Connect with us

Catatan Penulis

Cak Narto dan Basofi Sepakat Boling Bukan Bonek

Published

on

Istilah Boling (Bondho Maling) sepertinya perlu diangkat kembali ketika fenomena kriminalitas terjadi saat Persebaya tandang ke kandang lawan. Ulah segelintir orang yang melakukan tindakan kriminal telah mencoreng mayoritas Bonek yang mendukung dengan santun. Sebelum hal ini menjadi tradisi yang sulit untuk dilawan, perlu upaya lebih dari Bonek untuk menertibkan hal semacam ini.

Jika ditelisik, fenomena Bonek yang membuat onar dan melakukan penjarahan dimulai pada Final Liga Kansas tahun 1997 yang membuat berbagai pihak geram. Mulai dari Basofi Sudirman (Gubernur Jawa Timur pada saat itu) sampai dengan bapake Bonek Cak Narto (Wali Kota Surabaya) memunculkan istilah Boling sebagai pembeda dari Bonek yang telah berbuat santun dalam mendukung Persebaya.

Dalam buku yang berjudul Bonek: Berani Karena Bersama (1997), Basofi Sudirman mengidentifikasikan penonton sepakbola menjadi tiga, yaitu:

Pertama, mereka yang dapat diidentifikasi sebagai pecinta murni olahraga yang tahu pula mencintai olahraga. Kalangan ini adalah mereka yang selain suka terhadap olahraga, juga suka terhadap kondusifitas dan “suasana” perolahragaan yang baik.

Kedua, mereka yang sesungguhnya murni mencintai olahraga, dan mencurahkan segala potensinya -terkadang dengan tanpa mempertimbangkan keterbatasan dirinya- demi olahraga yang digemarinya. Tipologi kalangan ini dikenal dengan Bonek (Bondho Nekat).

Ketiga, mereka yang pura-pura murni mencintai sepakbola, tapi perilakunya justru murni tidak mencintai sepakbola. Inilah tipologi Boling (Bondho Maling).

Bonek sendiri identik dengan subkultur Arek, yang ada nilai berani meskipun kasar, berpikiran bebas, jantan, terbuka dan heroistik seperti digambarkan Harvey, sosiolog Australia yang meneliti tentang Kultur Jawa Timur. Subkultur Arek Suroboyo ini bisa jadi terbentuk lama dari generasi ke generasi. Paling tidak seperti dicatat William H. Frederick, Guru Besar Sejarah pada Universitas Ohio, AS, fenomena subkultur ini telah kental pada awal abad ini. Proses perkembangannya berlangsung secara linier, juga kompleks. Sejak awal Arek Suroboyo tidak menunjukkan pada etnik dan sosial tertentu (Anwar Hudijono, 1997).

Namun pada fenomena Boling, sepertinya telah terjadi bias pada subkultur arek, sehingga mengarah pada perbuatan destruktif yang menyimpang dari perwatakan heroisme itu sendiri. Keberanian dan heroisme alias sikap kepahlawanan dipahami secara menyimpang dengan cara menghalalkan segala cara bahkan melakukan penjarahan untuk bisa mencapai tujuan, yang seolah bagi mereka linier dengan pengekspresian pendahulunya ketika terlibat dalam peristiwa 10 November. Padahal itu adalah salah kaprah, tindakan seperti itu akan mencoreng citra Bonek sebagai supporter Persebaya dan nama baik Surabaya.

Menurut Basofi Sudirman, Bonek ketika dipahami secara positif sesungguhnya menempati posisi yang strategis. Salah satu yang menonjol dari Bonek adalah kekuatan atau gairah dukungannya yang luar biasa dicurahkan untuk tim andalannya. Bonek dalam perspektif yang positif, merupakan sebuah simbol bagi kesungguhan yang dahsyat untuk mencapai atau memperjuangkan sebuah kemenangan.

Sayang sekali jika Bonek dalam perspektif positif, dicoreng dengan adanya fenomena Boling. Bisa dikatakan Boling telah menghitamkan dan memanipulasi citra Bonek untuk menciderai olahraga dengan bertamengkan fanatisme. Jumlah Boling sesungguhnya tidak banyak namun mereka menjadi setetes tinta masuk ke air. Terkesan mewarnai, meskipun, dengan warna kemungkaran.

Oleh karena itu, Cak Narto, ketika menjadi Wali Kota dan Ketua Umum Persebaya, pernah berujar, “Mereka itu bukan Bonek (Bondho Nekat) lagi tapi Boling (Bondho Maling)”.

Sudah lama fenomena ini ada, namun semenjak awal tahun 2000 sudah mulai banyak Bonek yang masif bergerak menghapus citra jelek tersebut. Saat ini banyak sekali kegiatan Bonek yang sungguh-sungguh baik, seperti penggalangan dana untuk korban bencana, bakti sosial, pembagian takjil, pendirian Panti Asuhan, dsb.

Dalam mendukung Persebaya pun saat ini Bonek lebih terkoordinasi. Saat gruduk Jakarta 1 dan 2, hingga aksi menjemput Persebaya di Bandung, Bonek yang selama ini menjadi momok bagi PT Kereta Api Indonesia bisa menjadi penumpang yang santun dan membeli tiket. Sepanjang perjalanan pun tidak ada gangguan seperti lemparan batu, dsb. Hal ini menunjukkan bahwa Bonek telah lebih dewasa yang akhirnya bisa diterima oleh warga dan supporter lain sepanjang jalur kereta yang dilewati.

Kembalinya Persebaya di sepakbola nasional jangan sampai dihiasi oleh fenomena Boling lagi. Oleh karenanya mumpung masih belum terlalu jauh, mari kita hadapi fenomena tersebut dengan mengangkat kembali istilah Boling selain dengan penegakan hukum tentunya.

Dengan adanya istilah Boling, adalah bentuk dikotomi yang jelas terhadap Bonek. Sehingga ketika terjadi penegakan hukum yang tegas, tidak ada dalih solidaritas kelompok lagi kepada mereka, karena mereka bukan Bonek. Sudah lama Bonek mentoleransi adanya fenomena Boling, jika bukan Bonek sendiri yang meluruskan, beban psikologis akan selamanya melekat pada Bonek.

Jika tak segera diberantas, mungkin suatu saat akan banyak sekali kota yang menolak kedatangan Bonek. Akan ada lagi ‘perang’ dengan warga masyarakat yang dirugikan. Yang tentunya akan sangat merugikan bagi Bonek yang betul-betul mendukung dan mencintai Persebaya.

Belum lagi terkait dengan regenerasi Bonek. Apakah mau anak keturunan anda yang mencintai Persebaya (Bonek) dianggap sebagai penjarah seperti Boling? Tentunya tidak, begitupun saya. (*)

Continue Reading
1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Boling Membajak Bonek – Sejarah Persebaya

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Catatan Penulis

Pernyataan Sikap dan Beberapa Rekomendasi Bonek Writers Forum Atas Tragedi Kanjuruhan

Published

on

Tragedi Kanjuruhan di laga Arema FC vs Persebaya yang menyebabkan 127 orang tewas (data terakhir dari Polda Jatim saat konpers, Minggu, 2 Oktober 2022) membuat kita prihatin. Peristiwa yang dimulai adanya ricuh suporter dan dibalas aparat dengan menembakkan gas air mata bukan yang kali pertama. Korban tewas di stadion dengan sebab-sebab lain juga telah banyak berjatuhan.

Bonek Writers Forum (BWF) mendesak agar semua stakeholders fokus untuk menyelesaikan permasalahan di dalam sepakbola Indonesia. Penghentian liga memang salah satu langkah, namun jangan lupakan akar dari permasalahan yakni tak adanya regulasi untuk mengantisipasi agar peristiwa serupa tidak terjadi di masa mendatang.

Selain mengucapkan duka cita mendalam atas jatuhnya korban baik suporter maupun petugas keamanan, BWF memberikan beberapa rekomendasi agar peristiwa serupa tidak terulang:

  1. Mendesak DPR RI membuat pansus untuk menyelidiki peristiwa berdarah ini.
  2. Mendorong pemerintah bersama DPR menyusun dan membuat UU suporter seperti di Inggris saat pemerintah dan parlemennya membuat UU usai tragedi Hillsborough.
  3. Meminta PSSI bertanggungjawab atas peristiwa ini karena jatuhnya korban tewas dan luka di stadion telah berulangkali terjadi.
  4. Menstandarisasi prosedur penanganan massa sepakbola oleh petugas keamanan.
  5. Petugas keamanan mengikuti aturan FIFA dengan tidak lagi menggunakan gas air mata untuk mengatasi ricuh penonton di dalam stadion.
  6. Announcer pertandingan wajib menyebutkan titik kumpul serta arah evakuasi sebelum laga dan sepanjang laga, dan waktu lainnya mengantisipasi kericuhan.
  7. Seluruh stadion harus berkursi atau all seater stand. Tidak boleh ada lagi terrace stand atau tribun beton. Ini penting untuk menentukan dengan akurat jumlah penonton di stadion.
  8. Kapasitas tiket yang dicetak hendaknya tidak full, tapi ada spare 5 persen kursi kosong untuk proses evakuasi.
  9. Jam pertandingan untuk laga-laga bertensi tinggi harus digelar sore atau kalau perlu tanpa penonton.
  10. Pembatasan jam tanding paling larut pukul tujuh malam, sehingga penonton tidak pulang kemalaman mengingat sistem transportasi di Indonesia belum sebagus sistem transportasi di eropa yang memungkinkan pertandingan digelar larut malam.
  11. Wasit harus menghentikan pertandingan saat dari tribun ada nyanyian provokatif dan rasis dengan lirik penuh kebencian seperti ajakan pembunuhan.

Demikian beberapa rekomendasi dari BWF. Semoga stakeholders sepakbola nasional bisa bersatu dan fokus dalam menyelesaikan permasalahan ini. Tidak ada pertandingan sepakbola yang sebanding dengan nyawa. (*)

Continue Reading

Catatan Penulis

Gelora Drama

Published

on

Banyak yang bilang kalau drama Korea menjadi begitu meledak karena para pesona fisik para pemerannya. Pemeran prianya ngganteng-ngganteng dan pemeran wanitanya huayu-huayu. Kemampuan akting para aktor dan aktrisnya tak bisa dianggap biasa-biasa saja, mereka begitu menjiwai peran yang mereka lakoni.

Tapi jangan salah, drakor memiliki kekuatan terhebat justru pada alur ceritanya yang bisa menggeret emosi penonton hingga masuk ke dalam drama itu sendiri. Adegan demi adegan dalam alur ceritanya seringkali kita temui dalam kehidupan sehari-hari, tidak sama persis namun mirip dengan apa yang pernah kita alami. Hingga seolah-olah para penggemarnya bisa berada di dalamnya dan menjadi pemerannya! Itulah mengapa drakor begitu melekat di hati penggemarnya. 

Hal ini saya temui juga pada klub kebanggan saya, Persebaya Surabaya. Tak mau kalah dengan drakor-drakor yang merajai sinema, Persebaya selalu menghadirkan sekian banyak drama setiap musimnya. Drama terbesarnya adalah saat Persebaya mengalami dualisme kepemilikan klub di tahun 2010, disanksi PSSI tidak boleh berkompetisi, pertarungan secara hukum akan hak penggunaan nama klub Persebaya, hingga akhirnya kembali ke kancah sepakbola nasional dan langsung menjadi juara Liga 2 di musim 2017.

Apakah selepas itu dramanya selesai? Tidak!

Sepanjang Persebaya berada di era baru di bawah pimpinan Azrul Ananda, drama-drama terus berlanjut setiap musimnya. Yang paling sering dan terus berulang adalah slow start yang dialami tim. Chants“lek gak seri kalah, lek gak seri kalah, …kapan menange?” menjadi playlist utama yang sering dinyanyikan semua sisi tribun Gelora Bung Tomo. Ujungnya adalah pemecatan pelatih bahkan sebelum pertengahan musim dilalui. Di musim 2019 malah terjadi pemecatan pelatih hingga 2 kali dalam semusim kompetisi.

Dan menurut saya yang paling fenomenal adalah mundurnya CEO sekaligus presiden klub, Azrul Ananda, baru-baru ini setelah timnya mengalami kekalahan memalukan di kandang sendiri yang disusul dengan aksi vandalisme yang dilakukan Bonek karena kecewa timnya kalah.

Sebentar, kandang sendiri? Enggak juga, karena sebenarnya kalau boleh mengoreksi, stadion yang digunakan adalah stadion Gelora Delta Sidoarjo, kota satelit di sebelah selatan Surabaya. Bertamu, meminjam stadion dan akhirnya melakukan vandalisme, saya sedih, saya malu, mohon maaf buat segenap warga Sidoarjo (Kabar terakhir, Bonek melakukan patungan hingga memperoleh dana lebih dari 50 juta rupiah untuk didonasikan lewat klub guna mengganti dan memperbaiki kerusakan di stadion GDS).

Jika tim-tim lain hanya sekedar memecat pelatih kepala atau manajer, Persebaya sebagai Drama King (saya tak menyebutnya lagi sebagai drama queen, Persebaya lebih dari sekedar queen) justru membuat episode di mana presiden klubnya mundur dan berencana melepas semua saham kepemilikannya dari Persebaya dan mengembalikan mandat  kembali kepada Koperasi Surya Abadi Persebaya (KSAP) sebagai pemilik 30 persen saham PT Persebaya Indonesia. Drama ini berlanjut dengan penolakan surat pengunduran Aza (sebutan untuk Azrul Ananda) dari posisinya sebagai presiden dan CEO klub oleh koperasi KSAP melalui ketuanya, Cholid Ghoromah.

Apakah drama ini berakhir sampai disini? Sepertinya belum.

Keputusan Aza untuk mundur justru menjadi bola panas liar yang menggelinding tak terkendali kemana-mana. Sebuah keputusan yang shocking the world  hingga mengalahkan kabar duka meninggalnya Ratu Elizabeth 2 di Inggris sana. Banyak yang menyayangkan keputusan Aza yang mendadak ini.  Terjadi friksi-friksi diantara Bonek sendiri dalam menyikapi drama kali ini. Ada yang mendukung pengunduran dirinya, ada pula yang menyesalkannya. Tak sedikit pula yang menuduh Aza “tinggal glanggang, colong playu” dalam urusan Persebaya ini, meski dia memperkuat argumennya bahwa dia dan semua jajaran manajemennya akan menyelesaikan semua ini hingga akhir musim 2022 berakhir. Namun siapa yang tahu apa yang terjadi besok?

Bagi pihak yang mendukung pengunduran dirinya, menilai kinerja Aza selama ini dirasa tidak cukup untuk membawa Persebaya kembali berprestasi. Menurut mereka ada beberapa kelemahan manajemen di bawah Aza sebagai berikut:

  • Manajemen dinilai terlalu pelit mengeluarkan dana guna merekrut pemain-pemain kelas atas baik lokal maupun asing, apalagi selepas musim lalu berakhir, hampir 80 persen pondasi inti tim lepas, sementara penggantinya dinilai tak sepadan. 
  • Manajemen terlalu meremehkan sektor-sektor penting seperti psikolog tim di saat tim yang berisikan skuad muda minim pengalaman perlu dibentengi oleh psikiater guna mengarungi kompetisi yang panjang. (Gak gampang dadi pemain Persebaya cak!)
  • Terlalu berlindung pada kata-kata langit semacam sustainable, percaya proses (progressnya mana? kok proses ae terus!), growing pain (it’s getting hurt more and more cuk!)
  • Tidak memiliki target yang jelas (jelas antara target, proses dan bagaimana implementasinya di proses itu sendiri) guna kembali meraih puncak prestasi (Juara! Gawe opo kabeh iki lek ga juara juara?)
  • Manajemen dianggap kurang bisa mendekat dan berkomunikasi dengan baik kepada publik (Bonek), selama ini selalu dianggap terlalu eksklusif 

Sedangkan bagi kelompok yang menentang pengunduran diri Aza serta menyesalkan keputusan ini , memiliki deretan argumen sebagai berikut :

  • Manajemen ala Aza ini adalah bentuk manajerial terbaik sepanjang sejarah Persebaya.
  • Bisa mandiri, tidak menggantungkan suntikan dana APBD yang rawan diselewengkan, dengan mampu menggandeng sponsor-sponsor yang loyal mendukung kinerja Persebaya baik sebagai PT ataupun klub sepakbola
  • Memiliki sistem penjualan merchandise terbaik yang bisa mengangkat sumber pendapatan bagi klub
  • Menghidupkan dan tentu saja membiayai kompetisi klub-klub internal yang menghasilkan pemain-pemain muda didikan akademi yang bisa menjadi sumber pemain berbakat bagi klub dan bahkan tim nasional
  • Tidak pernah ada kasus pemain telat gaji apalagi sampai tak terbayarkan , sebuah hal yang masih sering ditemui di klub-klub lain liga 1
  • Visioner dan progresif dalam menjalankan klub ini secara profesional. Bahkan mentargetkan bisa IPO (initial public offering) alias melempar saham ke publik sebelum usia Persebaya mencapai 100 tahun di 2027 nanti. Bonek selaku supporter setia bisa memiliki kesempatan memiliki saham klub dan turut serta menentukan arah kemana Persebaya ke depannya nanti

Drama yang sesungguhnya masih belum masuk pada fase klimaksnya. Masih panjang ceritanya mengingat akan ada babak baru di mana akan ada proses transisi kepemilikan PT Persebaya Indonesia kepada pemiliknya yang baru nanti (ini berpotensi membuka keruwetan, benang kusut dan luka lama bagaimana sebuah klub perserikatan berubah menjadi sebuah PT).

Lantas, setelah ini bagaimana? Tim bagaimana kelanjutannya? Bertahan atau tambah melorot hingga terdegradasi (semoga tidak)? Manajemen bagaimana? Apakah Aza benar-benar sudah muak, jengah dengan semua urusan Persebaya, Bonek dan keruwetan liga sepakbola nasional dan benar-benar sayonara pada semua ini? Seingat saya Aza bukanlah tipe orang yang suka menjilat ludahnya sendiri, sekali bilang ya itulah yang akan dipegang dan dilakukan.

Semua poin pro kontra dan segudang tanda tanya di atas hanyalah sebagian kecil yang saya temui di pembicaraan-pembicaraan kelas warkop pinggir jalan dengan ditemani secangkir kopi sasetan dan rokok eceran. Masih banyak pembicaraan dan pembahasan oleh orang-orang pintar dan berpendidikan tinggi yang lebih kompeten untuk membahas masa depan Persebaya di kemudian hari nanti. 

Buat saya, Bonek biasa yang tergabung dalam Bonek sejagat raya ini, apapun yang terjadi nantinya… ya que sera-sera saja. Apapun yang terjadi, terjadilah. Jadikan semua kejadian ini menjadi media pembelajaran bagi semua elemen yang mengaku peduli dan mencintai Persebaya. Semua bisa berubah, berganti dan pergi. Hanya Persebaya yang akan tetap ada di hati.

“You can change your wife. You can change your politics. You can change your religion. But never, never can change your favourite football team.” – Eric cantona –

Continue Reading

Catatan Penulis

Terima Kasih AZA!

Published

on

Setelah rentetan hasil minor yang diperoleh Bajol Ijo selama 3 kali berturut-turut, akhirnya manajamen buka suara dan mengadakan agenda pertemuan yang bisa didatangi langsung oleh Bonek. Dalam agenda tersebut secara mengejutkan CEO Persebaya, Azrul Ananda mengutarakan pengunduran dirinya dari jabatan CEO. Cukup di luar dugaan jika melihat traffic di media sosial serta tuntutan dari Bonek, tidak ada yang menginginkan sosok AZA keluar atau mundur dari jabatan. Jika melihat drama yang selalu dialami Persebaya sejak 2017, tahun 2022 sepertinya adalah seri terakhir Persebaya di tangan AZA. 

Selama 5 musim di tangan AZA, Persebaya cukup fenomenal. Sejak kebangkitan dari mati suri, Persebaya bersolek bak gadis idaman para lelaki, semua mata tertuju pada Bajol Ijo. Mulai dari cara pengelolaan manajemen, merchandise dan entertainment. Namun sayangnya dari semua hal positif yang sudah disebutkan, Persebaya tidak mempunyai aset apapun kecuali Wisma Karanggayam. Itu pun juga menjadi persengketaan dengan Pemerintah Kota. Padahal aset merupakan hal penting bagi sebuah Perseroan Terbatas guna mendukung investasi perusahaan. Beruntung bagi Persebaya mempunyai fans yang kritis dan loyal untuk membantu mempertahankan peninggalan sejarah, saksi juara. 

Bagaimana nasib Persebaya selanjutnya setelah pengunduran diri AZA? Sebagai Bonek, pasti akan selalu optimis Persebaya akan tetap hidup dan berharap mendapatkan CEO pengganti yang lebih baik secara komunikasi terhadap para suporternya, karena selama ini Bonek selalu dibenturkan sesamanya jika manajemen melakukan kebijakan tanpa pertimbangan suporter. Persebaya memiliki kultur historis dengan suporter yang tidak bisa dilepaskan, alangkah lebih guyub jika melangkah bersama-sama. 

Bagaimana kelak Persebaya diakuisisi orang politik? Tenang, Persebaya tetaplah Persebaya dengan animo tinggi pendukungnya yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Politik tidak sepenuhnya busuk, pada dasarnya Sepakbola kita tidak terlepas dari belenggu politik. Manajemen terdahulu pun juga hampir terseret kedalam arus politik saat pilwali Kota Surabaya, akibatnya Persebaya selalu dipersulit untuk menggelar latihan di Surabaya. PSSI berdiri pada tahun 1930 pun sebagai bentuk politik identitas Bumiputera atas kedigdayaan sepakbola kolonialisme masa lalu. Selama Bonek masih memiliki akal sehat menyampingkan fanatisme buta, Persebaya akan sulit terbawa arus politik, ditambah era APBD juga sudah berakhir. Persebaya akan menemukan jalannya sendiri menuju kejayaan, yang saat ini terjadi hanyalah proses, bukan akhir! 

Terima kasih untuk AZA yang telah merawat dan membangun Persebaya dari minus. Semoga semakin banyak orang-orang seperti anda untuk membentuk iklim sepakbola Indonesia yang sehat dan profesional.

Salam satu nyali!

Continue Reading

Trending