Foto: cak Joko Kristiono (@koncombonek)

Masih ingat kan dengan aksi Bonek saat secara serentak memasang spanduk dan baliho di jalan-jalan kota Surabaya? Aksi yang terjadi di sepanjang tahun 2016 hingga PSSI memulihkan status Persebaya 1927 di keanggotaan federasi tersebut. Sejarah suporter sepak bola Indonesia bahkan gerakan sosial mencatat aksi spanduk dan baliho yang dilakukan Bonek ini termassif dalam sekali seruan.

Tak ada yang bertanya dananya dari mana? Bahannya memakai apa? Dan seabreg pertanyaan “ndak penting” terkait perjuangan. Semuanya bergotong-royong dan memodifikasi apapun yang ada untuk dibuat sebagai spanduk. Bayangkan, serentak lho! Surabaya pun semarak dengan spanduk dari yang bernada guyonan hingga yang hujatan kepada PSSI.

Sepanjang Jl. MERR itu tak terhitung lagi berapa spanduk yang dipasang. Pengamatan saya, bahannya pun dari yang seadanya hingga yang bermodal printing. Yang menarik tentu saja bahan yang didapat dari mencopot dari spanduk iklan dan baliknya yang warna putih itu dipakai untuk menuliskan kata-kata. Saya kira inilah salah satu contoh dari spirit seni jalanan yaitu “melawan” dominasi periklanan di jalanan.

Karakteristik Media

Dalam artikel pertama saya menyebutkan jenis-jenis media yang sering dipakai dalam seni jalanan. Tentu saja deskripsi mengenai hal ini juga sudah banyak dituliskan dalam berbagai artikel mengenai seni jalanan. Saya mengambil intinya saja dan mencoba melihatnya dalam perspektif yang lain. Anda bisa mengambil hikmahnya.

Grafiti

Apakah grafiti itu? Silakan browsing Google, sudah banyak penjelasan tentang ini termasuk tutorial buat yang ingin membuatnya.

Saya teringat saat masuk Surabaya di tahun 2000, seperti juga kota-kota lainnya, kota Surabaya dipenuhi grafiti. Jika pada era sebelumnya grafiti erat dengan coretan tentang nama sekolah dan geng, maka di tahun 2000 ke atas, meski bentuk itu masih ada, namun sudah mulai menggeliat grafiti yang biasa kita temui dalam kultur hip-hop. Untuk lebih jelasnya mengenai asal-usul grafiti dan spirit pembentuknya, silakan bisa dibaca di buku “Kultus Underground” (2008) maupun di sebaran artikel di online.

Kini, tentu saja seiring budaya visual yang ujungnya adalah hiburan, grafiti pun mengalami komodifikasi. Ia bukan saja hanya bicara tentang strategi perlawanan maupun membentuk penguat identitas sebagai bahasa yang nyinyir untuk kekuatan dominasi apapun, namun kini sudah pada tahap “penghias”.

Grafiti bukan hanya bisa ditemui di ruang terbuka, namun juga di ruang tertutup. Pemuja Instagram tentu menyerbu pada visual-visual di ruang tertutup ini haha…

Nah, terkait perjuangan Persebaya 1927, strategi melalui grafiti juga pernah dilakukan pada masa gerakan #SavePersebaya. Saat Kongres PSSI dilakukan di Hotel Shangri La Surabaya, banyak tembok menjadi sasaran grafiti sebagai alat penekan pada PSSI.

Mural

Media ini yang sedang populer sekarang. Saya kira Anda sudah begitu familiar melihat kekuatan media ini di dinding. Nah, saya ingin menggarisbawahi saja mengenai mural ini sebenarnya apa.

Mural tentu berbeda dengan grafiti. (Duh, saya sebenarnya benci sekali membuat pembedaan-pembedaan seperti ini). Grafiti “spiritnya” adalah menggores. Jika ditarik lagi, menggores itu identik dengan menulis (word-based). Jadi grafiti dominan pada tulisan. Itulah sebabnya, pembuat grafiti disebut sebagai writers. Di Indonesia sering disebut sebagai bomber, sedangkan aksi meng-grafiti disebut sebagai bombing. Istilah ini merujuk pada karakter grafiti yang tiba-tiba muncul di suatu tempat yang sebelumnya tidak ada, dan tentu saja menimbulkan efek kejut. Booommm!!!

Berbeda dengan mural. Mural identik dengan lukisan dannnnn… Nah, ini yang penting: “mural”, asal mula katanya adalah dari bahasa Latin “murus” yang artinya dinding. Jadi jika menyebut “mural”, maka medianya adalah dinding, entah yang berbahan dasar semen atau kertas, asal berfungsi sebagai penyekat/batas.

Maka menjadi aneh jika misalnya ada pengumuman lomba mural di atas lantai paving. Bahkan saya pernah diminta membuat “mural” di sepatu. Saya berbaik sangka saja, mungkin sepatu yang akan di-“mural” banyak dan akan ditumpuk-tumpuk menjadi dinding. Eh, ternyata yang di-“mural” cuman satu.

Ada juga yang bilang begini: “Wah, kaose dimural, Rek!”. Mungkin maksudnya buat meringkas saja, namun rasane piye ngono.

 

Mural yang dibuat oleh Gate17.
Sumber foto; IG @Gate17

Wheat Paste

Ada pula yang menyebutnya sebagai “paste up”. Sama saja. Mirip juga pengerjaannya dengan poster, karena sifatnya memakai lem untuk menempel di tembok. Yang berbeda dengan poster tentu saja kontennya. Wheat paste memakai unsur visual berupa gambar yang sifatnya ikonik. Ada yang menyebutnya sebagai avatar atau yang bersifat “alter-ego”. Dalam literatur yang ditulis oleh Tristan Manco, pengamat dan penulis buku tentang street art, ia menamakannya sebagai: logos. Poster (seperti halnya yang sering kita temui) secara teknis sama dengan wheat paste untuk pemasangan, namun kontennya adalah komunikasi visual (gambar dan teks) yang memiliki pesan secara komunikatif.

Nah, wheat paste ini bentuk seni jalanan yang jarang dipakai di Surabaya, meskipun ada. Tapi tidak banyak ditemui. X-Go dengan Serikat Mural Surabaya-nya pernah dan sering menggunakan wheat paste ini. Mungkin seniman jalanan lain juga ada yang pernah membuat media ini dan saya melewatkannya, maafkan.

Stencil

Media ini sering saya temui di jalanan Surabaya. Tekniknya adalah menggunakan pola yang telah dipersiapkan lebih dulu dengan cara melubangi di kertas tebal sesuai pola/gambarnya, untuk kemudian dengan menggunakan cat aerosol disemprotkan di dinding. Dulu, waktu masa kecil kita sering menyebutnya dengan “ngeblat”. Ada pula yang tidak dengan disemprotkan, tapi dengan teknik ditutul-tutul pakai spon menggunakan cat tembok untuk meninggalkan jejaknya di dinding.

—————-

Itulah media-media yang sering dipakai dalam seni jalanan di samping sticker, dan banyak lagi itu. Banyaknya pilihan dalam media seni jalanan tergantung dari strategi saat di jalanan. Bonek sepanjang yang saya amati sudah banyak menggunakan hampir semua media tersebut. Tentu saja pemilihan media itu terkait dengan dampak yang diinginkan.

Nah, terkait penyebutan “mural” pada media di Jl. Gunung Sari yang sempat dihapus oleh aparatus ideologi negara, maka saya lebih cenderung menyebutnya sebagai “grafiti”. Alasannya, kecenderungan visualitas di media itu lebih banyak memakai tulisan daripada lukisan; atau cara membuatnya adalah dengan prinsip menulis bukan melukis (word-based).

Foto yang beredar di grup WA Bonek Writer Forum.

Biasanya ada pertanyaan: “Kan bikinnya memakai kuas, Kak?”. Begini. Seni jalanan tidak tergantung media perantaranya apa. Apakah memakai kuas, cat semprot, tangan kosong, atau apa. Mural jika digarap dengan prinsip melukis namun memakai cat semprot tetaplah mural.

 Ada juga pertanyaan: “tapi kan tulisannya terbaca jelas, Kak? Masak itu grafiti?”. Pertanyaan ini merujuk pada grafiti yang biasanya tidak terbaca. Teman saya dulu malah bilang: “Kuwi karya opo? Kok kluwer-kluwer?”.

Basquiat, seniman jalanan fenomenal asal Amerika dan imigran asal Prancis, bahkan menuliskan kata yang terbaca. Begitu pula TAKI183 yang hits pada masanya juga terbaca dengan jelas. Atau dulu pernah kan kita bikin tulisan “SMA 7 Lulus 100%”. Jadi terbaca atau tidak, tetaplah “grafiti”. Grafiti awal mulanya memang berkarakter sebagai identifikasi teritorial. Grafiti pula yang sering dipakai oleh geng, penerus kultur hip-hop, dan hooligan.

Lalu pertanyaan penutup biasanya adalah: “Kak, bagaimana jika ada gambar dan tulisan?”. Nah jika seperti itu, bisa kita sebut dengan mural. Contohnya adalah mural yang dibuat oleh CAP12 dan Gate17.

Mural yang dibuat oleh CAP12. Sumber foto: IG @coretanarekpersebaya12

Artikel ini dibuat bukan bermaksud sebagai alat kontrol bahasa atau saya ini seperti terkesan kayak polisi bahasa. Bukan. Itulah sebabnya saya benci membuat pembedaan-pembedaan. Tapi ya gimana lagi. Apalagi ada tambahan istilah: post-graffiti. Nah apa lagi itu?

Tulisan bagian selanjutnya saya akan membahas tentang post-graffiti dan bagaimana seni jalanan dipakai sebagai senjata dalam perubahan sosial.***

 

Sabtu yang rainy.

19/12/2020 | 18.30