Connect with us

Pemain

Striker Tajam Itu Dodik Suprayogi

Published

on

Dodik Suprayogi adalah salah satu penyerang tajam Persebaya di awal dekade tahun 1990-an. Namanya masih kuat dalam ingatan pendukung Tim Bajul Ijo hingga saat ini.

Tetapi siapa menyangka jika alumnus klub internal Persebaya, PS Sasana Bhakti, ternyata memulai karir sepak bola semi profesionalnya tidak bersama Persebaya ? Dodik Suprayogi memang mulai merasakan Kompetisi Divisi Utama Perserikatan bersama klub PSDS Deli Serdang, Sumatera Utara.

Kisahnya bermula di tahun 1990 saat orang tua Dodik yang merupakan anggota TNI-AD dipindahtugaskan ke daerah Bagan Batu, Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau. Dodik yang gemar bermain si kulit bundar akhirnya ikut bergabung dengan klub lokal bernama Poslab Labuhan Batu. Singkat cerita PSDS Deli Serdang berlatih tanding dengan Poslab Labuhan Batu. Tertariklah pengurus tim berjulukan Traktor Kuning ini dengan talenta Dodik Suprayogi. Dan akhirnya diboyonglah Dodik ke Lubuk Pakam, markas PSDS Deli Serdang.

Debutnya bersama PSDS Deli Serdang dimuliai pada Kompetisi Divisi Utama Perserikatan 1991/92. Di kompetisi ini, PSDS mampu melaju hingga ke Babak 6 Besar. Yang menarik adalah performa Dodik Suprayogi menarik minat Persebaya saat PSDS kalah 2-3 (2-0) di partai terakhir Babak 6 Besar. Usai laga ini, Dodik kemudian pulang ke Surabaya untuk memperkuat Tim Bajul Ijo.

Bersama Persebaya Surabaya, Arek Gresik ini bermain selama 3 tahun. Dimulai dari Kompetisi Divisi Utama Perserikatan 1993/94 hingga Liga Dunhill II 1995/96. Namun sayang karirnya harus cepat berakhir karena cedera berkepanjangan yang menerpa.

Selain dikenang sebagai duet tajam dan serasi dari Agus Winarno di Persebaya Surabaya, Dodik Suprayogi juga akan selalu diingat sebagai salah satu pencetak gol Persebaya ke gawang PSV Eindhoven.

Kini H. Dodik Suprayogi menjalani karir sebagai Kepala Desa Kepatihan, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik untuk masa bakti tahun 2019-2024. Sukses selalu Cak Dodik! (dpp)

Foto: Jawa Pos

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Pemain

Higor Vidal, Kisah Seorang Ayah

Published

on

Persebaya beruntung mendapatkan gelandang serang seperti Higor Vidal. Permainannya memang tidak langsung nyetel dengan tim, toh siapapun pasti butuh waktu untuk beradaptasi. Tapi dengan dua kali penampilannya selama memperkuat Persebaya di liga1, kita sudah melihat kualitasnya sebagai jendral kreator serangan yang handal. Kita berharap permainannya akan terus berkembang dan bisa memberikan efek positif kepada tim di musim ini.

Cerita ini tidak akan mengulas kehebatan Vidal di lapangan. Namun cerita ini adalah tentang sosok Vidal sebagai seorang bapak di rumah.

Sebagai pendatang baru dengan lingkungan baru yang asing, keluarga Vidal harus beradaptasi dengan suasana kota Surabaya, baik faktor cuaca, lokasi tinggal dan makanan. Di kala sang istri lelah, Vidal rela dan cekatan mengurus bayinya, David, yang masih berusia 10 bulan, untuk sekedar mengganti pampers dan membuatkan susu.

Mungkin bagi sebagian orang, hal-hal seperti ini remeh dan banyak ditemui di kejadian sehari-hari. Namun justru di sinilah letak istimewanya menjadi laki-laki. Selama ini laki-laki selalu diistimewakan untuk tidak perlu mengurus rumah dan anak-anak, semua itu urusan istri/perempuan. Tugas laki-laki hanya mencari nafkah, pulang kerja capek ya istirahat, tidur. Anak-anak dan pekerjaan domestik rumah… ya urusan perempuan. Namun Vidal melakukan hal yang berbeda dari mainstream yang berlaku. Tidakkah ini menjadi contoh bagi kita semua akan sosok lelaki dan bapak yang baik?

Pria memang memiliki tugas sebagai pencari nafkah buat keluarganya, namun mengurus anak itu tanggungjawab bersama, tidak hanya ditanggung ibu semuanya. Berbagi tugas domestik justru akan mempererat ikatan dalam keluarga, termasuk membimbing dan mendidik anak. Anak juga perlu sentuhan , perlu menjalin komunikasi yang baik dengan bapaknya juga.

Di sini, Higor Vidal sudah menunjukkan sosoknya sebagai seorang bapak yang baik. Di tengah kesibukannya sebagai pemain sepakbola yang pastinya melelahkan secara fisik, dia masih meluangkan waktunya untuk anak dan istrinya. Pantas untuk dijadikan role model lelaki dan bapak yang baik.

Kita tentunya tidak berharap begadangnya Vidal di malam hari akan membuat performanya menurun. Saya yakin Vidal juga seorang pemain yang menjunjung profesionalisme yang tinggi. Salut buat papa Vidal, sosok jenderal di dalam dan di luar lapangan. (*)

Continue Reading

In Memoriam Legend

Rusdy Bahalwan, Ustaz Total Football Persebaya

Published

on

Apakah kamu menikmati cara bermain Persebaya di musim lalu?

Jika iya, applause tersendiri memang seharusnya diberikan pada peracik strategi tim kita saat ini, coach Aji Santoso. Permainan Persebaya terlihat begitu mengalir dan atraktif. Mengandalkan umpan-umpan pendek dan pemain yang terus bergerak mencari ruang kosong kala menyerang, juga begitu ketat melakukan pressing saat kehilangan bola. Banyak yang menyebut pola permainan ini ibarat tiki-taka ala Barcelona. Namun sebenarnya ini adalah implementasi dari strategi total football.

Lantas, apa yang dinamakan total football?

Total football diperkenalkan Rinus Michels, pelatih top Ajax Amsterdam, Barcelona, dan Timnas Belanda di era 70-80an. Skema permainan ini mengedepankan sistem permainan cepat yang cenderung menyerang dan atraktif. Posisi pemain yang begitu rapat membuat aliran bola saat menyerang menjadi cepat dan sulit ditebak, begitu pun juga saat bertahan mereka bisa menekan lawan yang sedang menguasai bola dengan ketat. Bola mengalir begitu cepat dari kaki ke kaki tanpa harus digiring terlalu lama. Pemain dituntut bermain secara kolektif untuk bisa saling mengisi posisi yang ditinggalkan rekannya. Maka dari itu, total football membutuhkan pemain-pemain yang bisa bermain di banyak posisi.

Begitulah pola permainan yang melekat pada skuad Persebaya kala menjuarai Liga Indonesia 1996/97. Pada musim tersebut Persebaya menjadi tim paling produktif selama kompetisi digulirkan. Tercatat ada 62 gol dicetak selama penyisihan wilayah, 14 gol selama penyisihan grup dan 6 gol di fase semifinal dan final. Totalnya ada 82 gol! Sementara sang striker, Jacksen F. Tiago menjadi topscorer dengan torehan 26 gol dalam semusim. Fantastis!

Ada yang tahu siapakah sosok pelatih Persebaya di saat menjuarai kompetisi saat itu?

Tak lain dan tak bukan, dia adalah Rusdy Bahalwan, pelatih yang juga melatih coach Aji Santoso kala memperkuat Persebaya saat itu. Sebagai catatan tambahan, Rusdy juga memercayakan ban kapten disematkan pada Aji Santoso sepanjang musim berlangsung.

Rusdy begitu identik dengan Persebaya. Lahir dan besar di Surabaya, dia mengawali karirnya sebagai pemain Assyabaab Surabaya. Saat menjadi pemain, Rusdy adalah sosok yang begitu disiplin dalam berlatih dan mengembangkan skill dan performanya. Tak jarang, Rusdy menambah jam latihan sendiri di luar jam latihan klub. Berkat ketekunannya dalam berlatih itulah, tak lama berselang dia sudah dipanggil menjadi bagian skuad Persebaya Junior dalam turnamen Piala Soeratin di tahun 1967.

Rusdy Bahalwan saat masih menjadi pemain.

Awalnya Rusdy berposisi sebagai libero saat masih bermain di Assyabaab. Namun saat masuk di skuad Persebaya, dia dipindah sebagai bek kiri. Posisi ini tidak berubah hingga Rusdy bermain di Persebaya senior dan juga Timnas Indonesia.

Justru saat menjadi bek kiri itulah, performanya semakin teruji dan mendapatkan pengakuan publik. Pemain yang identik dengan nomor punggung 3 ini terkenal sebagai bek yang tangguh dan sangat sulit dilewati lawan, kuat dalam bertahan dan juga saat menyerang. Puncak prestasinya sebagai pemain adalah saat mengantarkan Persebaya menjuarai Divisi Utama Perserikatan di musim 1977/78.

Di partai final, Rusdy selaku kapten tim, bersama beberapa legenda Persebaya semacam Hadi Ismanto, Abdul Kadir, Rudi W. Keltjes, Djoko Malis, Soebodro, berhasil mengalahkan skuad Persija dengan skor dramatis, 4-3. Persebaya meraih gelar juara nasional setelah berpuasa selama 27 tahun.

Seusai gantung sepatu, Rusdy melanjutkan karirnya sebagai pelatih tim Assyabaab. Catatan emas yang dia torehkan di kompetisi Liga Kansas musim 1996/97 kala mengantarkan Persebaya kembali menjadi juara sepakbola nasional. Ini mengulangi prestasinya di musim 1977/78, bedanya kali ini dia menjadi pelatih tim. Kala itu strategi racikan pada tim Persebaya sangat terlihat elegan. Persebaya tampil dengan gaya total football , permainan bola-bola pendek yang mengalir cepat, pressing ketat, dan atraktif. Yang menjadi ciri khas lainnya adalah coming from behind, yaitu berfungsinya para gelandang sebagai second striker, menusuk dari lini kedua, memberikan tembakan-tembakan dari luar kotak penalti untuk menjebol gawang lawan ketika lini depan kita dijaga ketat. Terhitung beberapa gol dicetak gelandang-gelandang kita yang produktif seperti Uston Nawawi, Eri Irianto, dan Carlos de Mello.

Rusdy juga tak ragu untuk mengorbitkan pemain-pemain muda guna mengisi skuad senior. Sejumlah nama macam Uston Nawawi, ‘Bejo’ Sugiantoro, Anang Ma’ruf adalah sejumlah nama pemain muda yang berhasil diorbitkannya. Hal ini sepertinya dinapaktilasi oleh pelatih Persebaya saat ini, Aji Santoso, yang juga mengandalkan pemain muda untuk mengisi skuadnya.

Satu hal yang menjadi ciri khas dari Rusdy adalah sosoknya yang rendah hati serta religius. Dia dikenal sebagai guru/ustaz di mata para pemainnya. Dia menggunakan sholat berjamaah sebagai media pendekatan dan memotivasi pemain (yang muslim khususnya). Seringkali seusai memimpin sholat berjamaah bersama para pemain dan pengurus, dia juga memanfaatkan waktu seusai wirid untuk memberikan motivasi, briefing dan mendengarkan permasalahan yang dihadapi oleh para pemain.

Cara-cara seperti ini menumbuhkan kedekatan emosional antara dirinya, para pemain, dan pengurus klub. Jika ada pemain yang tampil buruk dan bermasalah, Rusdy sering mengajaknya bicara di ruangan tertutup untuk memotivasinya lebih lanjut. Semangat kedekatan kekeluargaan terpupuk melalui pendekatan-pendekatan yang beliau lakukan. Persebaya bukan sekedar klub sepakbola, namun lebih menjadi sebuah keluarga besar.

Selain hal-hal tersebut di atas, ada beberapa kalimat motivasi yang Rusdy sering katakan kepada para pemain untuk berusaha keras memenangkan setiap pertandingan, di antaranya adalah:

“Kalian pasti bisa, kerahkan semua kemampuan yang telah dilatih. Jangan setengah-setengah, kita bergerak dengan bola. Jangan takut salah.”

“Jika lawan bisa mencetak 3 gol, maka tim kamu harus bisa mencetak 4 gol.

 “Bahwa pertahanan terbaik adalah menyerang. Tidak ada kata lain.”

“Jika depan buntu, maka lini selanjutnya harus membantu atau coming from behind.”

Nama Rusdy Bahalwan akan selalu dikenang sebagai pemain, pelatih, bapak, ustaz total football, dan legenda Persebaya Surabaya. (*)

*) image credit to twitter @aprilia_jiwa

Continue Reading

Pemain

Taisei Marukawa: Pencetak Gol Ke-900 Persebaya di Liga Indonesia

Published

on

Fiuh…! Laga seru dan menegangkan kontra Persija (26/10) di BRI Liga 1 2021/22 telah usai. Di partai klasik ini tim tamu Persebaya mengkandaskan perlawanan tuan rumah Persija dengan skor tipis, 0-1 melalui gol yang dicetak oleh pemain sayap eksplosif asal Jepang, Taisei Marukawa.

Pemain bernomor punggung sepuluh ini berhasil mencetak gol memanfaatkan umpan jauh dari Muhammad Hidayat yang gagal diantisipasi oleh dua pemain belakang Persija Jakarta, yaitu Rezaldi Hehanusa dan Otavio Dutra.

Hingga pekan kesembilan BRI Liga 1 2021/22, ini adalah gol ketiga Taisei Marukawa dari delapan kali penampilan.

Gol semata wayang ini tak hanya mengantarkan kemenangan Tim Bajul Ijo. Tetapi memiliki catatan menarik lainnya dalam sejarah Persebaya Surabaya. Ini adalah gol ke-900 bagi Persebaya sejak keikutsertaan mereka di Liga Indonesia musim 1994/1995 yang lalu.

Selamat Taisei Marukawa! Selamat Persebaya! (*)

Grafis dari @StatsRawon
Continue Reading

Trending