Connect with us

Fun Fact

Persebaya Pernah Dijuluki Bledug Ijo, Dari Mana Asalnya?

Published

on

Jika Bonek millenial lebih mengenal klubnya, Persebaya memiliki julukan Bajol Ijo (buaya hijau) karena identik dengan buaya sebagai simbol klub. Sebuah hal yang wajar. Tapi tahukah anda bahwa Persebaya pernah dijuluki dengan binatang lain selain buaya? Bukan Sura atau Hiu seperti yang terpampang di logo klub sebagai pasangan buaya, namun Gajah.

Kok bisa Gajah? Lantas apa itu Bledug?

Bledug dalam bahasa Jawa merupakan sebutan dari anak Gajah. Di era 80-an, Persebaya pernah identik dengan sebutan Gajah Ijo atau Bledug Ijo. Ini dikarenakan di era tersebut ramai fenomena sepak bola yang dilakukan binatang Gajah dari Lampung. Provinsi yang terkenal sebagai pusat penagkaran Gajah, binatang yang mulai dilindungi keberadaannya, sering mengadakan pertandingan sepak bola yang pemainnya gajah dengan penunggang di atasnya. Seru? Tentu saja tidak, lucu malahan, wong ya yang main adalah binatang.

Lantas kenapa Persebaya dijuluki Bledug Ijo?

Selain Persija Jakarta yang merupakan rival abadi kita di era Perserikatan, PSIS Semarang juga menjadi rival yang paling menyebalkan. Asal muasalnya berawal dari kekecewaan Persebaya pada PSIS Semarang yang dianggap main mata dengan PSM Makassar di musim kompetisi sebelumnya agar Persebaya tidak lolos putaran 8 besar. Namun Persebaya nyatanya tetap mampu melenggang hingga ke final. Sayangnya di partai final musim 1986/1987 tersebut kita mengalami kekalahan 1-0 dari PSIS Semarang. Lengkap sudah kekecewaan dan dendam Persebaya pada PSIS.

Pada musim kompetisi berikutnya, 1987/1988, Persebaya membalasnya dengan mengalah kepada Persipura Jayapura dengan skor telak 0-12 untuk tim tamu. Bayangkan, main di Gelora 10 November Tambaksari, kandang Persebaya yang terkenal angker bagi tim lawan, namun Persipura justru menghancurkan tuan rumah dengan skor telak. Sangat telak dan menjurus memalukan malahan. Bila diibaratkan, laga tersebut layaknya sepakbola yang dilakukan oleh para gajah-gajah seperti dijelaskan diatas.

Namun seisi stadion tidak mempermasalahkan hasil tersebut (praktek pengaturan skor belum dilarang FIFA, red). Baik penonton maupun pemain dan ofisial tim seperti tahu sama tahu. Manajer Persebaya saat itu, Agil H Ali (alm) menegaskan bahwa mengalah kepada Persipura akan menyenangkan rakyat Irian Jaya (nama provinsi sebelum menjadi Papua di tahun 2001) dan mengurangi separatisme masyarakat di sana.

Selain itu juga agar Persebaya bisa menutup peluang PSIS menjadi salah satu tim wilayah Timur yang lolos ke 8 besar di Jakarta. Sebagai catatan, Persebaya berhasil menjuarai musim tersebut dengan mengalahkan Persija Jakarta di final dengan skor 3-2.

Tuntas sudah pembalasan dendam semusim sebelumnya pada PSIS. Satu, membuat PSIS tak lolos putaran final dengan cara yang menyakitkan. Dua, pulang dari Jakarta melewati Semarang sambil membawa gelar juara yang musim sebelumnya menjadi milik PSIS. Sungguh menyakitkan bagi publik Semarang dan PSIS waktu itu. Namun menjadi pembalasan yang sempurna bagi Persebaya.

Sejarah mencatatkan bahwa kita pernah menjadi juara tanpa menyandang julukan sebagai Bajol Ijo, namun sebagai Bledug Ijo. Sebelum olok-olok akan Sego Elek, Maling Gorengan, Gembel yang lebih ditujukan pada Bonek di masa lampau, tim sepakbola kebanggaan kita pernah bermain sepakbola gajah di masa kejayaaannya. Tentu saja julukan Bledug Ijo tersebut disematkan oleh PSIS dan para pendukungnya kepada kita.

Cukup dikenang dan dijadikan pelajaran. Tak perlu diulangi. (*)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Catatan Penulis

Abu-Abu, Kelabu Nasibmu

Published

on

Kalah ya kalah saja. Kita memang bermain buruk kala harus bertekuk lutut kepada tuan rumah Persikabo Bogor di Stadion Pakansari kemarin. Di sini kita tidak sedang mencari-cari alasan mengapa tim kita sampai kalah. Namun disini kita akan mencermati pemilihan warna jersey away kita. Abu-abu.

Warna putih identik sebagai warna pilihan untuk jersey away kita untuk pertandingan tandang. Sudah sekian tahun musim berganti, Persebaya selalu memilih warna putih. Entah kenapa di musim ini, Persebaya Store sebagai pihak penyedia official kits bagi tim merilis jersey abu-abu sebagai warna pilihannya. Banyak yang bilang bahwa jersey abu-abu itu identik dengan nuansa yang kelabu dan suram. Bukan warna yang pas untuk mengobarkan semangat kala berjibaku mencari kemenangan di lapangan hijau.

Dalam psikologi warna, abu-abu sebenarnya mewakili netralitas dan keseimbangan. Namun abu-abu juga memiliki sisi konotasi negatif, terutama dalam hal menderita depresi atau perasaan kehilangan. Tidak ada warna membuatnya terkesan kusam.

Ada sejarah buruk dalam sepakbola kala sebuah tim mengenakan jersey berwarna abu-abu. Kejadiannya menimpa klub Manchester United kala bertandang ke Stadion The Dell, kandang Southampton, kala melakoni musim 1996. Manchester United saat itu harus mengenakan jersey ketiganya yang berwarna abu-abu, karena tuan rumah mengenakan jersey dengan warna dominan merah, warna yang sama dengan jersey utama mereka. Alhasil Matt Le Tissier dan kawan-kawan berhasil mengobrak-abrik gawang MU dengan skor 3-0 pada babak pertama. Para pemain kesulitan melihat kawannya sendiri karena warna abu-abu sulit terlihat kala pemain bergerak di lapangan. Akibatnya, mereka banyak sekali melakukan salah umpan sehingga menguntungkan pihak lawan.

Jersey Manchester United di babak pertama (kiri) dan diganti saat babak ke dua (kanan)

Alhasil, di ruang ganti pemain, Sir Alex Perguson, pelatih MU kala itu memerintahkan anak asuhnya berganti jersey yang berwarna biru putih menggantikan jersey abu-abu tadi. Permainan Manchester United berkembang, mereka berhasil mencetak satu gol di babak kedua, namun itu tak menghindarkan mereka dari kekalahan.

“Para pemain tidak suka jersey abu-abu. Mereka tidak bisa melihat satu sama lain ketika mereka mengangkat kepala mereka. Para pemain sendiri yang berkata seperti itu, dan itu bukan takhayul,” ujar Sir Alex setelah pertandingan berakhir.

Berangkat dari kisah tersebut, saya bertanya-tanya dalam hati:

“Kenapa ya Persebaya memilih jersey berwarna abu-abu, padahal warna tersebut sulit terlihat di lapangan kala pemain bergerak?”

Apalagi nomor punggung dan nama pemain menggunakan warna hijau. Melalui siaran replay di televisi yang slow motion saja kita masih sulit melihat warna hijau dalam jersey abu-abu itu, apalagi bagi para pemain sendiri di lapangan.

Abu-abu… kelabu, kelam, sedih, dan… kalah.

Haruskah jersey ini dipakai lagi ke depannya? Masih banyak waktu buat menarik jersey ini dari peredaran, suruh pihak manajemen melalui tim kreatifnya mendesain jersey baru untuk jersey awaynya.

Keledai pun tidak jatuh ke lubang yang sama. (*)

Continue Reading

Fun Fact

Mengapa Jersey Persebaya Berwarna Hijau

Published

on

Dalam index warna internasional, warna hijau mempunyai hexadecimal code #00A651, sementara nilai CMYKnya adalah (100%, 0%, 100%, 0%) yang berarti warna hijau adalah perpaduan dari cyan dan yellow tanpa memiliki unsur magenta dan black. Warna inilah yang menjadi warna kebesaran Persebaya, baik di logo, kostum dan benderanya.

Kenapa warna hijau menjadi warna yang dipilih oleh Persebaya?

Jika dirunut dalam sejarahnya, sejak terbentuk dengan nama SIVB pada 1927, warna jerseynya adalah hijau. Ini ada hubungannya dengan warna sejarah kota Surabaya sendiri.

Dahulu sebelum disebut sebagai Surabaya, daerah ini merupakan salah satu wilayah kerajaan Majapahit yang bernama Ujung Galuh. Meski Majapahit sendiri memiliki panji-panji kebesaran berwarna gulo klopo (gulo/gula: merah; klopo/kelapa: putih), namun Ujung Galuh memiliki warna panjinya sendiri, hijau.

Mungkin sudah ditakdirkan begitu. Persebaya melalui sejarah panjangnya, tak pernah lepas dari naungan warna hijau. Dalam susah dan senang, hijau tetap setia menyertainya. (*)

*) Dikutip dari berbagai sumber

Continue Reading

Fun Fact

Huruf Kanji Jepang Ini Identik dengan Persebaya

Published

on

Bagi rekan-rekan Bonek yang pernah bekerja, sekolah di Jepang, atau belajar bahasa Jepang pasti mengerti jika huruf kanji 鰐 ini dibaca “wani” yang artinya buaya. Kadang, huruf kanji tersebut jika dituliskan sebagai 鰐鮫 dibaca “wanizame” yang berarti hiu. Sebuah kebetulan yang sepertinya pas dengan slogan klub Persebaya, WANI! Klub yang identik dengan sosok binatang buaya dan hiu.

Setelah Takatoshi Uchida dan Taisei Marukawa, dua pemain yang sukses kala membela Persebaya, apakah nanti akan ada pemain asal Jepang lagi yang meneruskan catatan bahwa setiap pemain Jepang akan sukses bermain di Persebaya? Atau Persebaya akan selalu hebat kala diperkuat pemain-pemain asal Jepang?

Menarik untuk ditunggu. (*)

Wani! Wanizame!
鰐! 鰐鮫!

#funfact

Continue Reading

Trending