Connect with us

Catatan Penulis

Patah Hati Melihat Bonek dan Persebaya

Published

on

16 Oktober 2015, media online yang saya bentuk mulai menyajikan berita-berita tentang Persebaya. Bersama beberapa teman, saya membuat media ini untuk menyuguhkan kabar tim yang saat itu masih berjuang untuk kembali berkompetisi. Kami juga ingin mengedukasi Bonek lewat media ini.

Saat itu, saya sudah keluar dari pekerjaan mapan saya di sebuah koran terbesar di Surabaya. Di samping membuat portal ini, saya menghidupi diri sebagai freelancer di media online sebuah kampus. Namun tetap, mimpi saya adalah bagaimana membuat media kami tumbuh besar.

Saat Persebaya kembali diterima sebagai anggota PSSI, media kami ikut mendapatkan berkahnya. Traffic pengunjung mengalami peningkatan drastis. Berita-berita kami cukup banyak dibaca Bonek waktu itu. Karena hanya kami media yang menyajikan kabar Persebaya secara mendalam.

Demi mendapatkan berita eksklusif, saya berangkat ke Bandung. Saat itu, Persebaya akan disahkan dalam kongres PSSI. Meski media kami masih baru, saya bisa meliput suasana kongres dan menyaksikan momen bersejarah itu.

Ada perasaan bangga. Tak hanya sebagai wartawan namun juga pendukung Persebaya. Perasaan itu susah digambarkan. Namun sensasinya bikin ketagihan. Sejak saat itu saya suka melakukan liputan Persebaya secara langsung. Latihan demi latihan saya datangi. Saat Persebaya kembali berlaga, saya datang melakukan liputan. Praktis, semua momen penting Persebaya saya hadiri. Termasuk saat Persebaya promosi ke Liga 1.

Dari musim ke musim, meliput Persebaya seolah menjadi menu wajib. Tak hanya liputan di kandang namun juga tandang. Saya menyaksikan bagaimana Bonek dengan penuh gairah mendukung Persebaya. Saya juga sempat menyaksikan kerusuhan di GBT usai Persebaya kalah dari PSS Sleman. Momen jatuh bangun Persebaya tak luput dari pantauan saya.

Persebaya sudah menjadi hidup saya. Atas dasar itu, saya mantap keluar dari pekerjaan sebagai freelancer. Meski ada tawaran menjadi pegawai tetap di kampus itu, saya memilih membesarkan media yang telah memberi kebahagiaan ini.

Sampailah saya di Juli 2020 ketika saya memutuskan keluar dari media ini. Saya cabut karena ada dinamika organisasi di mana ada perbedaan visi dan misi di antara para pendiri.

Media online yang selama ini saya besarkan tak lagi menjadi bagian dari hidup. Ada perasaan aneh. Saya yang setiap hari mengikuti perkembangan Persebaya seperti kehilangan pegangan. Apalagi media ini juga menghidupi saya dan keluarga.

Saya sempat mempertanyakan keputusan tersebut. Apakah keputusan keluar itu salah? Bagaimana cara saya menghidupi istri dan empat anak saya? Berbulan-bulan saya tidak bisa move on sehingga mempengaruhi kesehatan mental.

Namun pada akhirnya saya bisa move on. Terlebih saat saya mendapatkan pekerjaan baru di sebuah stasiun televisi. Dan saya baru menyadari pengalaman saya mengelola media Persebaya dan Bonek itu ternyata sangat membantu karir saya.

Di tengah kesibukan, saya benar-benar melupakan media tersebut. Tak hanya itu, saya sedikit melupakan Persebaya. Saya tak lagi hafal nama-nama pemain Persebaya. Saya tidak ingat jadwal-jadwal Persebaya di liga seperti saat saya di media.

Saya masih suka Persebaya. Namun tidak se-intens dulu saat meliput Persebaya. Dari teman-teman di BWF (Bonek Writers Forum) lah, saya sering mendapat update tentang Persebaya.

Saya mencoba menganalisa mengapa saya tidak seantusias dulu. Keluarnya saya dari media mungkin menjadi salah satu penyebab. Namun penyebab lain adalah: saya patah hati melihat Bonek dan Persebaya sekarang.

Saya suka menulis. Beberapa tulisan saya buat untuk mengedukasi Bonek. Cukup banyak masalah yang dihadapi Bonek sehingga saya perlu meluangkan pemikiran-pemikiran saya dalam bentuk tulisan. Jika kata adalah senjata maka saya berharap tulisan-tulisan itu menjadi senjata untuk menyelesaikan masalah-masalah di Bonek.

Namun saya kecewa. Ternyata tulisan saya tak cukup bisa membantu Bonek menyelesaikan masalah-masalah itu. Sartok, kebiasaan merusak saat tim kalah, estafet, antikritik, dan hal-hal negatif lainnya masih sering terjadi.

Saya selalu yakin jika Bonek memiliki potensi kuat untuk menjadi suporter terbaik. Sayangnya, perilaku-perilaku negatif itu menghancurkan potensi-potensi yang dimiliki. Berapa banyak kerja-kerja kebaikan yang dilakukan Bonek harus hilang saat Bonek berbuat negatif? Kerusuhan di GDS saat Persebaya kalah menjadi bukti. Ketika citra Bonek merangkak naik, dengan cepat citra itu kembali menghujam bumi. Celakanya, hal itu selalu berulang dari musim ke musim. Itulah yang membuat mengikuti Persebaya bagi saya tak lagi mendatangkan rasa bahagia. Sport adalah tentang sportifitas. Jika hal-hal yang tidak sportif lebih dikedepankan, apa arti sport?

Patah hati kedua tentu saja saat melihat Persebaya. Saya akui Azrul Ananda adalah Presiden Persebaya yang visioner. Azrul menjadikan Persebaya sebagai tim yang berkelas. Kemasannya bagus dan menarik. Sayangnya, saya merasa Persebaya kehilangan roh dan jiwa. Kultur Persebaya di mana siapapun yang mengelola akan melakukan apa saja tanpa memikirkan untung rugi raib entah ke mana. Tim ini ibarat gadis cantik dengan make up tebal namun tingkat kepintarannya di bawah rata-rata.

Ini juga yang membuat saya menjadi masa bodoh tentang Persebaya. Saya masih sedih saat Persebaya kalah. Namun kesedihan itu tak lagi berlarut-larut.

Tim adalah representasi dari pendukungnya. Jika tim sudah tidak mampu merepresentasikan diri kita, mengapa kita harus mendukungnya dengan sepenuh hati?

Tentu saja yang paling bertanggungjawab adalah manajemen di bawah kepemimpinan Azrul. Manajemen tak mampu menyuntikkan roh dan spirit ke Persebaya. Visi boleh bagus. Tapi tanpa roh dan jiwa, visi akan terasa kering.

Saya masih berharap bahwa patah hati ini segera berakhir. Bonek dan Persebaya bisa berubah lebih baik. Klub yang saya cintai mampu mengembalikan roh dan jiwa dengan kultur yang selalu dipegang. Bonek meninggalkan hal-hal negatif dan mulai fokus mendukung Persebaya dengan cara yang baik. Saya ingin rasa bahagia mendukung Persebaya hadir kembali.

***

Usai Bonek berbuat rusuh di laga terakhirnya lawan RANS, saya bilang ke istri saya: “Untung ya dulu aku keluar dari media Bonek.” Istri saya hanya tersenyum.

Terkadang, kita harus mundur satu langkah untuk maju 10 langkah. Saat mundur, sering kita merasa kalah. Namun dengan mundur, kita bisa belajar agar ke depan bisa lebih baik. Saat kita mampu mengambil pelajaran, di situlah kita mempunyai peluang untuk kembali menjadi pemenang.

Keputusan Azrul mundur bagi saya sangat tepat. Saya yakin Azrul bisa lebih baik pasca mengelola Persebaya. Karena Azrul orangnya baik, meski sedikit polos. (*)

Content creator, digital media watch, public transport enthusiast, die hard Persebaya and Arsenal fans, love to write about life | Anggota BWF

Continue Reading
1 Comment

1 Comment

  1. celotehrenyah

    September 19, 2022 at 11:45 pm

    rasa yang sama tapi saya pada sepak bola Indonesia
    Liganya, operatornya, wasitnya, suporternya, pemainnya, pengurus klubnya, federasinya..
    yang masih nonton hanya timnas, itu pun terkadang
    liga? Sangat terkadang sekali pertandingan Arema itupun sebelum ada banyak seperti sekarang,

    Semoga sepak bola Indonesia semakin lebih baik yang dimulai dari klub, suporter dan federasinya

    Salam,
    orang malang yg tentu menyukai arema, tapi bukan aremania
    hanya salah satu pecinta sepak bola

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Catatan Penulis

Patah Hati Melihat Liga Indonesia

Published

on

Liga Indonesia sejatinya memiliki potensi menjadi liga terhebat di Asia bahkan dunia. Indonesia memiliki 275 juta penduduk yang menjadikan sepakbola olahraga nomor 1. Jutaan suporter fanatik yang rela mendukung timnya dengan segenap hati. Ribuan klub bola di seantero negeri. Ratusan perusahaan dan investor yang siap menggelontorkan dana. 

Sayang, potensi itu lenyap karena PSSI tidak becus mengelola liga. Liga Indonesia gagal menjadi liga yang layak tonton bagi keluarga-keluarga di Indonesia. Banyak laga yang jauh dari kata sportivitas. Belum lagi keributan-keributan di luar lapangan yang membuat siapa saja muak membahas liga PSSI.

Mengapa bisa begitu? Jawabannya karena keserakahan, kerakusan, rasa tidak tahu malu yang dimiliki mayoritas pengurus PSSI.

Kita mulai dari jabatan Ketua Umum PSSI.

Sudah menjadi rahasia umum jika jabatan orang nomor 1 di federasi ini adalah jabatan seksi. Banyak figur yang tertarik menduduki singgasana PSSI 1. Bukan untuk memajukan sepakbola tanah air. Namun sebagai batu loncatan menduduki jabatan-jabatan publik hingga tujuan-tujuan pribadi atau golongan.

Eddy Rahmayadi sukses menjadi Gubernur Sumatera Utara saat masih menjabat Ketum PSSI. Iwan Bule, Ketum PSSI sekarang, getol membuat baliho kampanye Gubernur Jawa Barat. Hingga usia 92 tahun, Ketum-Ketum PSSI terpilih seperti tidak mengerti sepakbola. Dan lebih aneh lagi, para pemilik suara PSSI terus memilih orang-orang yang tidak kompeten menduduki singgasana orang nomor 1 federasi dan para pengurusnya.

Namun jika kita menilik komposisi pemilik suara, kepentingan PSSI lebih terakomodasi ketimbang kepentingan pemilik klub. Pada kongres tahunan PSSI 2019, terdapat 85 anggota PSSI yang menjandi pemilik suara. Dari jumlah itu, 40 persen atau 34 suara dikuasai Asprov PSSI daerah. Sisanya 18 klub Liga 1, 6 klub Liga 2, 16 klub Liga 3, dan 1 Asosiasi Futsal.

Jika Asprov adalah kepanjangan tangan PSSI, butuh tambahan suara 10 persen + 1 agar status quo bisa tetap menang. Dalam statuta PSSI juga ditetapkan aturan yang bisa menghalangi orang-orang dengan kompetensi tinggi untuk menjadi pengurus.

Di Kongres Pemilihan PSSI 2019-2024, calon ketum harus punya riwayat aktif mengurus sepak bola di lingkungan PSSI alias bukan sekadar aktif di kegiatan sepak bola.

Sistem ini tentu saja melanggengkan posisi orang-orang lama di PSSI. Tak heran, dari periode ke periode, wajah-wajah PSSI selalu dipenuhi muka-muka lama. Meski prestasi sepakbola Indonesia di kancah internasional buruk, para pengurusnya dengan tanpa malu tak mau mengundurkan diri.

Dengan tetap bercokolnya muka-muka lama, tak banyak perubahan hadir di sepakbola kita. Liga Indonesia dari musim ke musim kualitasnya semakin menukik tajam. Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 135 orang adalah bom waktu yang meledak akibat bobroknya liga.

Mirisnya, tragedi yang seharusnya menjadi momen mereformasi sepakbola hanya dianggap business as usual. Mungkin juga karena peristiwa tewasnya suporter di stadion bukanlah yang pertama. Menurut data Save Our Soccer (SOS), sebelum Tragedi Kanjuruhan, 78 suporter tewas baik di stadion maupun luar stadion selama Liga Indonesia berlangsung. Tragedi kematian suporter sudah dianggap peristiwa lumrah. Saking biasanya, PSSI seperti kehilangan akal untuk menghentikannya.

Liga 1  Bergulir di Tengah Skeptisme Publik

Di tengah skeptisme publik akan adanya perubahan sepakbola di negeri ini, Liga 1 kembali bergulir. Tuntutan suporter untuk menghentikan sementara liga hingga ada perubahan dalam sepakbola ternyata tidak diindahkan.

Seperti layaknya template, insiden-insiden yang melibatkan wasit kembali terlihat di laga-laga Liga 1. Banyak keputusan wasit yang kontroversial yang menguntungkan atau merugikan beberapa klub. Hal ini memicu suporter saling menyalahkan dan akhirnya menjadi bahan bakar untuk “berkelahi” di medsos.

Persebaya beberapa kali dirugikan dengan keputusan wasit. Saya juga melihat klub-klub lain juga ada yang dirugikan. Di Liga Indonesia, klub apapun bisa jadi korban keputusan buruk wasit. Dan seperti biasa, PSSI tidak bisa berbuat banyak mengatasi permasalahan yang sudah seperti kanker ini.

Kondisi yang telah bertahun-tahun tak pernah berubah ini membuat saya menjadi patah hati melihat Liga Indonesia. Jika sebelumnya saya menulis Patah Hati Melihat Bonek dan Persebaya, kini saya menulis hal yang sama tentang Liga Indonesia. Saya tak lagi bergairah menyaksikannya. Rasanya, dukungan yang saya berikan untuk liga ini tak ada manfaatnya. Tak ada kegembiraan seperti yang saya rasakan saat saya masih menaruh harapan agar liga kita menjadi lebih baik. Kini harapan itu sudah saya buang jauh-jauh.

Meski Persebaya masih berkompetisi, saya tak punya semangat lagi menontonnya. Saya masih tetap sedih saat Persebaya kalah, namun kesedihan itu tidak berlarut-larut. Di liga yang tak lagi menjunjung tinggi sportivitas, kemenangan atau kekalahan tak lagi ada artinya.

Para petinggi PSSI yang telah terbukti gagal membawa prestasi juga tak pernah mengeluarkan pernyataan untuk mundur. Mereka malah sudah ancang-ancang menjabat lagi di kongres PSSI yang digelar tahun depan.

Sikap pesimis akan berubahnya Liga Indonesia membuat saya apatis dan antipati. Melihat potensi yang diabaikan segelintir orang-orang yang memanfaatkan liga ini untuk kepentingan pribadinya membuat saya muak.

Kapan Liga Indonesia bisa memberikan kegembiraan dan kebahagiaan kepada para suporter? Kapan sportivitas yang menjadi roh kompetisi dijunjung tinggi? Kapan PSSI menjadi federasi yang waras?

Rasanya pertanyaan-pertanyaan ini mustahil ada jawabannya. (*)

Continue Reading

Catatan Penulis

Pentingnya Merawat Sejarah Persebaya, Agar Bonek Tidak Mudah Pindah Sebelah

Published

on

Apa pentingnya sejarah? Banyak yang bilang pelajaran sejarah itu membosankan. Beberapa lirik lagu menyiratkan jika kita sebaiknya melupakan masa lalu.

“Yang lalu biarlah berlalu.”

Sepotong lirik lagu “Lamunan” milik Andromeda ini menyiratkan peristiwa di masa lalu tidak penting untuk dibahas. Namun bagi saya, peristiwa di masa lalu yang seringkali disebut sejarah itu sangat penting untuk dibicarakan.

Saya baru mengerti pentingnya sejarah setelah masalah dualisme Persebaya terselesaikan dengan baik. Persebaya yang sempat mati suri kembali dibangkitkan dan mengikuti kompetisi resmi di bawah PSSI.

Dan pahlawan yang membuat Persebaya berdiri kokoh adalah Bonek.

Namun, membangkitkan Persebaya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bonek sempat terpecah antara mendukung Persebaya asli yang sarat masalah atau Persebaya sebelah yang penuh bintang.

Pada akhirnya, suara mayoritas Bonek tetap keukeuh mendukung Persebaya yang asli. Lem perekat yang membuat Bonek mantap memilih Persebaya yang bermarkas di Karanggayam adalah sejarah yang mesti dirawat.

Perlawanan atas ketidakadilan tidak harus memakai senjata, namun bisa dengan kata-kata. Dan bisa kita lihat saat Persebaya dalam periode mati suri, banyak Bonek menuliskan curahan hatinya di akun-akun Facebook pribadinya. Banyak Bonek yang menulis tentang sejarah Persebaya. Tulisan-tulisan itu menunjukkan dukungan mereka kepada tim kebanggaannya. Meski saat itu banyak hujatan dan makian dari pendukung Persebaya sebelah, mereka tetap teguh pendirian.

Ingatan saya akan dualisme Persebaya dan pentingnya merawat sejarah kembali hadir saat saya datang ke acara Mahakarya Bonek Campus #4. Bonek Campus mengundang pelatih Persebaya saat juara 2004, Jacksen F Tiago dan dua pemain skuad 2004, Uston Nawawi dan Chairil “Pace” Anwar. Acara yang diadakan di Kayoon Heritage, Minggu (18/11) ini memang mengusung tema “Spirit 2004”.

Riswan Lauhin dan Atta Ballah mengamati kliping perjalanan Persebaya saat juara 2004.

Dua pemain Persebaya saat ini, Atta Ballah dan Riswan Lauhin, juga dihadirkan. Tema yang diangkat Bonek Campus bukan tanpa alasan. Prestasi Persebaya musim ini kurang bagus. Meski di laga terakhir menorehkan sejarah dengan mengalahkan Arema FC di Kanjuruhan, Persebaya masih berada di papan tengah. Target 3 besar yang dicanangkan manajemen tampaknya susah diwujudkan. “Spirit 2004” memberikan pesan agar semangat juara tertanam di dada skuad Persebaya sekarang.

Acara yang berisi talkshow, pameran dokumentasi perjalanan Persebaya juara 2004, dan pertunjukan musik ini cukup ramai dihadiri Bonek. Mereka antusias mengikuti acara demi acara. Tak hanya Bonek lawas, Bonek muda pun datang ke acara yang lebih banyak membahas sejarah Persebaya itu.

Lewat acara-acara yang mengulas sejarah terjadi transfer pengetahuan sejarah.

Kehadiran Bonek di acara-acara seperti ini patut diapresiasi. Bonek telah sadar pentingnya merawat sejarah Persebaya. Merawat sejarah sangat penting karena bisa memperkuat akar Persebaya. Semakin kuat akar, Persebaya akan tetap berdiri kokoh meski ada banyak masalah menghadang.

Klub adalah representasi para pendukungnya. Setiap klub memiliki karakteristik tertentu yang mewakili suporternya. Bisa dikatakan, klub adalah cermin pendukungnya. Seperti Persebaya yang mengusung karakter kota Surabaya yang Wani dan Ngeyel, jati diri itulah yang selalu diperjuangkan Bonek. Sejarah selalu mengingatkan pentingnya menjaga karakter-karakter itu karena membawa memori Persebaya dari jaman ke jaman.

Persebaya yang lahir sejak 1927 mengusung karakter Surabaya yang selalu konsisten dijalankan stakeholder Persebaya dari tahun ke tahun. Penelitian-penelitian sejarah tentang Persebaya di masa lalu menjadi pelajaran generasi sekarang agar mereka terus memperjuangkan semangat para pendahulunya.

Jacksen F Tiago dan Uston Nawawi.

Sejarah juga bisa menjadi refleksi jika di masa mendatang terjadi konflik yang mengancam eksistensi Persebaya. Kita juga bisa belajar untuk tidak mengulangi kesalahan di masa lalu. Karena sejarah akan terus berulang sehingga kita dituntut tetap waspada. Dengan melek sejarah Persebaya, Bonek akan selalu membawa semangat timnya dan tak akan mudah tergoda untuk berpaling.

Di sinilah pentingnya sejarah karena mampu menghubungkan generasi sekarang dengan generasi pendahulu.

Acara-acara seperti ini harus selalu digelar di masa-masa mendatang. Agar Bonek tidak putus hubungan dan konsisten memperjuangkan apa yang diperjuangkan para pendahulunya. Saya yakin, Bonek akan amanah dalam memperjuangkan Persebaya hingga kapan pun. Dan itu sangat membanggakan.

Jika bukan Bonek, siapa yang akan merawat sejarah Persebaya? (*)

Continue Reading

Catatan Penulis

Membakar Habis Kebencian, Mencari Jalan Keadilan

Published

on

Sampaikan sekarang, agar tidak menjadi bisul di kemudian hari. Karena pondasi kondusifitas seyogyanya dibangun atas dasar koreksi pada diri sendiri. Hilangnya banyak nyawa adalah tragedi dan kami turut berbela sungkawa sebagaimana layaknya menghormati mereka yg terlebih dahulu menghadap Illahi Robbi.

Sekali lagi, kami hanya mengingatkan bahwa penyerangan terhadap ofisial tim kami, bukanlah suatu hal yang bisa dinormalisasi, tidak bisa! Kami sangat concern terhadap hal ini, karena pernah mengalami pedihnya kehilangan talenta kami, Nurkiman di tahun 1995 silam. Abah Nurkiman yang kala itu menjadi pemain Persebaya harus kehilangan satu matanya. Meski pecahan kaca yang masih tertanam di dalam kelopak matanya, Abah Nurkiman tak menyimpan dendam. Beliau berbesar hati, memaafkan pelaku dan berpesan “Boleh fanatik tapi jangan anarkis. Kalah menang dihargai, pemain sudah berjuang. Kemudian suporter hanya mendukung, selesai pertandingan ya sudah.”

Hormat kami pada beberapa suporter Malang (melalui akun medsos mereka) yang mau mengakui bahwa adanya penyerangan kepada tim Persebaya itu salah dan meminta maaf karenanya. Mereka-mereka yang bukan figur-figur signifikan adalah sebenar-benarnya jiwa yang tabah dalam menjalani proses “terbakar” habis menjadi abu agar bisa terlahir kembali sebagaimana burung Phoenix. Terbakar habis egonya, terbakar habis kebenciannya terbakar habis hal-hal negatif yg menunggangi kecintaan mereka kepada tim kebanggaannya.

Saya yakin, mereka-mereka juga yang turun ke jalan beberapa minggu silam untuk memperjuangkan keadilan bagi kejadian Kanjuruhan tanpa takut ditunggangi. Mereka yang sudah menempatkan hatinya tepat (dununge roso) di tengah tidak akan mudah ditunggangi, karena yang mudah ditunggangi adalah mereka yg membawa hati terlalu ke kiri karena benci atau membawa hati terlalu ke kanan karena bangga, sehingga posisi sentral yg kosong mudah di tunggangi anasir-anasir dari luar baik secara fisik (agitasi, provokasi dsb) maupun secara metafisik sebagaimana sumpah iblis untuk mencelakakan anak Adam (jika tidak bisa membuat buruk anak Adam maka dia akan membuat anak Adam merasa baik).

Kemudian terjadi ketololan federasi yang membuat mereka (yang sedang tercerahkan) seolah-olah hendak dibentur-benturkan antara klub dan supporter lain dengan membuka wacana bahwa seluruh klub terancam laga usiran. Menggelar lanjutan kompetisi dengan sistem bubble seperti di jaman pandemi, seperti sebuah tindakan gebyah uyah dimana kesalahan satu pihak mengakibatkan jatuhnya hukuman yang diterima semuanya.

Jika ingin memberi arti agar berpulangnya ratusan jiwa di Kanjuruhan benar-benar mewariskan hal-hal yang benar, baik dan sehat bagi sepak bola Indonesia inilah saatnya. Hukum yang adil sesuai kadar kesalahan semua yang punya andil dalam terbentuknya kejadian tragedi 1 Oktober lalu. Dari atas sampai ke bawah secara menyeluruh baik yang terjadi di dalam maupun yang terjadi di luar lapangan. Sekali lagi, semuanya agar tidak ada lagi ganjalan di dalam hati yang menghalangi terbangunnya pondasi ini.

TTragedi ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Tragedi ini menjadi monumen pengingat akan betapa rusaknya hasil rivalitas yang didasari kebencian. Tragedi ini bisa menjadi batu pijakan akan sebuah kontemplasi dan kedamaian namun sebelum bicara soal jalan menuju damai maka kondusifitas harus diciptakan dan keadilan harus ditegakkan terlebih dahulu.

Seperti kata Gus Dur, “Kedamaian tanpa keadilan adalah ilusi.”

Continue Reading

Trending