Connect with us

Catatan Penulis

Logo Persebaya akan Berganti!

Published

on

Tenang, itu hanyalah judul yang ditulis karena perbincangan yang ramai mengenai kemungkinan logo Persebaya akan berganti. Adalah Emosijiwaku di Twitter yang (selalu) memulai perbincangan pintar yang memancing perhatian Bonek dan Bonita. Tema perbincangan yang ramai menjelang pertandingan Persebaya melawan Persik kemarin ini sebenarnya sudah diperbincangkan jauh hari sebelumnya. Cak Tulus pernah melemparkan wacana ini saat nyangkruk waktu digelar Bonek Academy di Ciputra World tahun 2018.

Awal Cak Tulus mengangkat hal tersebut adalah saat ia melihat bagaimana logo Persebaya ini memiliki kelemahan secara visual, diantaranya adalah detail dalam logo yang tidak mudah teraplikasikan dengan baik di berbagai media karena tingkat keterbacaannya yang lemah. Adakah yang tahu ada berapa kotak dalam tekstur di kulit buaya? Ada berapa garis yang muncul di sirip hiu? Agak sulit, karena logo ini kemudian ketika diperbanyak oleh berbagai produsen merchandise, misalnya, akan berbeda-beda tafsir. Detail-detail seperti ini jugalah yang menjadikan logo Persebaya ini memiliki tingkat keterbacaan rendah.

Lantas adakah dampak dari tingkat keterbacaan yang rendah tersebut? Ada, dan biasanya adalah tak konsisten. Tidak konsisten di sini konteksnya adalah saat logo Persebaya tampil di berbagai media dengan berbagai teknik produksinya. Tak bisa dipungkiri kharisma Persebaya yang begitu besar menjadikan citra klub ini mudah ditemui dalam berbagai macam merchandise. Namun akan mudah ditemui pula betapa tidak konsistennya logo Persebaya diterapkan. Warna garis di Tugu Pahlawan ada yang berwarna hitam, ada pula yang berwarna biru muda. Selain itu karena unsur-unsur di dalam logo Persebaya yang serba rumit, maka akan sulit pula menampilkan detail yang sangat kecil itu untuk diaplikasikan di media yang memiliki ukuran kecil. Tingkat keterbacaan lagi-lagi sangat rendah.

Namun demikian, positifnya logo Persebaya mampu menciptakan top of mind tidak hanya dari intern (manajemen) namun juga suporter dan non suporter. Jika saja logo Persebaya tersebut dipotong-potong tetap saja potongannya masih dikenali sebagai Persebaya. Peristiwa penyobekan logo Persebaya di Stadion Kanjuruhan Malang adalah bukti mengenai identitas Persebaya yang sangat kuat. Logo yang dibuat sendiri (direproduksi) oleh suporter Arema dan kemudian disobek-sobek sendiri menjadi bukti bagaimana kekuatan Persebaya melalui identitasnya.

Kapankah Logo (Bisa) Berganti?

Logo adalah identitas. Logo adalah citra. Maka logo adalah citraan visual yang merupakan representasi dari identitas. Selama ini Bonek begitu bangga jika mengenakan pakaian apa pun yang ada logo Persebayanya. Persebaya sudah menjadi identitas mereka. Tak peduli apakah ia berdomisili di Surabaya maupun luar kota Surabaya. Persebaya ya Persebaya.

Tak heran jika kemudian ada pendapat yang mengatakan bahwa jika logo Persebaya diubah maka akan berubah pula sangarnya. Dalam konteks tersebut, maka yang dimaksudkan dari pendapat tersebut adalah berubah citranya. Maka pertanyaan berikutnya adalah kapan logo itu bisa berubah? Jika berubah, apakah akan berubah pula karakter dan citra Persebaya ke depan?

Dalam berbagai literatur dan pengamatan dari data, maka logo bisa berubah itu jika ada penyebabnya. Pertama, berubahnya kepemilikan suatu organisasi/perusahaan/lembaga/dll, maka berubah pula visi dan misinya. Kedua, untuk menyesuaikan dengan perubahan zaman, maka identitas visual bisa berubah menyesuaikan dengan trend yang sedang terjadi. Ketiga, ada pengembangan. Hal ini terjadi jika organisasi/klub/kelompok memiliki sayap yang lain yang menempel pada induknya, misalnya pengembangan bisnis atau makin berkembangnya anggota. Keempat, ada merger atau penggabungan perusahaan/lembaga. Kelima, untuk menyegarkan ingatan publik. Terkadang ada kejenuhan jika melihat visual yang sama. Keenam, faktor budaya sehingga harus menyesuaikan dengan budaya setempat. Ketujuh, untuk membentuk citra baru. Biasanya hal ini dilakukan jika ada suatu kasus tertentu yang melibatkan organisasi, atau untuk memperbaiki dari citra buruk.

Nah, dari tujuh alasan suatu perusahaan/lembaga melakukan perubahan logo tersebut, maka Persebaya sebenarnya sudah memenuhi semua syarat tadi. Jika dibandingkan dengan logo klub sepakbola di Indonesia, seperti PSM Makassar dan Persita Tangerang yang baru-baru ini mengubah logonya, maka Persebaya sebenarnya juga telah layak mengubah logonya. Kepemilikan yang berbeda, pengembangan bisnis store untuk makin dekat dengan Bonek, perubahan zaman termasuk bagaimana pengelolaan manajemen klub secara modern, citra klub dan Bonek yang makin bagus dan selalu menjadi media darling. Hal yang harus selalu diingat adalah bagaimana perubahan status pengelolaan klub dari yang memakai APBD kota kini beralih ke PT Persebaya, sehingga logo Persebaya yang selama ini sangat identik dengan logo pemerintah kota bisa pelan-pelan bergeser.

Kapankah Logo Persebaya Berganti?

Pertanyaan penting kemudian adalah jika sudah memenuhi semua syarat di atas, maka sebaiknya kapan logo Persebaya bisa berganti? Jawabannya bisa kapan saja. Namun yang harus selalu diingat adalah mengubah logo bukan perkara yang gampang. Tidak bisa (jika) logo sudah diubah maka akan kemudian sedikit-sedikit diubah hanya karena jenuh atau bosan. Logo berubah juga bukan hanya karena ingin sok modern atau mengikuti perubahan trend di zaman yang makin kompetitif ini. Berubahnya logo haruslah didasarkan pada pertanyaan mengapa logo harus berubah. Bahwa logo berubah karena telah memenuhi syarat-syarat di atas, maka yang menjadi tantangan selanjutnya adalah dengan mempertanyakan kembali: Persebaya ingin dikenal dan dikenang sebagai klub yang seperti apa? Ini dulu.

Logo Persebaya yang banyak “variasi”nya (jika tidak bisa menyebutnya sebagai ketidak-konsistenan logo) adalah juga bukti bagaimana logo Persebaya ini begitu rumit. Logo Persebaya yang benar-benar berubah adalah saat menjelang kompetisi Liga Primer Indonesia (LPI) tahun 2011. Setelahnya logo Persebaya kembali lagi ke “versi” lama. Dalam keputusan sertifikat merek yang diterbitkan oleh Kementerian Hukum dan HAM bertanggal penerimaan 22 April 2013, logo yang dipilih manajemen baru saat kembali ke liga adalah logo dengan versi lama dengan penanda Tugu Pahlawan berwarna biru muda dan bola berwarna dominan hitam. Dalam sertifikat tersebut, perlindungan hak merek diberikan untuk jangka waktu 10 tahun (hingga 22 April 2023) dan setelahnya bisa diperpanjang. Nah, bisa disimpulkan tahun 2023 adalah kemungkinan logo Persebaya bisa berubah dengan mempertimbangkan segala macam pertimbangan di atas.

Segala perubahan pasti menuai kontroversi tak terkecuali klub-klub mapan dunia. Sebut saja Juventus, Manchester City, Arsenal, Tottenham Hotspur, Manchester United, Aston Villa, West Ham, Inter Milan, (sempat juga) Everton, dan masih banyak klub lainnya. Banyak klub yang berganti logo menuai penolakan dari fans-nya. Everton adalah klub yang sebenarnya akan berganti logo namun karena kerasnya penolakan dari Evertonian, maka klub memutuskan untuk kembali ke logo lama. Mungkin klub ini satu-satunya yang gagal mengubah logo. Yang lain jalan terus meski menuai kritik dari fansnya.

Mengapa terjadi penolakan? Fans menolak logo baru biasanya terjadi karena tidak ada sosialisasi dari klub sehingga cenderung mendadak. Selain itu logo ditolak untuk berubah karena justru dilakukan di saat yang terpuruk, misalnya saat klub terdegradasi ke level bawah. Fans Arsenal juga sempat melakukan perlawanan pada logo baru, karena klub tidak melibatkan fans dalam melakukan perubahan identitas visualnya. Yang paling cerewet adalah fans Manchester City karena logo tidak mencantumkan lagi tagline bahasa latin mereka dan tidak ada teks “FC” sebagai singkatan dari Football Club. Alasan tersebut mirip dengan penolakan fans Everton karena mencopot tagline berbahasa latin yang kadung mendarah daging.

Liverpool adalah klub yang termasuk paling sering mengganti logo. Dimulai dari tahun 1950 yang mengubah logo lama di tahun kelahirannya yaitu tahun 1892, kemudian berubah lagi di tahun 1955, 1968, 1976, 1987, 1992, 1993, 1999, 2017. Jika melihat tahun perubahannya, begitu berdekatan. Namun inilah yang unik: logo Liverpool tahun 1999 dipakai berbarengan dengan logo tahun 2017 hingga sekarang. Selain itu yang unik adalah: perubahan logo Liverpool ini tidak menuai keriuhan Kopites. Tak ada perlawanan dari mereka. Cerewet apalagi, tidak ada, padahal Kopites dikenal sebagai suporter di Inggris yang sangat keras. Kecerewetan Kopites biasanya terjadi saat klub menerbitkan jersey terbaru di musim baru. Model jersey dan warna sangat menjadi fokus dari Kopites. Namun untuk perubahan logo terbukti bahwa perubahan logo Liverpool bisa berubah dengan mulus dan tetap memiliki identitas yang kuat dan bahkan bertambah semakin kuat.

Bisa jadi karena ada dua alasan.

Pertama, klub sangat dekat dengan fansnya, sehingga fans dilibatkan dalam perubahan logo. Kedua, prestasi. Nama Liverpool sudah mengakar dan merasuk dalam fansnya yang tidak hanya di Inggris, namun juga di belahan dunia lainnya. Artinya, jika ingin mengubah logo, maka ubahlah pada saat yang tepat, yaitu saat menuai banyak prestasi atau saat menjadi juara di liga yang sangat kompetitif. Dalam bahasa yang lain, mau diubah berapa kali pun, nama Liverpool selalu ada di hati fansnya.

Jadi jika ditanya kembali kapan logo Persebaya bisa berubah? Ya benahi dulu klub ini dengan pencapaian juara dan juara, karena pada dasarnya logo adalah identitas mengenai citra yang ingin dibangun. Citra baik dan positif apalagi citra Persebaya sebagai klub Sang Juara itu sudah mengakar kuat di semua pihak. Sehingga dengan demikian, maka logo mau diubah kapan pun kebanggaan terhadap Persebaya tak akan luntur. (*)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Catatan Penulis

Warisan Rusdi Bahalwan

Published

on

Hari itu, 7 Agustus 2011, Rusdi Bahalwan meninggal dunia. Seorang legenda: sebagai pemain membawa Persebaya Surabaya menjadi juara perserikatan era 1977-1978, dan sebagai pelatih menjuarai Liga Indonesia musim 1996-1997.

Dalam sejarah Persebaya, sependek ingatan saya, hanya Jacksen F. Tiago yang berhasil meniru Rusdi, yakni menjuarai Liga Indonesia pada 1996-1997 saat menjadi pemain, dan mengangkat trofi yang sama pada 2004 saat melatih tim berjuluk Bajul Ijo itu.

Namun Rusdi memiliki kelebihan dibandingkan Jacksen. Selain berstatus arek Surabaya asli, ia tak hanya menghadirkan trofi di Wisma Persebaya di Karang Gayam. Alumnus SMA Negeri 6 Surabaya ini juga mewariskan filosofi sepak bola ‘Coming from Behind’.

‘Coming from Behind’ atau bergerak dari arah belakang adalah taktik sepak bola ofensif yang mengandalkan kecepatan lini kedua untuk menyengat pertahanan lawan. Para pemain harus aktif bergerak dan melakukan ‘passing support’. Begitu memberikan umpan, pemain lini kedua harus muncul tiba-tiba dari belakang, memberikan kejutan saat pemain bertahan lawan berkonsentrasi terhadap barisan penyerang.

Taktik ‘Coming from Behind’ mirip dengan taktik Indra Sjafri di tim nasional Indonesia U19, namun lebih efektif, karena tak senantiasa berputar-putar dengan penguasaan bola layaknya Barcelona. Tiga gol ke gawang Korea Selatan berasal dari kaki Evan Dimas yang jelas-jelas pemain gelandang, yang muncul tiba-tiba saat pemain lawan berkonsentrasi menghadapi pemain-pemain depan timnas. Bedanya, Indra menggunakan formasi 4-3-3 yang mengandalkan trisula di barisan penyerang. Sementara, menurut mantan pemain Persebaya Yani Fathurrachman, Rusdi menyukai formasi 4-4-2.

Yani adalah kapten Persebaya era 1990-an. Arek asli Jember ini direkrut kuartet pelatih Rusdi Bahalwan, Subodro, Totok Risantono, dan Zulkifli Yasin masuk tim inti Persebaya untuk mengikuti turnamen Piala Jawa Pos 1990. Usianya waktu itu 20 tahun, dan Persebaya tengah meremajakan mesin mereka.

Para pemain yang berhasil menjuarai kompetisi perserikatan 1987-1988 seperti I Gde Putu Yasa dan Syamsul Arifin digeser, digantikan pemain-pemain berusia di bawah 23 tahun seperti Winedi Purwito, Yusuf Ekodono, Ibnu Grahan. Satu-satunya pemain tua yang tersisa adalah Usman Hadi.

Rusdi memberikan tugas gelandang pengangkut air alias holding midfielder kepada Yani. Yani mendapat jatah nomor punggung 7, yang sering disebut nomor keramat atau magnificent seven di sejumlah klub di dunia seperti Liverpool dan Manchester United. Di Liverpool, nomor punggung tujuh dikenakan pemain fenomenal seperti Kenny Dalglish, Kevin Keegan, Peter Beardsley, atau Luis Suarez. Sementara di United, ini nomor punggung milik Cristiano Ronaldo, George Best, David Beckham, atau Angel di Maria.

Yani masih ingat benar bagaimana Rusdi mewajibkan penguasaan bola dalam filosofi ‘Coming from Behind’. “Tiap hari latihan possesion minimal 30 menit, minimal harus 150 kali sentuhan bola. Pemain tidak boleh cepat kehilangan bola,” katanya, mengenang.

Yani memahami benar betapa beratnya tugas gelandang bertahan. “Gelandang bertahan harus punya power dan punya jiwa perusak. Begitu bola kena lawan, saya kejar, saya cut. Kalau main dari belakang (zona pertahanan), saya yang mengelola. Kalau bek kanan dan kiri naik membantu serangan, saya bergeser (menutup area yang ditinggalkan),” katanya.

Xabi Alonso, maestro lapangan tengah yang bermain untuk Liverpool, Real Madrid, dan Bayern Munchen, mengatakan, seorang gelandang bertahan harus bersabar. Di matanya, seorang gelandang bertahan adalah penghubung antara lini belakang dan lini serang. Ia bertugas membuat permainan mengalir dengan memainkan banyak operan dan menjaga keteraturan di lapangan tengah.

“Peran saya adalah membuat membuat struktur dan keseimbangan dalam permainan dan membuat rekan setim bisa memaksimalkannya. Saya mencoba membuka ruang saat rekan satu tim membutuhkannya untuk mencetak gol. Saya mencoba menutup ruang yang bisa dimanfaatkan lawan di belakang,” kata Xabi dalam wawancara dengan Fifa.com.

Xabi sama seperti Yani. “Kalau stopper minggir, saya ke tengah. Tidak saling mengandalkan. Yang terdekat dengan bola, itu yang mengejar bola,” kata Yani.

Posisi dirijen orkestra pengatur serangan diserahkan sepenuhnya kepada Winedi Purwito dan Ibnu Grahan. “Posisi saya agak ke dalam, di belakang dua pemain itu. Saya bagian mengantisipasi serangan lawan dan melakukan serangan balik, melindungi dua bek tengah. Saya bekerjasama dan saling mengisi dengan stoper,” kenang Yani.

Filosofi Rusdi mirip filosofi ‘Pass and Move’ Liverpool yang kuat di era 1970 dan 1980. Kekuatan gaya ‘Pass and Move’ ala Liverpool dan ‘Coming from Behind’ adalah pada kecepatan yang memunculkan banyak opsi dalam serangan dan operan lebih variatif. Tak boleh ada pemain yang berjalan santai. Semua harus berinisiatif mencari bola dan memberikan operan. “Tunggu teman muncul, langsung kasih bola. Kalau teman diikuti pemain lawan, kita bawa sendiri, cari ruang kosong,” kata Yani.

Konsekuensinya taktik ini mengharuskan tim memiliki pemain dengan kemampuan hebat dalam mengontrol dan bergerak dengan bola. Baik gaya ‘Pass and Move’ dan ‘Coming from Behind’ membutuhkan pemain-pemain yang cepat dalam bergerak dan mengumpan. Jika terlampau lambat, tim lawan bisa cepat membangun area pertahanan.

“Pass and Move. This style is quite obvious really, the whole idea of controlling the ball well, finding a pass and then always moving to a different angle or space, never standing still,” kata Paul Barratt, salah seorang mantan pemain Liverpool yang melatih di Akademi Liverpool di Indonesia.

Klub Jember United yang dilatih Yani Fathurrachman berutang budi kepada almarhum Rusdi. Gaya permainan yang menjadi karakter dan ciri khas sepak bola menyerang Rusdi diterapkan sangat apik oleh tim senior dan muda Jember United.

Tiga trofi utama diraih Jember United dalam usia empat tahun dengan menggunakan filosofi sepak bola ini. Bukan kebetulan jika kemudian Jember United memiliki pemain-pemain yang cepat di tim senior maupun tim muda. Sebut saja Paulo Sitanggang dan Faisol Yunus. Paulo kini bermain untuk Barito Putra.

Yani mengadaptasi apa yang dilakukan Rusdi di Persebaya dulu, yakni menggembleng mental pemain. Pola ‘Coming from Behind’ membutuhkan semangat juang kuat. “Rusdi kalau briefing untuk menyemangati anak buahnya sangat berkesan. Masuk ke kami: ‘Ayo kalian bisa, kerahkan semua apa yang kita latih. Jangan setengah-setengah, kita bergerak dengan bola. Jangan takut salah, jangan takut dimarahi, lepas terus kayak kita latihan,” kata Yani.

Menurut Yani setiap ucapan Rusdi masuk ke hati pemain. Jika ada pemain yang tak bermain bagus, Rusdi tak pernah memarahi habis-habisan, namun cukup diajak bicara hati ke hati. “Kalian jangan merasa pintar, masih ada yang lebih pintar. Kalian harus belajar. Saya ingat omongan Rusdi itu. Kalian juara, tahun depan belum tentu juara. sampai juara. harus belajar lagi. Latihan tambah lagi. Jangan mudah puas.”

Penulis buku The Manager: Inside the Minds of Football’s Leaders, Mike Carson, menyebut pemimpin yang hebat memiliki pola pikir yang ingin selalu belajar. Ia menyitir kata-kata Brendan Rodgers, pelatih Liverpool: ‘Tetap belajar. Saya makin tua, tapi para pemain akan selalu muda. Demi kepentingan mereka, saya tak boleh hanya diam’.

Filosofi lain Rusdi Bahalwan adalah sepak bola relijiusnya. Yani belajar banyak tentang bagaimana ‘sepak bola dan ketakwaan’ darinya.Semasa hidup, Rusdi dikenal sebagai sosok yang disiplin. Bersama Subodro, dia berhasil menciptakan kebersamaan di tubuh Persebaya, sehingga menjadikan klub berjuluk Bajul Ijo ini ditakuti tim lain. “Ibarat bapak dan anak, beliau selalu siap mendampingi,” kata Yani.

Yani paham, hedonisme sangat merusak pemain sepak bola dan pada gilirannya merusak tim. Semua pelatih kelas dunia berusaha menjaga anak-anak asuhnya agar tak jatuh dalam godaan kehidupan glamor dan instan dunia sepak bola.

Manajer legendaris Liverpool Bill Shankly dalam otobiografinya mengingatkan betapa hedonisme bisa membuat pemain menjadi lemah. “Terlalu banyak makan dan tidur bisa sama buruknya dengan terlalu banyak minum, terlalu banyak merokok, terlalu banyak begadang, dan terlalu banyak berhubungan seks,” katanya.

Rusdi tak hanya mengajarkan sepak bola, tapi juga menciptakan kekompakan dan kebersamaan dengan jalan salat berjamaah. Setiap magrib, setelah salat, dia memberikan dakwah dan siraman rohani kepada anak-anak asuhnya. Setiap ada pemusatan latihan, setelah latihan sore dan mandi, para pemain segera ke musola.

Ada kalanya Rusdi menyuruh salah satu pemain untuk mengimami salat magrib dan isya. Mereka juga makan malam bersama-sama. “Saya mendapat ilmu yang besar sekali manfaatnya untuk hidup selama dilatih Pak Rusdi. Pengalaman di lapangan oke, siraman rohani oke,” kata Yani.

Perpaduan sepak bola dan agama ini diterapkan Yani di Jember United. Setiap kali Jember United bertanding, di mana pun, ia selalu membawa anak asuhnya ke musala saat magrib tiba. “Latihan jam lima sore, habis mandi langsung ke musala,” katanya.

Sang tukang gedor Sabeq Fahmi Fahrezy mendapat tugas sebagai tukang azan. Yani menjadi imam salat dan memimpin doa bersama serta salawat. Di Jakarta, sebelum pertandingan final Divisi III melawan PS Gianyar, tim Jember United menginap di Taman Mini Indonesia Indah. “Di sana ada musala besar, dan kami selalu salat jamaah di situ saat magrib dan isya,” kata Yani.

Salat berjamaah memberikan ketenangan mental kepada para pemain Jember United. Saat final, mereka mengempaskan PS Gianyar 2-0, melalui gol dari kaki Galuh Triatma Putra. Jember mengakhiri puasa gelar sejak 2002. Gelar sepak bola bergengsi tingkat nasional akhirnya mampir ke Jember pada 2013.

Andai masih hidup dan menyaksikan, Rusdi mungkin akan tersenyum: apa yang diwariskannya telah membawa kegembiraan dan kebanggaan pada sebuah kota yang terletak sekitar 200 kilometer dari kota kelahirannya. Rusdi seperti Shankly: He Made People Happy. (*)

*) Artikel ini pernah dimuat di Beritajatim.com, Senin, 10 Agustus 2015, dengan judul Rusdi dan Filosofi Coming From Behind

Continue Reading

Catatan Bonek

Kata adalah Senjata

Published

on

Sebuah jurnal laporan kegiatan pelatihan menulis

Bendera hijau itu bisa terbilang sederhana sekali. Berukuran sekitar 1,5×1 meter saja, berwarna hijau tua dengan latar belakang ndas mangap yang identik dengan representasi Bonek dalam bentuk gambar, dengan logo BWF (Bonek Writers Forum) di bagian kiri atasnya. Bendera ini pun bukanlah bandingan dari banner-banner raksasa yang selama ini rajin menghiasi Gelora Bung Tomo. Tak ada yang nampak istimewa.

Tapi jika kamu mau sedikit saja memperhatikan, justru kata-kata yang tertulis di dalamnya akan terasa mendalam, kekiri-kirian dan revolusioner. “Kata adalah senjata, tiga frase yang ketika disusun berurutan akan terasa sebagai bentuk nyata pepatah “pena lebih tajam daripada pedang.”

Jika kamu pernah menjadi aktivis yang kekiri-kirian, punya pandangan yang kritis akan sosialisme, perlawanan akan penindasan dan ketidakadilan, perjuangan kelas, maka kata-kata tadi akan mengingatkanmu pada sebuah buku yang berjudul “Nuestra Arma es Nuestra Palabra”, our word is our weapon, yang dituliskan oleh Subcomandante Marcos, seorang tokoh gerilyawan gerakan Zapatista dari Meksiko. Buku yang berupa kumpulan tulisan tadi bahkan diberi kata pengantar oleh penulis legendaris asal Portugal, Jose Saramago.

Kurang kiri bagaimana lagi? Kurang revolusioner bagaimana lagi saat kalian mendengar nama-nama Subcommandante Marcos, Zapatista, Emiliano Zapata, hingga Jose Saramago?

Cukup itu sajalah prolog yang akan saya berikan. Saya tidak sedang bercerita tentang gerakan kiri atau sejarah perjuangan Zapatista di Meksiko. Di sini saya hanya ingin menarik benang merah dari kalimat “kata adalah senjata”, menulis, membuat tulisan argumentasi atau persuasi, mengenalkan literasi, memberikan edukasi. Melaluinya kita bisa memberikan perlawanan dan perjuangan lewat tulisan dan buku.

Kebetulan saya baru saja mengikuti acara “Creator Academy 2022” yang digagas oleh Jaringan GUSDURian Yogyakarta. Acara tersebut merupakan ruang kolaborasi bagi para content creator yang bertujuan menyebarkan nilai-nilai kebaikan melalui konten kreatif. Di sini kami menyatukan visi untuk mengedepankan nilai-nilai toleransi, gender mainstreaming dan kepedulian lingkungan. Pesertanya tanpa harus dibatasi batasan usia, gender, agama dan dari golongan mana anda berasal. Ada kelas ilustrasi, videografi dan menulis esai. Di kelas menulis esai tersebut saya tergabung.

Di sini, saya belajar mengenali dan menulis tulisan berbentuk esai. Tulisan esai itu unik, karena bukan seperti sebuah artikel atau jurnal yang terkesan sebagai sebuah kabar berita, bukan pula sebuah cerpen atau novel yang bisa saja bermain-main dalam dunia imajiner dengan bebasnya.

Esai lebih ke sebuah bentuk tulisan  yang membahas suatu tema dari sudut pandang pribadi si penulis. Bisa dibilang bahwa esai merupakan tulisan yang mengandung pendapat dan bersifat subyektif dan argumentatif. Yang membuatnya lebih menarik lagi adalah hadirnya fakta-fakta, kutipan data atau pendapat seorang ahli di bidangnya, filsuf dsb, yang bisa membawa pandangan pribadi penulis harus logis dan dapat dipahami dengan baik oleh pembacanya.

Sepertinya ini adalah bentuk tulisan yang pas dan sesuai kan dengan buku “Nuestra Arma es Nuestra Palabra” yang ditulis Subcomandante Marcos yang saya singgung di awal tadi? Cocok juga bukan untuk mengakomodir suara Bonek dalam berjuang membela Persebaya?

Bonek tidak hanya lantang di tibun stadion, di luar lapangan pun kita tak segan-segan turun jalan bahkan untuk melawan mafia oligarki yang menguasai liga dan federasi sekalipun. Bahkan ketika media berlomba-lomba memusuhi kita dengan segala berita negatifnya tentang kita, kami Bonek tidak pernah tinggal diam. Tulisan dilawan dengan tulisan, opini dilawan dengan opini. Bonek bisa melawan dengan kata-kata seperti di awal tulisan ini dibuat. Kata adalah senjata.

Di kelas penulisan esai ini, saya beruntung sekali bisa menimba ilmu dari seorang mbak Kalis Mardiasih. Selain menjadi penulis buku yang produktif, mbak Kalis juga merupakan sosok aktivis yang peduli pada isu perempuan dan anak, mulai dari kekerasan sampai kesetaraan. Bentuk perlawanannya terwujud melalui esai-esainya yang banyak dimuat di berbagai media massa, juga pada konten-konten instagram, twitter, dan kanal YouTube-nya. Sosok yang revolusioner, membawa semangat juang Kartini dan mengingatkan saya pada sosok-sosok perempuan revolusioner seperti Simone de Beauvoir, Rosa Parks, atau Malala Yousafzai.

Melalui pelatihan ini, saya belajar dari mbak Kalis, bahwa untuk menulis esai, ada hal-hal yang perlu diperhatikan untuk bisa meyakinkan pembaca kita dan agar mereka bisa memahami pesan apa yang kita sampaikan.

  1. Karena esai itu mengutamakan penalaran logis , maka logika kalimat kita harus ditata dengan benar dan terstruktur agar mudah dipahami
  2. Usahakan untuk melakukan “Show, not tell” . Sebuah tulisan akan terasa membosankan saat kita hanya menulis untuk memberitakan saja. Disini tulisan membutuhkan narasi deskriptif, bukti-bukti pendukung, ajak pembaca masuk ke dalam tulisan seolah terlibat dan melihat secara langsung, namun jangan sampai terlalu terseret dalam fiksi
  3. Usahakan tulisanmu agar mudah diingat, unik dan personal, dan mampu menggugah emosi serta empati pembaca. Dalam tulisan esai, CERITA > BERITA.
  4. Menjadi seorang penulis, seseorang harus punya kecenderungan untuk OVERTHINKING. Overthinking di sini tentunya bukan diartikan sebagai mikir sing ora-ora atau berpikir hal-hal yang tak jelas lantas malah kehilangan esensinya. Overthinking yang dimaksudkan disini adalah, sebagai penulis, kita harus bisa melihat satu fakta atau peristiwa dalam berbagai sudut pandang dan mengembangkannya ke dalam tulisan
  5. Dalam sebuah berita atau tulisan negatif di dalam media, kita akan sering menemukan sebuah narasi yang membentuk opini. Ini adalah sebuah tantangan. Untuk melawannya kita bisa melakukan tulisan yang bersifat kontra narasi atau tulisan yang bisa menjadi alternatif narasi.
    • Kontra narasi adalah sebuah narasi yang langsung menyikapi narasi sebelumnya secara frontal sebagai bentuk oposan. Tulisan ini akan membantah secara langsung wacana apa yang telah diopinikan sebelumnya.
    • Alternatif narasi adalah sebuah narasi yang tidak serta merta bertentangan dengan narasi sebelumnya. Alternatif narasi lebih memberikan wacana baru, opini baru yang membuka wawasan pembaca akan sebuah tema atau peristiwa yang sama, namun dari sudut-sudut pandang yang sebelumnya belum pernah diberitakan. Di sini kita akan membentuk stigma baru pada pembaca/viewers kita akan fakta-fakta lain yang sangat berbeda dan bisa meruntuhkan stigma negatif yang terbentuk sebelumnya.

Sebuah rentetan ilmu baru yang bisa saya bagikan ke rekan-rekan seperjuangan saya di komunitas Bonek Writers Forum, dan tentu saja Bonek sejagat raya yang membaca tulisan saya ini. Juga sebagai bentuk mengkolaborasikan semangat egaliter, toleransi, kesetaraan, kesadaran lingkungan dan perlawanan akan penindasan serta ketidakadilan yang diperjuangkan oleh Jaringan GUSDURian kepada dunia persupporteran khususnya Bonek dan Persebaya. (*)

“Sorry for the inconvinience, but this is a revolution”

Subcommandante marcos
Continue Reading

Catatan Bonek

Selamat Jalan Sahabat, Tenang Kau di Tribun Surgamu

Published

on

Pemakaman di Jogja kebanyakan tidak rindang dipenuhi pohon-pohon kamboja sebagaimana pemakaman di Surabaya. Pada siang ini matahari sebenarnya cukup terang bersinar meski tak menjadikannya terik menyengat. Sekelompok pelayat berbaju hitam-hitam melantunkan anthem “Sampai Kau Bisa” dalam suasana yang penuh keharuan.

Di sini kami mengantarkan saudara kami. Satu lagi anak bangsa telah berpulang, satu lagi saudara telah tiada. Tri Fajar Firmansyah, anggota BCS yang meninggal karena menjadi korban salah sasaran dalam lanjutan kerusuhan di kota Jogja saat konvoi kelompok suporter Persis kala melintasi kota Jogja menuju Magelang.

Satu saudara telah berpulang, satu kerabat tak lagi bersama kita, satu lagi orang tua terpisah dari anaknya.

Ini menyedihkan sekali buat dunia persepakbolaan kita. Padahal baru sebulan setelah jatuhnya dua korban jiwa di stadion GBLA Bandung, terhimpit dan terinjak-injak kala berdesakan untuk memasuki stadion. Sampai kapan sepakbola kita akan terus memakan korban jiwa?

Kerusuhan antar supporter membuat selalu mengakibatkan dendam tak berkesudahan. Saya khawatir hal ini akan menjadi lingkaran setan yang sulit untuk terputus. Mendukung tim kesayangan, berseteru dalam rivalitas antar klub dan suporternya, semuanya itu sudah menjadi warna-warni dalam sepak bola. Namun tak seharusnya semua ini harus berakhir dengan kabar duka berupa hilangnya nyawa.

Di sini, di Jogjakarta, Bonek Jogja sudah lebih dari 10 tahun didirikan. Di sini kami semua adalah perantau. Ada yang mencari nafkah, ada juga yang masih sekolah, ada juga yang sekedar tinggal untuk sementara dalam berbagai urusan. Kami semua adalah minoritas, tamu di kota orang. Di mana bumi dipijak, disitulah langit dijunjung.

Dalam area Joglosemar (Jogja Solo Semarang) terdapat sejarah rivalitas yang panjang. Meski begitu, baik dari Slemania dan BCS, Paserbumi, Brajamusti hingga Panser Biru adalah saudara bagi kami. Kami tahu, Bonek pernah membawa sejarah buruk di masa lampau. kami juga bukan peacemaker yang sok menjadi agen perdamaian. Namun, wajib rasanya buat kami untuk terus memupuk rasa persaudaraan dan persahabatan dengan siapapun yang ada di sekitar kita.

Pagi tadi, beberapa perwakilan dari Bonek Jogja turut hadir dalam ke rumah duka almarhum Tri Fajar Firmansyah. Kami hadir bukan hanya karena kedekatan kami dengan BCS, komunitas supporter yang menaunginya, namun juga atas dasar kemanusiaan pula.

Di atas sepakbola, masih ada nyawa manusia yang lebih berharga.

Selamat jalan sahabat, doa kami bersamamu. (*)

(*) Foto-foto dokumen @Bonekjogja

Continue Reading

Trending