak, jengah dengan semua urusan Persebaya, Bonek dan keruwetan liga sepakbola nasional dan benar-benar sayonara pada semua ini? Seingat saya Aza bukanlah tipe orang yang suka menjilat ludahnya sendiri, sekali bilang ya itulah yang akan dipegang dan dilakukan.

Semua poin pro kontra dan segudang tanda tanya di atas hanyalah sebagian kecil yang saya temui di pembicaraan-pembicaraan kelas warkop pinggir jalan dengan ditemani secangkir kopi sasetan dan rokok eceran. Masih banyak pembicaraan dan pembahasan oleh orang-orang pintar dan berpendidikan tinggi yang lebih kompeten untuk membahas masa depan Persebaya di kemudian hari nanti. 

Buat saya, Bonek biasa yang tergabung dalam Bonek sejagat raya ini, apapun yang terjadi nantinya… ya que sera-sera saja. Apapun yang terjadi, terjadilah. Jadikan semua kejadian ini menjadi media pembelajaran bagi semua elemen yang mengaku peduli dan mencintai Persebaya. Semua bisa berubah, berganti dan pergi. Hanya Persebaya yang akan tetap ada di hati.

“You can change your wife. You can change your politics. You can change your religion. But never, never can change your favourite football team.” – Eric cantona –

Continue Reading

Catatan Penulis

Terima Kasih AZA!

Published

on

Setelah rentetan hasil minor yang diperoleh Bajol Ijo selama 3 kali berturut-turut, akhirnya manajamen buka suara dan mengadakan agenda pertemuan yang bisa didatangi langsung oleh Bonek. Dalam agenda tersebut secara mengejutkan CEO Persebaya, Azrul Ananda mengutarakan pengunduran dirinya dari jabatan CEO. Cukup di luar dugaan jika melihat traffic di media sosial serta tuntutan dari Bonek, tidak ada yang menginginkan sosok AZA keluar atau mundur dari jabatan. Jika melihat drama yang selalu dialami Persebaya sejak 2017, tahun 2022 sepertinya adalah seri terakhir Persebaya di tangan AZA. 

Selama 5 musim di tangan AZA, Persebaya cukup fenomenal. Sejak kebangkitan dari mati suri, Persebaya bersolek bak gadis idaman para lelaki, semua mata tertuju pada Bajol Ijo. Mulai dari cara pengelolaan manajemen, merchandise dan entertainment. Namun sayangnya dari semua hal positif yang sudah disebutkan, Persebaya tidak mempunyai aset apapun kecuali Wisma Karanggayam. Itu pun juga menjadi persengketaan dengan Pemerintah Kota. Padahal aset merupakan hal penting bagi sebuah Perseroan Terbatas guna mendukung investasi perusahaan. Beruntung bagi Persebaya mempunyai fans yang kritis dan loyal untuk membantu mempertahankan peninggalan sejarah, saksi juara. 

Bagaimana nasib Persebaya selanjutnya setelah pengunduran diri AZA? Sebagai Bonek, pasti akan selalu optimis Persebaya akan tetap hidup dan berharap mendapatkan CEO pengganti yang lebih baik secara komunikasi terhadap para suporternya, karena selama ini Bonek selalu dibenturkan sesamanya jika manajemen melakukan kebijakan tanpa pertimbangan suporter. Persebaya memiliki kultur historis dengan suporter yang tidak bisa dilepaskan, alangkah lebih guyub jika melangkah bersama-sama. 

Bagaimana kelak Persebaya diakuisisi orang politik? Tenang, Persebaya tetaplah Persebaya dengan animo tinggi pendukungnya yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Politik tidak sepenuhnya busuk, pada dasarnya Sepakbola kita tidak terlepas dari belenggu politik. Manajemen terdahulu pun juga hampir terseret kedalam arus politik saat pilwali Kota Surabaya, akibatnya Persebaya selalu dipersulit untuk menggelar latihan di Surabaya. PSSI berdiri pada tahun 1930 pun sebagai bentuk politik identitas Bumiputera atas kedigdayaan sepakbola kolonialisme masa lalu. Selama Bonek masih memiliki akal sehat menyampingkan fanatisme buta, Persebaya akan sulit terbawa arus politik, ditambah era APBD juga sudah berakhir. Persebaya akan menemukan jalannya sendiri menuju kejayaan, yang saat ini terjadi hanyalah proses, bukan akhir! 

Terima kasih untuk AZA yang telah merawat dan membangun Persebaya dari minus. Semoga semakin banyak orang-orang seperti anda untuk membentuk iklim sepakbola Indonesia yang sehat dan profesional.

Salam satu nyali!

Continue Reading

Trending