Connect with us

Catatan Bonek

Gelora Zero Waste

Published

on

Slogan “Bonek Wani Resik” yang berkumandang kembali di GBT jelang laga 729 Game kemarin. Kampanye agar Bonek turut menjaga kebersihan Gelora Bung Tomo selaku rumah kita digelorakan. Muncul inisiatif dari rekan-rekan buat turut “menyapu” sisa-sisa sampah yang belum terbuang kepada tempatnya setelah pertandingan.

Meski stadion kebanggaan yang berdampingan dengan tempat pembuangan akhir Benowo yang begitu iconic dengan gunungan sampah yang begitu tinggi dan PLTSa Benowo, namun ada kewajiban bagi kita semua untuk menjaganya tetap bersih. Budhal resik , mulih resik.

Mungkin masih ada kendala yang terjadi pada praktiknya. Dalam kampanyenya, tertera ajakan buat membawa sendiri botol air minum tidak sekali pakai buat menggantikan botol sekali pakai yang akan menambah jumlah sampah, ternyata kontraproduktif dengan peraturan keamanan yang tidak menolelir adanya botol yang masuk ke tribun.

Solusinya? Memindahkan air yang ada di botol tadi dipindahkan ke kantung-kantung plastiksekali pakai. Sebuah paradoks yang perlu dipikirkan lagi jika semangat kita adalah zero waste. Tidak hanya membuang sampah pada tempatnya, namun juga mengurangi potensi sampah yang mungkin terjadi.

Tiba-tiba saja angan ini teringat akan wristband ticket yang selama ini begitu dibanggakan oleh para Bonek ketika mendapatkan tiket. Entah itu di-upload untuk dijual lagi, dipamerkan pada story IG, status WA, bahkan di-tiktok-kan untuk menunjukkan sebuah raihan kebanggaan karena seperti yang kita tahu sendiri bahwa mendapatkan tiket pertandingan Persebaya itu susahnya minta ampun.

Berapa ya biaya untuk mencetak wristband ticket seperti ini? Saya mencari tahu bahwa tiket ini termasuk yang berbahan vinyl elmo, anti air dan tidak mudah sobek. Di beberapa toko online disebutkan tiket semacam ni mempunyai ongkos produksi kurang lebih sekitar Rp 600 per lembarnya. Apabila kapasitas GBT itu mencapai 45.000 penonton, maka jumlah yang harus dikeluarkan manajemen untuk mencetak tiket adalah sekitar Rp 27 juta.

Bukan angka yang kecil, apalagi nantinya juga tiket-tiket ini akan berakhir di TPA Benowo juga. Menjadi sampah.

Yang kembali menjadi paradoks adalah keberadaan barcode yang tertera pada tiket. Melalui barcode itulah keabsahan penonton agar bisa diijinkan masuk ke stadion. Angan saya kembali membayangkan, alangkah baiknya jika barcode itu cukup berada di email kita setelah kita resmi membeli tiket secara online.

Ujung-ujungnya sama, dari barcode di email itulah juga yang akan dipindai oleh alat pemindai di pintu-pintu masuk stadion saat kita menunjukkan layar smartphone kita pada petugasnya. Bedanya dengan tiket fisik berupa wristband ticket ber-barcode tadi berwujud fisik, memakan biaya yang besar dan menjadi sampah. Jadi sebenarnya perlu ataukah tidak tiket fisik ini?

Logika saya berkata tidak. Namun saat mengingat obrolan dengan beberapa rekan, yang rekannya menjadi staff pada store-store resmi milik klub, ternyata pencetakan tiket secara fisik dan harus ditukarkan pada store-store tersebut pada hari yang ditentukan, bertujuan agar berharap orang mau berbelanja di store saat menukarkan tiket online ke tiket fisik.

Serba repot juga ya?

Di sini saya juga tidak ingin menyalahkan manajemen jika menggunakan strategi pemasaran seperti itu. Wajar. Bukankah store juga menjadi tumpuan pemasukan klub di luar tiket pertandingan, match fee dan hak siar tayangan langsung?

Saya belum melakukan riset apakah biaya cetak tiket yang seharusnya bisa dihemat tadi dengan tetap menggunakan wujud digital bisa tertutup oleh penjualan merchandise saat penonton menukarkan tiketnya ke store-store di mana tiket fisik tadi ditukarkan. Saya hanya berharap klub kebanggaan saya ini turut juga menggelorakan gerakan zero waste dalam menjalankan roda kehidupan klub.

WANI!

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Catatan Bonek

Never Give Up, Persebaya!

Published

on

Remuk redam hati masih terasa hingga saat ini. Saya sebagai bonek biasa hanya bisa meratapi bagaimana keadaan Persebaya esok dan di kemudian hari. Hal ini dikarenakan mundurnya seorang presiden klub Persebaya, Azrul Ananda, yang biasa saya sebut Pak Pres. Keputusan itu diambil secara matang, Jumat (16/9) lalu buntut dari aksi kekecewaan bonek atas hasil minor saat berlaga melawan Rans Nusantara.

Bagi saya, ini adalah pukulan telak bagi tim secara luar dan dalam. Pastinya akan mengubah mental dan akan ada kegaduhan dalam internal tim dan manajemen, manakala di sisi eksternal masih harus ditambahi dengan menata ulang kembali para suporter.

Persebaya memang pernah dimatikan paksa oleh federasi. Dan kita semua harus tirakat
cukup lama untuk melihat sang kebanggaan kembali berlaga. Tetapi yang sebenarnya harus teman-teman ingat adalah ada banyak kekuatan yang bisa membatu Persebaya kembali bangun dari mati surinya dan mampu kembali berprestasi.

Di samping kekuatan luar biasa dari perjuangan bonek sejagat raya yang tak kenal lelah berjuang. Ada juga peran kekuatan itu dari seorang adalah Azrul Ananda, yang kala itu men-take over Persebaya dan menjadi presiden klub. Dari beberapa kanal YouTube, Azrul selalu mengatakan ketika ditawari menjadi Presiden Persebaya selalu menolak. Hingga pada suatu waktu dengan adanya banyak pihak yang menguatkannya, seketika Azrul menerima.

Di sisi lain, bonek juga berjuang ke Jakarta hingga Bandung untuk merebut kembali nama dan marwah Persebaya bisa kembali ke pangkuan kota Surabaya. Momentum inilah yang menurut saya merupakan titik balik dan berkembangnya Persebaya. Azrul adalah sosok muda yang visioner, asli Surabaya yang abahnya dulu juga pernah menjadi Presiden Persebaya, serta mau berkorban mengeluarkan dana untuk membayar hutang-hutang Persebaya yang ditunggak kala itu. Serta masih banyak lagi jasanya dan jajarannya untuk berusaha mengubah wajah Persebaya.

Saya sebagai bonek biasa, hanya berpendapat bahwa Pak Pres saat ini mungkin sudah lelah
dengan tekanan yang bertubi-tubi baik itu dari dalam dan di luar lapangan. Hingga terjadilah tragedi GDS tersebut. Mungkin sudah saatnya Pak Pres menepi untuk menenangkan pikiran dan meluruskan kembali timeline hidup serta bisnisnya. Kita semua tak pernah mengerti seperti apa berkecamuk hatinya saat ini. Untuk Persebaya, kita semua tidak tahu dapurnya kini seperti apa. Adakah bumbu tersembuyi lain yang akan mengubah wajah Persebaya di putaran kedua? Saya harap para suporter pun juga ikut sabar dalam proses ini. Setidaknya hargai jasa pak pres dengan jajarannya hingga akhir musim ini, karena kita semua pernah bersatu padu membangunkan kembali Persebaya dari tidur panjangnya.

Musim depan, para penikmat belum tahu akan dibawa kemana Persebaya oleh CEO baru. Saya berharap sakit ini bisa diobati dan pulih secepatnya, bangkit lebih kuat serta menambah kesolidan dari sebelumnya. Sejatinya kami para bonek selalu ingat akan potongan kalimat akhir pada bait Song For Pride “Kuselalu Mendukungmu Persebaya”.

Never up give up, Persebaya!

Continue Reading

Catatan Bonek

Menit Akhir, Kuda Binal Persebaya

Published

on

Menurut KBBI Online, binal artinya adalah bengal atau tidak menurut. Jika dilanjutkan, kata binal sering juga disematkan pada anak yang nakal serta kurang mendapat perharian orang tuanya.

Tiba-tiba ingatan saya terseret pada sebuah film nasional berjudul “Kuda-kuda Binal”. Sebuah film rilisan tahun1978, yang disutradarai oleh Frans Totok Ars. Film tersebut yang dibintangi oleh Doris Callebaute dan Eva Arnaz, dua artis film panas yang memang moncer di tahun 70-an karena wes ayu, body-ne semlohai, pinter membangun suasana syahdu pisan. Ibarat pemain bola, duet Doris Callebaute dan Eva Arnaz adalah David Alaba dengan Ruud Gullit yang siap di tempatkan di berbagai posisi.

David Alaba, bek kiri dari Bayern Munchen pernah turun ke lapangan sebagai bek
tengah hingga menempati posisi gelandang serang, sedang Ruud Gullit adalah
gelandang asal Belanda yang juga mumpuni jika ditempatkan sebagai winger kanan
dan bek tengah.

Tapi menonton film jelas berbeda dengan menonton sepakbola, apalagi Liga
Indonesia, lebih-lebih lagi Persebaya. Jika menonton film diperlukan fokus sepanjang
dialog, setting tempat maupun kronik-kronik apa yang terjadi dalam tiap adegannya,
menonton liga Indonesia tidak secapek itu. Belakangan, kita memang cukup melihat menit-
menit injury time saja sudah bisa memastikan siapa yang akan memenangkan pertandingan atau pertandingan yang sukses dengan berbagi poin imbang.

Persebaya misalnya, yang beberapa pekan terakhir sering kehilangan poin penuh
akibat binalnya menit akhir. Saat melawan Madura United di menit akhir Brylian Aldama
membawa bola ke tengah kotak pertahanan lawan tapi terlalu lama melepas bola, hingga bola akhirnya jatuh dikaki pemain Madura United yang cepat naik menyusun serangan balik. Dari serangan balik tersebut, berbuahlah sebuah tendangan sudut yang selanjutnya lahir gol penyeimbang kedudukan. Hilang 3 poin utuh di depan mata.

Di pertandingan berikutnya, Persebaya dijamu oleh Borneo FC. Satu poin seharusnya bisa diraih Persebaya, tapi musnah begitu saja akibat petaka pinalti di menit akhir.
Arif Catur yang dalam tayangan ulang terlihat menggunting pemain Borneo FC di dalam kotak yang seharusnya suci dari pelanggaran. Alexander Pato yang mengeksekusi bola pinalti berhasil menambah pundi golnya karena bola ekseskusinya tak sanggup ditepis oleh Satria Tama. Kita kalah dan tertunduk lesu. Zero point.

Kejadian semacam itu bukan hal baru bagi Persebaya, kesalahan di menit akhir, lengah dan
ceroboh, menganggap permainan sudah berakhir terlalu dini. Padahal, jika ada kesalahan yang dibuat dalam detik-detik terakhir pun, wasit bisa saja menghukum dengan berbagai hukuman fatal macam tendangan sudut, tendangan bebas di dekat kotak penalti atau bahkan malah terkena hukuman penalti.

Di musim lalu, setali tiga uang, sama saja. Persebaya kontra Persija di Stadion I Wayan Dipta Gianyar. Persebaya yang sudah unggul 3-1,tentu saja bermain nyantai, merasa di atas angin hingga mungkin karena fly yang yang terlalu tinggi, tak sadar dengan bola sepakan Konate telah melewati garis gawang Persebaya. Yang menyedihkan tentu saja sudah unggul dua gol, unggul pemain karena satu pemain Persija terkena kartu merah, tapi Persebaya tak jauh dari
drama menit akhir. Saat itu Reva Adi menjatuhkan Konate dalam kotak penalti sendiri,
lagi-lagi poin kemenangan itu hilang tersapu ombak penalti di menit akhir.

Ada apa dengan menit akhir? Kenapa Persebaya kesulitan menjinakkan bom di menit akhir?

Coach Aji, pemain yang sarat pengalaman dalam Liga Indonesia, juga pernah menjadi kapten Persebaya yang kaki kanannya pernah mencatatkan sebuah gol dari titik pinalti saat partai final melawan Bandung Raya pastinya tahu benar untuk menganalisa dan menemukan jawaban atas segala kejadian di menit akhir setiap pertandingan Persebaya.

Juga coach Bejo, yang bertahun-tahun menjadi batu karang di posisi center back
Persebaya kala itu. Kita punya dua sosok mantan pemain Persebaya yang sekarang berada dalam jajaran tim pelatih. Seperti ikan yang mati ditengah lautan kalau lini tengah Persebaya
sering kecolongan gol, sementara dua pelatihnya adalah mantan pemain-pemain yang
kokoh menjaga pertahanan.

Senada dengan hal itu, presiden Persebaya juga pernah menyampaikan bahwa ada dua hal yang akan menjadi bahan evaluasi tim pelatih yakni set piece dan manajemen permainan pada menit-menit akhir. Menit akhir menjadi sorotan penting bagi Persebaya bahkan masuk dalam bahan evaluasi tim pelatih, hal ini jelas tidak main-main, Persebaya tidak boleh kecolongan poin di menit akhir karena kondisi pemain menurun , baiik secara fisik ataupun konsentrasi, kecolongan gol di menit akhir berakibat pada kekalahan atau seri. Hal ini akan menentukan kondisi psikologis pemain di pertandingan berikutnya.

Hasil evaluasi tim pelatih itu akhirnya nampak di pertandingan ke 6 saat laga home
melawan PSIS Semarang. Di hadapan tekanan publik Surabaya sendiri, di tengah krisis
kemenangan di lima laga terakhir, laga kali ini adalah pembuktian bahwa Green Force
memang layak bercita-cita untuk finish di tiga besar klasemen nantinya.

Persebaya deras menggempur pertahanan PSIS, tercatat ada empat tendangan yang diblok oleh kiper PSIS dan statistik juga menunjukan ada dua belas shot on target. Hasilnya, satu tendangan pamungkas dari Marselino berhasil membobol gawang PSIS, membawa Persebaya unggul hingga pertandingan berakhir. Yang menarik bukan soal kemenangan yang akhirnya diraih Persebaya, tapi terjadinya gol pada menit injury time pertandingan, hal ini seolah membalik fakta yang sering terjadi, membongkar kebisingingan media massa yang ramai mencuitkan bahwa Persebaya selalu lemah di menit akhir pertandingan.

Koboi penjinak kuda binal itu bernama Marselino Ferdinan, arek nom yang berlari membawa tali laso dan melemparkannya ke leher si kuda, dinaikinya kini kuda tersebut. Marselino dengan bangga melepas jersey menuju ke arah tribun Bonek Mania.

Terima kasih Persebaya, terima kasih Marselino, Kuda Binal itu sudah kita taklukkan. (*)

*) Ditulis sambil mesem, seandainya kuda itu pemain film “Kuda-kuda Binal”

Continue Reading

Catatan Bonek

Tips Aman saat Mbonek untuk Bonita

Published

on

Menjadi suporter sepak bola memang tidak sepenuhnya aman. Terutama para wanita yang ingin melihat langsung di stadion untuk merasakan euforia yang tidak akan didapatkan jika hanya menyaksikan pertandingan di layar kaca. Karena wanita pun juga tidak mau kalah tentunya. Ya walaupun hanya sekedar mencintai tim kebanggaan karena pemainnya yang cukup keren dan menarik pandangan mata. Nah berikut ini beberapa tips untuk Bonita yang ingin menonton pertandingan secara langsung di Stadion.

Berangkat Bareng 

Menyaksikan sepak bola memang lebih enak rame-rame, jangan kalian menonton sendiri ke stadion, bisa juga kalian berangkat dengan adik, kakak atau teman agar kalian ada yang menjaga. Selain itu bareng-bareng dapat sedikit menjamin keselamatan kita
 
Berpakaian Yang Sopan

Disini sopan bukan berarti harus formal ya, kalian dapat memilih pakaian yang nyaman namun tidak menarik perhatian berlebih untuk meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan. Jangan memakai baju terlalu ketat karena kalian akan merasa gerah juga ketika di stadion. 

Bijak Dalam Memilih Pertandingan 

Jangan datang ke stadion saat tim kebanggaan kalian melawan tim rival. Sebenarnya ini hak masing-masing dari kalian, namun akankah lebih bijak dan tanpa resiko jika datang bersama rombongan atau melihat di layar kaca. Karena pertandingan melawan rival biasanya mendapatkan antusiasme tinggi dari suporter, dari antusiasme tinggi ini menyebabkan kondisi tribun dan stadion lebih cenderung sulit terkontrol.

Pulang Lebih Awal

Suasana stadion ketika mendekati akhir pertandingan biasanya akan memanas, belum lagi jika tim kebanggan dalam posisi tertinggal. Untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan lebih baik pulang disaat pertandingan mendekati 5 menit terakhir babak kedua.

Menjaga Barang Pribadi

Untuk barang berharga kalian harus menjaga dengan baik, gunakan tas yang mempunyai resleting, jika menggunakan totte bag letakkan dibagian depan, simpan dompet dan hp dengan baik dalam tas. Jangan menggunakan perhiasan berlebihan saat ke stadion.

Nah saat ini buat para wanita. Jangan pernah takut menyaksikan pertandingan bola secara langsung. Yang terpenting menjaga diri itu paling penting, dan jangan memancing lawan jenis untuk memulai hal-hal yang tidak diinginkan. (*)

Continue Reading

Trending