Mural karya CAP12. Sumber foto: cak Joko Kristiono (@koncombonek).

Setelah terhenti karena ada parade tujuh gol Liverpool ke gawang Crystal Palace, maka yuk kita ngobrol lagi tentang seni jalanan.

Tulisan saya yang kedua adalah tentang karakteristik media yang sering muncul dalam seni jalanan. Meski demikian, seni jalanan sebagaimana karya seni lainnya pasti akan mengalami fase perubahan maupun pergeseran. Bagian ketiga ini, kita akan mencoba melihat apa pergeseran yang terjadi dalam seni jalanan? Tulisan ini meski lebih filosofis saya akan coba menyederhanakannya agar bisa dipakai sebagai “bahan bakar” untuk kalian-kalian yang setia di jalan seni jalanan.

—————–

Seperti dalam tulisan kedua, salah satu kelompok yang sering memanfaatkan seni jalanan adalah suporter sepak bola. Contohnya tentu saja fans Liverpool di kota Liverpool atau Bonek di kota Surabaya. Pernahkah terpikirkan mengapa supporter sepak bola sering menggunakan media ini? Apakah hanya untuk meluapkan eforia mengenai klub kebanggaan? Ataukah sebenarnya ada hal lain yang ingin disampaikan yang memiliki makna tersembunyi di balik suatu karya seni jalanan? Ini juga yang akan kita bahas terkait strategi dalam seni jalanan.

Mural di kota Liverpool (kiri) dan mural karya BIMS di Surabaya (kanan). Liverpool dan Surabaya adalah “sister city” yang memiliki kemiripan di segala sisi, termasuk budaya sepak bola. Sumber foto kiri: internet. Sumber foto kanan: dokumentasi pribadi.

Sebelum ke strategi itu, maka mari kita bicarakan tentang apa yang berubah dan mengalami pergeseran jika kita bicara seni jalanan kiwari. Kiwari ki artine “terkini; sekarang”, Rek. Ben rada nggaya sithik! Sekalian kita bicarakan tentang spiritnya seni jalanan itu sebenarnya apa? Apa yang ingin dinyatakan oleh para street artist itu?

Pernah ndak kalian tukaran dan eyel-eyelan tentang istilah saat melihat suatu karya seni jalanan? Tipis-tipis seperti artikel kedua kemarin. “Kok graffiti? Itu kan ada gambarnya? Berarti ini namanya mural, Blok!”. Lalu pantun berbalas pantun. “Ini namanya graffiti, soale nggawene nganggo Pylox!”. Begitulah awal persahabatan antar insan sesama jenis kelamin yang diambang kehancuran.

Jadi, kini ada kecenderungan kita tidak bisa secara tegas bilang ini graffiti atau itu mural. Dua media itu memang dominan dipakai dalam seni jalanan. Jadi wajar jika kita menyebutkan dua media itu saja. Media yang lain sangat jelas perbedaannya sehingga jarang menimbulkan pertengkaran di status WA.

Seniman jalanan ki yo mblenger lek nggawene ngono-ngono terus. Makanya ada seni jalanan yang kini mulai menggabungkan banyak unsur. Dibilang graffiti kok ndak cuman tulisan tapi kok ya ada gambarnya? Dibilang seni instalasi kok ada muralnya? Dibilang mural kok tulisannya besar-besar tapi ada gambarnya? dan segala jenis keruwetan yang tidak sengaja dibuat oleh seniman itu sendiri. Seni itu sederhana, yang bikin ruwet itu dosen seni rupa hahahahaha…

Pernah ada suatu gelaran pameran seni jalanan. Banyak yang bingung dan mempertanyakan. “Katanya pameran seni jalanan? Kok ndak di jalanan?”, kata seorang pengunjung pameran yang kedinginan di ruang galeri ber-AC, malam itu.  Ada juga seorang seniman jalanan yang ikut pameran dengan memamerkan karyanya berupa graffiti yang dianimasikan. Karyanya diproyeksikan ke dinding besar di dalam galeri itu. Jika kamu tahu 3D video mapping, nah seperti itulah karyanya. Tentu saja tak ada belepotan cat maupun bau menyengat khas aerosol di dalam ruangan berukuran 4 meter x 4 meter dan tinggi sekitar 4,5 meter itu. “Ini karya apa sih? Mau dibilang graffiti tapi kok animasi?”, Tanya seorang pengunjung yang lain.

Lur, pergeseran-pergeseran itulah yang disebut sebagai post-graffiti. Jadi daripada pusing melihat pembedaan-pembedaan yang makin tipis saja antar seni jalanan, paling gampang jika ditanya ya bilang saja: “Oh, kalo itu namanya post-graffiti, Say!”. Dia pasti akan lebih terkesima dan bangga jalan bareng kamu.

Bentuk media itu kini marak sekali dalam dunia seni jalanan. Jalanan akhirnya bukan lagi bicara tentang “ruang publik” yang kerap bikin hubungan panas dingin dengan pemerintah kota. Jalanan juga bukan lagi bicara tentang territorial, karena beberapa karakter post-graffiti memungkinkan karya yang sama dipindah ke ruang publik yang lain dalam waktu cepat. Seni jalanan pun juga bukan dominasi cat tembok atau cat aerosol. Seni jalanan dalam post-graffiti sangat terbuka dalam melibatkan teknologi.

Nah, jika agak filosofis sedikit, maka apa yang ada dalam post-graffiti merupakan bentuk negosiasi atas palsunya ruang publik. Apa maksudnya?

Begini.

Ruang publik seringkali diidentifikasikan sebagai ruang terbuka yang tidak di”kuasai” oleh siapapun. Semua boleh merespon apa yang dinamakan ruang publik.

Ada seorang filsuf namanya Jurgen Habermas. Dia orang Jerman. Tahu Jurgen Klopp, kan? Nah, Klopp itu manajer Liverpool yang baru saja diberi penghargaan sebagai The Best FIFA Men’s Coach 2020. Jadi Jurgen Habermas itu bukan saudaranya Jurgen Klopp. Habermas bilang, bahwa ruang publik itu suatu ruang yang diperlukan dalam demokrasi. Menurutnya, ruang publik adalah ruang yang mandiri, bebas dari kekuasaan, serta bersifat setara. Yakin?

Seandainya ruang publik memiliki karakter demokratis seperti itu, maka kenapa ada “pembuangan” anak-anak seni jalanan yang tertangkap Satpol PP ke Liponsos tahun 2012 yang lalu? Atau kenapa ada pemutihan mural Gate17 di Jl. Embong Malang dan Jl. Rajawali? Yang terbaru, kenapa ada “perusakan” graffiti Bonek di Gunung Sari?

Foto yang tersebar di grup WA Bonek Writer Forum.

Nah, oleh orang-orang kritis semacam Ranciere (sopo maneh iki?), retorika ruang publik-nya Habermas tersebut dianggap palsu. Ndak sesuai kenyataan di lapangan.

Makanya kemudian Ranciere menawarkan konsep yang disebutnya sebagai “an-arche”. An-arche ini kurang lebih seperti sikap “sepakat untuk tidak sepakat” atau “memilih untuk tidak memilih”, begitulah. Disagreement, begitu Ranciere menyebutnya pula. Oh, iya Ranciere itu filsuf yang berasal dari Prancis. Negara sepak bola-nya Diego Maradona. Ho’oh!

Pandangan Ranciere ini melandasi pada perjuangan atau perlawanan bagi orang-orang yang tak dianggap. Kayak kamu di depan mata cewek yang kamu taksir, gitu. Ndak dianggap. “Orang-orang yang tak dianggap” atau mereka yang tak ikut dihitung (kayak kamu!) dianggap nggak penting bagi kekuasaan yang dominan.

Jadi lur, politik itu sebenarnya ada di sekitar kita sendiri. Bahkan kita sendiri berpolitik. Kalo partai-partai politik itu namanya politik praktis. Beda dengan politik yang saya maksud. Tapi sekumpulan ide, cara kita mikir, dan konsep-konsep yang kita pegang teguh itulah namanya politik. Nah, bagi Ranciere, politik itu seharusnya juga mengikutsertakan mereka yang tak dianggap atau tak dihitung itu. Intinya, kamu punya peluang sebelum janur kuning melengkung buat menikung di belokan, lur! Yakin!

Ranciere bilang inilah yang disebut sebagai anarki (asal katanya ya an-arche itu tadi). Jadi fix ya Rek, anarki itu bukan perusakan. Bukan kriminalitas. Anarki itu cara berpikir yang berbeda. Jadi jika kamu menulis sesuatu, please, jangan pernah menulis lagi “anarki” atau “anarkistis” untuk maksud mengenai tindak kriminal merusak fasilitas kota. Dampak pemikiran yang berbeda memang dahsyat. Kamu yang tak sepaham mungkin akan berpikir: orang aneh; arek rame ae!; rewel!. Karena maksud mereka adalah untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan. Sederhananya maksud “anarki” itu ya gitu itu. Btw, Ranciere itulah yang kemudian disebut sebagai salah satu filsuf anarkisme.

Ujung dari pemikiran Ranciere itu sebenarnya menuju pada kesetaraan dan emansipasi. Jadi, seni jalanan akan terus ada sebagai usaha dalam mewujudkan kesetaraan itu. Jika di jalan pengadilan kita seakan-akan terus coba “dikalahkan”, maka tak ada pilihan lain, kecuali melawan di jalan seni jalanan! Nah itulah spirit seni jalanan.

————

Sumber foto: internet.

Ingat lagunya Iwan Fals berjudul “Coretan Dinding” yang diciptakan pada tahun 1992? Jika belum tahu putar lagu itu di Youtube. Dengarkan liriknya:

Coretan di dinding membuat resah / Resah hati pencoret /… / Tapi lebih resah pembaca coretannya / Sebab coretan di dinding / Adalah pemberontakan kucing hitam / Yang terpojok ditiap tempat sampah, ditiap kota / … / Musuhnya adalah penindas / …

 Mungkin secara kebetulan, Iwan Fals ingin menohok lagu “Tangan-Tangan Setan” (1985) ciptaan Ian Antono dan dinyanyikan lady rocker, Nicky Astria. Bandingkan lirik lagunya:

Tangan-tangan setan telah mulai menuliskan kata asal jadi / di setiap dinding dan di jalanan / menghilangkan keindahan wajah kota / jadi ternoda penuh coret-coretan tangan setan / … / ayo pelihara kotamu / hentikanlah tangan setanmu / …

Bagaimana? beda banget ya? Mungkin, Iwan Fals mewakili mereka yang nggak dianggap sehingga bersuara lewat grafiti, sementara Nicky Astria mewakili golongan mapan yang nyaman dengan keadaan. Lagian aneh ya tumben-tumbennya rocker jiwanya nganu…ah sudahlah!

Pantun berbalas pantun. Lagu dibalas lagu. Jika tidak terima dengan pemikiran orang lain ya balaslah dengan caranya. Itu kira-kira yang dilakukan Iwan Fals pada Ian Antono hehehe…Jadi jika aparatus ideologi negara tidak suka dengan grafitinya Bonek ya bikinlah grafiti juga di tempat yang sama. Asik kayaknya, kan? Lebih demokratis.

Dalam pandangan kekuasaan, kata “indah”, “bagus”, “menarik”, “potensial”, “estetika kota”, dan lain-lain ada dalam kamus mereka. Jadi, itulah kenapa setiap kali ada orang yang bikin mural selalu ada pertanyaan: “sudah ada ijinnya, belum?” atau pernyataan: “gambarmu merusak estetika kota, mbak!”. Nah, bentuk pertanyaan dan pernyataan itulah yang disebut sebagai konsensus. Seakan-akan estetika dan keindahan itu yang boleh membicarakan adalah mereka yang berkuasa. Arek-arek nggedibal kayak kita seolah-olah ndak punya hak bicara seperti itu. Bagi mereka, biarlah yang berkuasa yang menentukan aturan main, kita hanyalah diminta nggambar saja sesuai aturan main itu.

Itulah yang menjadi “perlawanan” bagi Ranciere. Bentuk relasi seperti itu dianggap tidak setara. Jadi jika ditanya apakah spirit seni jalanan itu? Ya, kesetaraan! Egaliter! Perlawanan menjadi jalan. Perlawanan itu tidak harus antem-anteman, kan? Mereka punya konsensus (tatanan), kita punya disensus (yang tidak harus sesuai kesepakatan berdasarkan tatanan).

Makanya, saya juga sering ditanya begini: “Jadi, harusnya minta ijin ataukah tidak, untuk bikin mural?”. Saya sering menjawab demikian: “ Jika pengen nggarapnya ndak ndredeg dan kayak dikejar setan ya berijinlah, toh pesan yang ingin disampaikan sama-sama nyampainya ke orang yang lihat kan? Itu bentuk negosiasi. Gak usah mikir keren atau ndak keren jika meminta ijin. Toh sama saja kok. Tapi jika kamu ndak ingin ribet-ribet dengan aturan dan stempel sana-sini, ya ndak usah pakai ijin. Toh jika pun ketahuan dan disuruh memutihkan lagi ya sudah, putihkan lagi saja. Nanti baru cari strategi lagi buat bikin tanpa harus minta ijin. Gitu saja!”.

Yang bergetar mendengar saya bicara begitu biasanya mereka lapar. Tapi tak jarang ada juga yang nyambung bilang begini: “Ah, capek, kak! Iya kalo diijinin! Kalo ndak diijinin, gimana?”. Jawab saya biasanya kembali ke jawaban di awal. Gitu terus. Mbulet. Nah daripada pertanyaan itu-itu lagi hingga saya menua menunggu Timnas Indonesia masuk Piala Dunia, saya akhirnya menjawab: “Yo wis…turuo! hehehe…”. ***

 

Minggu yang ceria.

20/12/2020 | 17.30