Connect with us

Catatan Bonek

Persebaya Store, Trendsetter, dan Harapan

Published

on

Tidak terasa Persebaya sudah lima tahun bangkit dan diakui federasi sepakbola Indonesia. Dalam kepengurusan manajemen yang baru, Persebaya dapat menjawab tantangan sebagai sebuah PT yang lepas dari APBD. 

Tentu saja masih ingat di benak kita bagaimana kisah heroik Bonek dalam mengawal Persebaya ketika resmi dipulihkan hak-haknya oleh federasi di Bandung. Banyak gebrakan dan manuver manajemen baru saat itu dalam  menjamin keberlangsungan hidup Persebaya yang telah lama vakum dari kancah persepakbolaan Indonesia. Bukan hanya manajemen, suporter pun turut aktif dalam menjaga marwah klub yang dicintainya.

Gebrakan apa yang dilakukan manajemen saat itu, serta bagaimana peran suporter ikut andil dalam menjaga marwah Persebaya di era modern? Cukup banyak jawaban yang bisa ditulis, namun yang paling realistis untuk ditulis yaitu Persebaya Store. Tak bisa dipungkiri Persebaya Store merupakan salah satu mesin Persebaya di era modern selain sponsorship dan pemasukan tiket.

Hemat pengetahuan penulis, Persebaya merupakan trendsetter dalam bidang merchandise klub bola di Indonesia, meskipun mungkin bukan pelopor. Iklim dan budaya membeli merchandise original cukup kental di kalangan suporter Persebaya dan non suporter. Jika melihat dalam jumlah follower akun merchandise klub bola yang memiliki basis besar, Persebaya Store memiliki jumlah follower paling banyak yaitu berjumlah 663.000, disusul oleh Persib Store 231.000, Arema Store 90.000, dan PSIS Store 33.000.

Kemudian melihat jumlah penjualan merchandise seperti jersey, Persebaya acap kali kehabisan stock/sold out ketika merilis jersey season dan pre season. Selain itu ada cerita menarik yang dialami penulis di lapangan, seseorang yang non suporter pun turut andil dalam iklim dan budaya membeli merchandise Persebaya. Ketika ditanya kenapa membeli merchandise Persebaya padahal bukan pecinta bola lokal, dia menjawab “Desaine apik, selain iku digital marketinge paling menonjol dari klub laine di Indonesia”.

Dia menambahkan bahwa Persebaya satu-satunya klub yang mengelola merchandise secara profesional pertama di Indonesia. Patut bangga? Harus! Namun jangan terlalu jumawa karena kita tidak tahu tantangan zaman di masa depan. Namun sebagai Bonek tentu memiliki harapan agar Persebaya dapat terus menjadi trendsetter dalam sepakbola Indonesia.

Berandai-andai adanya sport tourism di Surabaya yang di dalamnya mengunjungi stadion, museum dan store merchandise resmi klub. Karena salah satu jalan menjaga marwah Persebaya pada era modern saat ini, agar semakin dikenal identitasnya, prestasinya dan sejarahnya. (*)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Catatan Bonek

Never Give Up, Persebaya!

Published

on

Remuk redam hati masih terasa hingga saat ini. Saya sebagai bonek biasa hanya bisa meratapi bagaimana keadaan Persebaya esok dan di kemudian hari. Hal ini dikarenakan mundurnya seorang presiden klub Persebaya, Azrul Ananda, yang biasa saya sebut Pak Pres. Keputusan itu diambil secara matang, Jumat (16/9) lalu buntut dari aksi kekecewaan bonek atas hasil minor saat berlaga melawan Rans Nusantara.

Bagi saya, ini adalah pukulan telak bagi tim secara luar dan dalam. Pastinya akan mengubah mental dan akan ada kegaduhan dalam internal tim dan manajemen, manakala di sisi eksternal masih harus ditambahi dengan menata ulang kembali para suporter.

Persebaya memang pernah dimatikan paksa oleh federasi. Dan kita semua harus tirakat
cukup lama untuk melihat sang kebanggaan kembali berlaga. Tetapi yang sebenarnya harus teman-teman ingat adalah ada banyak kekuatan yang bisa membatu Persebaya kembali bangun dari mati surinya dan mampu kembali berprestasi.

Di samping kekuatan luar biasa dari perjuangan bonek sejagat raya yang tak kenal lelah berjuang. Ada juga peran kekuatan itu dari seorang adalah Azrul Ananda, yang kala itu men-take over Persebaya dan menjadi presiden klub. Dari beberapa kanal YouTube, Azrul selalu mengatakan ketika ditawari menjadi Presiden Persebaya selalu menolak. Hingga pada suatu waktu dengan adanya banyak pihak yang menguatkannya, seketika Azrul menerima.

Di sisi lain, bonek juga berjuang ke Jakarta hingga Bandung untuk merebut kembali nama dan marwah Persebaya bisa kembali ke pangkuan kota Surabaya. Momentum inilah yang menurut saya merupakan titik balik dan berkembangnya Persebaya. Azrul adalah sosok muda yang visioner, asli Surabaya yang abahnya dulu juga pernah menjadi Presiden Persebaya, serta mau berkorban mengeluarkan dana untuk membayar hutang-hutang Persebaya yang ditunggak kala itu. Serta masih banyak lagi jasanya dan jajarannya untuk berusaha mengubah wajah Persebaya.

Saya sebagai bonek biasa, hanya berpendapat bahwa Pak Pres saat ini mungkin sudah lelah
dengan tekanan yang bertubi-tubi baik itu dari dalam dan di luar lapangan. Hingga terjadilah tragedi GDS tersebut. Mungkin sudah saatnya Pak Pres menepi untuk menenangkan pikiran dan meluruskan kembali timeline hidup serta bisnisnya. Kita semua tak pernah mengerti seperti apa berkecamuk hatinya saat ini. Untuk Persebaya, kita semua tidak tahu dapurnya kini seperti apa. Adakah bumbu tersembuyi lain yang akan mengubah wajah Persebaya di putaran kedua? Saya harap para suporter pun juga ikut sabar dalam proses ini. Setidaknya hargai jasa pak pres dengan jajarannya hingga akhir musim ini, karena kita semua pernah bersatu padu membangunkan kembali Persebaya dari tidur panjangnya.

Musim depan, para penikmat belum tahu akan dibawa kemana Persebaya oleh CEO baru. Saya berharap sakit ini bisa diobati dan pulih secepatnya, bangkit lebih kuat serta menambah kesolidan dari sebelumnya. Sejatinya kami para bonek selalu ingat akan potongan kalimat akhir pada bait Song For Pride “Kuselalu Mendukungmu Persebaya”.

Never up give up, Persebaya!

Continue Reading

Catatan Bonek

Menit Akhir, Kuda Binal Persebaya

Published

on

Menurut KBBI Online, binal artinya adalah bengal atau tidak menurut. Jika dilanjutkan, kata binal sering juga disematkan pada anak yang nakal serta kurang mendapat perharian orang tuanya.

Tiba-tiba ingatan saya terseret pada sebuah film nasional berjudul “Kuda-kuda Binal”. Sebuah film rilisan tahun1978, yang disutradarai oleh Frans Totok Ars. Film tersebut yang dibintangi oleh Doris Callebaute dan Eva Arnaz, dua artis film panas yang memang moncer di tahun 70-an karena wes ayu, body-ne semlohai, pinter membangun suasana syahdu pisan. Ibarat pemain bola, duet Doris Callebaute dan Eva Arnaz adalah David Alaba dengan Ruud Gullit yang siap di tempatkan di berbagai posisi.

David Alaba, bek kiri dari Bayern Munchen pernah turun ke lapangan sebagai bek
tengah hingga menempati posisi gelandang serang, sedang Ruud Gullit adalah
gelandang asal Belanda yang juga mumpuni jika ditempatkan sebagai winger kanan
dan bek tengah.

Tapi menonton film jelas berbeda dengan menonton sepakbola, apalagi Liga
Indonesia, lebih-lebih lagi Persebaya. Jika menonton film diperlukan fokus sepanjang
dialog, setting tempat maupun kronik-kronik apa yang terjadi dalam tiap adegannya,
menonton liga Indonesia tidak secapek itu. Belakangan, kita memang cukup melihat menit-
menit injury time saja sudah bisa memastikan siapa yang akan memenangkan pertandingan atau pertandingan yang sukses dengan berbagi poin imbang.

Persebaya misalnya, yang beberapa pekan terakhir sering kehilangan poin penuh
akibat binalnya menit akhir. Saat melawan Madura United di menit akhir Brylian Aldama
membawa bola ke tengah kotak pertahanan lawan tapi terlalu lama melepas bola, hingga bola akhirnya jatuh dikaki pemain Madura United yang cepat naik menyusun serangan balik. Dari serangan balik tersebut, berbuahlah sebuah tendangan sudut yang selanjutnya lahir gol penyeimbang kedudukan. Hilang 3 poin utuh di depan mata.

Di pertandingan berikutnya, Persebaya dijamu oleh Borneo FC. Satu poin seharusnya bisa diraih Persebaya, tapi musnah begitu saja akibat petaka pinalti di menit akhir.
Arif Catur yang dalam tayangan ulang terlihat menggunting pemain Borneo FC di dalam kotak yang seharusnya suci dari pelanggaran. Alexander Pato yang mengeksekusi bola pinalti berhasil menambah pundi golnya karena bola ekseskusinya tak sanggup ditepis oleh Satria Tama. Kita kalah dan tertunduk lesu. Zero point.

Kejadian semacam itu bukan hal baru bagi Persebaya, kesalahan di menit akhir, lengah dan
ceroboh, menganggap permainan sudah berakhir terlalu dini. Padahal, jika ada kesalahan yang dibuat dalam detik-detik terakhir pun, wasit bisa saja menghukum dengan berbagai hukuman fatal macam tendangan sudut, tendangan bebas di dekat kotak penalti atau bahkan malah terkena hukuman penalti.

Di musim lalu, setali tiga uang, sama saja. Persebaya kontra Persija di Stadion I Wayan Dipta Gianyar. Persebaya yang sudah unggul 3-1,tentu saja bermain nyantai, merasa di atas angin hingga mungkin karena fly yang yang terlalu tinggi, tak sadar dengan bola sepakan Konate telah melewati garis gawang Persebaya. Yang menyedihkan tentu saja sudah unggul dua gol, unggul pemain karena satu pemain Persija terkena kartu merah, tapi Persebaya tak jauh dari
drama menit akhir. Saat itu Reva Adi menjatuhkan Konate dalam kotak penalti sendiri,
lagi-lagi poin kemenangan itu hilang tersapu ombak penalti di menit akhir.

Ada apa dengan menit akhir? Kenapa Persebaya kesulitan menjinakkan bom di menit akhir?

Coach Aji, pemain yang sarat pengalaman dalam Liga Indonesia, juga pernah menjadi kapten Persebaya yang kaki kanannya pernah mencatatkan sebuah gol dari titik pinalti saat partai final melawan Bandung Raya pastinya tahu benar untuk menganalisa dan menemukan jawaban atas segala kejadian di menit akhir setiap pertandingan Persebaya.

Juga coach Bejo, yang bertahun-tahun menjadi batu karang di posisi center back
Persebaya kala itu. Kita punya dua sosok mantan pemain Persebaya yang sekarang berada dalam jajaran tim pelatih. Seperti ikan yang mati ditengah lautan kalau lini tengah Persebaya
sering kecolongan gol, sementara dua pelatihnya adalah mantan pemain-pemain yang
kokoh menjaga pertahanan.

Senada dengan hal itu, presiden Persebaya juga pernah menyampaikan bahwa ada dua hal yang akan menjadi bahan evaluasi tim pelatih yakni set piece dan manajemen permainan pada menit-menit akhir. Menit akhir menjadi sorotan penting bagi Persebaya bahkan masuk dalam bahan evaluasi tim pelatih, hal ini jelas tidak main-main, Persebaya tidak boleh kecolongan poin di menit akhir karena kondisi pemain menurun , baiik secara fisik ataupun konsentrasi, kecolongan gol di menit akhir berakibat pada kekalahan atau seri. Hal ini akan menentukan kondisi psikologis pemain di pertandingan berikutnya.

Hasil evaluasi tim pelatih itu akhirnya nampak di pertandingan ke 6 saat laga home
melawan PSIS Semarang. Di hadapan tekanan publik Surabaya sendiri, di tengah krisis
kemenangan di lima laga terakhir, laga kali ini adalah pembuktian bahwa Green Force
memang layak bercita-cita untuk finish di tiga besar klasemen nantinya.

Persebaya deras menggempur pertahanan PSIS, tercatat ada empat tendangan yang diblok oleh kiper PSIS dan statistik juga menunjukan ada dua belas shot on target. Hasilnya, satu tendangan pamungkas dari Marselino berhasil membobol gawang PSIS, membawa Persebaya unggul hingga pertandingan berakhir. Yang menarik bukan soal kemenangan yang akhirnya diraih Persebaya, tapi terjadinya gol pada menit injury time pertandingan, hal ini seolah membalik fakta yang sering terjadi, membongkar kebisingingan media massa yang ramai mencuitkan bahwa Persebaya selalu lemah di menit akhir pertandingan.

Koboi penjinak kuda binal itu bernama Marselino Ferdinan, arek nom yang berlari membawa tali laso dan melemparkannya ke leher si kuda, dinaikinya kini kuda tersebut. Marselino dengan bangga melepas jersey menuju ke arah tribun Bonek Mania.

Terima kasih Persebaya, terima kasih Marselino, Kuda Binal itu sudah kita taklukkan. (*)

*) Ditulis sambil mesem, seandainya kuda itu pemain film “Kuda-kuda Binal”

Continue Reading

Catatan Bonek

Tips Aman saat Mbonek untuk Bonita

Published

on

Menjadi suporter sepak bola memang tidak sepenuhnya aman. Terutama para wanita yang ingin melihat langsung di stadion untuk merasakan euforia yang tidak akan didapatkan jika hanya menyaksikan pertandingan di layar kaca. Karena wanita pun juga tidak mau kalah tentunya. Ya walaupun hanya sekedar mencintai tim kebanggaan karena pemainnya yang cukup keren dan menarik pandangan mata. Nah berikut ini beberapa tips untuk Bonita yang ingin menonton pertandingan secara langsung di Stadion.

Berangkat Bareng 

Menyaksikan sepak bola memang lebih enak rame-rame, jangan kalian menonton sendiri ke stadion, bisa juga kalian berangkat dengan adik, kakak atau teman agar kalian ada yang menjaga. Selain itu bareng-bareng dapat sedikit menjamin keselamatan kita
 
Berpakaian Yang Sopan

Disini sopan bukan berarti harus formal ya, kalian dapat memilih pakaian yang nyaman namun tidak menarik perhatian berlebih untuk meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan. Jangan memakai baju terlalu ketat karena kalian akan merasa gerah juga ketika di stadion. 

Bijak Dalam Memilih Pertandingan 

Jangan datang ke stadion saat tim kebanggaan kalian melawan tim rival. Sebenarnya ini hak masing-masing dari kalian, namun akankah lebih bijak dan tanpa resiko jika datang bersama rombongan atau melihat di layar kaca. Karena pertandingan melawan rival biasanya mendapatkan antusiasme tinggi dari suporter, dari antusiasme tinggi ini menyebabkan kondisi tribun dan stadion lebih cenderung sulit terkontrol.

Pulang Lebih Awal

Suasana stadion ketika mendekati akhir pertandingan biasanya akan memanas, belum lagi jika tim kebanggan dalam posisi tertinggal. Untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan lebih baik pulang disaat pertandingan mendekati 5 menit terakhir babak kedua.

Menjaga Barang Pribadi

Untuk barang berharga kalian harus menjaga dengan baik, gunakan tas yang mempunyai resleting, jika menggunakan totte bag letakkan dibagian depan, simpan dompet dan hp dengan baik dalam tas. Jangan menggunakan perhiasan berlebihan saat ke stadion.

Nah saat ini buat para wanita. Jangan pernah takut menyaksikan pertandingan bola secara langsung. Yang terpenting menjaga diri itu paling penting, dan jangan memancing lawan jenis untuk memulai hal-hal yang tidak diinginkan. (*)

Continue Reading

Trending