Connect with us

Catatan Penulis

Seni Jalanan adalah Senjata (2)

Published

on

Masih ingat kan dengan aksi Bonek saat secara serentak memasang spanduk dan baliho di jalan-jalan kota Surabaya? Aksi yang terjadi di sepanjang tahun 2016 hingga PSSI memulihkan status Persebaya 1927 di keanggotaan federasi tersebut. Sejarah suporter sepak bola Indonesia bahkan gerakan sosial mencatat aksi spanduk dan baliho yang dilakukan Bonek ini termassif dalam sekali seruan.

Tak ada yang bertanya dananya dari mana? Bahannya memakai apa? Dan seabreg pertanyaan “ndak penting” terkait perjuangan. Semuanya bergotong-royong dan memodifikasi apapun yang ada untuk dibuat sebagai spanduk. Bayangkan, serentak lho! Surabaya pun semarak dengan spanduk dari yang bernada guyonan hingga yang hujatan kepada PSSI.

Sepanjang Jl. MERR itu tak terhitung lagi berapa spanduk yang dipasang. Pengamatan saya, bahannya pun dari yang seadanya hingga yang bermodal printing. Yang menarik tentu saja bahan yang didapat dari mencopot dari spanduk iklan dan baliknya yang warna putih itu dipakai untuk menuliskan kata-kata. Saya kira inilah salah satu contoh dari spirit seni jalanan yaitu “melawan” dominasi periklanan di jalanan.

Karakteristik Media

Dalam artikel pertama saya menyebutkan jenis-jenis media yang sering dipakai dalam seni jalanan. Tentu saja deskripsi mengenai hal ini juga sudah banyak dituliskan dalam berbagai artikel mengenai seni jalanan. Saya mengambil intinya saja dan mencoba melihatnya dalam perspektif yang lain. Anda bisa mengambil hikmahnya.

Grafiti

Apakah grafiti itu? Silakan browsing Google, sudah banyak penjelasan tentang ini termasuk tutorial buat yang ingin membuatnya.

Saya teringat saat masuk Surabaya di tahun 2000, seperti juga kota-kota lainnya, kota Surabaya dipenuhi grafiti. Jika pada era sebelumnya grafiti erat dengan coretan tentang nama sekolah dan geng, maka di tahun 2000 ke atas, meski bentuk itu masih ada, namun sudah mulai menggeliat grafiti yang biasa kita temui dalam kultur hip-hop. Untuk lebih jelasnya mengenai asal-usul grafiti dan spirit pembentuknya, silakan bisa dibaca di buku “Kultus Underground” (2008) maupun di sebaran artikel di online.

Kini, tentu saja seiring budaya visual yang ujungnya adalah hiburan, grafiti pun mengalami komodifikasi. Ia bukan saja hanya bicara tentang strategi perlawanan maupun membentuk penguat identitas sebagai bahasa yang nyinyir untuk kekuatan dominasi apapun, namun kini sudah pada tahap “penghias”.

Grafiti bukan hanya bisa ditemui di ruang terbuka, namun juga di ruang tertutup. Pemuja Instagram tentu menyerbu pada visual-visual di ruang tertutup ini haha…

Nah, terkait perjuangan Persebaya 1927, strategi melalui grafiti juga pernah dilakukan pada masa gerakan #SavePersebaya. Saat Kongres PSSI dilakukan di Hotel Shangri La Surabaya, banyak tembok menjadi sasaran grafiti sebagai alat penekan pada PSSI.

Mural

Media ini yang sedang populer sekarang. Saya kira Anda sudah begitu familiar melihat kekuatan media ini di dinding. Nah, saya ingin menggarisbawahi saja mengenai mural ini sebenarnya apa.

Mural tentu berbeda dengan grafiti. (Duh, saya sebenarnya benci sekali membuat pembedaan-pembedaan seperti ini). Grafiti “spiritnya” adalah menggores. Jika ditarik lagi, menggores itu identik dengan menulis (word-based). Jadi grafiti dominan pada tulisan. Itulah sebabnya, pembuat grafiti disebut sebagai writers. Di Indonesia sering disebut sebagai bomber, sedangkan aksi meng-grafiti disebut sebagai bombing. Istilah ini merujuk pada karakter grafiti yang tiba-tiba muncul di suatu tempat yang sebelumnya tidak ada, dan tentu saja menimbulkan efek kejut. Booommm!!!

Berbeda dengan mural. Mural identik dengan lukisan dannnnn… Nah, ini yang penting: “mural”, asal mula katanya adalah dari bahasa Latin “murus” yang artinya dinding. Jadi jika menyebut “mural”, maka medianya adalah dinding, entah yang berbahan dasar semen atau kertas, asal berfungsi sebagai penyekat/batas.

Maka menjadi aneh jika misalnya ada pengumuman lomba mural di atas lantai paving. Bahkan saya pernah diminta membuat “mural” di sepatu. Saya berbaik sangka saja, mungkin sepatu yang akan di-“mural” banyak dan akan ditumpuk-tumpuk menjadi dinding. Eh, ternyata yang di-“mural” cuman satu.

Ada juga yang bilang begini: “Wah, kaose dimural, Rek!”. Mungkin maksudnya buat meringkas saja, namun rasane piye ngono.

Mural yang dibuat oleh Gate17. Sumber foto; IG @Gate17

 

Wheat Paste

Ada pula yang menyebutnya sebagai “paste up”. Sama saja. Mirip juga pengerjaannya dengan poster, karena sifatnya memakai lem untuk menempel di tembok. Yang berbeda dengan poster tentu saja kontennya. Wheat paste memakai unsur visual berupa gambar yang sifatnya ikonik. Ada yang menyebutnya sebagai avatar atau yang bersifat “alter-ego”. Dalam literatur yang ditulis oleh Tristan Manco, pengamat dan penulis buku tentang street art, ia menamakannya sebagai: logos. Poster (seperti halnya yang sering kita temui) secara teknis sama dengan wheat paste untuk pemasangan, namun kontennya adalah komunikasi visual (gambar dan teks) yang memiliki pesan secara komunikatif.

Nah, wheat paste ini bentuk seni jalanan yang jarang dipakai di Surabaya, meskipun ada. Tapi tidak banyak ditemui. X-Go dengan Serikat Mural Surabaya-nya pernah dan sering menggunakan wheat paste ini. Mungkin seniman jalanan lain juga ada yang pernah membuat media ini dan saya melewatkannya, maafkan.

Stencil

Media ini sering saya temui di jalanan Surabaya. Tekniknya adalah menggunakan pola yang telah dipersiapkan lebih dulu dengan cara melubangi di kertas tebal sesuai pola/gambarnya, untuk kemudian dengan menggunakan cat aerosol disemprotkan di dinding. Dulu, waktu masa kecil kita sering menyebutnya dengan “ngeblat”. Ada pula yang tidak dengan disemprotkan, tapi dengan teknik ditutul-tutul pakai spon menggunakan cat tembok untuk meninggalkan jejaknya di dinding.

—————-

Itulah media-media yang sering dipakai dalam seni jalanan di samping sticker, dan banyak lagi itu. Banyaknya pilihan dalam media seni jalanan tergantung dari strategi saat di jalanan. Bonek sepanjang yang saya amati sudah banyak menggunakan hampir semua media tersebut. Tentu saja pemilihan media itu terkait dengan dampak yang diinginkan.

Nah, terkait penyebutan “mural” pada media di Jl. Gunung Sari yang sempat dihapus oleh aparatus ideologi negara, maka saya lebih cenderung menyebutnya sebagai “grafiti”. Alasannya, kecenderungan visualitas di media itu lebih banyak memakai tulisan daripada lukisan; atau cara membuatnya adalah dengan prinsip menulis bukan melukis (word-based).

Foto yang beredar di grup WA Bonek Writer Forum.

Biasanya ada pertanyaan: “Kan bikinnya memakai kuas, Kak?”. Begini. Seni jalanan tidak tergantung media perantaranya apa. Apakah memakai kuas, cat semprot, tangan kosong, atau apa. Mural jika digarap dengan prinsip melukis namun memakai cat semprot tetaplah mural.

 Ada juga pertanyaan: “tapi kan tulisannya terbaca jelas, Kak? Masak itu grafiti?”. Pertanyaan ini merujuk pada grafiti yang biasanya tidak terbaca. Teman saya dulu malah bilang: “Kuwi karya opo? Kok kluwer-kluwer?”.

Basquiat, seniman jalanan fenomenal asal Amerika dan imigran asal Prancis, bahkan menuliskan kata yang terbaca. Begitu pula TAKI183 yang hits pada masanya juga terbaca dengan jelas. Atau dulu pernah kan kita bikin tulisan “SMA 7 Lulus 100%”. Jadi terbaca atau tidak, tetaplah “grafiti”. Grafiti awal mulanya memang berkarakter sebagai identifikasi teritorial. Grafiti pula yang sering dipakai oleh geng, penerus kultur hip-hop, dan hooligan.

Lalu pertanyaan penutup biasanya adalah: “Kak, bagaimana jika ada gambar dan tulisan?”. Nah jika seperti itu, bisa kita sebut dengan mural. Contohnya adalah mural yang dibuat oleh CAP12 dan Gate17.

Mural yang dibuat oleh CAP12. Sumber foto: IG @coretanarekpersebaya12

Artikel ini dibuat bukan bermaksud sebagai alat kontrol bahasa atau saya ini seperti terkesan kayak polisi bahasa. Bukan. Itulah sebabnya saya benci membuat pembedaan-pembedaan. Tapi ya gimana lagi. Apalagi ada tambahan istilah: post-graffiti. Nah apa lagi itu?

Tulisan bagian selanjutnya saya akan membahas tentang post-graffiti dan bagaimana seni jalanan dipakai sebagai senjata dalam perubahan sosial. (*)

Sabtu yang rainy | 19/12/2020 | 18.30

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Catatan Penulis

Pernyataan Sikap dan Beberapa Rekomendasi Bonek Writers Forum Atas Tragedi Kanjuruhan

Published

on

Tragedi Kanjuruhan di laga Arema FC vs Persebaya yang menyebabkan 127 orang tewas (data terakhir dari Polda Jatim saat konpers, Minggu, 2 Oktober 2022) membuat kita prihatin. Peristiwa yang dimulai adanya ricuh suporter dan dibalas aparat dengan menembakkan gas air mata bukan yang kali pertama. Korban tewas di stadion dengan sebab-sebab lain juga telah banyak berjatuhan.

Bonek Writers Forum (BWF) mendesak agar semua stakeholders fokus untuk menyelesaikan permasalahan di dalam sepakbola Indonesia. Penghentian liga memang salah satu langkah, namun jangan lupakan akar dari permasalahan yakni tak adanya regulasi untuk mengantisipasi agar peristiwa serupa tidak terjadi di masa mendatang.

Selain mengucapkan duka cita mendalam atas jatuhnya korban baik suporter maupun petugas keamanan, BWF memberikan beberapa rekomendasi agar peristiwa serupa tidak terulang:

  1. Mendesak DPR RI membuat pansus untuk menyelidiki peristiwa berdarah ini.
  2. Mendorong pemerintah bersama DPR menyusun dan membuat UU suporter seperti di Inggris saat pemerintah dan parlemennya membuat UU usai tragedi Hillsborough.
  3. Meminta PSSI bertanggungjawab atas peristiwa ini karena jatuhnya korban tewas dan luka di stadion telah berulangkali terjadi.
  4. Menstandarisasi prosedur penanganan massa sepakbola oleh petugas keamanan.
  5. Petugas keamanan mengikuti aturan FIFA dengan tidak lagi menggunakan gas air mata untuk mengatasi ricuh penonton di dalam stadion.
  6. Announcer pertandingan wajib menyebutkan titik kumpul serta arah evakuasi sebelum laga dan sepanjang laga, dan waktu lainnya mengantisipasi kericuhan.
  7. Seluruh stadion harus berkursi atau all seater stand. Tidak boleh ada lagi terrace stand atau tribun beton. Ini penting untuk menentukan dengan akurat jumlah penonton di stadion.
  8. Kapasitas tiket yang dicetak hendaknya tidak full, tapi ada spare 5 persen kursi kosong untuk proses evakuasi.
  9. Jam pertandingan untuk laga-laga bertensi tinggi harus digelar sore atau kalau perlu tanpa penonton.
  10. Pembatasan jam tanding paling larut pukul tujuh malam, sehingga penonton tidak pulang kemalaman mengingat sistem transportasi di Indonesia belum sebagus sistem transportasi di eropa yang memungkinkan pertandingan digelar larut malam.
  11. Wasit harus menghentikan pertandingan saat dari tribun ada nyanyian provokatif dan rasis dengan lirik penuh kebencian seperti ajakan pembunuhan.

Demikian beberapa rekomendasi dari BWF. Semoga stakeholders sepakbola nasional bisa bersatu dan fokus dalam menyelesaikan permasalahan ini. Tidak ada pertandingan sepakbola yang sebanding dengan nyawa. (*)

Continue Reading

Catatan Penulis

Gelora Drama

Published

on

Banyak yang bilang kalau drama Korea menjadi begitu meledak karena para pesona fisik para pemerannya. Pemeran prianya ngganteng-ngganteng dan pemeran wanitanya huayu-huayu. Kemampuan akting para aktor dan aktrisnya tak bisa dianggap biasa-biasa saja, mereka begitu menjiwai peran yang mereka lakoni.

Tapi jangan salah, drakor memiliki kekuatan terhebat justru pada alur ceritanya yang bisa menggeret emosi penonton hingga masuk ke dalam drama itu sendiri. Adegan demi adegan dalam alur ceritanya seringkali kita temui dalam kehidupan sehari-hari, tidak sama persis namun mirip dengan apa yang pernah kita alami. Hingga seolah-olah para penggemarnya bisa berada di dalamnya dan menjadi pemerannya! Itulah mengapa drakor begitu melekat di hati penggemarnya. 

Hal ini saya temui juga pada klub kebanggan saya, Persebaya Surabaya. Tak mau kalah dengan drakor-drakor yang merajai sinema, Persebaya selalu menghadirkan sekian banyak drama setiap musimnya. Drama terbesarnya adalah saat Persebaya mengalami dualisme kepemilikan klub di tahun 2010, disanksi PSSI tidak boleh berkompetisi, pertarungan secara hukum akan hak penggunaan nama klub Persebaya, hingga akhirnya kembali ke kancah sepakbola nasional dan langsung menjadi juara Liga 2 di musim 2017.

Apakah selepas itu dramanya selesai? Tidak!

Sepanjang Persebaya berada di era baru di bawah pimpinan Azrul Ananda, drama-drama terus berlanjut setiap musimnya. Yang paling sering dan terus berulang adalah slow start yang dialami tim. Chants“lek gak seri kalah, lek gak seri kalah, …kapan menange?” menjadi playlist utama yang sering dinyanyikan semua sisi tribun Gelora Bung Tomo. Ujungnya adalah pemecatan pelatih bahkan sebelum pertengahan musim dilalui. Di musim 2019 malah terjadi pemecatan pelatih hingga 2 kali dalam semusim kompetisi.

Dan menurut saya yang paling fenomenal adalah mundurnya CEO sekaligus presiden klub, Azrul Ananda, baru-baru ini setelah timnya mengalami kekalahan memalukan di kandang sendiri yang disusul dengan aksi vandalisme yang dilakukan Bonek karena kecewa timnya kalah.

Sebentar, kandang sendiri? Enggak juga, karena sebenarnya kalau boleh mengoreksi, stadion yang digunakan adalah stadion Gelora Delta Sidoarjo, kota satelit di sebelah selatan Surabaya. Bertamu, meminjam stadion dan akhirnya melakukan vandalisme, saya sedih, saya malu, mohon maaf buat segenap warga Sidoarjo (Kabar terakhir, Bonek melakukan patungan hingga memperoleh dana lebih dari 50 juta rupiah untuk didonasikan lewat klub guna mengganti dan memperbaiki kerusakan di stadion GDS).

Jika tim-tim lain hanya sekedar memecat pelatih kepala atau manajer, Persebaya sebagai Drama King (saya tak menyebutnya lagi sebagai drama queen, Persebaya lebih dari sekedar queen) justru membuat episode di mana presiden klubnya mundur dan berencana melepas semua saham kepemilikannya dari Persebaya dan mengembalikan mandat  kembali kepada Koperasi Surya Abadi Persebaya (KSAP) sebagai pemilik 30 persen saham PT Persebaya Indonesia. Drama ini berlanjut dengan penolakan surat pengunduran Aza (sebutan untuk Azrul Ananda) dari posisinya sebagai presiden dan CEO klub oleh koperasi KSAP melalui ketuanya, Cholid Ghoromah.

Apakah drama ini berakhir sampai disini? Sepertinya belum.

Keputusan Aza untuk mundur justru menjadi bola panas liar yang menggelinding tak terkendali kemana-mana. Sebuah keputusan yang shocking the world  hingga mengalahkan kabar duka meninggalnya Ratu Elizabeth 2 di Inggris sana. Banyak yang menyayangkan keputusan Aza yang mendadak ini.  Terjadi friksi-friksi diantara Bonek sendiri dalam menyikapi drama kali ini. Ada yang mendukung pengunduran dirinya, ada pula yang menyesalkannya. Tak sedikit pula yang menuduh Aza “tinggal glanggang, colong playu” dalam urusan Persebaya ini, meski dia memperkuat argumennya bahwa dia dan semua jajaran manajemennya akan menyelesaikan semua ini hingga akhir musim 2022 berakhir. Namun siapa yang tahu apa yang terjadi besok?

Bagi pihak yang mendukung pengunduran dirinya, menilai kinerja Aza selama ini dirasa tidak cukup untuk membawa Persebaya kembali berprestasi. Menurut mereka ada beberapa kelemahan manajemen di bawah Aza sebagai berikut:

  • Manajemen dinilai terlalu pelit mengeluarkan dana guna merekrut pemain-pemain kelas atas baik lokal maupun asing, apalagi selepas musim lalu berakhir, hampir 80 persen pondasi inti tim lepas, sementara penggantinya dinilai tak sepadan. 
  • Manajemen terlalu meremehkan sektor-sektor penting seperti psikolog tim di saat tim yang berisikan skuad muda minim pengalaman perlu dibentengi oleh psikiater guna mengarungi kompetisi yang panjang. (Gak gampang dadi pemain Persebaya cak!)
  • Terlalu berlindung pada kata-kata langit semacam sustainable, percaya proses (progressnya mana? kok proses ae terus!), growing pain (it’s getting hurt more and more cuk!)
  • Tidak memiliki target yang jelas (jelas antara target, proses dan bagaimana implementasinya di proses itu sendiri) guna kembali meraih puncak prestasi (Juara! Gawe opo kabeh iki lek ga juara juara?)
  • Manajemen dianggap kurang bisa mendekat dan berkomunikasi dengan baik kepada publik (Bonek), selama ini selalu dianggap terlalu eksklusif 

Sedangkan bagi kelompok yang menentang pengunduran diri Aza serta menyesalkan keputusan ini , memiliki deretan argumen sebagai berikut :

  • Manajemen ala Aza ini adalah bentuk manajerial terbaik sepanjang sejarah Persebaya.
  • Bisa mandiri, tidak menggantungkan suntikan dana APBD yang rawan diselewengkan, dengan mampu menggandeng sponsor-sponsor yang loyal mendukung kinerja Persebaya baik sebagai PT ataupun klub sepakbola
  • Memiliki sistem penjualan merchandise terbaik yang bisa mengangkat sumber pendapatan bagi klub
  • Menghidupkan dan tentu saja membiayai kompetisi klub-klub internal yang menghasilkan pemain-pemain muda didikan akademi yang bisa menjadi sumber pemain berbakat bagi klub dan bahkan tim nasional
  • Tidak pernah ada kasus pemain telat gaji apalagi sampai tak terbayarkan , sebuah hal yang masih sering ditemui di klub-klub lain liga 1
  • Visioner dan progresif dalam menjalankan klub ini secara profesional. Bahkan mentargetkan bisa IPO (initial public offering) alias melempar saham ke publik sebelum usia Persebaya mencapai 100 tahun di 2027 nanti. Bonek selaku supporter setia bisa memiliki kesempatan memiliki saham klub dan turut serta menentukan arah kemana Persebaya ke depannya nanti

Drama yang sesungguhnya masih belum masuk pada fase klimaksnya. Masih panjang ceritanya mengingat akan ada babak baru di mana akan ada proses transisi kepemilikan PT Persebaya Indonesia kepada pemiliknya yang baru nanti (ini berpotensi membuka keruwetan, benang kusut dan luka lama bagaimana sebuah klub perserikatan berubah menjadi sebuah PT).

Lantas, setelah ini bagaimana? Tim bagaimana kelanjutannya? Bertahan atau tambah melorot hingga terdegradasi (semoga tidak)? Manajemen bagaimana? Apakah Aza benar-benar sudah muak, jengah dengan semua urusan Persebaya, Bonek dan keruwetan liga sepakbola nasional dan benar-benar sayonara pada semua ini? Seingat saya Aza bukanlah tipe orang yang suka menjilat ludahnya sendiri, sekali bilang ya itulah yang akan dipegang dan dilakukan.

Semua poin pro kontra dan segudang tanda tanya di atas hanyalah sebagian kecil yang saya temui di pembicaraan-pembicaraan kelas warkop pinggir jalan dengan ditemani secangkir kopi sasetan dan rokok eceran. Masih banyak pembicaraan dan pembahasan oleh orang-orang pintar dan berpendidikan tinggi yang lebih kompeten untuk membahas masa depan Persebaya di kemudian hari nanti. 

Buat saya, Bonek biasa yang tergabung dalam Bonek sejagat raya ini, apapun yang terjadi nantinya… ya que sera-sera saja. Apapun yang terjadi, terjadilah. Jadikan semua kejadian ini menjadi media pembelajaran bagi semua elemen yang mengaku peduli dan mencintai Persebaya. Semua bisa berubah, berganti dan pergi. Hanya Persebaya yang akan tetap ada di hati.

“You can change your wife. You can change your politics. You can change your religion. But never, never can change your favourite football team.” – Eric cantona –

Continue Reading

Catatan Penulis

Terima Kasih AZA!

Published

on

Setelah rentetan hasil minor yang diperoleh Bajol Ijo selama 3 kali berturut-turut, akhirnya manajamen buka suara dan mengadakan agenda pertemuan yang bisa didatangi langsung oleh Bonek. Dalam agenda tersebut secara mengejutkan CEO Persebaya, Azrul Ananda mengutarakan pengunduran dirinya dari jabatan CEO. Cukup di luar dugaan jika melihat traffic di media sosial serta tuntutan dari Bonek, tidak ada yang menginginkan sosok AZA keluar atau mundur dari jabatan. Jika melihat drama yang selalu dialami Persebaya sejak 2017, tahun 2022 sepertinya adalah seri terakhir Persebaya di tangan AZA. 

Selama 5 musim di tangan AZA, Persebaya cukup fenomenal. Sejak kebangkitan dari mati suri, Persebaya bersolek bak gadis idaman para lelaki, semua mata tertuju pada Bajol Ijo. Mulai dari cara pengelolaan manajemen, merchandise dan entertainment. Namun sayangnya dari semua hal positif yang sudah disebutkan, Persebaya tidak mempunyai aset apapun kecuali Wisma Karanggayam. Itu pun juga menjadi persengketaan dengan Pemerintah Kota. Padahal aset merupakan hal penting bagi sebuah Perseroan Terbatas guna mendukung investasi perusahaan. Beruntung bagi Persebaya mempunyai fans yang kritis dan loyal untuk membantu mempertahankan peninggalan sejarah, saksi juara. 

Bagaimana nasib Persebaya selanjutnya setelah pengunduran diri AZA? Sebagai Bonek, pasti akan selalu optimis Persebaya akan tetap hidup dan berharap mendapatkan CEO pengganti yang lebih baik secara komunikasi terhadap para suporternya, karena selama ini Bonek selalu dibenturkan sesamanya jika manajemen melakukan kebijakan tanpa pertimbangan suporter. Persebaya memiliki kultur historis dengan suporter yang tidak bisa dilepaskan, alangkah lebih guyub jika melangkah bersama-sama. 

Bagaimana kelak Persebaya diakuisisi orang politik? Tenang, Persebaya tetaplah Persebaya dengan animo tinggi pendukungnya yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Politik tidak sepenuhnya busuk, pada dasarnya Sepakbola kita tidak terlepas dari belenggu politik. Manajemen terdahulu pun juga hampir terseret kedalam arus politik saat pilwali Kota Surabaya, akibatnya Persebaya selalu dipersulit untuk menggelar latihan di Surabaya. PSSI berdiri pada tahun 1930 pun sebagai bentuk politik identitas Bumiputera atas kedigdayaan sepakbola kolonialisme masa lalu. Selama Bonek masih memiliki akal sehat menyampingkan fanatisme buta, Persebaya akan sulit terbawa arus politik, ditambah era APBD juga sudah berakhir. Persebaya akan menemukan jalannya sendiri menuju kejayaan, yang saat ini terjadi hanyalah proses, bukan akhir! 

Terima kasih untuk AZA yang telah merawat dan membangun Persebaya dari minus. Semoga semakin banyak orang-orang seperti anda untuk membentuk iklim sepakbola Indonesia yang sehat dan profesional.

Salam satu nyali!

Continue Reading

Trending