Connect with us

Catatan Penulis

Mengingat Kembali Spanduk sebagai Alat Perlawanan

Published

on

“Surabaya Melawan” adalah sebuah gerakan yang dilakukan oleh pendukung Persebaya (yang dikenal sebagai Bonek) pada tahun 2016 sebagai bentuk perlawanan pada federasi sepak bola Indonesia, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), karena dicoretnya keanggotaan Persebaya di PSSI. PSSI lebih memilih Persebaya versi gadungan ketimbang Persebaya yang secara historis dilahirkan pada tahun 1927.

Oleh karena itu, saat Persebaya tidak dapat mengikuti liga karena tidak diakuinya Persebaya sebagai klub resmi di bawah PSSI sebagai akibat pembangkangan pada keputusan federasi yang memaksa Persebaya degradasi dari Liga Super Indonesia pada musim 2009-2010, maka nama Persebaya 1927 dipilih. Nama tersebut dipilih setelah menolak nama yang “diberi” oleh PSSI yaitu Surabaya United untuk bertanding pada laga amal melawan Indo Holland di Gelora 10 November.

Rupanya hal tersebut meluas. Bonek melakukan perlawanan. Sejak itu nama Persebaya 1927 selain menjadi identitas klub juga identitas perlawanan. Aksi perlawanan tersebut misalnya saat Bonek berunjuk rasa di depan kantor PSSI dan KONI di Jakarta, kemudian melakukan aksi tanda tangan dan cap jempol darah yang dilakukan di Surabaya, hingga Bonek berunjukrasa dan menyampaikan pernyatan sikap ke markas FIFA di Swiss yang berisi keluhan mengenai karut-marutnya sepakbola nasional secara umum di bawah kepemimpinan Nurdin Halid (Wirawan, 2016:13). Cak Andi Peci sebagai juru bicara Arek Bonek 1927 bahkan hingga mengancam akan melumpuhkan Jawa Timur jika Persebaya tidak dikembalikan kepada yang berhak.

Pada perkembangannya, perjuangan Bonek mulai masuk ke wilayah seni. Lagu-lagu mulai diciptakan sendiri, tidak hanya sekadar melakukan penggantian syair di lagu yang sudah ada seperti suporter pada umumnya. Lagu ini bukan hanya chant yang biasa mengiringi klub bertanding, namun lagu ini bagi mereka menjadi identitas keberadaan Bonek. Selain lagu, banyak bertebaran t-shirt bertemakan Bonek maupun Persebaya. Dilihat dari teks yang ada di t-shirt tersebut aroma perlawanan kepada PSSI yang dinilai bersikap tak adil buat mereka begitu mendominasi.

Momentum 10 November 2018 yang bertepatan pula dengan Hari Pahlawan menjadi menarik untuk mengingat perlawanan Bonek pada PSSI. Dua tahun lalu, tepatnya pada bulan November 2016, secara serentak semua komunitas Bonek di Surabaya dan sekitarnya meluapkan kemarahannya melalui spanduk. Surabaya yang sudah penuh dengan mural dan graffiti, saat itu ditambah lagi dengan spanduk yang bertebaran bertemakan membela Persebaya maupun luapan kemarahan hati Bonek pada PSSI.

Spanduk dalam artikel ini saya golongkan ke street graphics (desain grafis jalanan). Istilah ini bisa dianggap netral untuk tidak saja menyebutnya sebagai wujud seni jalanan. Spanduk, meskipun penerapannya ada di jalanan, secara fungsional medium spanduk untuk menyampaikan komunikasi. Dalam hal ini saya menempatkan spanduk sebagai medium yang memiliki nilai fungsional.

Spanduk dalam “Surabaya Melawan” menjadi media yang dipakai untuk menyuarakan perlawanan. Jangan dibayangkan bahwa mereka memakai jenis kain baru untuk dijadikan spanduk. Bahan yang dipakai selain adalah bahan yang baru juga dengan cara mencopot spanduk berbahan vynil yang telah terpasang sebelumnya di jalanan. Lantas bagian belakang yang kosong itulah yang kemudian menjadi medium untuk menuliskan dukungan pada Persebaya dan sebaliknya menuliskan caci maki pada PSSI. Teknis membuat spanduknya pun bermacam-macam. Ada yang menuliskan dengan cara manual maupun digital.

Politik Identitas

Ada dua pola yang dipakai dalam menamai suporter sepak bola yang ternyata juga berkaitan dengan pembentukan komunitas (Junaedi, 2017: 88). Pola pertama adalah suporter yang berkembang karena faktor kultural. Bonek dan Aremania adalah contohnya. Suporter ini mendapatkan nama berdasarkan interaksi simbolik yang terbentuk secara kultural. Sejak awal suporter ini tidak mengidentifikasi dirinya dalam satu organisasi yang diatur secara ketat dan mengatur secara ketat pula untuk anggotanya. Mereka berkembang karena memiliki kesamaan dalam mendukung klub yang sama.

Penyebutan Bonek sendiri adalah hasil interaksi simbolik antara fans Persebaya dengan koran Jawa Pos yang banyak memberitakan Persebaya. Bagi Jawa Pos, audiens mereka adalah fans Persebaya. Keberhasilan Persebaya menjadi juara di tahun 1988 menjadikan klub ini memiliki nilai berita yang tinggi. Jawa Pos menyebut suporter Persebaya ini sebagai suporter yang nekat. Dalam diri fans Persebaya pun menyambut hangat istilah “nekat” yang disematkan pada mereka.

Penyebutan Bonek pada diri mereka sendiri adalah sebuah kebanggaan. Meski di kemudian hari muncul pernyataan “dadi bonek kuwi gak gampang” atau yang berarti menjadi Bonek itu tidaklah mudah. Istilah ini pun akhirnya berkembang menjadi peyoratif yang bertujuan untuk menyerang karakter seseorang yang dianggap liar.

Pola kedua adalah suporter yang dikembangkan dengan struktur organisasi. The Jak (supporter Persija Jakarta), Pasoepati (supporter Persis Solo), Panser Biru (supporter PSIS Semarang), atau Brajamusti (supporter PSIM Yogyakarta) adalah contoh-contoh dalam pola tersebut. Mereka terbentuk dalam AD/ART yang dibuat secara jelas termasuk aturan ketat buat anggotanya. Pola ini juga memungkinkan adanya jabatan ketua supporter.

Dalam konteks spanduk Bonek, identifikasi diri mereka tergambarkan melalui perilaku kultural dan artefak budayanya. Pertama adalah selalu memunculkan simbol wong mangap atau gambar orang yang mulutnya menganga atau seperti berteriak. Simbol “wong mangap” ini lebih populer di kalangan Bonek menjadi penanda bagi kelompok suporter. Setiap ada simbol tersebut maka akan selalu diidentikkan dengan Bonek. Ada kebanggaan dan keberanian lebih jika menyematkan simbol ini dalam berbagai atribut.

Kedua, Bonek teridentifikasi melalui gerakan yang spontan. Kultur mendukung tim saat pertandingan tandang (awaydays) selalu mereka ikuti. Bonek akan berangkat tanpa menunggu instruksi senior-senior mereka atau koordinator wilayah masing-masing. Kultur ini juga melahirkan istilah yang namanya ‘estafet’ yaitu dengan cara nggandhol atau menjadi penumpang gelap truk agar sampai ke kandang lawan Persebaya. Mereka harus berganti-ganti tumpangan. Kultur ini menjadikan mereka memiliki ikatan kultural yang dekat.

Gerakan spontan inilah yang dalam perlawanan melalui spanduk mereka lakukan. Gerakan yang nekat, karena berhubungan dengan sistem tata kota maupun tata wilayah. Kemarahan atas keputusan PSSI menyulut Bonek memasang spanduk dengan berbagai gaya dan bahasa. Oleh karena gerakan spontan, maka Satpol PP harus menertibkan spanduk-spanduk yang tumbuh secara sporadis berikut juga kata-kata yang dianggap tak pantas dipertunjukkan di tempat publik. Sebagai operator penataan kota, mereka berhak melakukannya.

Di sinilah maka Bonek menjadi komunitas yang sangat berani berhadapan dengan sistem yang kaku tersebut. Istilah yang kemudian mengemuka adalah jika satu spanduk diturunkan, maka puluhan spanduk siap dipasang. Benar saja, ketika Satpol PP mencomoti spanduk Bonek satu persatu, Bonek menggeruduk kantor Satpol PP di belakang Balai Kota Surabaya. Hingga akhirnya “memaksa” Satpol PP memberikan titik-titik di kota yang diperbolehkan memasang spanduk.

Pada periode November 2016 hingga awal Januari 2017 itulah Surabaya benar-benar dikepung oleh spanduk Bonek. Hal ini masih belum terhitung dengan spanduk-spanduk yang dipasang di wilayah kampus. Bonek Campus, sebagai wadah untuk mengumpulkan komunitas-komunitas Bonek berbasis mahasiswa pun juga memasang spanduk di kampusnya masing-masing. Pihak pejabat kampus tentu saja berhak untuk menertibkan spanduk-spanduk yang terpasang tersebut. Meski demikian menurut Ujang, koordinator Bonek Campus (2016), kampus Universitas Muhamadiyah Surabaya adalah kampus di Surabaya yang mendukung penuh pemasangan spanduk di wilayah kampus. Sementara di kampus lain, Bonek-Bonek ini harus bergerilya untuk memasang spanduk di kampus mereka masing-masing.

Ketiga, Bonek teridentifikasi melalui salamnya yang khas yaitu “Salam satu nyali, wani!”. Salam ini berfungsi untuk membedakan dengan suporter lain. Bonek, menggunakan salam ini dengan mengedepankan semangat keberanian. “Wani” yang diambil dari bahasa Jawa berarti berani. Spanduk-spanduk yang dipasang oleh Bonek telah memenuhi unsur keberanian tersebut. Konotasi-konotasi yang termaknai dari bunyi-bunyi spanduk merujuk kepada mental keberanian Bonek yang merupakan representasi dari klub Persebaya itu sendiri.

Menurut penuturan salah satu dirijen Bonek, salam ini mulai muncul setelah suporter Persebaya mendukung Persebaya dalam pertandingan tandang melawan PSIM Yogyakarta tahun 2008. Interaksi dan proses sosial yang terjadi di kalangan Bonek inilah yang menjadikan salam ini cepat menyebar. Beberapa spanduk dan seni jalanan lain acap kali menuliskan salam ini dalam bentuk hashtag (#) seperti halnya di media sosial. Di sisi lain dalam hal keberanian, Bonek ini memulai dalam hal menerabas jarak kandang lawan. Mereka tidak berhitung seandainya suporter garis keras lawan menyerang atau mengintimidasi Bonek. Prinsip Bonek adalah asal tidak diserang duluan, mereka tidak akan menyerang. Bagi Bonek saat menyatakan diri mendukung Persebaya maka saat itulah mereka telah bersiap segalanya, baik modal maupun tekad.

Spanduk Bonek: Anti Kaidah Desain

Saat desain grafis menjadi komoditas, maka konsekuensinya adalah munculnya mistifikasi komoditas, seperti pada pemikiran Karl Marx. Mistifikasi dalam praktik sosial terjadi ketika suatu obyek diputuskan dari pembuatnya. Hal tersebut berimbas pada justifikasi obyek. Dalam praktik desain grafis wujud dari justifikasi adalah munculnya kemudian “strata sosial”.

Strata ini mewujud pada penilaian “baik” dan “buruk” sebuah obyek desain. Penilaian semacam ini merujuk pada wujud desain yang dibuat oleh desainer sekolahan ataukah desainer non sekolahan (amatiran; karya rakyat jelata). Gaya elegan karya desainer grafis sekolahan yang sarat dengan prinsip dan aturan desain modern dan desain bergaya naif karya rakyat jelata yang sering dinilai ‘buruk’.

Street graphics bukan monopoli desain modern, selain desain karya kelompok akademis, ada pula desainer non akademis atau desainer jalanan. Desainer semacam ini membuat desain berdasarkan pengalaman, intuisi, dan tradisi. Oleh karenanya mereka bekerja tanpa perencanaan dan sketsa. Spanduk Bonek yang tersebar di Surabaya dua tahun yang lalu ini bagai menginterupsi “tatanan sosial” dalam kaidah desain grafis. Jika pun ada spanduk yang dikerjakan dengan digital, maka Bonek ini tetap saja dimasukkan dalam kelompok yang suka mendesain dan mau belajar ilmu desain secara praktis. Termasuk juga dalam golongan ini adalah mereka yang merasa bisa mendesain karena kemudahan teknologi digital.

Jika pun spanduk juga banyak dikerjakan secara manual, kelompok ini sudah merasa puas jika telah bisa menulis (tipografi) di ruang publik serta mengatur komposisi sedemikian rupa. Teknologi digital berperan memperkenalkan publik kepada berbagai bidang komunikasi visual yang sebelumnya hanya bisa diakses para ahli. Sekarang setiap orang dapat mengomposisikan dokumen bertampilan profesional dengan menggunakan template software mutakhir.

Dalam street graphic design, Juan Carlos Meno, seorang penulis buku Mexican Street Graphics menyatakan bahwa kelompok desainer jalanan (amatiran; non sekolahan) ini memiliki sikap yaitu mereka tidak belajar aturan desain akademis, konvensi seni rupa, ataupun tren desain mutakhir. Mereka hanya terikat pada suatu persaudaraan, tradisi vernakular dan inilah yang membuat karya mereka bergaya unik. Mereka belajar secara otodidak dan memakai peralatan yang sederhana untuk membuat desain. Prinsip desain mereka adalah intuitif, imitatif, naif, dan unik.

Spanduk Bonek yang tersebar itu merupakan desain grafis vernakular yang dilahirkan dari prinsip desain di atas. Tidak peduli “grid”, tak peduli bikin copywriting yang menye-menye, begitu pula tak peduli dengan prinsip estetika yang sering kali orang tautkan dengan prinsip etika. Justru vernakularnya spanduk Bonek bagi saya lebih memiliki jiwa, keunikan, humoris, dan bersahaja daripada spanduk yang memenuhi kaidah desain sekolahan. (*)

Sumber Pustaka:

Junaedi, Fajar. 2017. Merayakan Sepak Bola: Fans, Identitas, dan Media. Yogyakarta: Buku Litera.

Mena, Juan Carlos dan Oscar Reyes Mena. 2002. Sensacional! Mexican Street Graphics. New York: Princeton Architectural Press.

Wirawan, Oryza A. 2016. Imagined Persebaya. Yogyakarta: Buku Litera.

*Artikel ini pernah diterbitkan di Majalah Mata Jendela Vol. XIII No. 4 Tahun 2018 dengan judul “Desain dalam Bal-Balan: 2 Tahun Jejak Perlawanan Bonek melalui Spanduk”.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Catatan Penulis

Persebaya Tidak Lahir 18 Juni 1927

Published

on

Dari judulnya, tulisan ini mungkin terlihat kontroversial. Namun penulis tidak sedang membuat gaduh ataupun ngotot jika pendapat yang ada di tulisan ini pasti benar. Tulisan ini ada setelah penulis membaca riset dari Tim Bajulijo.net berjudul SIVB Untold Stories yang juga dimuat di emosijiwaku.com. Tulisan lima seri tersebut mengungkapkan fakta-fakta yang sebagian bertentangan dengan pendapat kebanyakan pecinta Persebaya.

Dalam riset itu diketahui jika Persebaya bukan SIVB (Soerabaiashe Indische Voetbal Bond) melainkan SVB (Soerabaiashe Voetbal Bond). Artinya Persebaya tidak lahir 18 Juni 1927 melainkan berdiri pada 1910-an, tahun lahir SVB. Sayang riset belum bisa menunjukkan kapan tepatnya SVB lahir.

Awalnya, penulis tidak begitu yakin. Namun setelah membaca lima seri tulisan itu, penulis sangat yakin jika Persebaya adalah SVB. Mari kita telusuri fakta-fakta yang diungkap dalam riset itu.

  1. Orang-orang Belanda di Surabaya sepakat mendirikan SVB pada tahun 1910-an.
  2. Indonesiche Studieclub (IS), organisasi yang beranggotakan petinggi-petinggi SIVB, pada saat krisis ekonomi 1920-an sangat aktif melakukan kegiatan sosial ekonomi yang meringankan penderitaan rakyat Indonesia. Organisasi ini pada prakteknya mendapat dukungan dari pemerintah Hindia Belanda karena sifat organisasinya yang moderat/cooperatie.
  3. M Pamoedji, salah satu pendiri SIVB, tercatat sebagai anggota IS.
  4. SIVB lahir pada 18 Juni 1927. SIVB dibentuk tidak untuk melawan hegemoni SVB atau melawan penjajah, melainkan untuk menyediakan akses bagi bond-bond anggota SIVB terhadap sepak bola.
  5. Pertandingan uji coba antara SIVB dan SVB maupun anggotanya berkali-kali digelar. Perbedaan status sosial kedua bond tidak menghalangi mereka untuk bertanding.
  6. Tujuh klub, termasuk SIVB, sepakat mendirikan PSSI. Setelah PSSI berdiri, sebagian besar anggotanya menyarankan PSSI menolak kerjasama dengan NIVB, organisasi sepak bola bentukan pemerintah Hindia Belanda. SIVB termasuk yang menentang saran itu dan menganjurkan tetap bekerjasama dengan NIVB.
  7. SIVB dan SVB tetap bertanding dalam pertandingan uji coba meski PSSI menolak bekerjasama dengan NIVB.
  8. Pada Kongres PSSI 1938, Ketua PSSI Ir. Soeratin menyarankan anggotanya mengubah nama klub dengan nama melayu. SIVB kemudian berubah nama menjadi Persibaja atau Persatuan Sepakraga Indonesia Soerabaja.
  9. Invasi Jepang pada Februari 1942 menyebabkan kompetisi di bawah PSSI, NIVU (NIVB), hingga HNVB menjadi vakum. SIVB dan SVB pun merasakan dampaknya dan kemudian vakum.
  10. Setelah Indonesia merdeka pada 1945, Persibaja/SIVB bertransformasi menjadi PORIS. Meski begitu organisasi induknya yaitu PSSI masih belum aktif.
  11. Pasca proklamasi, Belanda melancarkan agresi ke Indonesia. Pada 1947, kompetisi di bawah NIVU dihidupkan kembali. SVB pun mengikuti kembali kompetisi bentukan NIVU. NIVU berubah nama menjadi VUVSI/ISNIS.
  12. Sejak 1947-1950, tercatat empat turnamen nasional digelar VUVSI/ISNIS. SVB menjadi juara pada 1949.
  13. 1950, drama perebutan kekuasaan berakhir dengan Indonesia sebagai pemenang. Kondisi ini mengharuskan klub-klub di bawah VUVSI/ISNIS untuk bergabung ke dalam PSSI atau membubarkan diri.
  14. April 1950, SVB berubah nama menjadi PSS (Persatuan Sepakraga Soerabaja) dan kemudian berganti lagi menjadi Persibaja.
  15. PSS berani mengklaim sebagai Persibaja karena PORIS (Nama baru pengganti Persibaja pasca proklamasi) belum ada kegiatan karena PSSI masih belum aktif.
  16. Agar tetap berkegiatan, PORIS bergabung dalam kompetisi internal yang diadakan PSS/SVB.
  17. Tidak ada merger di antara kedua bond (SVB dan SIVB) karena SIVB memutuskan menjadi peserta kompetisi internal SVB.
  18. Pada 15 September 1952, Persibaja (PSS/SVB), mengadakan rapat anggota yang menetapkan SIVB sebagai cikal bakal Persibaja dalam AD/ART. Fakta itu bertolak belakan dengan fakta bahwa SVB yang menjadi cikal bakal klub. Jersey yang dipilih adalah hijau-putih yang identik dengan jersey SIVB, bukan putih-putih warna jersey SVB.
  19. Sejak pengesahan AD/ART itulah, identitas SVB sebagai bagian dari sejarah Persibaja berangsur-angsur hilang.
  20. Tahun 1969, Persibaja berubah nama menjadi Persebaja dan kemudian berubah lagi menjadi Persebaya sesuai ejaan sekarang.

Untuk lebih jelasnya bisa dilihat dalam grafis berikut ini:

Dari fakta-fakta di atas, pemilihan SIVB sebagai klub cikal bakal Persebaya sesungguhnya adalah pilihan politis. Pemilihan itu didasari fakta jika SIVB adalah pendiri PSSI yang notabene menentang atau tidak mau bekerjasama dengan pemerintah Hindia Belanda.
Indonesia adalah pemenang dari perebutan kekuasaan dengan Belanda. Ada ungkapan bahwa sejarah ditentukan sang pemenang. Para anggota Persibaja saat menetapkan AD/ART tentu lebih condong memilih SIVB ketimbang SVB. Alasannya karena SIVB adalah klub bentukan orang-orang pribumi, sementara SVB jelas-jelas bikinan penjajah.

Sejarah adalah kumpulan fakta-fakta yang terjadi

Bung Karno pernah berkata: “Jas Merah, Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah.” Jika kita mau menuruti perkataan bapak proklamator kita, tentu kita harus berani mengkoreksi sejarah yang salah. Kita harus mendudukkan sejarah dengan benar. Sejarah seharusnya dianggap sebagai fakta. Sejarah bukan sesuatu yang sifatnya politis.

Di negara-negara yang sudah maju, kesalahan sejarah yang ditemukan ditindaklanjuti dengan keberanian mengoreksi sejarah yang terlanjur beredar. Sayangnya fakta-fakta sejarah di Indonesia sering dimaknai secara politis. Sesuatu yang dianggap melenceng dari kepercayaan bangsa ini meski benar dianggap salah.

Orde Baru adalah orde di mana sejarah seringkali dibelokkan sesuai dengan kemauan penguasa. Seperti halnya sejarah kelam 1965 yang dibelokkan. Fakta-fakta yang bertentangan dengan apa yang diinginkan penguasa dianggap tidak benar. Sampai saat ini, pemerintah hanya menuruti narasi yang dibuat penguasa Orde Baru yang celakanya diamini sebagian besar rakyat Indonesia. Padahal pengungkapan sejarah secara jujur dengan menyajikan fakta-fakta yang ada akan membuat generasi sekarang bisa belajar sejarah dengan baik dan benar.

Baru-baru ini saya membaca tentang kesalahan nama pengibar bendera Amerika di Pulau Iwo Jima saat Perang Dunia ke-2. Peristiwa pengibaran bendera itu diabadikan dalam sebuah foto ikonik karya Joe Rosenthal, fotografer AP. Selama ini, semua orang percaya jika John H. Bradley adalah salah satu dari enam tentara marinir yang mengibarkan bendera setelah Amerika merebut pulau itu dari tangan Jepang.

Sebuah panel yang terdiri dari orang-orang yang mengerti sejarah tentara marinir Amerika meneliti kebenaran sejarah itu. Ternyata, mereka menemukan fakta jika Bradley bukan salah satu pengibar bendera melainkan Harold Schultz. Pihak marinir awalnya tidak setuju fakta yang diungkap pada 2014 itu. Namun pada 23 Juni 2016, mereka mengakui fakta itu dan menyatakan Harold Schultz berada dalam foto ikonik tersebut.

Kembali kepada penemuan fakta Persebaya di atas. Riset Tim Bajulijo.net sangat penting bagi pengungkapan sejarah. Riset tersebut bisa dijadikan bahan diskusi bagi siapa saja yang mencintai Persebaya. Diskusi diharapkan bisa mendudukkan permasalahan dengan benar.
Setelah keluarnya riset dan tulisan ini, saya berharap ada lagi tulisan yang bisa memperkaya khasanah sejarah Persebaya. Tak harus mendukung, mungkin saja ada tulisan yang membantah riset dan tulisan ini. Tulisan yang nantinya keluar harus disertai fakta-fakta meyakinkan dan bukan sekedar asumsi sehingga bisa dipertanggungjawabkan.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah pendahulunya. Tentu sejarah sebenarnya yang memang benar-benar terjadi dan bukan hasil politisasi. (*)

*) Tulisan ini pernah dimuat di emosijiwaku.com.

Continue Reading

Catatan Penulis

Halal Bihalal BWF dan Keruwetan-Keruwetan Jelang Acara

Published

on

“Mene isok gak yo halbil maneh?” tanya di Dhion Prasetya di grup WA Bonek Writer Forum (BWF), dua minggu sebelum lebaran.

Saya antusias mendengar pertanyaan Dhion. Rasanya, BWF sudah lama tidak menggelar halal bihalal. Terakhir kali kami mengadakan halal bihalal di Prapen Kopi Surabaya jauh sebelum pandemi. Kesibukan juga yang membuat para member BWF susah untuk berkumpul usai lebaran.

Namun, lebaran kali ini hukumnya wajib menggelar halal bihalal. Apalagi pandemi sudah makin mereda.

Teman-teman di grup sangat antusias. Saya mengusulkan tempat di Satu Atap. Sayangnya, Yadi CEO coworking space di belakang Balai Kota itu mengatakan jika mereka masih libur lebaran. Kami memang berencana menggelar halal bihalal pada 8 Mei 2022, sehari sebelum cuti bersama usai.

Saya kemudian mengontak teman-teman yang mungkin bisa merekomendasikan kafe yang bisa dijadikan venue. Ada sekitar 5 kafe yang saya kontak. Namun sebagian besar meminta syarat yang menurut saya kurang pas, seperti minimal order 100K per peserta yang datang.

Rek, BWF itu forum non profit lho…

Beruntung, Sura Coffee menetapkan syarat yang ringan yakni minimal order 25K per peserta. Itupun pemiliknya, Tio, memberikan diskon 20 persen setiap pembelian. Teman-teman akhirnya mengamini Sura Coffee sebagai venue.

Sura Coffee di Jl Ngagel Tama 19 Surabaya. (Rizka Perdana Putra for BWF)

Venue beres, lantas siapa narasumbernya? Menurut saya, narsum penting karena mereka akan jadi magnet acara. Maklum, acara halal bihalal edisi kedua ini juga dilengkapi dengan diskusi tentang Persebaya dan digelar untuk umum. Jadi kalo bisa yang datang rame.

Dhion pun mau saat didapuk jadi narsum. Member BWF dan juga founder #statsrawon ini sangat layak sebagai narsum karena insight-nya tentang Persebaya cukup kuat, terutama statistik.

Narsum kedua adalah Cak Beted yang tentu tidak asing di kalangan Bonek. Selain sebagai member BWF, arek Sukodono ini juga dikenal sebagai tukang paido dengan kritik-kritik pedas yang kerap ditulisnya di akun facebook miliknya usai Persebaya berlaga. Pun dengan kebijakan transfer Persebaya untuk musim depan. Cak Beted pun oke.

Narsum ketiga harus di luar member BWF, batin saya. Teman-teman mengusulkan manajer Persebaya, Yahya Alkatiri. Ini menarik. Namun saya masih ragu. Meskipun kenal, saya sangsi manajer mau datang. Terus terang, manajer sebelumnya susah sekali dihadirkan di acara-acara Bonek.

Saya memberanikan diri untuk mengirim pesan melalui WA. Tak disangka, Yahya bersedia dan cukup antusias hadir di acara kami. Meski begitu, saya tetap menurunkan ekspektasi, barangkali Yahya tidak jadi datang karena kesibukan atau sedang mudik lebaran.

Yahya Alkatiri, Dhion Prasetya, Cak Beted. (Rizka Perdana Putra for BWF)

Venue dan narsum sudah fix. Seperti layaknya acara-acara diskusi, harus ada pembagian doorprize. Saya kemudian menghubungi teman-teman yang memiliki usaha clothing. Tak lupa saya mengontak teman-teman di Persebaya Store untuk support acara. Cak Kin dari TB27 dan Hakim dari Persebaya Store bersedia. Jadilah TB27 dan Persebaya Store pendukung acara.

Setelah semua beres, saya kemudian membuat pamflet acara yang nantinya akan disebar melalui kanal-kanal media BWF. Namun BWF perlu menggandeng media partner agar pamflet acara bisa tersebar luas. Beruntung, beberapa media suporter seperti #StatsRawon, EJ, Bajolball, dan Bola Abis bersedia jadi partner. Toni Rupilu, member BWF dan pengelola Greenforce.co.id juga menghubungi saya dan menawarkan diri jadi media partner.

Penulis saat setting live Zoom dan YouTube. (Rizka Perdana Putra for BWF)

Pamflet tersebar di semua kanal media BWF dan media partner dua hari sebelum acara. Sambutan dari audience luar biasa. Banyak yang antusias datang. Beberapa juga share pamflet di media sosial mereka.

Riffi Alawi, member BWF dan pemilik bekenbener.com menghubungi saya dan menawarkan diri sebagai media partner. Karena pamflet sudah tersebar, saya memutuskan membuat pamflet kedua dengan menambahkan bekenbener.com sebagai media partner.

Acara Dadakan, Bondo Wani dan Nekat

BWF sering membuat acara dadakan dan tidak melalui proses yang njlimet. Bahkan empat buku yang kami hasilkan dikerjakan dengan model gradakan. Cak Oryza, penggagas BWF, yang memulai kultur ini. Penulis buku-buku Persebaya dan esai ini dikenal sebagai tukang kentheng. Ya gimana lagi, beliau selalu meminta kami untuk menulis buat Persebaya. Namun berkat Oryza, produk-produk media BWF seperti buku, koran BWF, website sejarahpersebaya.com, dan terakhir kanal-kanal media sosial BWF akhirnya terwujud.

Semangat gradakan ini yang membuat acara halal bihalal terwujud meski konseptor acara tidak pernah mengadakan rapat fisik. Namun acara ini masih membutuhkan kepanitiaan yang bisa membuat acara berjalan dengan lancar. Saya menghubungi Oscar Baadilla dan Dedi Andrian untuk membantu BWF.

Rossi Rahadjo, perwakilan BWF memberi sambutan. (Rizka Perdana Putra for BWF)

Oscar bersedia mengambil doorprize di TB27 dan Persebaya Store Surabaya karena saya sedang mudik di kampung halaman. Sementara Dedi mau jadi host acara. Saya kenal Dedi belum sebulan. Awalnya, dia menawarkan diri membantu media BWF terutama memproduksi podcast yang rencananya akan dibuat usai lebaran. Background Dedi yang mantan penyiar 7 radio membuat saya memintanya jadi host acara halal bihalal. Dan alhamdulillah, Dedi sangat antusias dan memberikan usulan-usulan seperti membuat rundown acara.

Semangat Bonek, bondo wani dan nekat begitu melekat. Saya masih yakin jika Surabaya tidak kekurangan talenta-talenta hebat. Kita mempunyai kultur dan akar budaya yang cukup kuat. Sejatinya, Surabaya tidak kalah dengan kota-kota lain seperti Jakarta, Bandung, ataupun Jogja. Semangat ini yang seharusnya bisa membuat kita bisa membuat acara-acara berkualitas meski banyak keterbatasan.

Dan Hari H Itu…

Akhirnya, acara halal bihalal BWF dan diskusi Persebaya ini bisa terwujud dengan lancar. Banyak Bonek datang tak hanya dari Surabaya namun juga luar kota seperti SIdoarjo, Probolinggo, dan Situbondo. Beberapa bahkan datang 1 jam sebelum acara.

Yahya Alkatiri pun akhirnya datang. Begitu juga mantan pemain Persebaya, Anthony Jomah Ballah. Ayah dari pemain Persebaya Altalariq Ballah ini sempat berbicara dan memberikan pandangannya tentang Persebaya. Kami juga kedatangan empat suporter Persis Solo yang kebetulan ada di Surabaya. Mereka mengatakan sedang kulonuwun ke Bonek jelang laga uji coba Persis lawan Persebaya di GBT, 22 Mei nanti.

Suporter Persis Solo. (Rizka Perdana Putra for BWF)

Peserta memenuhi venue dan cukup antusias mengikuti jalannya acara. Acara juga bisa disimak secara live melalui zoom dan YouTube. Suwun buat Bajolball yang “meminjamkan” kanal YouTube-nya untuk live. Mas Fajarjun yang membuatkan kanal Zoom dan ikut memoderasi dari jarak jauh.

Acara ini selain untuk kumpul-kumpul dan berdiskusi, juga menciptakan tradisi dialog antara suporter dan manajemen. Sudah seharusnya Persebaya tidak berjarak dengan suporter. Begitu juga sebaliknya.

Dhahana Adi. (Rizka Perdana Putra for BWF)

BWF juga berencana membuat event-event serupa yang akan menghubungkan mereka dengan tim kebanggaannya. Seperti kata Dhahana Adi, member BWF yang didapuk sebagai pengasuh event BWF yang berencana membuat event napak tilas tempat-tempat bersejarah Persebaya.

Terima kasih juga untuk Rizka Perdana Putra yang membantu BWF memotret momen-momen selama acara, Cak Tulus yang membuka stan buku dan jersey, teman-teman media yang membuat liputan baik tulisan dan video, dan Tio yang karyawannya mau direpoti.

Last but not least, teman-teman Bonek, baik yang datang ke acara atau menyimak diskusi secara online serta pihak-pihak yang belum sempat disebutkan di tulisan ini.

Saya masih percaya, kolaborasi bisa dilakukan asal kita punya kemauan. Dan itu tidak sulit jika kita mau peduli dengan hal-hal yang kita cintai. BWF memberi contoh. (*)

Continue Reading

Catatan Penulis

Kelisanan Kedua dalam Sepak Bola

Published

on

Dalam film “Soegija” (2012) digambarkan ada suatu adegan tentang penyiar radio. Ia mengabarkan tentang kedatangan Jepang. Begitu pula dalam film “Soerabaia ‘45” digambarkan Bung Tomo yang sedang pidato di depan corong radio. Saat penyiar radio di film “Soegija” memberitakan tentang kedatangan tentara Jepang dalam bahasa Jawa: “Jepang teka! Jepang teka! (Jepang datang! Jepang datang!)”, berapa banyak interpretasi tercipta dari dua kata yang disebutkan itu. Itu hal sederhana untuk menyebutkan betapa kita terbiasa dengan tradisi lisan. Tradisi yang biasanya di-“tutur-tinularkan” melalui pemilihan diksi, mitos, dan ditransmisikan secara horizontal maupun vertikal.

____

Jika dulu belum ditemukan media elektronik seperti radio, maka tradisi lisan dapat terbangun salah satunya melalui komunitas yang saling terhubung. Pengetahuan pun biasanya disampaikan serta dipelajari melalui penceritaan kembali (oral retelling). Karakteristik yang cenderung homeostatic ini tidak mengalami perubahan sosial secara cepat.

Saat ditemukan tradisi cetak barulah perubahan sosial dalam konteks komunikasi tersampaikan secara lebih cepat. “Penceritaan kembali” bisa didapatkan dengan membaca. Dikenal kemudian tradisi menulis yang melahirkan koran, majalah, maupun buku. Demikian pula ketika kemajuan teknologi seperti ditemukannya radio maupun televisi, maka informasi pun lebih cepat menyebar.

Orang selain berimajinasi melalui media radio bisa pula melihat bentuk (form) dari yang diceritakan. Nah, proses komunikasi yang berawal dari kemajuan teknologi inilah yang kemudian disebut sebagai kelisanan kedua (Walter J. Ong; 1982).

Ayah saya adalah salah satu pencerita yang baik mengenai klub sepak bola tanah air, Persebaya. Masih mengendap dalam ingatan saya, bagaimana kami mendengarkan pertandingan antara Persebaya melawan Persib di depan radio kecil kami di Kediri. Saat terjadi gol yang diberitakan oleh komentator radio di RRI itu, kami pun sontak berteriak bersama dalam kotak bersuara tadi.

Cerita nostalgia tadi pasti dialami pula oleh para ayah yang melahirkan fanatisme klub sepak bola pada anak-anaknya yang mungkin sekarang telah berkeluarga, sementara sang ayah telah menjadi kakek. Dalam hubungannya dengan tim sepak bola nasional, Belanda dan Argentina adalah dua negara yang sering disebut ayah saya jika bercerita tentang hebatnya tim sepak bola di luar negeri.

Ruud Gullit, Marco van Basten, Frank Rijkaard, serta Mario Kempes adalah nama-nama yang sering menghiasi cerita itu. Entah negara mana yang disebut oleh ayah-ayah Anda, sehingga kita memiliki imajinasi tentang hebatnya tim nasional di sebuah negara. Yang jelas, tradisi lisan mengenai sepak bola bisa saja terjadi hingga sekarang, meski kini telah masuk dalam wilayah kelisanan kedua berkat perkembangan teknologi sejak ditemukannya televisi, DVD hingga youtube.

Jika tradisi lisan generasi pertama lebih mengandalkan “penceritaan kembali”, maka tradisi lisan generasi kedua (kelisanan kedua) lebih mengandalkan pencitraan-pencitraan secara visual. Hal inilah yang kemudian melahirkan yang namanya budaya visual.

Dalam tradisi lisan pertama, kebanggaan atas sebuah klub karena “penceritaan kembali” dari orang yang lebih dulu mengetahui klub tersebut, maka kebanggaan itu bisa diejawantahkan dalam semangat (spirit). Kecintaan atas klub sepak bola bisa mendarah daging bahkan memengaruhi ritme hidupnya. Imajinasi menjadi sangat liar. Dampak berikutnya adalah menumbuhkan komunitas-komunitas yang memiliki kecintaan yang sama. Di sinilah fanatisme tercipta.

Dalam tradisi lisan pertama ini hampir jarang ditemui analisis modern a la pundit bola yang secara objektif menilai kualitas klub yang dicintai itu. Bahkan tradisi lisan pertama membuat kita enggan mendengarkan kisah kehebatan tim lain. Hal ini terjadi karena kecintaan yang telah mendarah daging melalui “penceritaan kembali” serta melahirkan semangat dalam bentuk fanatisme.

Senjata utama dari tradisi lisan ini adalah sejarah. Sejarah dijadikan mitos, atau dengan kata lain sejarahlah yang menentukan prospek sebuah klub atau tim nasional suatu negara. Klub atau negara yang tidak mempunyai “sejarah” dalam sepak bola hampir mustahil dijadikan sebagai unggulan dalam sebuah kompetisi sepak bola.

Dalam kelisanan kedua, maka mau tidak mau, suka atau tidak suka, pencitraan secara visual dari klub lawan bisa dinikmati tiap hari. Tidak hanya melalui televisi, namun juga melalui t-shirt, stiker di mobil, sampul DVD tentang gol-gol legendaris, film, tayangan di Youtube, mural, graffiti, topi, bahkan juga mimpi.

Kemunculan media-media pop itu bisa mereduksi derajat fanatisme atau bahkan justru lebih menaikkan derajat fanatisme. Hal ini dipicu atas makin terbukanya kita karena kemudahan media, bahwa ternyata ada klub yang lebih hebat di luar yang dituturkan. Pilihannya adalah apakah masih setia atau mulai berganti haluan.

Jika kemudian kemunculan media-media pop tersebut justru lebih menaikkan gengsi fanatisme, maka rusuh antar suporter bisa terjadi hanya karena provokasi gambar yang ada di t-shirt, gerakan provokatif pencetak gol saat selebrasi di televisi, keberbedaan warna kaus yang dipakai di stadion, stiker klub lawan yang ditempel di mobil, atau hanya karena plat mobil yang menunjukkan kota dari klub lawan. Kelisanan kedua dalam budaya visual menjadi demikian banal, vulgar, dan serba mempertontonkan dipandang sebagai sebuah kewajiban dalam penanda identitas.

Kelisanan kedua berikutnya yang juga memunculkan representasi dari kompetisi sepak bola di Eropa ini adalah melalui maskot. Dalam sejarah tradisi lisan generasi pertama, segala citraan visual hanya terekam dalam ingatan, semangat, dan mitos. Tentu saja dengan konstruksi-konstruksi yang sangat bebas untuk diimajinasikan. Nah, dalam kelisanan kedua ini, penyelenggaraan acara tidak cukup hanya diwakili oleh logo melainkan juga maskot.

Kompetisi sepak bola di Eropa saja baru sadar pentingnya maskot pada tahun 1980 saat penyelenggaraan Euro Cup di Italia. Maskot pertamanya adalah Pinokio. Sebagai catatan, maskot sendiri sudah lama dipakai oleh berbagai kegiatan organisasi di dunia sejak tahun 1800-an. Jika dalam era teknologi pada akhirnya maskot menjadi citra visual yang penting, maka bisa ditarik kesimpulan, kelisanan kedua menjadikan segala sesuatunya menjadi demikian menarik dan menghibur.

Inilah yang kemudian memberikan relasi antara sikap berlebihan dengan pencitraan. Apapun pemaknaan relasinya, yang jelas kelisanan kedua kini sangat memengaruhi hidup. Kini makin banyak dijumpai mereka yang bekerja dengan mood yang jelek karena pengaruh tim yang dijagokannya kalah atau mereka yang moodnya tetap terjaga baik karena tim jagoannya selalu menang.

Sekarang semua orang memiliki versi sendiri siapa yang dijagokannya. Bukan oleh pengaruh satu orang dan turun temurun, melainkan oleh citraan-citraan visual yang sering dijumpai oleh mata dan membentuk opini sendiri melalui kelisanan kedua. (*)

Kediri, 18 Juni 2012

Continue Reading

Trending