Connect with us

Catatan Penulis

Seni Jalanan adalah Senjata (3)

Published

on

Setelah terhenti karena ada parade tujuh gol Liverpool ke gawang Crystal Palace, maka yuk kita ngobrol lagi tentang seni jalanan.

Tulisan saya yang kedua adalah tentang karakteristik media yang sering muncul dalam seni jalanan. Meski demikian, seni jalanan sebagaimana karya seni lainnya pasti akan mengalami fase perubahan maupun pergeseran. Bagian ketiga ini, kita akan mencoba melihat apa pergeseran yang terjadi dalam seni jalanan? Tulisan ini meski lebih filosofis saya akan coba menyederhanakannya agar bisa dipakai sebagai “bahan bakar” untuk kalian-kalian yang setia di jalan seni jalanan.

Seperti dalam tulisan kedua, salah satu kelompok yang sering memanfaatkan seni jalanan adalah suporter sepak bola. Contohnya tentu saja fans Liverpool di kota Liverpool atau Bonek di kota Surabaya. Pernahkah terpikirkan mengapa supporter sepak bola sering menggunakan media ini? Apakah hanya untuk meluapkan eforia mengenai klub kebanggaan? Ataukah sebenarnya ada hal lain yang ingin disampaikan yang memiliki makna tersembunyi di balik suatu karya seni jalanan? Ini juga yang akan kita bahas terkait strategi dalam seni jalanan.

Mural di kota Liverpool (kiri) dan mural karya BIMS di Surabaya (kanan). Liverpool dan Surabaya adalah “sister city” yang memiliki kemiripan di segala sisi, termasuk budaya sepak bola. Sumber foto kiri: internet. Sumber foto kanan: dokumentasi pribadi.

Sebelum ke strategi itu, maka mari kita bicarakan tentang apa yang berubah dan mengalami pergeseran jika kita bicara seni jalanan kiwari. Kiwari ki artine “terkini; sekarang”, Rek. Ben rada nggaya sithik! Sekalian kita bicarakan tentang spiritnya seni jalanan itu sebenarnya apa? Apa yang ingin dinyatakan oleh para street artist itu?

Pernah ndak kalian tukaran dan eyel-eyelan tentang istilah saat melihat suatu karya seni jalanan? Tipis-tipis seperti artikel kedua kemarin. “Kok graffiti? Itu kan ada gambarnya? Berarti ini namanya mural, Blok!”. Lalu pantun berbalas pantun. “Ini namanya graffiti, soale nggawene nganggo Pylox!”. Begitulah awal persahabatan antar insan sesama jenis kelamin yang diambang kehancuran.

Jadi, kini ada kecenderungan kita tidak bisa secara tegas bilang ini graffiti atau itu mural. Dua media itu memang dominan dipakai dalam seni jalanan. Jadi wajar jika kita menyebutkan dua media itu saja. Media yang lain sangat jelas perbedaannya sehingga jarang menimbulkan pertengkaran di status WA.

Seniman jalanan ki yo mblenger lek nggawene ngono-ngono terus. Makanya ada seni jalanan yang kini mulai menggabungkan banyak unsur. Dibilang graffiti kok ndak cuman tulisan tapi kok ya ada gambarnya? Dibilang seni instalasi kok ada muralnya? Dibilang mural kok tulisannya besar-besar tapi ada gambarnya? dan segala jenis keruwetan yang tidak sengaja dibuat oleh seniman itu sendiri. Seni itu sederhana, yang bikin ruwet itu dosen seni rupa hahahahaha…

Pernah ada suatu gelaran pameran seni jalanan. Banyak yang bingung dan mempertanyakan. “Katanya pameran seni jalanan? Kok ndak di jalanan?”, kata seorang pengunjung pameran yang kedinginan di ruang galeri ber-AC, malam itu.  Ada juga seorang seniman jalanan yang ikut pameran dengan memamerkan karyanya berupa graffiti yang dianimasikan. Karyanya diproyeksikan ke dinding besar di dalam galeri itu. Jika kamu tahu 3D video mapping, nah seperti itulah karyanya. Tentu saja tak ada belepotan cat maupun bau menyengat khas aerosol di dalam ruangan berukuran 4 meter x 4 meter dan tinggi sekitar 4,5 meter itu. “Ini karya apa sih? Mau dibilang graffiti tapi kok animasi?”, Tanya seorang pengunjung yang lain.

Lur, pergeseran-pergeseran itulah yang disebut sebagai post-graffiti. Jadi daripada pusing melihat pembedaan-pembedaan yang makin tipis saja antar seni jalanan, paling gampang jika ditanya ya bilang saja: “Oh, kalo itu namanya post-graffiti, Say!”. Dia pasti akan lebih terkesima dan bangga jalan bareng kamu.

Bentuk media itu kini marak sekali dalam dunia seni jalanan. Jalanan akhirnya bukan lagi bicara tentang “ruang publik” yang kerap bikin hubungan panas dingin dengan pemerintah kota. Jalanan juga bukan lagi bicara tentang territorial, karena beberapa karakter post-graffiti memungkinkan karya yang sama dipindah ke ruang publik yang lain dalam waktu cepat. Seni jalanan pun juga bukan dominasi cat tembok atau cat aerosol. Seni jalanan dalam post-graffiti sangat terbuka dalam melibatkan teknologi.

Nah, jika agak filosofis sedikit, maka apa yang ada dalam post-graffiti merupakan bentuk negosiasi atas palsunya ruang publik. Apa maksudnya?

Begini.

Ruang publik seringkali diidentifikasikan sebagai ruang terbuka yang tidak di”kuasai” oleh siapapun. Semua boleh merespon apa yang dinamakan ruang publik.

Ada seorang filsuf namanya Jurgen Habermas. Dia orang Jerman. Tahu Jurgen Klopp, kan? Nah, Klopp itu manajer Liverpool yang baru saja diberi penghargaan sebagai The Best FIFA Men’s Coach 2020. Jadi Jurgen Habermas itu bukan saudaranya Jurgen Klopp. Habermas bilang, bahwa ruang publik itu suatu ruang yang diperlukan dalam demokrasi. Menurutnya, ruang publik adalah ruang yang mandiri, bebas dari kekuasaan, serta bersifat setara. Yakin?

Seandainya ruang publik memiliki karakter demokratis seperti itu, maka kenapa ada “pembuangan” anak-anak seni jalanan yang tertangkap Satpol PP ke Liponsos tahun 2012 yang lalu? Atau kenapa ada pemutihan mural Gate17 di Jl. Embong Malang dan Jl. Rajawali? Yang terbaru, kenapa ada “perusakan” graffiti Bonek di Gunung Sari?

Foto yang tersebar di grup WA Bonek Writer Forum.

Nah, oleh orang-orang kritis semacam Ranciere (sopo maneh iki?), retorika ruang publik-nya Habermas tersebut dianggap palsu. Ndak sesuai kenyataan di lapangan.

Makanya kemudian Ranciere menawarkan konsep yang disebutnya sebagai “an-arche”. An-arche ini kurang lebih seperti sikap “sepakat untuk tidak sepakat” atau “memilih untuk tidak memilih”, begitulah. Disagreement, begitu Ranciere menyebutnya pula. Oh, iya Ranciere itu filsuf yang berasal dari Prancis. Negara sepak bola-nya Diego Maradona. Ho’oh!

Pandangan Ranciere ini melandasi pada perjuangan atau perlawanan bagi orang-orang yang tak dianggap. Kayak kamu di depan mata cewek yang kamu taksir, gitu. Ndak dianggap. “Orang-orang yang tak dianggap” atau mereka yang tak ikut dihitung (kayak kamu!) dianggap nggak penting bagi kekuasaan yang dominan.

Jadi lur, politik itu sebenarnya ada di sekitar kita sendiri. Bahkan kita sendiri berpolitik. Kalo partai-partai politik itu namanya politik praktis. Beda dengan politik yang saya maksud. Tapi sekumpulan ide, cara kita mikir, dan konsep-konsep yang kita pegang teguh itulah namanya politik. Nah, bagi Ranciere, politik itu seharusnya juga mengikutsertakan mereka yang tak dianggap atau tak dihitung itu. Intinya, kamu punya peluang sebelum janur kuning melengkung buat menikung di belokan, lur! Yakin!

Ranciere bilang inilah yang disebut sebagai anarki (asal katanya ya an-arche itu tadi). Jadi fix ya Rek, anarki itu bukan perusakan. Bukan kriminalitas. Anarki itu cara berpikir yang berbeda. Jadi jika kamu menulis sesuatu, please, jangan pernah menulis lagi “anarki” atau “anarkistis” untuk maksud mengenai tindak kriminal merusak fasilitas kota. Dampak pemikiran yang berbeda memang dahsyat. Kamu yang tak sepaham mungkin akan berpikir: orang aneh; arek rame ae!; rewel!. Karena maksud mereka adalah untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan. Sederhananya maksud “anarki” itu ya gitu itu. Btw, Ranciere itulah yang kemudian disebut sebagai salah satu filsuf anarkisme.

Ujung dari pemikiran Ranciere itu sebenarnya menuju pada kesetaraan dan emansipasi. Jadi, seni jalanan akan terus ada sebagai usaha dalam mewujudkan kesetaraan itu. Jika di jalan pengadilan kita seakan-akan terus coba “dikalahkan”, maka tak ada pilihan lain, kecuali melawan di jalan seni jalanan! Nah itulah spirit seni jalanan.

————

Sumber foto: internet.

Ingat lagunya Iwan Fals berjudul “Coretan Dinding” yang diciptakan pada tahun 1992? Jika belum tahu putar lagu itu di Youtube. Dengarkan liriknya:

Coretan di dinding membuat resah / Resah hati pencoret /… / Tapi lebih resah pembaca coretannya / Sebab coretan di dinding / Adalah pemberontakan kucing hitam / Yang terpojok ditiap tempat sampah, ditiap kota / … / Musuhnya adalah penindas / …

 Mungkin secara kebetulan, Iwan Fals ingin menohok lagu “Tangan-Tangan Setan” (1985) ciptaan Ian Antono dan dinyanyikan lady rocker, Nicky Astria. Bandingkan lirik lagunya:

Tangan-tangan setan telah mulai menuliskan kata asal jadi / di setiap dinding dan di jalanan / menghilangkan keindahan wajah kota / jadi ternoda penuh coret-coretan tangan setan / … / ayo pelihara kotamu / hentikanlah tangan setanmu / …

Bagaimana? beda banget ya? Mungkin, Iwan Fals mewakili mereka yang nggak dianggap sehingga bersuara lewat grafiti, sementara Nicky Astria mewakili golongan mapan yang nyaman dengan keadaan. Lagian aneh ya tumben-tumbennya rocker jiwanya nganu…ah sudahlah!

Pantun berbalas pantun. Lagu dibalas lagu. Jika tidak terima dengan pemikiran orang lain ya balaslah dengan caranya. Itu kira-kira yang dilakukan Iwan Fals pada Ian Antono hehehe…Jadi jika aparatus ideologi negara tidak suka dengan grafitinya Bonek ya bikinlah grafiti juga di tempat yang sama. Asik kayaknya, kan? Lebih demokratis.

Dalam pandangan kekuasaan, kata “indah”, “bagus”, “menarik”, “potensial”, “estetika kota”, dan lain-lain ada dalam kamus mereka. Jadi, itulah kenapa setiap kali ada orang yang bikin mural selalu ada pertanyaan: “sudah ada ijinnya, belum?” atau pernyataan: “gambarmu merusak estetika kota, mbak!”. Nah, bentuk pertanyaan dan pernyataan itulah yang disebut sebagai konsensus. Seakan-akan estetika dan keindahan itu yang boleh membicarakan adalah mereka yang berkuasa. Arek-arek nggedibal kayak kita seolah-olah ndak punya hak bicara seperti itu. Bagi mereka, biarlah yang berkuasa yang menentukan aturan main, kita hanyalah diminta nggambar saja sesuai aturan main itu.

Itulah yang menjadi “perlawanan” bagi Ranciere. Bentuk relasi seperti itu dianggap tidak setara. Jadi jika ditanya apakah spirit seni jalanan itu? Ya, kesetaraan! Egaliter! Perlawanan menjadi jalan. Perlawanan itu tidak harus antem-anteman, kan? Mereka punya konsensus (tatanan), kita punya disensus (yang tidak harus sesuai kesepakatan berdasarkan tatanan).

Makanya, saya juga sering ditanya begini: “Jadi, harusnya minta ijin ataukah tidak, untuk bikin mural?”. Saya sering menjawab demikian: “ Jika pengen nggarapnya ndak ndredeg dan kayak dikejar setan ya berijinlah, toh pesan yang ingin disampaikan sama-sama nyampainya ke orang yang lihat kan? Itu bentuk negosiasi. Gak usah mikir keren atau ndak keren jika meminta ijin. Toh sama saja kok. Tapi jika kamu ndak ingin ribet-ribet dengan aturan dan stempel sana-sini, ya ndak usah pakai ijin. Toh jika pun ketahuan dan disuruh memutihkan lagi ya sudah, putihkan lagi saja. Nanti baru cari strategi lagi buat bikin tanpa harus minta ijin. Gitu saja!”.

Yang bergetar mendengar saya bicara begitu biasanya mereka lapar. Tapi tak jarang ada juga yang nyambung bilang begini: “Ah, capek, kak! Iya kalo diijinin! Kalo ndak diijinin, gimana?”. Jawab saya biasanya kembali ke jawaban di awal. Gitu terus. Mbulet. Nah daripada pertanyaan itu-itu lagi hingga saya menua menunggu Timnas Indonesia masuk Piala Dunia, saya akhirnya menjawab: “Yo wis…turuo! hehehe…”. (habis)

Minggu yang ceria | 20/12/2020 | 17.30

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Catatan Penulis

Persebaya Tidak Lahir 18 Juni 1927

Published

on

Dari judulnya, tulisan ini mungkin terlihat kontroversial. Namun penulis tidak sedang membuat gaduh ataupun ngotot jika pendapat yang ada di tulisan ini pasti benar. Tulisan ini ada setelah penulis membaca riset dari Tim Bajulijo.net berjudul SIVB Untold Stories yang juga dimuat di emosijiwaku.com. Tulisan lima seri tersebut mengungkapkan fakta-fakta yang sebagian bertentangan dengan pendapat kebanyakan pecinta Persebaya.

Dalam riset itu diketahui jika Persebaya bukan SIVB (Soerabaiashe Indische Voetbal Bond) melainkan SVB (Soerabaiashe Voetbal Bond). Artinya Persebaya tidak lahir 18 Juni 1927 melainkan berdiri pada 1910-an, tahun lahir SVB. Sayang riset belum bisa menunjukkan kapan tepatnya SVB lahir.

Awalnya, penulis tidak begitu yakin. Namun setelah membaca lima seri tulisan itu, penulis sangat yakin jika Persebaya adalah SVB. Mari kita telusuri fakta-fakta yang diungkap dalam riset itu.

  1. Orang-orang Belanda di Surabaya sepakat mendirikan SVB pada tahun 1910-an.
  2. Indonesiche Studieclub (IS), organisasi yang beranggotakan petinggi-petinggi SIVB, pada saat krisis ekonomi 1920-an sangat aktif melakukan kegiatan sosial ekonomi yang meringankan penderitaan rakyat Indonesia. Organisasi ini pada prakteknya mendapat dukungan dari pemerintah Hindia Belanda karena sifat organisasinya yang moderat/cooperatie.
  3. M Pamoedji, salah satu pendiri SIVB, tercatat sebagai anggota IS.
  4. SIVB lahir pada 18 Juni 1927. SIVB dibentuk tidak untuk melawan hegemoni SVB atau melawan penjajah, melainkan untuk menyediakan akses bagi bond-bond anggota SIVB terhadap sepak bola.
  5. Pertandingan uji coba antara SIVB dan SVB maupun anggotanya berkali-kali digelar. Perbedaan status sosial kedua bond tidak menghalangi mereka untuk bertanding.
  6. Tujuh klub, termasuk SIVB, sepakat mendirikan PSSI. Setelah PSSI berdiri, sebagian besar anggotanya menyarankan PSSI menolak kerjasama dengan NIVB, organisasi sepak bola bentukan pemerintah Hindia Belanda. SIVB termasuk yang menentang saran itu dan menganjurkan tetap bekerjasama dengan NIVB.
  7. SIVB dan SVB tetap bertanding dalam pertandingan uji coba meski PSSI menolak bekerjasama dengan NIVB.
  8. Pada Kongres PSSI 1938, Ketua PSSI Ir. Soeratin menyarankan anggotanya mengubah nama klub dengan nama melayu. SIVB kemudian berubah nama menjadi Persibaja atau Persatuan Sepakraga Indonesia Soerabaja.
  9. Invasi Jepang pada Februari 1942 menyebabkan kompetisi di bawah PSSI, NIVU (NIVB), hingga HNVB menjadi vakum. SIVB dan SVB pun merasakan dampaknya dan kemudian vakum.
  10. Setelah Indonesia merdeka pada 1945, Persibaja/SIVB bertransformasi menjadi PORIS. Meski begitu organisasi induknya yaitu PSSI masih belum aktif.
  11. Pasca proklamasi, Belanda melancarkan agresi ke Indonesia. Pada 1947, kompetisi di bawah NIVU dihidupkan kembali. SVB pun mengikuti kembali kompetisi bentukan NIVU. NIVU berubah nama menjadi VUVSI/ISNIS.
  12. Sejak 1947-1950, tercatat empat turnamen nasional digelar VUVSI/ISNIS. SVB menjadi juara pada 1949.
  13. 1950, drama perebutan kekuasaan berakhir dengan Indonesia sebagai pemenang. Kondisi ini mengharuskan klub-klub di bawah VUVSI/ISNIS untuk bergabung ke dalam PSSI atau membubarkan diri.
  14. April 1950, SVB berubah nama menjadi PSS (Persatuan Sepakraga Soerabaja) dan kemudian berganti lagi menjadi Persibaja.
  15. PSS berani mengklaim sebagai Persibaja karena PORIS (Nama baru pengganti Persibaja pasca proklamasi) belum ada kegiatan karena PSSI masih belum aktif.
  16. Agar tetap berkegiatan, PORIS bergabung dalam kompetisi internal yang diadakan PSS/SVB.
  17. Tidak ada merger di antara kedua bond (SVB dan SIVB) karena SIVB memutuskan menjadi peserta kompetisi internal SVB.
  18. Pada 15 September 1952, Persibaja (PSS/SVB), mengadakan rapat anggota yang menetapkan SIVB sebagai cikal bakal Persibaja dalam AD/ART. Fakta itu bertolak belakan dengan fakta bahwa SVB yang menjadi cikal bakal klub. Jersey yang dipilih adalah hijau-putih yang identik dengan jersey SIVB, bukan putih-putih warna jersey SVB.
  19. Sejak pengesahan AD/ART itulah, identitas SVB sebagai bagian dari sejarah Persibaja berangsur-angsur hilang.
  20. Tahun 1969, Persibaja berubah nama menjadi Persebaja dan kemudian berubah lagi menjadi Persebaya sesuai ejaan sekarang.

Untuk lebih jelasnya bisa dilihat dalam grafis berikut ini:

Dari fakta-fakta di atas, pemilihan SIVB sebagai klub cikal bakal Persebaya sesungguhnya adalah pilihan politis. Pemilihan itu didasari fakta jika SIVB adalah pendiri PSSI yang notabene menentang atau tidak mau bekerjasama dengan pemerintah Hindia Belanda.
Indonesia adalah pemenang dari perebutan kekuasaan dengan Belanda. Ada ungkapan bahwa sejarah ditentukan sang pemenang. Para anggota Persibaja saat menetapkan AD/ART tentu lebih condong memilih SIVB ketimbang SVB. Alasannya karena SIVB adalah klub bentukan orang-orang pribumi, sementara SVB jelas-jelas bikinan penjajah.

Sejarah adalah kumpulan fakta-fakta yang terjadi

Bung Karno pernah berkata: “Jas Merah, Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah.” Jika kita mau menuruti perkataan bapak proklamator kita, tentu kita harus berani mengkoreksi sejarah yang salah. Kita harus mendudukkan sejarah dengan benar. Sejarah seharusnya dianggap sebagai fakta. Sejarah bukan sesuatu yang sifatnya politis.

Di negara-negara yang sudah maju, kesalahan sejarah yang ditemukan ditindaklanjuti dengan keberanian mengoreksi sejarah yang terlanjur beredar. Sayangnya fakta-fakta sejarah di Indonesia sering dimaknai secara politis. Sesuatu yang dianggap melenceng dari kepercayaan bangsa ini meski benar dianggap salah.

Orde Baru adalah orde di mana sejarah seringkali dibelokkan sesuai dengan kemauan penguasa. Seperti halnya sejarah kelam 1965 yang dibelokkan. Fakta-fakta yang bertentangan dengan apa yang diinginkan penguasa dianggap tidak benar. Sampai saat ini, pemerintah hanya menuruti narasi yang dibuat penguasa Orde Baru yang celakanya diamini sebagian besar rakyat Indonesia. Padahal pengungkapan sejarah secara jujur dengan menyajikan fakta-fakta yang ada akan membuat generasi sekarang bisa belajar sejarah dengan baik dan benar.

Baru-baru ini saya membaca tentang kesalahan nama pengibar bendera Amerika di Pulau Iwo Jima saat Perang Dunia ke-2. Peristiwa pengibaran bendera itu diabadikan dalam sebuah foto ikonik karya Joe Rosenthal, fotografer AP. Selama ini, semua orang percaya jika John H. Bradley adalah salah satu dari enam tentara marinir yang mengibarkan bendera setelah Amerika merebut pulau itu dari tangan Jepang.

Sebuah panel yang terdiri dari orang-orang yang mengerti sejarah tentara marinir Amerika meneliti kebenaran sejarah itu. Ternyata, mereka menemukan fakta jika Bradley bukan salah satu pengibar bendera melainkan Harold Schultz. Pihak marinir awalnya tidak setuju fakta yang diungkap pada 2014 itu. Namun pada 23 Juni 2016, mereka mengakui fakta itu dan menyatakan Harold Schultz berada dalam foto ikonik tersebut.

Kembali kepada penemuan fakta Persebaya di atas. Riset Tim Bajulijo.net sangat penting bagi pengungkapan sejarah. Riset tersebut bisa dijadikan bahan diskusi bagi siapa saja yang mencintai Persebaya. Diskusi diharapkan bisa mendudukkan permasalahan dengan benar.
Setelah keluarnya riset dan tulisan ini, saya berharap ada lagi tulisan yang bisa memperkaya khasanah sejarah Persebaya. Tak harus mendukung, mungkin saja ada tulisan yang membantah riset dan tulisan ini. Tulisan yang nantinya keluar harus disertai fakta-fakta meyakinkan dan bukan sekedar asumsi sehingga bisa dipertanggungjawabkan.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah pendahulunya. Tentu sejarah sebenarnya yang memang benar-benar terjadi dan bukan hasil politisasi. (*)

*) Tulisan ini pernah dimuat di emosijiwaku.com.

Continue Reading

Catatan Penulis

Halal Bihalal BWF dan Keruwetan-Keruwetan Jelang Acara

Published

on

“Mene isok gak yo halbil maneh?” tanya di Dhion Prasetya di grup WA Bonek Writer Forum (BWF), dua minggu sebelum lebaran.

Saya antusias mendengar pertanyaan Dhion. Rasanya, BWF sudah lama tidak menggelar halal bihalal. Terakhir kali kami mengadakan halal bihalal di Prapen Kopi Surabaya jauh sebelum pandemi. Kesibukan juga yang membuat para member BWF susah untuk berkumpul usai lebaran.

Namun, lebaran kali ini hukumnya wajib menggelar halal bihalal. Apalagi pandemi sudah makin mereda.

Teman-teman di grup sangat antusias. Saya mengusulkan tempat di Satu Atap. Sayangnya, Yadi CEO coworking space di belakang Balai Kota itu mengatakan jika mereka masih libur lebaran. Kami memang berencana menggelar halal bihalal pada 8 Mei 2022, sehari sebelum cuti bersama usai.

Saya kemudian mengontak teman-teman yang mungkin bisa merekomendasikan kafe yang bisa dijadikan venue. Ada sekitar 5 kafe yang saya kontak. Namun sebagian besar meminta syarat yang menurut saya kurang pas, seperti minimal order 100K per peserta yang datang.

Rek, BWF itu forum non profit lho…

Beruntung, Sura Coffee menetapkan syarat yang ringan yakni minimal order 25K per peserta. Itupun pemiliknya, Tio, memberikan diskon 20 persen setiap pembelian. Teman-teman akhirnya mengamini Sura Coffee sebagai venue.

Sura Coffee di Jl Ngagel Tama 19 Surabaya. (Rizka Perdana Putra for BWF)

Venue beres, lantas siapa narasumbernya? Menurut saya, narsum penting karena mereka akan jadi magnet acara. Maklum, acara halal bihalal edisi kedua ini juga dilengkapi dengan diskusi tentang Persebaya dan digelar untuk umum. Jadi kalo bisa yang datang rame.

Dhion pun mau saat didapuk jadi narsum. Member BWF dan juga founder #statsrawon ini sangat layak sebagai narsum karena insight-nya tentang Persebaya cukup kuat, terutama statistik.

Narsum kedua adalah Cak Beted yang tentu tidak asing di kalangan Bonek. Selain sebagai member BWF, arek Sukodono ini juga dikenal sebagai tukang paido dengan kritik-kritik pedas yang kerap ditulisnya di akun facebook miliknya usai Persebaya berlaga. Pun dengan kebijakan transfer Persebaya untuk musim depan. Cak Beted pun oke.

Narsum ketiga harus di luar member BWF, batin saya. Teman-teman mengusulkan manajer Persebaya, Yahya Alkatiri. Ini menarik. Namun saya masih ragu. Meskipun kenal, saya sangsi manajer mau datang. Terus terang, manajer sebelumnya susah sekali dihadirkan di acara-acara Bonek.

Saya memberanikan diri untuk mengirim pesan melalui WA. Tak disangka, Yahya bersedia dan cukup antusias hadir di acara kami. Meski begitu, saya tetap menurunkan ekspektasi, barangkali Yahya tidak jadi datang karena kesibukan atau sedang mudik lebaran.

Yahya Alkatiri, Dhion Prasetya, Cak Beted. (Rizka Perdana Putra for BWF)

Venue dan narsum sudah fix. Seperti layaknya acara-acara diskusi, harus ada pembagian doorprize. Saya kemudian menghubungi teman-teman yang memiliki usaha clothing. Tak lupa saya mengontak teman-teman di Persebaya Store untuk support acara. Cak Kin dari TB27 dan Hakim dari Persebaya Store bersedia. Jadilah TB27 dan Persebaya Store pendukung acara.

Setelah semua beres, saya kemudian membuat pamflet acara yang nantinya akan disebar melalui kanal-kanal media BWF. Namun BWF perlu menggandeng media partner agar pamflet acara bisa tersebar luas. Beruntung, beberapa media suporter seperti #StatsRawon, EJ, Bajolball, dan Bola Abis bersedia jadi partner. Toni Rupilu, member BWF dan pengelola Greenforce.co.id juga menghubungi saya dan menawarkan diri jadi media partner.

Penulis saat setting live Zoom dan YouTube. (Rizka Perdana Putra for BWF)

Pamflet tersebar di semua kanal media BWF dan media partner dua hari sebelum acara. Sambutan dari audience luar biasa. Banyak yang antusias datang. Beberapa juga share pamflet di media sosial mereka.

Riffi Alawi, member BWF dan pemilik bekenbener.com menghubungi saya dan menawarkan diri sebagai media partner. Karena pamflet sudah tersebar, saya memutuskan membuat pamflet kedua dengan menambahkan bekenbener.com sebagai media partner.

Acara Dadakan, Bondo Wani dan Nekat

BWF sering membuat acara dadakan dan tidak melalui proses yang njlimet. Bahkan empat buku yang kami hasilkan dikerjakan dengan model gradakan. Cak Oryza, penggagas BWF, yang memulai kultur ini. Penulis buku-buku Persebaya dan esai ini dikenal sebagai tukang kentheng. Ya gimana lagi, beliau selalu meminta kami untuk menulis buat Persebaya. Namun berkat Oryza, produk-produk media BWF seperti buku, koran BWF, website sejarahpersebaya.com, dan terakhir kanal-kanal media sosial BWF akhirnya terwujud.

Semangat gradakan ini yang membuat acara halal bihalal terwujud meski konseptor acara tidak pernah mengadakan rapat fisik. Namun acara ini masih membutuhkan kepanitiaan yang bisa membuat acara berjalan dengan lancar. Saya menghubungi Oscar Baadilla dan Dedi Andrian untuk membantu BWF.

Rossi Rahadjo, perwakilan BWF memberi sambutan. (Rizka Perdana Putra for BWF)

Oscar bersedia mengambil doorprize di TB27 dan Persebaya Store Surabaya karena saya sedang mudik di kampung halaman. Sementara Dedi mau jadi host acara. Saya kenal Dedi belum sebulan. Awalnya, dia menawarkan diri membantu media BWF terutama memproduksi podcast yang rencananya akan dibuat usai lebaran. Background Dedi yang mantan penyiar 7 radio membuat saya memintanya jadi host acara halal bihalal. Dan alhamdulillah, Dedi sangat antusias dan memberikan usulan-usulan seperti membuat rundown acara.

Semangat Bonek, bondo wani dan nekat begitu melekat. Saya masih yakin jika Surabaya tidak kekurangan talenta-talenta hebat. Kita mempunyai kultur dan akar budaya yang cukup kuat. Sejatinya, Surabaya tidak kalah dengan kota-kota lain seperti Jakarta, Bandung, ataupun Jogja. Semangat ini yang seharusnya bisa membuat kita bisa membuat acara-acara berkualitas meski banyak keterbatasan.

Dan Hari H Itu…

Akhirnya, acara halal bihalal BWF dan diskusi Persebaya ini bisa terwujud dengan lancar. Banyak Bonek datang tak hanya dari Surabaya namun juga luar kota seperti SIdoarjo, Probolinggo, dan Situbondo. Beberapa bahkan datang 1 jam sebelum acara.

Yahya Alkatiri pun akhirnya datang. Begitu juga mantan pemain Persebaya, Anthony Jomah Ballah. Ayah dari pemain Persebaya Altalariq Ballah ini sempat berbicara dan memberikan pandangannya tentang Persebaya. Kami juga kedatangan empat suporter Persis Solo yang kebetulan ada di Surabaya. Mereka mengatakan sedang kulonuwun ke Bonek jelang laga uji coba Persis lawan Persebaya di GBT, 22 Mei nanti.

Suporter Persis Solo. (Rizka Perdana Putra for BWF)

Peserta memenuhi venue dan cukup antusias mengikuti jalannya acara. Acara juga bisa disimak secara live melalui zoom dan YouTube. Suwun buat Bajolball yang “meminjamkan” kanal YouTube-nya untuk live. Mas Fajarjun yang membuatkan kanal Zoom dan ikut memoderasi dari jarak jauh.

Acara ini selain untuk kumpul-kumpul dan berdiskusi, juga menciptakan tradisi dialog antara suporter dan manajemen. Sudah seharusnya Persebaya tidak berjarak dengan suporter. Begitu juga sebaliknya.

Dhahana Adi. (Rizka Perdana Putra for BWF)

BWF juga berencana membuat event-event serupa yang akan menghubungkan mereka dengan tim kebanggaannya. Seperti kata Dhahana Adi, member BWF yang didapuk sebagai pengasuh event BWF yang berencana membuat event napak tilas tempat-tempat bersejarah Persebaya.

Terima kasih juga untuk Rizka Perdana Putra yang membantu BWF memotret momen-momen selama acara, Cak Tulus yang membuka stan buku dan jersey, teman-teman media yang membuat liputan baik tulisan dan video, dan Tio yang karyawannya mau direpoti.

Last but not least, teman-teman Bonek, baik yang datang ke acara atau menyimak diskusi secara online serta pihak-pihak yang belum sempat disebutkan di tulisan ini.

Saya masih percaya, kolaborasi bisa dilakukan asal kita punya kemauan. Dan itu tidak sulit jika kita mau peduli dengan hal-hal yang kita cintai. BWF memberi contoh. (*)

Continue Reading

Catatan Penulis

Kelisanan Kedua dalam Sepak Bola

Published

on

Dalam film “Soegija” (2012) digambarkan ada suatu adegan tentang penyiar radio. Ia mengabarkan tentang kedatangan Jepang. Begitu pula dalam film “Soerabaia ‘45” digambarkan Bung Tomo yang sedang pidato di depan corong radio. Saat penyiar radio di film “Soegija” memberitakan tentang kedatangan tentara Jepang dalam bahasa Jawa: “Jepang teka! Jepang teka! (Jepang datang! Jepang datang!)”, berapa banyak interpretasi tercipta dari dua kata yang disebutkan itu. Itu hal sederhana untuk menyebutkan betapa kita terbiasa dengan tradisi lisan. Tradisi yang biasanya di-“tutur-tinularkan” melalui pemilihan diksi, mitos, dan ditransmisikan secara horizontal maupun vertikal.

____

Jika dulu belum ditemukan media elektronik seperti radio, maka tradisi lisan dapat terbangun salah satunya melalui komunitas yang saling terhubung. Pengetahuan pun biasanya disampaikan serta dipelajari melalui penceritaan kembali (oral retelling). Karakteristik yang cenderung homeostatic ini tidak mengalami perubahan sosial secara cepat.

Saat ditemukan tradisi cetak barulah perubahan sosial dalam konteks komunikasi tersampaikan secara lebih cepat. “Penceritaan kembali” bisa didapatkan dengan membaca. Dikenal kemudian tradisi menulis yang melahirkan koran, majalah, maupun buku. Demikian pula ketika kemajuan teknologi seperti ditemukannya radio maupun televisi, maka informasi pun lebih cepat menyebar.

Orang selain berimajinasi melalui media radio bisa pula melihat bentuk (form) dari yang diceritakan. Nah, proses komunikasi yang berawal dari kemajuan teknologi inilah yang kemudian disebut sebagai kelisanan kedua (Walter J. Ong; 1982).

Ayah saya adalah salah satu pencerita yang baik mengenai klub sepak bola tanah air, Persebaya. Masih mengendap dalam ingatan saya, bagaimana kami mendengarkan pertandingan antara Persebaya melawan Persib di depan radio kecil kami di Kediri. Saat terjadi gol yang diberitakan oleh komentator radio di RRI itu, kami pun sontak berteriak bersama dalam kotak bersuara tadi.

Cerita nostalgia tadi pasti dialami pula oleh para ayah yang melahirkan fanatisme klub sepak bola pada anak-anaknya yang mungkin sekarang telah berkeluarga, sementara sang ayah telah menjadi kakek. Dalam hubungannya dengan tim sepak bola nasional, Belanda dan Argentina adalah dua negara yang sering disebut ayah saya jika bercerita tentang hebatnya tim sepak bola di luar negeri.

Ruud Gullit, Marco van Basten, Frank Rijkaard, serta Mario Kempes adalah nama-nama yang sering menghiasi cerita itu. Entah negara mana yang disebut oleh ayah-ayah Anda, sehingga kita memiliki imajinasi tentang hebatnya tim nasional di sebuah negara. Yang jelas, tradisi lisan mengenai sepak bola bisa saja terjadi hingga sekarang, meski kini telah masuk dalam wilayah kelisanan kedua berkat perkembangan teknologi sejak ditemukannya televisi, DVD hingga youtube.

Jika tradisi lisan generasi pertama lebih mengandalkan “penceritaan kembali”, maka tradisi lisan generasi kedua (kelisanan kedua) lebih mengandalkan pencitraan-pencitraan secara visual. Hal inilah yang kemudian melahirkan yang namanya budaya visual.

Dalam tradisi lisan pertama, kebanggaan atas sebuah klub karena “penceritaan kembali” dari orang yang lebih dulu mengetahui klub tersebut, maka kebanggaan itu bisa diejawantahkan dalam semangat (spirit). Kecintaan atas klub sepak bola bisa mendarah daging bahkan memengaruhi ritme hidupnya. Imajinasi menjadi sangat liar. Dampak berikutnya adalah menumbuhkan komunitas-komunitas yang memiliki kecintaan yang sama. Di sinilah fanatisme tercipta.

Dalam tradisi lisan pertama ini hampir jarang ditemui analisis modern a la pundit bola yang secara objektif menilai kualitas klub yang dicintai itu. Bahkan tradisi lisan pertama membuat kita enggan mendengarkan kisah kehebatan tim lain. Hal ini terjadi karena kecintaan yang telah mendarah daging melalui “penceritaan kembali” serta melahirkan semangat dalam bentuk fanatisme.

Senjata utama dari tradisi lisan ini adalah sejarah. Sejarah dijadikan mitos, atau dengan kata lain sejarahlah yang menentukan prospek sebuah klub atau tim nasional suatu negara. Klub atau negara yang tidak mempunyai “sejarah” dalam sepak bola hampir mustahil dijadikan sebagai unggulan dalam sebuah kompetisi sepak bola.

Dalam kelisanan kedua, maka mau tidak mau, suka atau tidak suka, pencitraan secara visual dari klub lawan bisa dinikmati tiap hari. Tidak hanya melalui televisi, namun juga melalui t-shirt, stiker di mobil, sampul DVD tentang gol-gol legendaris, film, tayangan di Youtube, mural, graffiti, topi, bahkan juga mimpi.

Kemunculan media-media pop itu bisa mereduksi derajat fanatisme atau bahkan justru lebih menaikkan derajat fanatisme. Hal ini dipicu atas makin terbukanya kita karena kemudahan media, bahwa ternyata ada klub yang lebih hebat di luar yang dituturkan. Pilihannya adalah apakah masih setia atau mulai berganti haluan.

Jika kemudian kemunculan media-media pop tersebut justru lebih menaikkan gengsi fanatisme, maka rusuh antar suporter bisa terjadi hanya karena provokasi gambar yang ada di t-shirt, gerakan provokatif pencetak gol saat selebrasi di televisi, keberbedaan warna kaus yang dipakai di stadion, stiker klub lawan yang ditempel di mobil, atau hanya karena plat mobil yang menunjukkan kota dari klub lawan. Kelisanan kedua dalam budaya visual menjadi demikian banal, vulgar, dan serba mempertontonkan dipandang sebagai sebuah kewajiban dalam penanda identitas.

Kelisanan kedua berikutnya yang juga memunculkan representasi dari kompetisi sepak bola di Eropa ini adalah melalui maskot. Dalam sejarah tradisi lisan generasi pertama, segala citraan visual hanya terekam dalam ingatan, semangat, dan mitos. Tentu saja dengan konstruksi-konstruksi yang sangat bebas untuk diimajinasikan. Nah, dalam kelisanan kedua ini, penyelenggaraan acara tidak cukup hanya diwakili oleh logo melainkan juga maskot.

Kompetisi sepak bola di Eropa saja baru sadar pentingnya maskot pada tahun 1980 saat penyelenggaraan Euro Cup di Italia. Maskot pertamanya adalah Pinokio. Sebagai catatan, maskot sendiri sudah lama dipakai oleh berbagai kegiatan organisasi di dunia sejak tahun 1800-an. Jika dalam era teknologi pada akhirnya maskot menjadi citra visual yang penting, maka bisa ditarik kesimpulan, kelisanan kedua menjadikan segala sesuatunya menjadi demikian menarik dan menghibur.

Inilah yang kemudian memberikan relasi antara sikap berlebihan dengan pencitraan. Apapun pemaknaan relasinya, yang jelas kelisanan kedua kini sangat memengaruhi hidup. Kini makin banyak dijumpai mereka yang bekerja dengan mood yang jelek karena pengaruh tim yang dijagokannya kalah atau mereka yang moodnya tetap terjaga baik karena tim jagoannya selalu menang.

Sekarang semua orang memiliki versi sendiri siapa yang dijagokannya. Bukan oleh pengaruh satu orang dan turun temurun, melainkan oleh citraan-citraan visual yang sering dijumpai oleh mata dan membentuk opini sendiri melalui kelisanan kedua. (*)

Kediri, 18 Juni 2012

Continue Reading

Trending