Wheat-paste karya artivis, Ivana Kurniawati di Jl. Gubernur Suryo (depan Balai Pemuda) Surabaya. Dibuat tahun 2017. Sumber foto: dokumentasi pribadi.

Artikel ini dibuat sebagai pengayaan saja. Beberapa sudah banyak bertebaran di Google. Sebagai penambah asupan, artikel ini akan memberikan perspektif lain yang semoga berguna bagi gerilyawan-gerilyawan yang berjuang di jalanan. Akan saya bagi dalam beberapa bagian untuk memudahkan pembacaan.

 

Dalam beberapa hari ini (16 hingga 18 Desember 2020) Surabaya khususnya Bonek dihebohkan dengan aksi penghapusan salah satu karya seni jalanan (saya tidak menyebutnya mural. Nanti saya jelaskan di bagian lain artikel ini) yang dibuat oleh Bonek di Gunung Sari. Tak menunggu lama, unggahan mengenai hal tersebut mewarnai jagat dunia maya dan tersebar secara massif. Tak menunggu lama pula, aksi penghapusan itu justru menjadi bahan bakar buat Bonek untuk membuat hal serupa di titik-titik wilayah lain di Surabaya. Mungkin di sinilah: “perlawanan” dimulai.

Jadi seperti apa sebenarnya respon yang seharusnya dilakukan dalam menanggapi hal tersebut? Apakah saling berbalas ataukah meminta klarifikasi dari pihak yang menghapus atau seperti apa. Yang tak kalah pentingnya adalah, sebenarnya seni jalanan itu seperti apa? Apakah seni jalanan itu memang penuh perjuangan (ada aroma perlawanan) ataukah penuh puja-puji seperti mural-mural di kafe-kafe sehingga perlu sekali untuk mengunggahnya di Instagram sebagai ritualitas menghargai karya seni?

Di awal tulisan ini, saya justru berpandangan: seni jalanan memang harus dirusak! Jika perlu pembuatnya harus dicari-cari hahaha…Sabar!… Saya akan menjelaskannya.

Seni Jalanan

Definisi ilmiah tentang seni jalanan sudah bisa dicari di Google. Banyak. Saya sendiri pernah juga menuliskannya di empat judul untuk jurnal ilmiah sekitar tahun 2005 hingga 2013. Setelah saya lacak di Google Scholar, empat artikel itu sudah disitasi (jadi rujukan) oleh total 49 artikel ilmiah lain. Ndak banyak yang menyitasi hehehehe…tapi lumayanlah buat jadi pansos.

Saya tidak akan banyak menjelaskan tentang definisi itu daripada berulang-ulang. Anda bisa melacaknya di Google. Sudah banyak yang menuliskan hal ini. Intinya, seni jalanan itu ya yang memanfaatkan jalanan sebagai media dan arena dalam berkarya.

Kini kita menyebutnya sebagai karya seni. Namun jika kembali melacak karya seni jenis ini, karya ini barangkali adalah yang tertua. Ia sudah ada di gua-gua purba. Di Indonesia banyak tersebar di Sulawesi. Artinya apa? Artinya seni jalanan yang selalu merujuk pada karya seni di gua-gua ya memang awalnya bukan karya seni. Lebih tepatnya, sebagai media komunikasi saat tulisan belum banyak dikenal. Simbol-simbol menjadi bahasanya.

Intinya juga, bentuk media komunikasi itu belum dikenal juga di ruang terbuka. Berada di dalam gua, mengindikasikan bahwa lukisan di gua-gua itu memang diperuntukkan buat kalangan mereka sendiri. Secara arena, itu juga bukan karya publik tapi karya yang berada di ruang privat atau interior.

Pertanyaan selanjutnya adalah lantas kenapa seni jalanan selalu dikaitkan dengan “karya” di ruang privat seperti gua-gua itu? Banyak ahli mengatakan bahwa meskipun itu di gua, namun konteksnya adalah ruang terbuka. Benarkah demikian? Jelas tidak. Manusia purba memperlakukan gua tetap sebagai ruang privat. Batas teritorial tetap ada. Nah, justru di sinilah pentingnya.

Saya menduga bahwa filosofi dalam berkesenian di ruang yang (seolah-olah) terbuka yang diambil, bukan arenanya. Tak peduli juga medianya apa. Asal bisa membawa pesan komunikasi. Orang purba memanfaatkan zat yang keluar dari tumbuhan maupun dari hewan. Pada bagian lain saya akan menjelaskan pentingnya “ruang” sebagai arena kontestasi dalam membuat seni jalanan.

Jenis Seni Jalanan

Jika membicarakan jenisnya atau medianya apa, seni jalanan barangkali media yang tepat dipakai untuk mereka yang sedang mengawali membuat karya seni hehehe…Mengapa? karena kita sudah terbiasa melihat contekan rumus di meja sekolah. Atau membuat coretan di tembok waktu kita masih kecil dulu dan orang tua kita memarahi, karena bikin kotor. Atau pernah juga ada yang suka dengan cewek dan menuliskan nama cewek itu di tembok WC sekolah atau di tembok kamar. Saat ternyata cewek yang ditaksir sudah gandengan dengan cowok lain, kita buru-buru menghapus coretan di kamar atau mencoret namanya dari WC sekolah dengan tambahan kata “Bangsat!” hahahaha…

Artinya, seni jalanan itu sudah jadi bibit kita sejak dari kecil. Lalu kapan bentuk-bentuk seperti itu menjadi “karya seni”. Ya saat ada teman kita atau orang lain bilang: “wah, kreatif sekali kamuhhh!…” nah, sejak itulah kita sudah kayak seniman.

Jika dipupuk ya sekarang Anda bisa jadi seniman jalanan. Jika tidak dipupuk, mungkin Anda sudah jadi kayak aparatus ideologi negara yang mengatakan seni jalanan hanya bikin kotor saja. Atau mengingatkan pada romantisisme itu tadi, bahwa dulu kita sudah pernah bikin dan pernah terluka karenanya hahaha…

Nah, jika dipupuk, maka jenis seni jalanan bisa berwujud grafiti, mural, poster, sticker, wheat-paste, stencil, seni lukis slebor becak, lukisan di bak truk, spanduk, juga seni instalasi. Dalam bentuk seni pertunjukan, seni jalanan pun juga ada, seperti mereka yang ngamen di perempatan jalan atau berpantomim di tempat keramaian. Ada pula yang bikin flash mob dan berpuisi di ruang terbuka. Dulu saat saya masih di Jogja dan bus jadi favorit penumpang umum, sering saya jumpai mereka yang berpuisi di atas bus. Bukan hanya untuk ngamen, tapi juga untuk mencari simpati cewek yang duduk di kursi penumpang. Romantis, bukan?

Jadi seni jalanan bukan hanya dalam wilayah seni visual tapi seni pertunjukan (performance). Nah ini yang kadang kita salah-kaprah dengan hanya menyebutkan seni jalanan sebagai seni visual. Mungkin bukan salah-kaprah hanya kita belum mengetahuinya saja.

Dalam bagian artikel lain, saya akan menjelaskan karakteristik media-media itu. Juga selalu ingatkan saya untuk menjawab pertanyaan: mengapa saya mengatakan seni jalanan memang harusnya dirusak? ***

 

Sabtu yang gloomy

19/12/2020 | 15:30