“Surabaya Melawan” adalah sebuah gerakan yang dilakukan oleh pendukung Persebaya (yang dikenal sebagai Bonek) pada tahun 2016 sebagai bentuk perlawanan pada federasi sepak bola Indonesia, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), karena dicoretnya keanggotaan Persebaya di PSSI. PSSI lebih memilih Persebaya versi gadungan ketimbang Persebaya yang secara historis dilahirkan pada tahun 1927.

Oleh karena itu, saat Persebaya tidak dapat mengikuti liga karena tidak diakuinya Persebaya sebagai klub resmi di bawah PSSI sebagai akibat pembangkangan pada keputusan federasi yang memaksa Persebaya degradasi dari Liga Super Indonesia pada musim 2009-2010, maka nama Persebaya 1927 dipilih. Nama tersebut dipilih setelah menolak nama yang “diberi” oleh PSSI yaitu Surabaya United untuk bertanding pada laga amal melawan Indo Holland di Gelora 10 November.

Rupanya hal tersebut meluas. Bonek melakukan perlawanan. Sejak itu nama Persebaya 1927 selain menjadi identitas klub juga identitas perlawanan. Aksi perlawanan tersebut misalnya saat Bonek berunjuk rasa di depan kantor PSSI dan KONI di Jakarta, kemudian melakukan aksi tanda tangan dan cap jempol darah yang dilakukan di Surabaya, hingga Bonek berunjukrasa dan menyampaikan pernyatan sikap ke markas FIFA di Swiss yang berisi keluhan mengenai karut-marutnya sepakbola nasional secara umum di bawah kepemimpinan Nurdin Halid (Wirawan, 2016:13). Cak Andi Peci sebagai juru bicara Arek Bonek 1927 bahkan hingga mengancam akan melumpuhkan Jawa Timur jika Persebaya tidak dikembalikan kepada yang berhak.

Pada perkembangannya, perjuangan Bonek mulai masuk ke wilayah seni. Lagu-lagu mulai diciptakan sendiri, tidak hanya sekadar melakukan penggantian syair di lagu yang sudah ada seperti suporter pada umumnya. Lagu ini bukan hanya chant yang biasa mengiringi klub bertanding, namun lagu ini bagi mereka menjadi identitas keberadaan Bonek. Selain lagu, banyak bertebaran t-shirt bertemakan Bonek maupun Persebaya. Dilihat dari teks yang ada di t-shirt tersebut aroma perlawanan kepada PSSI yang dinilai bersikap tak adil buat mereka begitu mendominasi.

Momentum 10 November 2018 yang bertepatan pula dengan Hari Pahlawan menjadi menarik untuk mengingat perlawanan Bonek pada PSSI. Dua tahun lalu, tepatnya pada bulan November 2016, secara serentak semua komunitas Bonek di Surabaya dan sekitarnya meluapkan kemarahannya melalui spanduk. Surabaya yang sudah penuh dengan mural dan graffiti, saat itu ditambah lagi dengan spanduk yang bertebaran bertemakan membela Persebaya maupun luapan kemarahan hati Bonek pada PSSI.

Spanduk dalam artikel ini saya golongkan ke street graphics (desain grafis jalanan). Istilah ini bisa dianggap netral untuk tidak saja menyebutnya sebagai wujud seni jalanan. Spanduk, meskipun penerapannya ada di jalanan, secara fungsional medium spanduk untuk menyampaikan komunikasi. Dalam hal ini saya menempatkan spanduk sebagai medium yang memiliki nilai fungsional.

Spanduk dalam “Surabaya Melawan” menjadi media yang dipakai untuk menyuarakan perlawanan. Jangan dibayangkan bahwa mereka memakai jenis kain baru untuk dijadikan spanduk. Bahan yang dipakai selain adalah bahan yang baru juga dengan cara mencopot spanduk berbahan vynil yang telah terpasang sebelumnya di jalanan. Lantas bagian belakang yang kosong itulah yang kemudian menjadi medium untuk menuliskan dukungan pada Persebaya dan sebaliknya menuliskan caci maki pada PSSI. Teknis membuat spanduknya pun bermacam-macam. Ada yang menuliskan dengan cara manual maupun digital.

 

 

 

 

 

 

 

 

Politik Identitas

Ada dua pola yang dipakai dalam menamai suporter sepak bola yang ternyata juga berkaitan dengan pembentukan komunitas (Junaedi, 2017: 88). Pola pertama adalah suporter yang berkembang karena faktor kultural. Bonek dan Aremania adalah contohnya. Suporter ini mendapatkan nama berdasarkan interaksi simbolik yang terbentuk secara kultural. Sejak awal suporter ini tidak mengidentifikasi dirinya dalam satu organisasi yang diatur secara ketat dan mengatur secara ketat pula untuk anggotanya. Mereka berkembang karena memiliki kesamaan dalam mendukung klub yang sama.

Penyebutan Bonek sendiri adalah hasil interaksi simbolik antara fans Persebaya dengan koran Jawa Pos yang banyak memberitakan Persebaya. Bagi Jawa Pos, audiens mereka adalah fans Persebaya. Keberhasilan Persebaya menjadi juara di tahun 1988 menjadikan klub ini memiliki nilai berita yang tinggi. Jawa Pos menyebut suporter Persebaya ini sebagai suporter yang nekat. Dalam diri fans Persebaya pun menyambut hangat istilah “nekat” yang disematkan pada mereka.

Penyebutan Bonek pada diri mereka sendiri adalah sebuah kebanggaan. Meski di kemudian hari muncul pernyataan “dadi bonek kuwi gak gampang” atau yang berarti menjadi Bonek itu tidaklah mudah. Istilah ini pun akhirnya berkembang menjadi peyoratif yang bertujuan untuk menyerang karakter seseorang yang dianggap liar.

Pola kedua adalah suporter yang dikembangkan dengan struktur organisasi. The Jak (supporter Persija Jakarta), Pasoepati (supporter Persis Solo), Panser Biru (supporter PSIS Semarang), atau Brajamusti (supporter PSIM Yogyakarta) adalah contoh-contoh dalam pola tersebut. Mereka terbentuk dalam AD/ART yang dibuat secara jelas termasuk aturan ketat buat anggotanya. Pola ini juga memungkinkan adanya jabatan ketua supporter.

Dalam konteks spanduk Bonek, identifikasi diri mereka tergambarkan melalui perilaku kultural dan artefak budayanya. Pertama adalah selalu memunculkan simbol wong mangap atau gambar orang yang mulutnya menganga atau seperti berteriak. Simbol “wong mangap” ini lebih populer di kalangan Bonek menjadi penanda bagi kelompok suporter. Setiap ada simbol tersebut maka akan selalu diidentikkan dengan Bonek. Ada kebanggaan dan keberanian lebih jika menyematkan simbol ini dalam berbagai atribut.

Kedua, Bonek teridentifikasi melalui gerakan yang spontan. Kultur mendukung tim saat pertandingan tandang (awaydays) selalu mereka ikuti. Bonek akan berangkat tanpa menunggu instruksi senior-senior mereka atau koordinator wilayah masing-masing. Kultur ini juga melahirkan istilah yang namanya ‘estafet’ yaitu dengan cara nggandhol atau menjadi penumpang gelap truk agar sampai ke kandang lawan Persebaya. Mereka harus berganti-ganti tumpangan. Kultur ini menjadikan mereka memiliki ikatan kultural yang dekat.

Gerakan spontan inilah yang dalam perlawanan melalui spanduk mereka lakukan. Gerakan yang nekat, karena berhubungan dengan sistem tata kota maupun tata wilayah. Kemarahan atas keputusan PSSI menyulut Bonek memasang spanduk dengan berbagai gaya dan bahasa. Oleh karena gerakan spontan, maka Satpol PP harus menertibkan spanduk-spanduk yang tumbuh secara sporadis berikut juga kata-kata yang dianggap tak pantas dipertunjukkan di tempat publik. Sebagai operator penataan kota, mereka berhak melakukannya.

Di sinilah maka Bonek menjadi komunitas yang sangat berani berhadapan dengan sistem yang kaku tersebut. Istilah yang kemudian mengemuka adalah jika satu spanduk diturunkan, maka puluhan spanduk siap dipasang. Benar saja, ketika Satpol PP mencomoti spanduk Bonek satu persatu, Bonek menggeruduk kantor Satpol PP di belakang Balai Kota Surabaya. Hingga akhirnya “memaksa” Satpol PP memberikan titik-titik di kota yang diperbolehkan memasang spanduk.

Pada periode November 2016 hingga awal Januari 2017 itulah Surabaya benar-benar dikepung oleh spanduk Bonek. Hal ini masih belum terhitung dengan spanduk-spanduk yang dipasang di wilayah kampus. Bonek Campus, sebagai wadah untuk mengumpulkan komunitas-komunitas Bonek berbasis mahasiswa pun juga memasang spanduk di kampusnya masing-masing. Pihak pejabat kampus tentu saja berhak untuk menertibkan spanduk-spanduk yang terpasang tersebut. Meski demikian menurut Ujang, koordinator Bonek Campus (2016), kampus Universitas Muhamadiyah Surabaya adalah kampus di Surabaya yang mendukung penuh pemasangan spanduk di wilayah kampus. Sementara di kampus lain, Bonek-Bonek ini harus bergerilya untuk memasang spanduk di kampus mereka masing-masing.

Ketiga, Bonek teridentifikasi melalui salamnya yang khas yaitu “Salam satu nyali, wani!”. Salam ini berfungsi untuk membedakan dengan suporter lain. Bonek, menggunakan salam ini dengan mengedepankan semangat keberanian. “Wani” yang diambil dari bahasa Jawa berarti berani. Spanduk-spanduk yang dipasang oleh Bonek telah memenuhi unsur keberanian tersebut. Konotasi-konotasi yang termaknai dari bunyi-bunyi spanduk merujuk kepada mental keberanian Bonek yang merupakan representasi dari klub Persebaya itu sendiri.

Menurut penuturan salah satu dirijen Bonek, salam ini mulai muncul setelah suporter Persebaya mendukung Persebaya dalam pertandingan tandang melawan PSIM Yogyakarta tahun 2008. Interaksi dan proses sosial yang terjadi di kalangan Bonek inilah yang menjadikan salam ini cepat menyebar. Beberapa spanduk dan seni jalanan lain acap kali menuliskan salam ini dalam bentuk hashtag (#) seperti halnya di media sosial. Di sisi lain dalam hal keberanian, Bonek ini memulai dalam hal menerabas jarak kandang lawan. Mereka tidak berhitung seandainya suporter garis keras lawan menyerang atau mengintimidasi Bonek. Prinsip Bonek adalah asal tidak diserang duluan, mereka tidak akan menyerang. Bagi Bonek saat menyatakan diri mendukung Persebaya maka saat itulah mereka telah bersiap segalanya, baik modal maupun tekad.

Spanduk Bonek: Anti Kaidah Desain

Saat desain grafis menjadi komoditas, maka konsekuensinya adalah munculnya mistifikasi komoditas, seperti pada pemikiran Karl Marx. Mistifikasi dalam praktik sosial terjadi ketika suatu obyek diputuskan dari pembuatnya. Hal tersebut berimbas pada justifikasi obyek. Dalam praktik desain grafis wujud dari justifikasi adalah munculnya kemudian “strata sosial”.

Strata ini mewujud pada penilaian “baik” dan “buruk” sebuah obyek desain. Penilaian semacam ini merujuk pada wujud desain yang dibuat oleh desainer sekolahan ataukah desainer non sekolahan (amatiran; karya rakyat jelata). Gaya elegan karya desainer grafis sekolahan yang sarat dengan prinsip dan aturan desain modern dan desain bergaya naif karya rakyat jelata yang sering dinilai ‘buruk’.

Street graphics bukan monopoli desain modern, selain desain karya kelompok akademis, ada pula desainer non akademis atau desainer jalanan. Desainer semacam ini membuat desain berdasarkan pengalaman, intuisi, dan tradisi. Oleh karenanya mereka bekerja tanpa perencanaan dan sketsa. Spanduk Bonek yang tersebar di Surabaya dua tahun yang lalu ini bagai menginterupsi “tatanan sosial” dalam kaidah desain grafis. Jika pun ada spanduk yang dikerjakan dengan digital, maka Bonek ini tetap saja dimasukkan dalam kelompok yang suka mendesain dan mau belajar ilmu desain secara praktis. Termasuk juga dalam golongan ini adalah mereka yang merasa bisa mendesain karena kemudahan teknologi digital.

Jika pun spanduk juga banyak dikerjakan secara manual, kelompok ini sudah merasa puas jika telah bisa menulis (tipografi) di ruang publik serta mengatur komposisi sedemikian rupa. Teknologi digital berperan memperkenalkan publik kepada berbagai bidang komunikasi visual yang sebelumnya hanya bisa diakses para ahli. Sekarang setiap orang dapat mengomposisikan dokumen bertampilan profesional dengan menggunakan template software mutakhir.

Dalam street graphic design, Juan Carlos Meno, seorang penulis buku Mexican Street Graphics menyatakan bahwa kelompok desainer jalanan (amatiran; non sekolahan) ini memiliki sikap yaitu mereka tidak belajar aturan desain akademis, konvensi seni rupa, ataupun tren desain mutakhir. Mereka hanya terikat pada suatu persaudaraan, tradisi vernakular dan inilah yang membuat karya mereka bergaya unik. Mereka belajar secara otodidak dan memakai peralatan yang sederhana untuk membuat desain. Prinsip desain mereka adalah intuitif, imitatif, naif, dan unik.

Spanduk Bonek yang tersebar itu merupakan desain grafis vernakular yang dilahirkan dari prinsip desain di atas. Tidak peduli “grid”, tak peduli bikin copywriting yang menye-menye, begitu pula tak peduli dengan prinsip estetika yang sering kali orang tautkan dengan prinsip etika. Justru vernakularnya spanduk Bonek bagi saya lebih memiliki jiwa, keunikan, humoris, dan bersahaja daripada spanduk yang memenuhi kaidah desain sekolahan.***

 

Sumber Pustaka:

Junaedi, Fajar. 2017. Merayakan Sepak Bola: Fans, Identitas, dan Media. Yogyakarta: Buku Litera.

Mena, Juan Carlos dan Oscar Reyes Mena. 2002. Sensacional! Mexican Street Graphics. New York: Princeton Architectural Press.

Wirawan, Oryza A. 2016. Imagined Persebaya. Yogyakarta: Buku Litera.

 

*Artikel ini pernah diterbitkan di Majalah Mata Jendela Vol. XIII No. 4 Tahun 2018 dengan judul “Desain dalam Bal-Balan: 2 Tahun Jejak Perlawanan Bonek melalui Spanduk”.