Connect with us

Catatan Bonek

Tips Aman saat Mbonek untuk Bonita

Published

on

Menjadi suporter sepak bola memang tidak sepenuhnya aman. Terutama para wanita yang ingin melihat langsung di stadion untuk merasakan euforia yang tidak akan didapatkan jika hanya menyaksikan pertandingan di layar kaca. Karena wanita pun juga tidak mau kalah tentunya. Ya walaupun hanya sekedar mencintai tim kebanggaan karena pemainnya yang cukup keren dan menarik pandangan mata. Nah berikut ini beberapa tips untuk Bonita yang ingin menonton pertandingan secara langsung di Stadion.

Berangkat Bareng 

Menyaksikan sepak bola memang lebih enak rame-rame, jangan kalian menonton sendiri ke stadion, bisa juga kalian berangkat dengan adik, kakak atau teman agar kalian ada yang menjaga. Selain itu bareng-bareng dapat sedikit menjamin keselamatan kita
 
Berpakaian Yang Sopan

Disini sopan bukan berarti harus formal ya, kalian dapat memilih pakaian yang nyaman namun tidak menarik perhatian berlebih untuk meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan. Jangan memakai baju terlalu ketat karena kalian akan merasa gerah juga ketika di stadion. 

Bijak Dalam Memilih Pertandingan 

Jangan datang ke stadion saat tim kebanggaan kalian melawan tim rival. Sebenarnya ini hak masing-masing dari kalian, namun akankah lebih bijak dan tanpa resiko jika datang bersama rombongan atau melihat di layar kaca. Karena pertandingan melawan rival biasanya mendapatkan antusiasme tinggi dari suporter, dari antusiasme tinggi ini menyebabkan kondisi tribun dan stadion lebih cenderung sulit terkontrol.

Pulang Lebih Awal

Suasana stadion ketika mendekati akhir pertandingan biasanya akan memanas, belum lagi jika tim kebanggan dalam posisi tertinggal. Untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan lebih baik pulang disaat pertandingan mendekati 5 menit terakhir babak kedua.

Menjaga Barang Pribadi

Untuk barang berharga kalian harus menjaga dengan baik, gunakan tas yang mempunyai resleting, jika menggunakan totte bag letakkan dibagian depan, simpan dompet dan hp dengan baik dalam tas. Jangan menggunakan perhiasan berlebihan saat ke stadion.

Nah saat ini buat para wanita. Jangan pernah takut menyaksikan pertandingan bola secara langsung. Yang terpenting menjaga diri itu paling penting, dan jangan memancing lawan jenis untuk memulai hal-hal yang tidak diinginkan. (*)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Catatan Bonek

Never Give Up, Persebaya!

Published

on

Remuk redam hati masih terasa hingga saat ini. Saya sebagai bonek biasa hanya bisa meratapi bagaimana keadaan Persebaya esok dan di kemudian hari. Hal ini dikarenakan mundurnya seorang presiden klub Persebaya, Azrul Ananda, yang biasa saya sebut Pak Pres. Keputusan itu diambil secara matang, Jumat (16/9) lalu buntut dari aksi kekecewaan bonek atas hasil minor saat berlaga melawan Rans Nusantara.

Bagi saya, ini adalah pukulan telak bagi tim secara luar dan dalam. Pastinya akan mengubah mental dan akan ada kegaduhan dalam internal tim dan manajemen, manakala di sisi eksternal masih harus ditambahi dengan menata ulang kembali para suporter.

Persebaya memang pernah dimatikan paksa oleh federasi. Dan kita semua harus tirakat
cukup lama untuk melihat sang kebanggaan kembali berlaga. Tetapi yang sebenarnya harus teman-teman ingat adalah ada banyak kekuatan yang bisa membatu Persebaya kembali bangun dari mati surinya dan mampu kembali berprestasi.

Di samping kekuatan luar biasa dari perjuangan bonek sejagat raya yang tak kenal lelah berjuang. Ada juga peran kekuatan itu dari seorang adalah Azrul Ananda, yang kala itu men-take over Persebaya dan menjadi presiden klub. Dari beberapa kanal YouTube, Azrul selalu mengatakan ketika ditawari menjadi Presiden Persebaya selalu menolak. Hingga pada suatu waktu dengan adanya banyak pihak yang menguatkannya, seketika Azrul menerima.

Di sisi lain, bonek juga berjuang ke Jakarta hingga Bandung untuk merebut kembali nama dan marwah Persebaya bisa kembali ke pangkuan kota Surabaya. Momentum inilah yang menurut saya merupakan titik balik dan berkembangnya Persebaya. Azrul adalah sosok muda yang visioner, asli Surabaya yang abahnya dulu juga pernah menjadi Presiden Persebaya, serta mau berkorban mengeluarkan dana untuk membayar hutang-hutang Persebaya yang ditunggak kala itu. Serta masih banyak lagi jasanya dan jajarannya untuk berusaha mengubah wajah Persebaya.

Saya sebagai bonek biasa, hanya berpendapat bahwa Pak Pres saat ini mungkin sudah lelah
dengan tekanan yang bertubi-tubi baik itu dari dalam dan di luar lapangan. Hingga terjadilah tragedi GDS tersebut. Mungkin sudah saatnya Pak Pres menepi untuk menenangkan pikiran dan meluruskan kembali timeline hidup serta bisnisnya. Kita semua tak pernah mengerti seperti apa berkecamuk hatinya saat ini. Untuk Persebaya, kita semua tidak tahu dapurnya kini seperti apa. Adakah bumbu tersembuyi lain yang akan mengubah wajah Persebaya di putaran kedua? Saya harap para suporter pun juga ikut sabar dalam proses ini. Setidaknya hargai jasa pak pres dengan jajarannya hingga akhir musim ini, karena kita semua pernah bersatu padu membangunkan kembali Persebaya dari tidur panjangnya.

Musim depan, para penikmat belum tahu akan dibawa kemana Persebaya oleh CEO baru. Saya berharap sakit ini bisa diobati dan pulih secepatnya, bangkit lebih kuat serta menambah kesolidan dari sebelumnya. Sejatinya kami para bonek selalu ingat akan potongan kalimat akhir pada bait Song For Pride “Kuselalu Mendukungmu Persebaya”.

Never up give up, Persebaya!

Continue Reading

Catatan Bonek

Menit Akhir, Kuda Binal Persebaya

Published

on

Menurut KBBI Online, binal artinya adalah bengal atau tidak menurut. Jika dilanjutkan, kata binal sering juga disematkan pada anak yang nakal serta kurang mendapat perharian orang tuanya.

Tiba-tiba ingatan saya terseret pada sebuah film nasional berjudul “Kuda-kuda Binal”. Sebuah film rilisan tahun1978, yang disutradarai oleh Frans Totok Ars. Film tersebut yang dibintangi oleh Doris Callebaute dan Eva Arnaz, dua artis film panas yang memang moncer di tahun 70-an karena wes ayu, body-ne semlohai, pinter membangun suasana syahdu pisan. Ibarat pemain bola, duet Doris Callebaute dan Eva Arnaz adalah David Alaba dengan Ruud Gullit yang siap di tempatkan di berbagai posisi.

David Alaba, bek kiri dari Bayern Munchen pernah turun ke lapangan sebagai bek
tengah hingga menempati posisi gelandang serang, sedang Ruud Gullit adalah
gelandang asal Belanda yang juga mumpuni jika ditempatkan sebagai winger kanan
dan bek tengah.

Tapi menonton film jelas berbeda dengan menonton sepakbola, apalagi Liga
Indonesia, lebih-lebih lagi Persebaya. Jika menonton film diperlukan fokus sepanjang
dialog, setting tempat maupun kronik-kronik apa yang terjadi dalam tiap adegannya,
menonton liga Indonesia tidak secapek itu. Belakangan, kita memang cukup melihat menit-
menit injury time saja sudah bisa memastikan siapa yang akan memenangkan pertandingan atau pertandingan yang sukses dengan berbagi poin imbang.

Persebaya misalnya, yang beberapa pekan terakhir sering kehilangan poin penuh
akibat binalnya menit akhir. Saat melawan Madura United di menit akhir Brylian Aldama
membawa bola ke tengah kotak pertahanan lawan tapi terlalu lama melepas bola, hingga bola akhirnya jatuh dikaki pemain Madura United yang cepat naik menyusun serangan balik. Dari serangan balik tersebut, berbuahlah sebuah tendangan sudut yang selanjutnya lahir gol penyeimbang kedudukan. Hilang 3 poin utuh di depan mata.

Di pertandingan berikutnya, Persebaya dijamu oleh Borneo FC. Satu poin seharusnya bisa diraih Persebaya, tapi musnah begitu saja akibat petaka pinalti di menit akhir.
Arif Catur yang dalam tayangan ulang terlihat menggunting pemain Borneo FC di dalam kotak yang seharusnya suci dari pelanggaran. Alexander Pato yang mengeksekusi bola pinalti berhasil menambah pundi golnya karena bola ekseskusinya tak sanggup ditepis oleh Satria Tama. Kita kalah dan tertunduk lesu. Zero point.

Kejadian semacam itu bukan hal baru bagi Persebaya, kesalahan di menit akhir, lengah dan
ceroboh, menganggap permainan sudah berakhir terlalu dini. Padahal, jika ada kesalahan yang dibuat dalam detik-detik terakhir pun, wasit bisa saja menghukum dengan berbagai hukuman fatal macam tendangan sudut, tendangan bebas di dekat kotak penalti atau bahkan malah terkena hukuman penalti.

Di musim lalu, setali tiga uang, sama saja. Persebaya kontra Persija di Stadion I Wayan Dipta Gianyar. Persebaya yang sudah unggul 3-1,tentu saja bermain nyantai, merasa di atas angin hingga mungkin karena fly yang yang terlalu tinggi, tak sadar dengan bola sepakan Konate telah melewati garis gawang Persebaya. Yang menyedihkan tentu saja sudah unggul dua gol, unggul pemain karena satu pemain Persija terkena kartu merah, tapi Persebaya tak jauh dari
drama menit akhir. Saat itu Reva Adi menjatuhkan Konate dalam kotak penalti sendiri,
lagi-lagi poin kemenangan itu hilang tersapu ombak penalti di menit akhir.

Ada apa dengan menit akhir? Kenapa Persebaya kesulitan menjinakkan bom di menit akhir?

Coach Aji, pemain yang sarat pengalaman dalam Liga Indonesia, juga pernah menjadi kapten Persebaya yang kaki kanannya pernah mencatatkan sebuah gol dari titik pinalti saat partai final melawan Bandung Raya pastinya tahu benar untuk menganalisa dan menemukan jawaban atas segala kejadian di menit akhir setiap pertandingan Persebaya.

Juga coach Bejo, yang bertahun-tahun menjadi batu karang di posisi center back
Persebaya kala itu. Kita punya dua sosok mantan pemain Persebaya yang sekarang berada dalam jajaran tim pelatih. Seperti ikan yang mati ditengah lautan kalau lini tengah Persebaya
sering kecolongan gol, sementara dua pelatihnya adalah mantan pemain-pemain yang
kokoh menjaga pertahanan.

Senada dengan hal itu, presiden Persebaya juga pernah menyampaikan bahwa ada dua hal yang akan menjadi bahan evaluasi tim pelatih yakni set piece dan manajemen permainan pada menit-menit akhir. Menit akhir menjadi sorotan penting bagi Persebaya bahkan masuk dalam bahan evaluasi tim pelatih, hal ini jelas tidak main-main, Persebaya tidak boleh kecolongan poin di menit akhir karena kondisi pemain menurun , baiik secara fisik ataupun konsentrasi, kecolongan gol di menit akhir berakibat pada kekalahan atau seri. Hal ini akan menentukan kondisi psikologis pemain di pertandingan berikutnya.

Hasil evaluasi tim pelatih itu akhirnya nampak di pertandingan ke 6 saat laga home
melawan PSIS Semarang. Di hadapan tekanan publik Surabaya sendiri, di tengah krisis
kemenangan di lima laga terakhir, laga kali ini adalah pembuktian bahwa Green Force
memang layak bercita-cita untuk finish di tiga besar klasemen nantinya.

Persebaya deras menggempur pertahanan PSIS, tercatat ada empat tendangan yang diblok oleh kiper PSIS dan statistik juga menunjukan ada dua belas shot on target. Hasilnya, satu tendangan pamungkas dari Marselino berhasil membobol gawang PSIS, membawa Persebaya unggul hingga pertandingan berakhir. Yang menarik bukan soal kemenangan yang akhirnya diraih Persebaya, tapi terjadinya gol pada menit injury time pertandingan, hal ini seolah membalik fakta yang sering terjadi, membongkar kebisingingan media massa yang ramai mencuitkan bahwa Persebaya selalu lemah di menit akhir pertandingan.

Koboi penjinak kuda binal itu bernama Marselino Ferdinan, arek nom yang berlari membawa tali laso dan melemparkannya ke leher si kuda, dinaikinya kini kuda tersebut. Marselino dengan bangga melepas jersey menuju ke arah tribun Bonek Mania.

Terima kasih Persebaya, terima kasih Marselino, Kuda Binal itu sudah kita taklukkan. (*)

*) Ditulis sambil mesem, seandainya kuda itu pemain film “Kuda-kuda Binal”

Continue Reading

Catatan Bonek

Karena Bonek Harus Kembali Menjadi Bonek!

Published

on

Tulisan ini sebenarnya sudah saya tulis agak lama, tapi beberapa kali berhenti saya tulis karena kurang ide atau ada refisi. Selain itu terkadang jika saya rasa tulisan yang saya buat terlalu berat kontennya untuk dibaca banyak orang maka saya putuskan untuk dirombak total. Karena menurut saya sebuah bacaan yang bagus aalah bacaan yang disajikan secara ringan namun mudah dipahami dan memiliki pesan yang mendalam. Tak terkecuali untuk tulisan tentang Bonek yang saya buat kali ini.

Banyak orang sudah tahu bahwa Bonek merupakan kelompok pendukung tim kesebelasan Persebaya, dengan warna identiknya yakni warna hijau. Hampir banyak atribut yang kemudian melekat dengan Bonek memiliki warna khas hijau, entah itu baju, syal, topi, atau bahkan tas yang mereka gunakan ketika menonton pertandingan Persebaya. Hal tersebut tidak lain berakar dari warna kebesaran tim Persebaya Surabaya, yakni hijau. Bahkan sampai julukan tim sepak bola asal Surabaya ini juga memiliki unsur hijau, yakni Bajul Ijo (Buaya Hijau).

Kemudian dalam perkembangannya segala macam atribut dan pernak-pernik yang memiliki hubungan dengan Bonek dan Persebaya sebagian besar akan memiliki unsur warna hijau di dalamnya. Jika tidak memiliku unsur warna hijau biasanya atribut atau pernak-pernik tersebut kan memiliki simbol identitas berupa tulisan atau gambar yang sangat identik dengan Bonek maupun Persebaya.

Ciri-ciri identik dalam atribut atau pernak-pernik berbau Bonek dan Persebaya itu kemudian menjadi salah satu kemudahan dari toko-toko penjual merchandise untuk memproduksi atribut atau pernak-pernik yang berhubungan dengan Bonek atau Persebaya. Kemudahan proses produksi ini yang kemudian menjadikan banyaknya toko-toko merchandise berbau Bonek dan Persebaya, baik yang resmi dari klub atau sekedar berpartner dengan klub, muncul baik di kota Surabaya ataupun di luar kota Surabaya.

Mudahnya produksi dan banyaknya toko yang menjual akhirnya mempermudah banyak orang untuk membeli segala macam pernak-pernik berbau Bonek dan Persebaya ini. Di sisi lain, kemampuan daya beli yang tinggi dari sebagian besar pendukung Persebaya menjadikan atribut Bonek dan Persebaya menjadi barang yang cepat laku di pasaran, berapapun harganya. Masalah harga tak perlu saya spill di sini, teman-teman pasti sudah tahu berapa harga masing-masing itemnya. Tapi kalau belum tahu silahkan mampir dulu ke official store atau mitra official store resmi dari Persebaya untuk cek harganya.

Namun kemudahan akses untuk mendapatkan atribut yang berbau Bonek dan Persebaya nampaknya lambat laun juga menimbulkan permasalahan. Mulai dari permasalahan mengenai hak guna merek dan logo dari Persebaya hingga permasalahan penggunaan atribut oleh beberapa kriminal untuk aksi-aksi yang tidak bertanggungjawab. Saya tidak akan membahas permasalahan mengenai hak guna merek dan logo, karena saya sadar itu diluar keilmuan dan kemampuan saya untuk membahas. Tapi mengenai bagaimana penyikapan terhadap tindakan kriminal dalam aksi-aksi oknum pengguna atribut Bonek dan Persebaya setidaknya saya sedikit bisa membahas. Lalu kemudian yang menjadi pertanyaan adalah apa pentingnya untuk kita tahun tentang hal tersebut? Eits, jawabannya ada di kesimpulan artikel ini. Jadi baca dengan cermat dan teliti yo rek.

Bonek, Bondho dan Nekat

Jadi pendukung Persebaya, menurut pengalaman saya, setidaknya hingga saat ini, itu teramat sangat gampang. Tidak perlu mendaftar ke korwil, tidak perlu pakai bayar iuran, atau bahkan tidak perlu sampai menjual stiker dan memaksa orang lain untuk membelinya. Menjadi pendukung Persebaya cukup dengan punya rasa cinta kepada Persebaya, wes iku tok kalau kata orang Surabaya. Kemudian seiring berjalannya waktu rasa cinta itu dimanifestasikan dalam bentuk tindakan yang kemudian dikenal dengan istilah Bondo dan Nekat.

Kenapa harus ada kata “dan”, bukan hanya sebatas menggunakan kata “Bondo Nekat”?. Jawabannya, memang dari dulu kelompok pedukung Persebaya itu Bondo dan Nekat. Salah satu kebiasaan Bondo dan Nekat yang dimiliki oleh pendukung Persebaya ini adalah Tret Tet Tet. Yakni sebuah kebiasaan untuk mendukung Persebaya di dalam maupun di luar kandang. Ya, tak salah baca, saya memang menuliskan kata-kata mendukung Persebaya di dalam maupun di luar kandang.

Sebenarnya Tret Tet Tet ini adalah sebuah adaptasi kebiasaan yang dicontoh dari pendukung klub sepak bola luar negeri dalam mendukung klub kebanggaannya ketika bermain di luar kandang yang dikenal dengan istilah “Away”. Namun karena begitu banyak dan tersebarnya pendukung Persebaya kemudian budaya Tret Tet Tet ini digunakan juga oleh sebagian pendukung Persebaya yang berasal dari luar kota berangkat mendukung Persebaya bertanding di kandang. Kemudian istilah Bondo dan Nekat serta Tret Tet Tet ini begitu melekat dengan kelompok pendukung Persebaya. Hingga kemudian koran Jawa Pos memperkenalkan akronim Bonek dari kata Bondo dan Nekat untuk menamai pendukung klub Persebaya, dan menggunakan istilah Tret Tet Tet untuk menyebut kebiasaan Bonek mendukung Persebaya ketika berlaga di luar kota.

Jika teman-teman penasaran lebih jelasnya sejarah panjang mengenai Bonek, Tret Tet Tet, kebiasaan membeli tiket, memberikan dukungan positif dan banyak lainnya bisa dengan membaca artikel lain di kanal website yang dikelola oleh Bonek Writers Forum atau buku-buku yang mengulas sejarah panjang Bonek atau Persebaya.

Bonek sebagai salah satu objek yang berada di ruang lingkup persepakbolaan Indonesia yang cukup dinamis kemudian tak luput ikut terlibat dalam segala macam pasang surut dinamika yang terjadi. Dukungan hingga tentangan juga mengiringi perjalanan dari eksistensi Bonek. Semua itu tidak lepas dari segala macam tingkah laku Bonek pada masa lalu yang cukup identik dengan tindakan-tindakan yang membawa dampak negatif pada lingkungan sekitar. Pada akhirnya segala macam tindakan negatif tersebut menjadikan Bonek sebagai tertuduh dalam setiap adanya tindakan negatif di sekitar tempat pertandingan sepak bola yang melibatkan Persebaya.

Perubahan Bonek, Upaya Menghapus Citra Buruk

Dampak yang lebih buruk dari hal-hal tersebut ialah munculnya sebuah konstruksi sosial dari masyarakat akan buruknya citra dari Bonek. Sadar akan citra buruk yang semakin menyelimuti Bonek akhirnya membuat sebagian besar Bonek berubah sedikit demi sedikit. Tak sedikit yang meninggalkan kebiasaan menyanyikan lagu-lagu dengan ujaran kebencian di dalamnya, meninggalkan kebiasaan masuk stadion tanpa bertiket, dan bahkan banyak yang meninggalkan kebiasaan membeli merchandise bajakan.

Bonek kemudian banyak melakukan tindakan positif tak hanya ketika Persebaya bertanding, salah satu diantaranya adalah dengan seringnya Bonek menggalang bantuan sosial bagi masyarakat yang membutuhkan. Bagi saya, salah satu hal positif yang sangat berkesan dan sampai saat ini masih dilakukan oleh Bonek adalah mendirikan Panti Asuhan Bonek. Semoga saja semua hal baik itu mampu dilakukan dan diwariskan oleh Bonek ke Bonek yang lain secara berkesinambungan.

Namun selayaknya takdir hidup, berubah menjadi lebih baik itu akan selalu memiliki banyak sekali tantangan. Salah satu tantangan yang sampai saat ini masih harus dilawan bersama adalah banyaknya oknum kriminal yang memanfaatkan atribut Bonek dan Persebaya dalam melancarkan aksinya dikarenakan kemudahan mendapatkan atribut tersebut. Satu contoh peristiwa yang baru-baru ini terjadi adalah maraknya tindakan perampasan barang pribadi oleh oknum kriminal yang beratribut Bonek dan Persebaya ketika gelaran pertandingan Piala Presiden di Bandung yang mempertemukan Persebaya dengan Persib.

Orang-orang yang masih awam dengan proses Bonek untuk berubah menjadi lebih baik menjadi semakin ragu dan tak percaya akan proses perubahan ini setelah mendengar banyaknya kabar tentang tindakan kriminal tersebut. Untuk ke sekian kalinya, Bonek dihadapkan dengan kerikil tajam di jalan bergelombang dalam ikhtiar berubah menjadi lebih baik dari masa lalu yang kelam. Di kalangan Bonek sendiri kemudian perdebatan mengenai siapa yang seharusnya bertanggungjawab atas hal tersebut kemudian menyeruak.

Seperti yang sudah-sudah, perdebatan yang muncul baik di media sosial ataupun dunia nyata tak memberikan solusi apa pun. Padahal kuncinya adalah kesadaran bersama dari Bonek untuk secara tegas dan berani bertanggungjawab dalam melawan segala macam tindak laku negatif yang memanfaatkan atribut Bonek dan Persebaya. Karena prinsip kolektif kolegial yang dipegang teguh oleh Bonek menjadikan tidak adanya penitikberatan satu tokoh atas tanggung jawab tertentu.

Bonek memang harus ambil sikap yang tegas terhadap oknum kriminal yang memanfaatkan atribut Bonek dan Persebaya dalam tindakannya. Jika ada oknum-oknum yang secara jelas melakukan tindakan seperti mencuri, merampas, masuk ke stadion tanpa bertiket, melecehkan perempuan, pengeroyokan, dimana semua kebiasaan itu di luar kebiasaan Bonek langsung saja berikan teguran. Jika memang teguran dirasa tidak efektif maka kemudian bisa dengan mengambil tindakan dengan menjauhkan oknum pelaku tindakan kriminal dari kerumunan massa.

Solusi terakhir jika sang oknum masih saja membandel, bisa dengan langsung mengambil tindakan bersama aparat keamanan untuk mengamankan oknum pelaku tindakan kriminal. Saya rasa solusi nyata seperti ini sedikit banyak akan mampu diterapkan oleh Bonek yang secara sadar mendukung Persebaya dengan jati dirinya sebagai seutuh dan sebenar-benarnya Bonek. Karena sudah saatnya Bonek berani untuk sadar dan ambil sikap terhadap segala macam tindakan buruk yang memanfaatkan atribut Bonek dan Persebaya dalam aksinya. Ini semua murni karena kesadaran dari Bonek untuk kembali ke jati dirinya yang sebenar-benarnya Bonek.

Salam Satu Nyali, Wani!

Continue Reading

Trending