Connect with us

Catatan Penulis

Seni Jalanan adalah Senjata (3)

Published

on

Setelah terhenti karena ada parade tujuh gol Liverpool ke gawang Crystal Palace, maka yuk kita ngobrol lagi tentang seni jalanan.

Tulisan saya yang kedua adalah tentang karakteristik media yang sering muncul dalam seni jalanan. Meski demikian, seni jalanan sebagaimana karya seni lainnya pasti akan mengalami fase perubahan maupun pergeseran. Bagian ketiga ini, kita akan mencoba melihat apa pergeseran yang terjadi dalam seni jalanan? Tulisan ini meski lebih filosofis saya akan coba menyederhanakannya agar bisa dipakai sebagai “bahan bakar” untuk kalian-kalian yang setia di jalan seni jalanan.

Seperti dalam tulisan kedua, salah satu kelompok yang sering memanfaatkan seni jalanan adalah suporter sepak bola. Contohnya tentu saja fans Liverpool di kota Liverpool atau Bonek di kota Surabaya. Pernahkah terpikirkan mengapa supporter sepak bola sering menggunakan media ini? Apakah hanya untuk meluapkan eforia mengenai klub kebanggaan? Ataukah sebenarnya ada hal lain yang ingin disampaikan yang memiliki makna tersembunyi di balik suatu karya seni jalanan? Ini juga yang akan kita bahas terkait strategi dalam seni jalanan.

Mural di kota Liverpool (kiri) dan mural karya BIMS di Surabaya (kanan). Liverpool dan Surabaya adalah “sister city” yang memiliki kemiripan di segala sisi, termasuk budaya sepak bola. Sumber foto kiri: internet. Sumber foto kanan: dokumentasi pribadi.

Sebelum ke strategi itu, maka mari kita bicarakan tentang apa yang berubah dan mengalami pergeseran jika kita bicara seni jalanan kiwari. Kiwari ki artine “terkini; sekarang”, Rek. Ben rada nggaya sithik! Sekalian kita bicarakan tentang spiritnya seni jalanan itu sebenarnya apa? Apa yang ingin dinyatakan oleh para street artist itu?

Pernah ndak kalian tukaran dan eyel-eyelan tentang istilah saat melihat suatu karya seni jalanan? Tipis-tipis seperti artikel kedua kemarin. “Kok graffiti? Itu kan ada gambarnya? Berarti ini namanya mural, Blok!”. Lalu pantun berbalas pantun. “Ini namanya graffiti, soale nggawene nganggo Pylox!”. Begitulah awal persahabatan antar insan sesama jenis kelamin yang diambang kehancuran.

Jadi, kini ada kecenderungan kita tidak bisa secara tegas bilang ini graffiti atau itu mural. Dua media itu memang dominan dipakai dalam seni jalanan. Jadi wajar jika kita menyebutkan dua media itu saja. Media yang lain sangat jelas perbedaannya sehingga jarang menimbulkan pertengkaran di status WA.

Seniman jalanan ki yo mblenger lek nggawene ngono-ngono terus. Makanya ada seni jalanan yang kini mulai menggabungkan banyak unsur. Dibilang graffiti kok ndak cuman tulisan tapi kok ya ada gambarnya? Dibilang seni instalasi kok ada muralnya? Dibilang mural kok tulisannya besar-besar tapi ada gambarnya? dan segala jenis keruwetan yang tidak sengaja dibuat oleh seniman itu sendiri. Seni itu sederhana, yang bikin ruwet itu dosen seni rupa hahahahaha…

Pernah ada suatu gelaran pameran seni jalanan. Banyak yang bingung dan mempertanyakan. “Katanya pameran seni jalanan? Kok ndak di jalanan?”, kata seorang pengunjung pameran yang kedinginan di ruang galeri ber-AC, malam itu.  Ada juga seorang seniman jalanan yang ikut pameran dengan memamerkan karyanya berupa graffiti yang dianimasikan. Karyanya diproyeksikan ke dinding besar di dalam galeri itu. Jika kamu tahu 3D video mapping, nah seperti itulah karyanya. Tentu saja tak ada belepotan cat maupun bau menyengat khas aerosol di dalam ruangan berukuran 4 meter x 4 meter dan tinggi sekitar 4,5 meter itu. “Ini karya apa sih? Mau dibilang graffiti tapi kok animasi?”, Tanya seorang pengunjung yang lain.

Lur, pergeseran-pergeseran itulah yang disebut sebagai post-graffiti. Jadi daripada pusing melihat pembedaan-pembedaan yang makin tipis saja antar seni jalanan, paling gampang jika ditanya ya bilang saja: “Oh, kalo itu namanya post-graffiti, Say!”. Dia pasti akan lebih terkesima dan bangga jalan bareng kamu.

Bentuk media itu kini marak sekali dalam dunia seni jalanan. Jalanan akhirnya bukan lagi bicara tentang “ruang publik” yang kerap bikin hubungan panas dingin dengan pemerintah kota. Jalanan juga bukan lagi bicara tentang territorial, karena beberapa karakter post-graffiti memungkinkan karya yang sama dipindah ke ruang publik yang lain dalam waktu cepat. Seni jalanan pun juga bukan dominasi cat tembok atau cat aerosol. Seni jalanan dalam post-graffiti sangat terbuka dalam melibatkan teknologi.

Nah, jika agak filosofis sedikit, maka apa yang ada dalam post-graffiti merupakan bentuk negosiasi atas palsunya ruang publik. Apa maksudnya?

Begini.

Ruang publik seringkali diidentifikasikan sebagai ruang terbuka yang tidak di”kuasai” oleh siapapun. Semua boleh merespon apa yang dinamakan ruang publik.

Ada seorang filsuf namanya Jurgen Habermas. Dia orang Jerman. Tahu Jurgen Klopp, kan? Nah, Klopp itu manajer Liverpool yang baru saja diberi penghargaan sebagai The Best FIFA Men’s Coach 2020. Jadi Jurgen Habermas itu bukan saudaranya Jurgen Klopp. Habermas bilang, bahwa ruang publik itu suatu ruang yang diperlukan dalam demokrasi. Menurutnya, ruang publik adalah ruang yang mandiri, bebas dari kekuasaan, serta bersifat setara. Yakin?

Seandainya ruang publik memiliki karakter demokratis seperti itu, maka kenapa ada “pembuangan” anak-anak seni jalanan yang tertangkap Satpol PP ke Liponsos tahun 2012 yang lalu? Atau kenapa ada pemutihan mural Gate17 di Jl. Embong Malang dan Jl. Rajawali? Yang terbaru, kenapa ada “perusakan” graffiti Bonek di Gunung Sari?

Foto yang tersebar di grup WA Bonek Writer Forum.

Nah, oleh orang-orang kritis semacam Ranciere (sopo maneh iki?), retorika ruang publik-nya Habermas tersebut dianggap palsu. Ndak sesuai kenyataan di lapangan.

Makanya kemudian Ranciere menawarkan konsep yang disebutnya sebagai “an-arche”. An-arche ini kurang lebih seperti sikap “sepakat untuk tidak sepakat” atau “memilih untuk tidak memilih”, begitulah. Disagreement, begitu Ranciere menyebutnya pula. Oh, iya Ranciere itu filsuf yang berasal dari Prancis. Negara sepak bola-nya Diego Maradona. Ho’oh!

Pandangan Ranciere ini melandasi pada perjuangan atau perlawanan bagi orang-orang yang tak dianggap. Kayak kamu di depan mata cewek yang kamu taksir, gitu. Ndak dianggap. “Orang-orang yang tak dianggap” atau mereka yang tak ikut dihitung (kayak kamu!) dianggap nggak penting bagi kekuasaan yang dominan.

Jadi lur, politik itu sebenarnya ada di sekitar kita sendiri. Bahkan kita sendiri berpolitik. Kalo partai-partai politik itu namanya politik praktis. Beda dengan politik yang saya maksud. Tapi sekumpulan ide, cara kita mikir, dan konsep-konsep yang kita pegang teguh itulah namanya politik. Nah, bagi Ranciere, politik itu seharusnya juga mengikutsertakan mereka yang tak dianggap atau tak dihitung itu. Intinya, kamu punya peluang sebelum janur kuning melengkung buat menikung di belokan, lur! Yakin!

Ranciere bilang inilah yang disebut sebagai anarki (asal katanya ya an-arche itu tadi). Jadi fix ya Rek, anarki itu bukan perusakan. Bukan kriminalitas. Anarki itu cara berpikir yang berbeda. Jadi jika kamu menulis sesuatu, please, jangan pernah menulis lagi “anarki” atau “anarkistis” untuk maksud mengenai tindak kriminal merusak fasilitas kota. Dampak pemikiran yang berbeda memang dahsyat. Kamu yang tak sepaham mungkin akan berpikir: orang aneh; arek rame ae!; rewel!. Karena maksud mereka adalah untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan. Sederhananya maksud “anarki” itu ya gitu itu. Btw, Ranciere itulah yang kemudian disebut sebagai salah satu filsuf anarkisme.

Ujung dari pemikiran Ranciere itu sebenarnya menuju pada kesetaraan dan emansipasi. Jadi, seni jalanan akan terus ada sebagai usaha dalam mewujudkan kesetaraan itu. Jika di jalan pengadilan kita seakan-akan terus coba “dikalahkan”, maka tak ada pilihan lain, kecuali melawan di jalan seni jalanan! Nah itulah spirit seni jalanan.

————

Sumber foto: internet.

Ingat lagunya Iwan Fals berjudul “Coretan Dinding” yang diciptakan pada tahun 1992? Jika belum tahu putar lagu itu di Youtube. Dengarkan liriknya:

Coretan di dinding membuat resah / Resah hati pencoret /… / Tapi lebih resah pembaca coretannya / Sebab coretan di dinding / Adalah pemberontakan kucing hitam / Yang terpojok ditiap tempat sampah, ditiap kota / … / Musuhnya adalah penindas / …

 Mungkin secara kebetulan, Iwan Fals ingin menohok lagu “Tangan-Tangan Setan” (1985) ciptaan Ian Antono dan dinyanyikan lady rocker, Nicky Astria. Bandingkan lirik lagunya:

Tangan-tangan setan telah mulai menuliskan kata asal jadi / di setiap dinding dan di jalanan / menghilangkan keindahan wajah kota / jadi ternoda penuh coret-coretan tangan setan / … / ayo pelihara kotamu / hentikanlah tangan setanmu / …

Bagaimana? beda banget ya? Mungkin, Iwan Fals mewakili mereka yang nggak dianggap sehingga bersuara lewat grafiti, sementara Nicky Astria mewakili golongan mapan yang nyaman dengan keadaan. Lagian aneh ya tumben-tumbennya rocker jiwanya nganu…ah sudahlah!

Pantun berbalas pantun. Lagu dibalas lagu. Jika tidak terima dengan pemikiran orang lain ya balaslah dengan caranya. Itu kira-kira yang dilakukan Iwan Fals pada Ian Antono hehehe…Jadi jika aparatus ideologi negara tidak suka dengan grafitinya Bonek ya bikinlah grafiti juga di tempat yang sama. Asik kayaknya, kan? Lebih demokratis.

Dalam pandangan kekuasaan, kata “indah”, “bagus”, “menarik”, “potensial”, “estetika kota”, dan lain-lain ada dalam kamus mereka. Jadi, itulah kenapa setiap kali ada orang yang bikin mural selalu ada pertanyaan: “sudah ada ijinnya, belum?” atau pernyataan: “gambarmu merusak estetika kota, mbak!”. Nah, bentuk pertanyaan dan pernyataan itulah yang disebut sebagai konsensus. Seakan-akan estetika dan keindahan itu yang boleh membicarakan adalah mereka yang berkuasa. Arek-arek nggedibal kayak kita seolah-olah ndak punya hak bicara seperti itu. Bagi mereka, biarlah yang berkuasa yang menentukan aturan main, kita hanyalah diminta nggambar saja sesuai aturan main itu.

Itulah yang menjadi “perlawanan” bagi Ranciere. Bentuk relasi seperti itu dianggap tidak setara. Jadi jika ditanya apakah spirit seni jalanan itu? Ya, kesetaraan! Egaliter! Perlawanan menjadi jalan. Perlawanan itu tidak harus antem-anteman, kan? Mereka punya konsensus (tatanan), kita punya disensus (yang tidak harus sesuai kesepakatan berdasarkan tatanan).

Makanya, saya juga sering ditanya begini: “Jadi, harusnya minta ijin ataukah tidak, untuk bikin mural?”. Saya sering menjawab demikian: “ Jika pengen nggarapnya ndak ndredeg dan kayak dikejar setan ya berijinlah, toh pesan yang ingin disampaikan sama-sama nyampainya ke orang yang lihat kan? Itu bentuk negosiasi. Gak usah mikir keren atau ndak keren jika meminta ijin. Toh sama saja kok. Tapi jika kamu ndak ingin ribet-ribet dengan aturan dan stempel sana-sini, ya ndak usah pakai ijin. Toh jika pun ketahuan dan disuruh memutihkan lagi ya sudah, putihkan lagi saja. Nanti baru cari strategi lagi buat bikin tanpa harus minta ijin. Gitu saja!”.

Yang bergetar mendengar saya bicara begitu biasanya mereka lapar. Tapi tak jarang ada juga yang nyambung bilang begini: “Ah, capek, kak! Iya kalo diijinin! Kalo ndak diijinin, gimana?”. Jawab saya biasanya kembali ke jawaban di awal. Gitu terus. Mbulet. Nah daripada pertanyaan itu-itu lagi hingga saya menua menunggu Timnas Indonesia masuk Piala Dunia, saya akhirnya menjawab: “Yo wis…turuo! hehehe…”. (habis)

Minggu yang ceria | 20/12/2020 | 17.30

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Catatan Penulis

Warisan Rusdi Bahalwan

Published

on

Hari itu, 7 Agustus 2011, Rusdi Bahalwan meninggal dunia. Seorang legenda: sebagai pemain membawa Persebaya Surabaya menjadi juara perserikatan era 1977-1978, dan sebagai pelatih menjuarai Liga Indonesia musim 1996-1997.

Dalam sejarah Persebaya, sependek ingatan saya, hanya Jacksen F. Tiago yang berhasil meniru Rusdi, yakni menjuarai Liga Indonesia pada 1996-1997 saat menjadi pemain, dan mengangkat trofi yang sama pada 2004 saat melatih tim berjuluk Bajul Ijo itu.

Namun Rusdi memiliki kelebihan dibandingkan Jacksen. Selain berstatus arek Surabaya asli, ia tak hanya menghadirkan trofi di Wisma Persebaya di Karang Gayam. Alumnus SMA Negeri 6 Surabaya ini juga mewariskan filosofi sepak bola ‘Coming from Behind’.

‘Coming from Behind’ atau bergerak dari arah belakang adalah taktik sepak bola ofensif yang mengandalkan kecepatan lini kedua untuk menyengat pertahanan lawan. Para pemain harus aktif bergerak dan melakukan ‘passing support’. Begitu memberikan umpan, pemain lini kedua harus muncul tiba-tiba dari belakang, memberikan kejutan saat pemain bertahan lawan berkonsentrasi terhadap barisan penyerang.

Taktik ‘Coming from Behind’ mirip dengan taktik Indra Sjafri di tim nasional Indonesia U19, namun lebih efektif, karena tak senantiasa berputar-putar dengan penguasaan bola layaknya Barcelona. Tiga gol ke gawang Korea Selatan berasal dari kaki Evan Dimas yang jelas-jelas pemain gelandang, yang muncul tiba-tiba saat pemain lawan berkonsentrasi menghadapi pemain-pemain depan timnas. Bedanya, Indra menggunakan formasi 4-3-3 yang mengandalkan trisula di barisan penyerang. Sementara, menurut mantan pemain Persebaya Yani Fathurrachman, Rusdi menyukai formasi 4-4-2.

Yani adalah kapten Persebaya era 1990-an. Arek asli Jember ini direkrut kuartet pelatih Rusdi Bahalwan, Subodro, Totok Risantono, dan Zulkifli Yasin masuk tim inti Persebaya untuk mengikuti turnamen Piala Jawa Pos 1990. Usianya waktu itu 20 tahun, dan Persebaya tengah meremajakan mesin mereka.

Para pemain yang berhasil menjuarai kompetisi perserikatan 1987-1988 seperti I Gde Putu Yasa dan Syamsul Arifin digeser, digantikan pemain-pemain berusia di bawah 23 tahun seperti Winedi Purwito, Yusuf Ekodono, Ibnu Grahan. Satu-satunya pemain tua yang tersisa adalah Usman Hadi.

Rusdi memberikan tugas gelandang pengangkut air alias holding midfielder kepada Yani. Yani mendapat jatah nomor punggung 7, yang sering disebut nomor keramat atau magnificent seven di sejumlah klub di dunia seperti Liverpool dan Manchester United. Di Liverpool, nomor punggung tujuh dikenakan pemain fenomenal seperti Kenny Dalglish, Kevin Keegan, Peter Beardsley, atau Luis Suarez. Sementara di United, ini nomor punggung milik Cristiano Ronaldo, George Best, David Beckham, atau Angel di Maria.

Yani masih ingat benar bagaimana Rusdi mewajibkan penguasaan bola dalam filosofi ‘Coming from Behind’. “Tiap hari latihan possesion minimal 30 menit, minimal harus 150 kali sentuhan bola. Pemain tidak boleh cepat kehilangan bola,” katanya, mengenang.

Yani memahami benar betapa beratnya tugas gelandang bertahan. “Gelandang bertahan harus punya power dan punya jiwa perusak. Begitu bola kena lawan, saya kejar, saya cut. Kalau main dari belakang (zona pertahanan), saya yang mengelola. Kalau bek kanan dan kiri naik membantu serangan, saya bergeser (menutup area yang ditinggalkan),” katanya.

Xabi Alonso, maestro lapangan tengah yang bermain untuk Liverpool, Real Madrid, dan Bayern Munchen, mengatakan, seorang gelandang bertahan harus bersabar. Di matanya, seorang gelandang bertahan adalah penghubung antara lini belakang dan lini serang. Ia bertugas membuat permainan mengalir dengan memainkan banyak operan dan menjaga keteraturan di lapangan tengah.

“Peran saya adalah membuat membuat struktur dan keseimbangan dalam permainan dan membuat rekan setim bisa memaksimalkannya. Saya mencoba membuka ruang saat rekan satu tim membutuhkannya untuk mencetak gol. Saya mencoba menutup ruang yang bisa dimanfaatkan lawan di belakang,” kata Xabi dalam wawancara dengan Fifa.com.

Xabi sama seperti Yani. “Kalau stopper minggir, saya ke tengah. Tidak saling mengandalkan. Yang terdekat dengan bola, itu yang mengejar bola,” kata Yani.

Posisi dirijen orkestra pengatur serangan diserahkan sepenuhnya kepada Winedi Purwito dan Ibnu Grahan. “Posisi saya agak ke dalam, di belakang dua pemain itu. Saya bagian mengantisipasi serangan lawan dan melakukan serangan balik, melindungi dua bek tengah. Saya bekerjasama dan saling mengisi dengan stoper,” kenang Yani.

Filosofi Rusdi mirip filosofi ‘Pass and Move’ Liverpool yang kuat di era 1970 dan 1980. Kekuatan gaya ‘Pass and Move’ ala Liverpool dan ‘Coming from Behind’ adalah pada kecepatan yang memunculkan banyak opsi dalam serangan dan operan lebih variatif. Tak boleh ada pemain yang berjalan santai. Semua harus berinisiatif mencari bola dan memberikan operan. “Tunggu teman muncul, langsung kasih bola. Kalau teman diikuti pemain lawan, kita bawa sendiri, cari ruang kosong,” kata Yani.

Konsekuensinya taktik ini mengharuskan tim memiliki pemain dengan kemampuan hebat dalam mengontrol dan bergerak dengan bola. Baik gaya ‘Pass and Move’ dan ‘Coming from Behind’ membutuhkan pemain-pemain yang cepat dalam bergerak dan mengumpan. Jika terlampau lambat, tim lawan bisa cepat membangun area pertahanan.

“Pass and Move. This style is quite obvious really, the whole idea of controlling the ball well, finding a pass and then always moving to a different angle or space, never standing still,” kata Paul Barratt, salah seorang mantan pemain Liverpool yang melatih di Akademi Liverpool di Indonesia.

Klub Jember United yang dilatih Yani Fathurrachman berutang budi kepada almarhum Rusdi. Gaya permainan yang menjadi karakter dan ciri khas sepak bola menyerang Rusdi diterapkan sangat apik oleh tim senior dan muda Jember United.

Tiga trofi utama diraih Jember United dalam usia empat tahun dengan menggunakan filosofi sepak bola ini. Bukan kebetulan jika kemudian Jember United memiliki pemain-pemain yang cepat di tim senior maupun tim muda. Sebut saja Paulo Sitanggang dan Faisol Yunus. Paulo kini bermain untuk Barito Putra.

Yani mengadaptasi apa yang dilakukan Rusdi di Persebaya dulu, yakni menggembleng mental pemain. Pola ‘Coming from Behind’ membutuhkan semangat juang kuat. “Rusdi kalau briefing untuk menyemangati anak buahnya sangat berkesan. Masuk ke kami: ‘Ayo kalian bisa, kerahkan semua apa yang kita latih. Jangan setengah-setengah, kita bergerak dengan bola. Jangan takut salah, jangan takut dimarahi, lepas terus kayak kita latihan,” kata Yani.

Menurut Yani setiap ucapan Rusdi masuk ke hati pemain. Jika ada pemain yang tak bermain bagus, Rusdi tak pernah memarahi habis-habisan, namun cukup diajak bicara hati ke hati. “Kalian jangan merasa pintar, masih ada yang lebih pintar. Kalian harus belajar. Saya ingat omongan Rusdi itu. Kalian juara, tahun depan belum tentu juara. sampai juara. harus belajar lagi. Latihan tambah lagi. Jangan mudah puas.”

Penulis buku The Manager: Inside the Minds of Football’s Leaders, Mike Carson, menyebut pemimpin yang hebat memiliki pola pikir yang ingin selalu belajar. Ia menyitir kata-kata Brendan Rodgers, pelatih Liverpool: ‘Tetap belajar. Saya makin tua, tapi para pemain akan selalu muda. Demi kepentingan mereka, saya tak boleh hanya diam’.

Filosofi lain Rusdi Bahalwan adalah sepak bola relijiusnya. Yani belajar banyak tentang bagaimana ‘sepak bola dan ketakwaan’ darinya.Semasa hidup, Rusdi dikenal sebagai sosok yang disiplin. Bersama Subodro, dia berhasil menciptakan kebersamaan di tubuh Persebaya, sehingga menjadikan klub berjuluk Bajul Ijo ini ditakuti tim lain. “Ibarat bapak dan anak, beliau selalu siap mendampingi,” kata Yani.

Yani paham, hedonisme sangat merusak pemain sepak bola dan pada gilirannya merusak tim. Semua pelatih kelas dunia berusaha menjaga anak-anak asuhnya agar tak jatuh dalam godaan kehidupan glamor dan instan dunia sepak bola.

Manajer legendaris Liverpool Bill Shankly dalam otobiografinya mengingatkan betapa hedonisme bisa membuat pemain menjadi lemah. “Terlalu banyak makan dan tidur bisa sama buruknya dengan terlalu banyak minum, terlalu banyak merokok, terlalu banyak begadang, dan terlalu banyak berhubungan seks,” katanya.

Rusdi tak hanya mengajarkan sepak bola, tapi juga menciptakan kekompakan dan kebersamaan dengan jalan salat berjamaah. Setiap magrib, setelah salat, dia memberikan dakwah dan siraman rohani kepada anak-anak asuhnya. Setiap ada pemusatan latihan, setelah latihan sore dan mandi, para pemain segera ke musola.

Ada kalanya Rusdi menyuruh salah satu pemain untuk mengimami salat magrib dan isya. Mereka juga makan malam bersama-sama. “Saya mendapat ilmu yang besar sekali manfaatnya untuk hidup selama dilatih Pak Rusdi. Pengalaman di lapangan oke, siraman rohani oke,” kata Yani.

Perpaduan sepak bola dan agama ini diterapkan Yani di Jember United. Setiap kali Jember United bertanding, di mana pun, ia selalu membawa anak asuhnya ke musala saat magrib tiba. “Latihan jam lima sore, habis mandi langsung ke musala,” katanya.

Sang tukang gedor Sabeq Fahmi Fahrezy mendapat tugas sebagai tukang azan. Yani menjadi imam salat dan memimpin doa bersama serta salawat. Di Jakarta, sebelum pertandingan final Divisi III melawan PS Gianyar, tim Jember United menginap di Taman Mini Indonesia Indah. “Di sana ada musala besar, dan kami selalu salat jamaah di situ saat magrib dan isya,” kata Yani.

Salat berjamaah memberikan ketenangan mental kepada para pemain Jember United. Saat final, mereka mengempaskan PS Gianyar 2-0, melalui gol dari kaki Galuh Triatma Putra. Jember mengakhiri puasa gelar sejak 2002. Gelar sepak bola bergengsi tingkat nasional akhirnya mampir ke Jember pada 2013.

Andai masih hidup dan menyaksikan, Rusdi mungkin akan tersenyum: apa yang diwariskannya telah membawa kegembiraan dan kebanggaan pada sebuah kota yang terletak sekitar 200 kilometer dari kota kelahirannya. Rusdi seperti Shankly: He Made People Happy. (*)

*) Artikel ini pernah dimuat di Beritajatim.com, Senin, 10 Agustus 2015, dengan judul Rusdi dan Filosofi Coming From Behind

Continue Reading

Catatan Bonek

Kata adalah Senjata

Published

on

Sebuah jurnal laporan kegiatan pelatihan menulis

Bendera hijau itu bisa terbilang sederhana sekali. Berukuran sekitar 1,5×1 meter saja, berwarna hijau tua dengan latar belakang ndas mangap yang identik dengan representasi Bonek dalam bentuk gambar, dengan logo BWF (Bonek Writers Forum) di bagian kiri atasnya. Bendera ini pun bukanlah bandingan dari banner-banner raksasa yang selama ini rajin menghiasi Gelora Bung Tomo. Tak ada yang nampak istimewa.

Tapi jika kamu mau sedikit saja memperhatikan, justru kata-kata yang tertulis di dalamnya akan terasa mendalam, kekiri-kirian dan revolusioner. “Kata adalah senjata, tiga frase yang ketika disusun berurutan akan terasa sebagai bentuk nyata pepatah “pena lebih tajam daripada pedang.”

Jika kamu pernah menjadi aktivis yang kekiri-kirian, punya pandangan yang kritis akan sosialisme, perlawanan akan penindasan dan ketidakadilan, perjuangan kelas, maka kata-kata tadi akan mengingatkanmu pada sebuah buku yang berjudul “Nuestra Arma es Nuestra Palabra”, our word is our weapon, yang dituliskan oleh Subcomandante Marcos, seorang tokoh gerilyawan gerakan Zapatista dari Meksiko. Buku yang berupa kumpulan tulisan tadi bahkan diberi kata pengantar oleh penulis legendaris asal Portugal, Jose Saramago.

Kurang kiri bagaimana lagi? Kurang revolusioner bagaimana lagi saat kalian mendengar nama-nama Subcommandante Marcos, Zapatista, Emiliano Zapata, hingga Jose Saramago?

Cukup itu sajalah prolog yang akan saya berikan. Saya tidak sedang bercerita tentang gerakan kiri atau sejarah perjuangan Zapatista di Meksiko. Di sini saya hanya ingin menarik benang merah dari kalimat “kata adalah senjata”, menulis, membuat tulisan argumentasi atau persuasi, mengenalkan literasi, memberikan edukasi. Melaluinya kita bisa memberikan perlawanan dan perjuangan lewat tulisan dan buku.

Kebetulan saya baru saja mengikuti acara “Creator Academy 2022” yang digagas oleh Jaringan GUSDURian Yogyakarta. Acara tersebut merupakan ruang kolaborasi bagi para content creator yang bertujuan menyebarkan nilai-nilai kebaikan melalui konten kreatif. Di sini kami menyatukan visi untuk mengedepankan nilai-nilai toleransi, gender mainstreaming dan kepedulian lingkungan. Pesertanya tanpa harus dibatasi batasan usia, gender, agama dan dari golongan mana anda berasal. Ada kelas ilustrasi, videografi dan menulis esai. Di kelas menulis esai tersebut saya tergabung.

Di sini, saya belajar mengenali dan menulis tulisan berbentuk esai. Tulisan esai itu unik, karena bukan seperti sebuah artikel atau jurnal yang terkesan sebagai sebuah kabar berita, bukan pula sebuah cerpen atau novel yang bisa saja bermain-main dalam dunia imajiner dengan bebasnya.

Esai lebih ke sebuah bentuk tulisan  yang membahas suatu tema dari sudut pandang pribadi si penulis. Bisa dibilang bahwa esai merupakan tulisan yang mengandung pendapat dan bersifat subyektif dan argumentatif. Yang membuatnya lebih menarik lagi adalah hadirnya fakta-fakta, kutipan data atau pendapat seorang ahli di bidangnya, filsuf dsb, yang bisa membawa pandangan pribadi penulis harus logis dan dapat dipahami dengan baik oleh pembacanya.

Sepertinya ini adalah bentuk tulisan yang pas dan sesuai kan dengan buku “Nuestra Arma es Nuestra Palabra” yang ditulis Subcomandante Marcos yang saya singgung di awal tadi? Cocok juga bukan untuk mengakomodir suara Bonek dalam berjuang membela Persebaya?

Bonek tidak hanya lantang di tibun stadion, di luar lapangan pun kita tak segan-segan turun jalan bahkan untuk melawan mafia oligarki yang menguasai liga dan federasi sekalipun. Bahkan ketika media berlomba-lomba memusuhi kita dengan segala berita negatifnya tentang kita, kami Bonek tidak pernah tinggal diam. Tulisan dilawan dengan tulisan, opini dilawan dengan opini. Bonek bisa melawan dengan kata-kata seperti di awal tulisan ini dibuat. Kata adalah senjata.

Di kelas penulisan esai ini, saya beruntung sekali bisa menimba ilmu dari seorang mbak Kalis Mardiasih. Selain menjadi penulis buku yang produktif, mbak Kalis juga merupakan sosok aktivis yang peduli pada isu perempuan dan anak, mulai dari kekerasan sampai kesetaraan. Bentuk perlawanannya terwujud melalui esai-esainya yang banyak dimuat di berbagai media massa, juga pada konten-konten instagram, twitter, dan kanal YouTube-nya. Sosok yang revolusioner, membawa semangat juang Kartini dan mengingatkan saya pada sosok-sosok perempuan revolusioner seperti Simone de Beauvoir, Rosa Parks, atau Malala Yousafzai.

Melalui pelatihan ini, saya belajar dari mbak Kalis, bahwa untuk menulis esai, ada hal-hal yang perlu diperhatikan untuk bisa meyakinkan pembaca kita dan agar mereka bisa memahami pesan apa yang kita sampaikan.

  1. Karena esai itu mengutamakan penalaran logis , maka logika kalimat kita harus ditata dengan benar dan terstruktur agar mudah dipahami
  2. Usahakan untuk melakukan “Show, not tell” . Sebuah tulisan akan terasa membosankan saat kita hanya menulis untuk memberitakan saja. Disini tulisan membutuhkan narasi deskriptif, bukti-bukti pendukung, ajak pembaca masuk ke dalam tulisan seolah terlibat dan melihat secara langsung, namun jangan sampai terlalu terseret dalam fiksi
  3. Usahakan tulisanmu agar mudah diingat, unik dan personal, dan mampu menggugah emosi serta empati pembaca. Dalam tulisan esai, CERITA > BERITA.
  4. Menjadi seorang penulis, seseorang harus punya kecenderungan untuk OVERTHINKING. Overthinking di sini tentunya bukan diartikan sebagai mikir sing ora-ora atau berpikir hal-hal yang tak jelas lantas malah kehilangan esensinya. Overthinking yang dimaksudkan disini adalah, sebagai penulis, kita harus bisa melihat satu fakta atau peristiwa dalam berbagai sudut pandang dan mengembangkannya ke dalam tulisan
  5. Dalam sebuah berita atau tulisan negatif di dalam media, kita akan sering menemukan sebuah narasi yang membentuk opini. Ini adalah sebuah tantangan. Untuk melawannya kita bisa melakukan tulisan yang bersifat kontra narasi atau tulisan yang bisa menjadi alternatif narasi.
    • Kontra narasi adalah sebuah narasi yang langsung menyikapi narasi sebelumnya secara frontal sebagai bentuk oposan. Tulisan ini akan membantah secara langsung wacana apa yang telah diopinikan sebelumnya.
    • Alternatif narasi adalah sebuah narasi yang tidak serta merta bertentangan dengan narasi sebelumnya. Alternatif narasi lebih memberikan wacana baru, opini baru yang membuka wawasan pembaca akan sebuah tema atau peristiwa yang sama, namun dari sudut-sudut pandang yang sebelumnya belum pernah diberitakan. Di sini kita akan membentuk stigma baru pada pembaca/viewers kita akan fakta-fakta lain yang sangat berbeda dan bisa meruntuhkan stigma negatif yang terbentuk sebelumnya.

Sebuah rentetan ilmu baru yang bisa saya bagikan ke rekan-rekan seperjuangan saya di komunitas Bonek Writers Forum, dan tentu saja Bonek sejagat raya yang membaca tulisan saya ini. Juga sebagai bentuk mengkolaborasikan semangat egaliter, toleransi, kesetaraan, kesadaran lingkungan dan perlawanan akan penindasan serta ketidakadilan yang diperjuangkan oleh Jaringan GUSDURian kepada dunia persupporteran khususnya Bonek dan Persebaya. (*)

“Sorry for the inconvinience, but this is a revolution”

Subcommandante marcos
Continue Reading

Catatan Bonek

Selamat Jalan Sahabat, Tenang Kau di Tribun Surgamu

Published

on

Pemakaman di Jogja kebanyakan tidak rindang dipenuhi pohon-pohon kamboja sebagaimana pemakaman di Surabaya. Pada siang ini matahari sebenarnya cukup terang bersinar meski tak menjadikannya terik menyengat. Sekelompok pelayat berbaju hitam-hitam melantunkan anthem “Sampai Kau Bisa” dalam suasana yang penuh keharuan.

Di sini kami mengantarkan saudara kami. Satu lagi anak bangsa telah berpulang, satu lagi saudara telah tiada. Tri Fajar Firmansyah, anggota BCS yang meninggal karena menjadi korban salah sasaran dalam lanjutan kerusuhan di kota Jogja saat konvoi kelompok suporter Persis kala melintasi kota Jogja menuju Magelang.

Satu saudara telah berpulang, satu kerabat tak lagi bersama kita, satu lagi orang tua terpisah dari anaknya.

Ini menyedihkan sekali buat dunia persepakbolaan kita. Padahal baru sebulan setelah jatuhnya dua korban jiwa di stadion GBLA Bandung, terhimpit dan terinjak-injak kala berdesakan untuk memasuki stadion. Sampai kapan sepakbola kita akan terus memakan korban jiwa?

Kerusuhan antar supporter membuat selalu mengakibatkan dendam tak berkesudahan. Saya khawatir hal ini akan menjadi lingkaran setan yang sulit untuk terputus. Mendukung tim kesayangan, berseteru dalam rivalitas antar klub dan suporternya, semuanya itu sudah menjadi warna-warni dalam sepak bola. Namun tak seharusnya semua ini harus berakhir dengan kabar duka berupa hilangnya nyawa.

Di sini, di Jogjakarta, Bonek Jogja sudah lebih dari 10 tahun didirikan. Di sini kami semua adalah perantau. Ada yang mencari nafkah, ada juga yang masih sekolah, ada juga yang sekedar tinggal untuk sementara dalam berbagai urusan. Kami semua adalah minoritas, tamu di kota orang. Di mana bumi dipijak, disitulah langit dijunjung.

Dalam area Joglosemar (Jogja Solo Semarang) terdapat sejarah rivalitas yang panjang. Meski begitu, baik dari Slemania dan BCS, Paserbumi, Brajamusti hingga Panser Biru adalah saudara bagi kami. Kami tahu, Bonek pernah membawa sejarah buruk di masa lampau. kami juga bukan peacemaker yang sok menjadi agen perdamaian. Namun, wajib rasanya buat kami untuk terus memupuk rasa persaudaraan dan persahabatan dengan siapapun yang ada di sekitar kita.

Pagi tadi, beberapa perwakilan dari Bonek Jogja turut hadir dalam ke rumah duka almarhum Tri Fajar Firmansyah. Kami hadir bukan hanya karena kedekatan kami dengan BCS, komunitas supporter yang menaunginya, namun juga atas dasar kemanusiaan pula.

Di atas sepakbola, masih ada nyawa manusia yang lebih berharga.

Selamat jalan sahabat, doa kami bersamamu. (*)

(*) Foto-foto dokumen @Bonekjogja

Continue Reading

Trending