Connect with us

Catatan Penulis

Mengingat Kembali Spanduk sebagai Alat Perlawanan

Published

on

“Surabaya Melawan” adalah sebuah gerakan yang dilakukan oleh pendukung Persebaya (yang dikenal sebagai Bonek) pada tahun 2016 sebagai bentuk perlawanan pada federasi sepak bola Indonesia, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), karena dicoretnya keanggotaan Persebaya di PSSI. PSSI lebih memilih Persebaya versi gadungan ketimbang Persebaya yang secara historis dilahirkan pada tahun 1927.

Oleh karena itu, saat Persebaya tidak dapat mengikuti liga karena tidak diakuinya Persebaya sebagai klub resmi di bawah PSSI sebagai akibat pembangkangan pada keputusan federasi yang memaksa Persebaya degradasi dari Liga Super Indonesia pada musim 2009-2010, maka nama Persebaya 1927 dipilih. Nama tersebut dipilih setelah menolak nama yang “diberi” oleh PSSI yaitu Surabaya United untuk bertanding pada laga amal melawan Indo Holland di Gelora 10 November.

Rupanya hal tersebut meluas. Bonek melakukan perlawanan. Sejak itu nama Persebaya 1927 selain menjadi identitas klub juga identitas perlawanan. Aksi perlawanan tersebut misalnya saat Bonek berunjuk rasa di depan kantor PSSI dan KONI di Jakarta, kemudian melakukan aksi tanda tangan dan cap jempol darah yang dilakukan di Surabaya, hingga Bonek berunjukrasa dan menyampaikan pernyatan sikap ke markas FIFA di Swiss yang berisi keluhan mengenai karut-marutnya sepakbola nasional secara umum di bawah kepemimpinan Nurdin Halid (Wirawan, 2016:13). Cak Andi Peci sebagai juru bicara Arek Bonek 1927 bahkan hingga mengancam akan melumpuhkan Jawa Timur jika Persebaya tidak dikembalikan kepada yang berhak.

Pada perkembangannya, perjuangan Bonek mulai masuk ke wilayah seni. Lagu-lagu mulai diciptakan sendiri, tidak hanya sekadar melakukan penggantian syair di lagu yang sudah ada seperti suporter pada umumnya. Lagu ini bukan hanya chant yang biasa mengiringi klub bertanding, namun lagu ini bagi mereka menjadi identitas keberadaan Bonek. Selain lagu, banyak bertebaran t-shirt bertemakan Bonek maupun Persebaya. Dilihat dari teks yang ada di t-shirt tersebut aroma perlawanan kepada PSSI yang dinilai bersikap tak adil buat mereka begitu mendominasi.

Momentum 10 November 2018 yang bertepatan pula dengan Hari Pahlawan menjadi menarik untuk mengingat perlawanan Bonek pada PSSI. Dua tahun lalu, tepatnya pada bulan November 2016, secara serentak semua komunitas Bonek di Surabaya dan sekitarnya meluapkan kemarahannya melalui spanduk. Surabaya yang sudah penuh dengan mural dan graffiti, saat itu ditambah lagi dengan spanduk yang bertebaran bertemakan membela Persebaya maupun luapan kemarahan hati Bonek pada PSSI.

Spanduk dalam artikel ini saya golongkan ke street graphics (desain grafis jalanan). Istilah ini bisa dianggap netral untuk tidak saja menyebutnya sebagai wujud seni jalanan. Spanduk, meskipun penerapannya ada di jalanan, secara fungsional medium spanduk untuk menyampaikan komunikasi. Dalam hal ini saya menempatkan spanduk sebagai medium yang memiliki nilai fungsional.

Spanduk dalam “Surabaya Melawan” menjadi media yang dipakai untuk menyuarakan perlawanan. Jangan dibayangkan bahwa mereka memakai jenis kain baru untuk dijadikan spanduk. Bahan yang dipakai selain adalah bahan yang baru juga dengan cara mencopot spanduk berbahan vynil yang telah terpasang sebelumnya di jalanan. Lantas bagian belakang yang kosong itulah yang kemudian menjadi medium untuk menuliskan dukungan pada Persebaya dan sebaliknya menuliskan caci maki pada PSSI. Teknis membuat spanduknya pun bermacam-macam. Ada yang menuliskan dengan cara manual maupun digital.

Politik Identitas

Ada dua pola yang dipakai dalam menamai suporter sepak bola yang ternyata juga berkaitan dengan pembentukan komunitas (Junaedi, 2017: 88). Pola pertama adalah suporter yang berkembang karena faktor kultural. Bonek dan Aremania adalah contohnya. Suporter ini mendapatkan nama berdasarkan interaksi simbolik yang terbentuk secara kultural. Sejak awal suporter ini tidak mengidentifikasi dirinya dalam satu organisasi yang diatur secara ketat dan mengatur secara ketat pula untuk anggotanya. Mereka berkembang karena memiliki kesamaan dalam mendukung klub yang sama.

Penyebutan Bonek sendiri adalah hasil interaksi simbolik antara fans Persebaya dengan koran Jawa Pos yang banyak memberitakan Persebaya. Bagi Jawa Pos, audiens mereka adalah fans Persebaya. Keberhasilan Persebaya menjadi juara di tahun 1988 menjadikan klub ini memiliki nilai berita yang tinggi. Jawa Pos menyebut suporter Persebaya ini sebagai suporter yang nekat. Dalam diri fans Persebaya pun menyambut hangat istilah “nekat” yang disematkan pada mereka.

Penyebutan Bonek pada diri mereka sendiri adalah sebuah kebanggaan. Meski di kemudian hari muncul pernyataan “dadi bonek kuwi gak gampang” atau yang berarti menjadi Bonek itu tidaklah mudah. Istilah ini pun akhirnya berkembang menjadi peyoratif yang bertujuan untuk menyerang karakter seseorang yang dianggap liar.

Pola kedua adalah suporter yang dikembangkan dengan struktur organisasi. The Jak (supporter Persija Jakarta), Pasoepati (supporter Persis Solo), Panser Biru (supporter PSIS Semarang), atau Brajamusti (supporter PSIM Yogyakarta) adalah contoh-contoh dalam pola tersebut. Mereka terbentuk dalam AD/ART yang dibuat secara jelas termasuk aturan ketat buat anggotanya. Pola ini juga memungkinkan adanya jabatan ketua supporter.

Dalam konteks spanduk Bonek, identifikasi diri mereka tergambarkan melalui perilaku kultural dan artefak budayanya. Pertama adalah selalu memunculkan simbol wong mangap atau gambar orang yang mulutnya menganga atau seperti berteriak. Simbol “wong mangap” ini lebih populer di kalangan Bonek menjadi penanda bagi kelompok suporter. Setiap ada simbol tersebut maka akan selalu diidentikkan dengan Bonek. Ada kebanggaan dan keberanian lebih jika menyematkan simbol ini dalam berbagai atribut.

Kedua, Bonek teridentifikasi melalui gerakan yang spontan. Kultur mendukung tim saat pertandingan tandang (awaydays) selalu mereka ikuti. Bonek akan berangkat tanpa menunggu instruksi senior-senior mereka atau koordinator wilayah masing-masing. Kultur ini juga melahirkan istilah yang namanya ‘estafet’ yaitu dengan cara nggandhol atau menjadi penumpang gelap truk agar sampai ke kandang lawan Persebaya. Mereka harus berganti-ganti tumpangan. Kultur ini menjadikan mereka memiliki ikatan kultural yang dekat.

Gerakan spontan inilah yang dalam perlawanan melalui spanduk mereka lakukan. Gerakan yang nekat, karena berhubungan dengan sistem tata kota maupun tata wilayah. Kemarahan atas keputusan PSSI menyulut Bonek memasang spanduk dengan berbagai gaya dan bahasa. Oleh karena gerakan spontan, maka Satpol PP harus menertibkan spanduk-spanduk yang tumbuh secara sporadis berikut juga kata-kata yang dianggap tak pantas dipertunjukkan di tempat publik. Sebagai operator penataan kota, mereka berhak melakukannya.

Di sinilah maka Bonek menjadi komunitas yang sangat berani berhadapan dengan sistem yang kaku tersebut. Istilah yang kemudian mengemuka adalah jika satu spanduk diturunkan, maka puluhan spanduk siap dipasang. Benar saja, ketika Satpol PP mencomoti spanduk Bonek satu persatu, Bonek menggeruduk kantor Satpol PP di belakang Balai Kota Surabaya. Hingga akhirnya “memaksa” Satpol PP memberikan titik-titik di kota yang diperbolehkan memasang spanduk.

Pada periode November 2016 hingga awal Januari 2017 itulah Surabaya benar-benar dikepung oleh spanduk Bonek. Hal ini masih belum terhitung dengan spanduk-spanduk yang dipasang di wilayah kampus. Bonek Campus, sebagai wadah untuk mengumpulkan komunitas-komunitas Bonek berbasis mahasiswa pun juga memasang spanduk di kampusnya masing-masing. Pihak pejabat kampus tentu saja berhak untuk menertibkan spanduk-spanduk yang terpasang tersebut. Meski demikian menurut Ujang, koordinator Bonek Campus (2016), kampus Universitas Muhamadiyah Surabaya adalah kampus di Surabaya yang mendukung penuh pemasangan spanduk di wilayah kampus. Sementara di kampus lain, Bonek-Bonek ini harus bergerilya untuk memasang spanduk di kampus mereka masing-masing.

Ketiga, Bonek teridentifikasi melalui salamnya yang khas yaitu “Salam satu nyali, wani!”. Salam ini berfungsi untuk membedakan dengan suporter lain. Bonek, menggunakan salam ini dengan mengedepankan semangat keberanian. “Wani” yang diambil dari bahasa Jawa berarti berani. Spanduk-spanduk yang dipasang oleh Bonek telah memenuhi unsur keberanian tersebut. Konotasi-konotasi yang termaknai dari bunyi-bunyi spanduk merujuk kepada mental keberanian Bonek yang merupakan representasi dari klub Persebaya itu sendiri.

Menurut penuturan salah satu dirijen Bonek, salam ini mulai muncul setelah suporter Persebaya mendukung Persebaya dalam pertandingan tandang melawan PSIM Yogyakarta tahun 2008. Interaksi dan proses sosial yang terjadi di kalangan Bonek inilah yang menjadikan salam ini cepat menyebar. Beberapa spanduk dan seni jalanan lain acap kali menuliskan salam ini dalam bentuk hashtag (#) seperti halnya di media sosial. Di sisi lain dalam hal keberanian, Bonek ini memulai dalam hal menerabas jarak kandang lawan. Mereka tidak berhitung seandainya suporter garis keras lawan menyerang atau mengintimidasi Bonek. Prinsip Bonek adalah asal tidak diserang duluan, mereka tidak akan menyerang. Bagi Bonek saat menyatakan diri mendukung Persebaya maka saat itulah mereka telah bersiap segalanya, baik modal maupun tekad.

Spanduk Bonek: Anti Kaidah Desain

Saat desain grafis menjadi komoditas, maka konsekuensinya adalah munculnya mistifikasi komoditas, seperti pada pemikiran Karl Marx. Mistifikasi dalam praktik sosial terjadi ketika suatu obyek diputuskan dari pembuatnya. Hal tersebut berimbas pada justifikasi obyek. Dalam praktik desain grafis wujud dari justifikasi adalah munculnya kemudian “strata sosial”.

Strata ini mewujud pada penilaian “baik” dan “buruk” sebuah obyek desain. Penilaian semacam ini merujuk pada wujud desain yang dibuat oleh desainer sekolahan ataukah desainer non sekolahan (amatiran; karya rakyat jelata). Gaya elegan karya desainer grafis sekolahan yang sarat dengan prinsip dan aturan desain modern dan desain bergaya naif karya rakyat jelata yang sering dinilai ‘buruk’.

Street graphics bukan monopoli desain modern, selain desain karya kelompok akademis, ada pula desainer non akademis atau desainer jalanan. Desainer semacam ini membuat desain berdasarkan pengalaman, intuisi, dan tradisi. Oleh karenanya mereka bekerja tanpa perencanaan dan sketsa. Spanduk Bonek yang tersebar di Surabaya dua tahun yang lalu ini bagai menginterupsi “tatanan sosial” dalam kaidah desain grafis. Jika pun ada spanduk yang dikerjakan dengan digital, maka Bonek ini tetap saja dimasukkan dalam kelompok yang suka mendesain dan mau belajar ilmu desain secara praktis. Termasuk juga dalam golongan ini adalah mereka yang merasa bisa mendesain karena kemudahan teknologi digital.

Jika pun spanduk juga banyak dikerjakan secara manual, kelompok ini sudah merasa puas jika telah bisa menulis (tipografi) di ruang publik serta mengatur komposisi sedemikian rupa. Teknologi digital berperan memperkenalkan publik kepada berbagai bidang komunikasi visual yang sebelumnya hanya bisa diakses para ahli. Sekarang setiap orang dapat mengomposisikan dokumen bertampilan profesional dengan menggunakan template software mutakhir.

Dalam street graphic design, Juan Carlos Meno, seorang penulis buku Mexican Street Graphics menyatakan bahwa kelompok desainer jalanan (amatiran; non sekolahan) ini memiliki sikap yaitu mereka tidak belajar aturan desain akademis, konvensi seni rupa, ataupun tren desain mutakhir. Mereka hanya terikat pada suatu persaudaraan, tradisi vernakular dan inilah yang membuat karya mereka bergaya unik. Mereka belajar secara otodidak dan memakai peralatan yang sederhana untuk membuat desain. Prinsip desain mereka adalah intuitif, imitatif, naif, dan unik.

Spanduk Bonek yang tersebar itu merupakan desain grafis vernakular yang dilahirkan dari prinsip desain di atas. Tidak peduli “grid”, tak peduli bikin copywriting yang menye-menye, begitu pula tak peduli dengan prinsip estetika yang sering kali orang tautkan dengan prinsip etika. Justru vernakularnya spanduk Bonek bagi saya lebih memiliki jiwa, keunikan, humoris, dan bersahaja daripada spanduk yang memenuhi kaidah desain sekolahan. (*)

Sumber Pustaka:

Junaedi, Fajar. 2017. Merayakan Sepak Bola: Fans, Identitas, dan Media. Yogyakarta: Buku Litera.

Mena, Juan Carlos dan Oscar Reyes Mena. 2002. Sensacional! Mexican Street Graphics. New York: Princeton Architectural Press.

Wirawan, Oryza A. 2016. Imagined Persebaya. Yogyakarta: Buku Litera.

*Artikel ini pernah diterbitkan di Majalah Mata Jendela Vol. XIII No. 4 Tahun 2018 dengan judul “Desain dalam Bal-Balan: 2 Tahun Jejak Perlawanan Bonek melalui Spanduk”.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Catatan Penulis

Warisan Rusdi Bahalwan

Published

on

Hari itu, 7 Agustus 2011, Rusdi Bahalwan meninggal dunia. Seorang legenda: sebagai pemain membawa Persebaya Surabaya menjadi juara perserikatan era 1977-1978, dan sebagai pelatih menjuarai Liga Indonesia musim 1996-1997.

Dalam sejarah Persebaya, sependek ingatan saya, hanya Jacksen F. Tiago yang berhasil meniru Rusdi, yakni menjuarai Liga Indonesia pada 1996-1997 saat menjadi pemain, dan mengangkat trofi yang sama pada 2004 saat melatih tim berjuluk Bajul Ijo itu.

Namun Rusdi memiliki kelebihan dibandingkan Jacksen. Selain berstatus arek Surabaya asli, ia tak hanya menghadirkan trofi di Wisma Persebaya di Karang Gayam. Alumnus SMA Negeri 6 Surabaya ini juga mewariskan filosofi sepak bola ‘Coming from Behind’.

‘Coming from Behind’ atau bergerak dari arah belakang adalah taktik sepak bola ofensif yang mengandalkan kecepatan lini kedua untuk menyengat pertahanan lawan. Para pemain harus aktif bergerak dan melakukan ‘passing support’. Begitu memberikan umpan, pemain lini kedua harus muncul tiba-tiba dari belakang, memberikan kejutan saat pemain bertahan lawan berkonsentrasi terhadap barisan penyerang.

Taktik ‘Coming from Behind’ mirip dengan taktik Indra Sjafri di tim nasional Indonesia U19, namun lebih efektif, karena tak senantiasa berputar-putar dengan penguasaan bola layaknya Barcelona. Tiga gol ke gawang Korea Selatan berasal dari kaki Evan Dimas yang jelas-jelas pemain gelandang, yang muncul tiba-tiba saat pemain lawan berkonsentrasi menghadapi pemain-pemain depan timnas. Bedanya, Indra menggunakan formasi 4-3-3 yang mengandalkan trisula di barisan penyerang. Sementara, menurut mantan pemain Persebaya Yani Fathurrachman, Rusdi menyukai formasi 4-4-2.

Yani adalah kapten Persebaya era 1990-an. Arek asli Jember ini direkrut kuartet pelatih Rusdi Bahalwan, Subodro, Totok Risantono, dan Zulkifli Yasin masuk tim inti Persebaya untuk mengikuti turnamen Piala Jawa Pos 1990. Usianya waktu itu 20 tahun, dan Persebaya tengah meremajakan mesin mereka.

Para pemain yang berhasil menjuarai kompetisi perserikatan 1987-1988 seperti I Gde Putu Yasa dan Syamsul Arifin digeser, digantikan pemain-pemain berusia di bawah 23 tahun seperti Winedi Purwito, Yusuf Ekodono, Ibnu Grahan. Satu-satunya pemain tua yang tersisa adalah Usman Hadi.

Rusdi memberikan tugas gelandang pengangkut air alias holding midfielder kepada Yani. Yani mendapat jatah nomor punggung 7, yang sering disebut nomor keramat atau magnificent seven di sejumlah klub di dunia seperti Liverpool dan Manchester United. Di Liverpool, nomor punggung tujuh dikenakan pemain fenomenal seperti Kenny Dalglish, Kevin Keegan, Peter Beardsley, atau Luis Suarez. Sementara di United, ini nomor punggung milik Cristiano Ronaldo, George Best, David Beckham, atau Angel di Maria.

Yani masih ingat benar bagaimana Rusdi mewajibkan penguasaan bola dalam filosofi ‘Coming from Behind’. “Tiap hari latihan possesion minimal 30 menit, minimal harus 150 kali sentuhan bola. Pemain tidak boleh cepat kehilangan bola,” katanya, mengenang.

Yani memahami benar betapa beratnya tugas gelandang bertahan. “Gelandang bertahan harus punya power dan punya jiwa perusak. Begitu bola kena lawan, saya kejar, saya cut. Kalau main dari belakang (zona pertahanan), saya yang mengelola. Kalau bek kanan dan kiri naik membantu serangan, saya bergeser (menutup area yang ditinggalkan),” katanya.

Xabi Alonso, maestro lapangan tengah yang bermain untuk Liverpool, Real Madrid, dan Bayern Munchen, mengatakan, seorang gelandang bertahan harus bersabar. Di matanya, seorang gelandang bertahan adalah penghubung antara lini belakang dan lini serang. Ia bertugas membuat permainan mengalir dengan memainkan banyak operan dan menjaga keteraturan di lapangan tengah.

“Peran saya adalah membuat membuat struktur dan keseimbangan dalam permainan dan membuat rekan setim bisa memaksimalkannya. Saya mencoba membuka ruang saat rekan satu tim membutuhkannya untuk mencetak gol. Saya mencoba menutup ruang yang bisa dimanfaatkan lawan di belakang,” kata Xabi dalam wawancara dengan Fifa.com.

Xabi sama seperti Yani. “Kalau stopper minggir, saya ke tengah. Tidak saling mengandalkan. Yang terdekat dengan bola, itu yang mengejar bola,” kata Yani.

Posisi dirijen orkestra pengatur serangan diserahkan sepenuhnya kepada Winedi Purwito dan Ibnu Grahan. “Posisi saya agak ke dalam, di belakang dua pemain itu. Saya bagian mengantisipasi serangan lawan dan melakukan serangan balik, melindungi dua bek tengah. Saya bekerjasama dan saling mengisi dengan stoper,” kenang Yani.

Filosofi Rusdi mirip filosofi ‘Pass and Move’ Liverpool yang kuat di era 1970 dan 1980. Kekuatan gaya ‘Pass and Move’ ala Liverpool dan ‘Coming from Behind’ adalah pada kecepatan yang memunculkan banyak opsi dalam serangan dan operan lebih variatif. Tak boleh ada pemain yang berjalan santai. Semua harus berinisiatif mencari bola dan memberikan operan. “Tunggu teman muncul, langsung kasih bola. Kalau teman diikuti pemain lawan, kita bawa sendiri, cari ruang kosong,” kata Yani.

Konsekuensinya taktik ini mengharuskan tim memiliki pemain dengan kemampuan hebat dalam mengontrol dan bergerak dengan bola. Baik gaya ‘Pass and Move’ dan ‘Coming from Behind’ membutuhkan pemain-pemain yang cepat dalam bergerak dan mengumpan. Jika terlampau lambat, tim lawan bisa cepat membangun area pertahanan.

“Pass and Move. This style is quite obvious really, the whole idea of controlling the ball well, finding a pass and then always moving to a different angle or space, never standing still,” kata Paul Barratt, salah seorang mantan pemain Liverpool yang melatih di Akademi Liverpool di Indonesia.

Klub Jember United yang dilatih Yani Fathurrachman berutang budi kepada almarhum Rusdi. Gaya permainan yang menjadi karakter dan ciri khas sepak bola menyerang Rusdi diterapkan sangat apik oleh tim senior dan muda Jember United.

Tiga trofi utama diraih Jember United dalam usia empat tahun dengan menggunakan filosofi sepak bola ini. Bukan kebetulan jika kemudian Jember United memiliki pemain-pemain yang cepat di tim senior maupun tim muda. Sebut saja Paulo Sitanggang dan Faisol Yunus. Paulo kini bermain untuk Barito Putra.

Yani mengadaptasi apa yang dilakukan Rusdi di Persebaya dulu, yakni menggembleng mental pemain. Pola ‘Coming from Behind’ membutuhkan semangat juang kuat. “Rusdi kalau briefing untuk menyemangati anak buahnya sangat berkesan. Masuk ke kami: ‘Ayo kalian bisa, kerahkan semua apa yang kita latih. Jangan setengah-setengah, kita bergerak dengan bola. Jangan takut salah, jangan takut dimarahi, lepas terus kayak kita latihan,” kata Yani.

Menurut Yani setiap ucapan Rusdi masuk ke hati pemain. Jika ada pemain yang tak bermain bagus, Rusdi tak pernah memarahi habis-habisan, namun cukup diajak bicara hati ke hati. “Kalian jangan merasa pintar, masih ada yang lebih pintar. Kalian harus belajar. Saya ingat omongan Rusdi itu. Kalian juara, tahun depan belum tentu juara. sampai juara. harus belajar lagi. Latihan tambah lagi. Jangan mudah puas.”

Penulis buku The Manager: Inside the Minds of Football’s Leaders, Mike Carson, menyebut pemimpin yang hebat memiliki pola pikir yang ingin selalu belajar. Ia menyitir kata-kata Brendan Rodgers, pelatih Liverpool: ‘Tetap belajar. Saya makin tua, tapi para pemain akan selalu muda. Demi kepentingan mereka, saya tak boleh hanya diam’.

Filosofi lain Rusdi Bahalwan adalah sepak bola relijiusnya. Yani belajar banyak tentang bagaimana ‘sepak bola dan ketakwaan’ darinya.Semasa hidup, Rusdi dikenal sebagai sosok yang disiplin. Bersama Subodro, dia berhasil menciptakan kebersamaan di tubuh Persebaya, sehingga menjadikan klub berjuluk Bajul Ijo ini ditakuti tim lain. “Ibarat bapak dan anak, beliau selalu siap mendampingi,” kata Yani.

Yani paham, hedonisme sangat merusak pemain sepak bola dan pada gilirannya merusak tim. Semua pelatih kelas dunia berusaha menjaga anak-anak asuhnya agar tak jatuh dalam godaan kehidupan glamor dan instan dunia sepak bola.

Manajer legendaris Liverpool Bill Shankly dalam otobiografinya mengingatkan betapa hedonisme bisa membuat pemain menjadi lemah. “Terlalu banyak makan dan tidur bisa sama buruknya dengan terlalu banyak minum, terlalu banyak merokok, terlalu banyak begadang, dan terlalu banyak berhubungan seks,” katanya.

Rusdi tak hanya mengajarkan sepak bola, tapi juga menciptakan kekompakan dan kebersamaan dengan jalan salat berjamaah. Setiap magrib, setelah salat, dia memberikan dakwah dan siraman rohani kepada anak-anak asuhnya. Setiap ada pemusatan latihan, setelah latihan sore dan mandi, para pemain segera ke musola.

Ada kalanya Rusdi menyuruh salah satu pemain untuk mengimami salat magrib dan isya. Mereka juga makan malam bersama-sama. “Saya mendapat ilmu yang besar sekali manfaatnya untuk hidup selama dilatih Pak Rusdi. Pengalaman di lapangan oke, siraman rohani oke,” kata Yani.

Perpaduan sepak bola dan agama ini diterapkan Yani di Jember United. Setiap kali Jember United bertanding, di mana pun, ia selalu membawa anak asuhnya ke musala saat magrib tiba. “Latihan jam lima sore, habis mandi langsung ke musala,” katanya.

Sang tukang gedor Sabeq Fahmi Fahrezy mendapat tugas sebagai tukang azan. Yani menjadi imam salat dan memimpin doa bersama serta salawat. Di Jakarta, sebelum pertandingan final Divisi III melawan PS Gianyar, tim Jember United menginap di Taman Mini Indonesia Indah. “Di sana ada musala besar, dan kami selalu salat jamaah di situ saat magrib dan isya,” kata Yani.

Salat berjamaah memberikan ketenangan mental kepada para pemain Jember United. Saat final, mereka mengempaskan PS Gianyar 2-0, melalui gol dari kaki Galuh Triatma Putra. Jember mengakhiri puasa gelar sejak 2002. Gelar sepak bola bergengsi tingkat nasional akhirnya mampir ke Jember pada 2013.

Andai masih hidup dan menyaksikan, Rusdi mungkin akan tersenyum: apa yang diwariskannya telah membawa kegembiraan dan kebanggaan pada sebuah kota yang terletak sekitar 200 kilometer dari kota kelahirannya. Rusdi seperti Shankly: He Made People Happy. (*)

*) Artikel ini pernah dimuat di Beritajatim.com, Senin, 10 Agustus 2015, dengan judul Rusdi dan Filosofi Coming From Behind

Continue Reading

Catatan Bonek

Kata adalah Senjata

Published

on

Sebuah jurnal laporan kegiatan pelatihan menulis

Bendera hijau itu bisa terbilang sederhana sekali. Berukuran sekitar 1,5×1 meter saja, berwarna hijau tua dengan latar belakang ndas mangap yang identik dengan representasi Bonek dalam bentuk gambar, dengan logo BWF (Bonek Writers Forum) di bagian kiri atasnya. Bendera ini pun bukanlah bandingan dari banner-banner raksasa yang selama ini rajin menghiasi Gelora Bung Tomo. Tak ada yang nampak istimewa.

Tapi jika kamu mau sedikit saja memperhatikan, justru kata-kata yang tertulis di dalamnya akan terasa mendalam, kekiri-kirian dan revolusioner. “Kata adalah senjata, tiga frase yang ketika disusun berurutan akan terasa sebagai bentuk nyata pepatah “pena lebih tajam daripada pedang.”

Jika kamu pernah menjadi aktivis yang kekiri-kirian, punya pandangan yang kritis akan sosialisme, perlawanan akan penindasan dan ketidakadilan, perjuangan kelas, maka kata-kata tadi akan mengingatkanmu pada sebuah buku yang berjudul “Nuestra Arma es Nuestra Palabra”, our word is our weapon, yang dituliskan oleh Subcomandante Marcos, seorang tokoh gerilyawan gerakan Zapatista dari Meksiko. Buku yang berupa kumpulan tulisan tadi bahkan diberi kata pengantar oleh penulis legendaris asal Portugal, Jose Saramago.

Kurang kiri bagaimana lagi? Kurang revolusioner bagaimana lagi saat kalian mendengar nama-nama Subcommandante Marcos, Zapatista, Emiliano Zapata, hingga Jose Saramago?

Cukup itu sajalah prolog yang akan saya berikan. Saya tidak sedang bercerita tentang gerakan kiri atau sejarah perjuangan Zapatista di Meksiko. Di sini saya hanya ingin menarik benang merah dari kalimat “kata adalah senjata”, menulis, membuat tulisan argumentasi atau persuasi, mengenalkan literasi, memberikan edukasi. Melaluinya kita bisa memberikan perlawanan dan perjuangan lewat tulisan dan buku.

Kebetulan saya baru saja mengikuti acara “Creator Academy 2022” yang digagas oleh Jaringan GUSDURian Yogyakarta. Acara tersebut merupakan ruang kolaborasi bagi para content creator yang bertujuan menyebarkan nilai-nilai kebaikan melalui konten kreatif. Di sini kami menyatukan visi untuk mengedepankan nilai-nilai toleransi, gender mainstreaming dan kepedulian lingkungan. Pesertanya tanpa harus dibatasi batasan usia, gender, agama dan dari golongan mana anda berasal. Ada kelas ilustrasi, videografi dan menulis esai. Di kelas menulis esai tersebut saya tergabung.

Di sini, saya belajar mengenali dan menulis tulisan berbentuk esai. Tulisan esai itu unik, karena bukan seperti sebuah artikel atau jurnal yang terkesan sebagai sebuah kabar berita, bukan pula sebuah cerpen atau novel yang bisa saja bermain-main dalam dunia imajiner dengan bebasnya.

Esai lebih ke sebuah bentuk tulisan  yang membahas suatu tema dari sudut pandang pribadi si penulis. Bisa dibilang bahwa esai merupakan tulisan yang mengandung pendapat dan bersifat subyektif dan argumentatif. Yang membuatnya lebih menarik lagi adalah hadirnya fakta-fakta, kutipan data atau pendapat seorang ahli di bidangnya, filsuf dsb, yang bisa membawa pandangan pribadi penulis harus logis dan dapat dipahami dengan baik oleh pembacanya.

Sepertinya ini adalah bentuk tulisan yang pas dan sesuai kan dengan buku “Nuestra Arma es Nuestra Palabra” yang ditulis Subcomandante Marcos yang saya singgung di awal tadi? Cocok juga bukan untuk mengakomodir suara Bonek dalam berjuang membela Persebaya?

Bonek tidak hanya lantang di tibun stadion, di luar lapangan pun kita tak segan-segan turun jalan bahkan untuk melawan mafia oligarki yang menguasai liga dan federasi sekalipun. Bahkan ketika media berlomba-lomba memusuhi kita dengan segala berita negatifnya tentang kita, kami Bonek tidak pernah tinggal diam. Tulisan dilawan dengan tulisan, opini dilawan dengan opini. Bonek bisa melawan dengan kata-kata seperti di awal tulisan ini dibuat. Kata adalah senjata.

Di kelas penulisan esai ini, saya beruntung sekali bisa menimba ilmu dari seorang mbak Kalis Mardiasih. Selain menjadi penulis buku yang produktif, mbak Kalis juga merupakan sosok aktivis yang peduli pada isu perempuan dan anak, mulai dari kekerasan sampai kesetaraan. Bentuk perlawanannya terwujud melalui esai-esainya yang banyak dimuat di berbagai media massa, juga pada konten-konten instagram, twitter, dan kanal YouTube-nya. Sosok yang revolusioner, membawa semangat juang Kartini dan mengingatkan saya pada sosok-sosok perempuan revolusioner seperti Simone de Beauvoir, Rosa Parks, atau Malala Yousafzai.

Melalui pelatihan ini, saya belajar dari mbak Kalis, bahwa untuk menulis esai, ada hal-hal yang perlu diperhatikan untuk bisa meyakinkan pembaca kita dan agar mereka bisa memahami pesan apa yang kita sampaikan.

  1. Karena esai itu mengutamakan penalaran logis , maka logika kalimat kita harus ditata dengan benar dan terstruktur agar mudah dipahami
  2. Usahakan untuk melakukan “Show, not tell” . Sebuah tulisan akan terasa membosankan saat kita hanya menulis untuk memberitakan saja. Disini tulisan membutuhkan narasi deskriptif, bukti-bukti pendukung, ajak pembaca masuk ke dalam tulisan seolah terlibat dan melihat secara langsung, namun jangan sampai terlalu terseret dalam fiksi
  3. Usahakan tulisanmu agar mudah diingat, unik dan personal, dan mampu menggugah emosi serta empati pembaca. Dalam tulisan esai, CERITA > BERITA.
  4. Menjadi seorang penulis, seseorang harus punya kecenderungan untuk OVERTHINKING. Overthinking di sini tentunya bukan diartikan sebagai mikir sing ora-ora atau berpikir hal-hal yang tak jelas lantas malah kehilangan esensinya. Overthinking yang dimaksudkan disini adalah, sebagai penulis, kita harus bisa melihat satu fakta atau peristiwa dalam berbagai sudut pandang dan mengembangkannya ke dalam tulisan
  5. Dalam sebuah berita atau tulisan negatif di dalam media, kita akan sering menemukan sebuah narasi yang membentuk opini. Ini adalah sebuah tantangan. Untuk melawannya kita bisa melakukan tulisan yang bersifat kontra narasi atau tulisan yang bisa menjadi alternatif narasi.
    • Kontra narasi adalah sebuah narasi yang langsung menyikapi narasi sebelumnya secara frontal sebagai bentuk oposan. Tulisan ini akan membantah secara langsung wacana apa yang telah diopinikan sebelumnya.
    • Alternatif narasi adalah sebuah narasi yang tidak serta merta bertentangan dengan narasi sebelumnya. Alternatif narasi lebih memberikan wacana baru, opini baru yang membuka wawasan pembaca akan sebuah tema atau peristiwa yang sama, namun dari sudut-sudut pandang yang sebelumnya belum pernah diberitakan. Di sini kita akan membentuk stigma baru pada pembaca/viewers kita akan fakta-fakta lain yang sangat berbeda dan bisa meruntuhkan stigma negatif yang terbentuk sebelumnya.

Sebuah rentetan ilmu baru yang bisa saya bagikan ke rekan-rekan seperjuangan saya di komunitas Bonek Writers Forum, dan tentu saja Bonek sejagat raya yang membaca tulisan saya ini. Juga sebagai bentuk mengkolaborasikan semangat egaliter, toleransi, kesetaraan, kesadaran lingkungan dan perlawanan akan penindasan serta ketidakadilan yang diperjuangkan oleh Jaringan GUSDURian kepada dunia persupporteran khususnya Bonek dan Persebaya. (*)

“Sorry for the inconvinience, but this is a revolution”

Subcommandante marcos
Continue Reading

Catatan Bonek

Selamat Jalan Sahabat, Tenang Kau di Tribun Surgamu

Published

on

Pemakaman di Jogja kebanyakan tidak rindang dipenuhi pohon-pohon kamboja sebagaimana pemakaman di Surabaya. Pada siang ini matahari sebenarnya cukup terang bersinar meski tak menjadikannya terik menyengat. Sekelompok pelayat berbaju hitam-hitam melantunkan anthem “Sampai Kau Bisa” dalam suasana yang penuh keharuan.

Di sini kami mengantarkan saudara kami. Satu lagi anak bangsa telah berpulang, satu lagi saudara telah tiada. Tri Fajar Firmansyah, anggota BCS yang meninggal karena menjadi korban salah sasaran dalam lanjutan kerusuhan di kota Jogja saat konvoi kelompok suporter Persis kala melintasi kota Jogja menuju Magelang.

Satu saudara telah berpulang, satu kerabat tak lagi bersama kita, satu lagi orang tua terpisah dari anaknya.

Ini menyedihkan sekali buat dunia persepakbolaan kita. Padahal baru sebulan setelah jatuhnya dua korban jiwa di stadion GBLA Bandung, terhimpit dan terinjak-injak kala berdesakan untuk memasuki stadion. Sampai kapan sepakbola kita akan terus memakan korban jiwa?

Kerusuhan antar supporter membuat selalu mengakibatkan dendam tak berkesudahan. Saya khawatir hal ini akan menjadi lingkaran setan yang sulit untuk terputus. Mendukung tim kesayangan, berseteru dalam rivalitas antar klub dan suporternya, semuanya itu sudah menjadi warna-warni dalam sepak bola. Namun tak seharusnya semua ini harus berakhir dengan kabar duka berupa hilangnya nyawa.

Di sini, di Jogjakarta, Bonek Jogja sudah lebih dari 10 tahun didirikan. Di sini kami semua adalah perantau. Ada yang mencari nafkah, ada juga yang masih sekolah, ada juga yang sekedar tinggal untuk sementara dalam berbagai urusan. Kami semua adalah minoritas, tamu di kota orang. Di mana bumi dipijak, disitulah langit dijunjung.

Dalam area Joglosemar (Jogja Solo Semarang) terdapat sejarah rivalitas yang panjang. Meski begitu, baik dari Slemania dan BCS, Paserbumi, Brajamusti hingga Panser Biru adalah saudara bagi kami. Kami tahu, Bonek pernah membawa sejarah buruk di masa lampau. kami juga bukan peacemaker yang sok menjadi agen perdamaian. Namun, wajib rasanya buat kami untuk terus memupuk rasa persaudaraan dan persahabatan dengan siapapun yang ada di sekitar kita.

Pagi tadi, beberapa perwakilan dari Bonek Jogja turut hadir dalam ke rumah duka almarhum Tri Fajar Firmansyah. Kami hadir bukan hanya karena kedekatan kami dengan BCS, komunitas supporter yang menaunginya, namun juga atas dasar kemanusiaan pula.

Di atas sepakbola, masih ada nyawa manusia yang lebih berharga.

Selamat jalan sahabat, doa kami bersamamu. (*)

(*) Foto-foto dokumen @Bonekjogja

Continue Reading

Trending