Dalam film “Soegija” (2012) digambarkan ada suatu adegan tentang penyiar radio. Ia mengabarkan tentang kedatangan Jepang. Begitu pula dalam film “Soerabaia ‘45” digambarkan Bung Tomo yang sedang pidato di depan corong radio. Saat penyiar radio di film “Soegija” memberitakan tentang kedatangan tentara Jepang dalam bahasa Jawa: “Jepang teka! Jepang teka! (Jepang datang! Jepang datang!)”, berapa banyak interpretasi tercipta dari dua kata yang disebutkan itu. Itu hal sederhana untuk menyebutkan betapa kita terbiasa dengan tradisi lisan. Tradisi yang biasanya di-“tutur-tinularkan” melalui pemilihan diksi, mitos, dan ditransmisikan secara horizontal maupun vertikal.

____

Jika dulu belum ditemukan media elektronik seperti radio, maka tradisi lisan dapat terbangun salah satunya melalui komunitas yang saling terhubung. Pengetahuan pun biasanya disampaikan serta dipelajari melalui penceritaan kembali (oral retelling). Karakteristik yang cenderung homeostatic ini tidak mengalami perubahan sosial secara cepat.

Saat ditemukan tradisi cetak barulah perubahan sosial dalam konteks komunikasi tersampaikan secara lebih cepat. “Penceritaan kembali” bisa didapatkan dengan membaca. Dikenal kemudian tradisi menulis yang melahirkan koran, majalah, maupun buku. Demikian pula ketika kemajuan teknologi seperti ditemukannya radio maupun televisi, maka informasi pun lebih cepat menyebar.

Orang selain berimajinasi melalui media radio bisa pula melihat bentuk (form) dari yang diceritakan. Nah, proses komunikasi yang berawal dari kemajuan teknologi inilah yang kemudian disebut sebagai kelisanan kedua (Walter J. Ong; 1982).

Ayah saya adalah salah satu pencerita yang baik mengenai klub sepak bola tanah air, Persebaya. Masih mengendap dalam ingatan saya, bagaimana kami mendengarkan pertandingan antara Persebaya melawan Persija di depan radio kecil kami di Kediri. Saat terjadi gol yang diberitakan oleh komentator radio di RRI itu, kami pun sontak berteriak bersama dalam kotak bersuara tadi.

Cerita nostalgia tadi pasti dialami pula oleh para ayah yang melahirkan fanatisme klub sepak bola pada anak-anaknya yang mungkin sekarang telah berkeluarga, sementara sang ayah telah menjadi kakek. Dalam hubungannya dengan tim sepak bola nasional, Belanda dan Argentina adalah dua negara yang sering disebut ayah saya jika bercerita tentang hebatnya tim sepak bola di luar negeri.

Ruud Gullit, Marco van Basten, Frank Rijkaard, serta Mario Kempes adalah nama-nama yang sering menghiasi cerita itu. Entah negara mana yang disebut oleh ayah-ayah Anda, sehingga kita memiliki imajinasi tentang hebatnya tim nasional di sebuah negara. Yang jelas, tradisi lisan mengenai sepak bola bisa saja terjadi hingga sekarang, meski kini telah masuk dalam wilayah kelisanan kedua berkat perkembangan teknologi sejak ditemukannya televisi, DVD hingga youtube.

Jika tradisi lisan generasi pertama lebih mengandalkan “penceritaan kembali”, maka tradisi lisan generasi kedua (kelisanan kedua) lebih mengandalkan pencitraan-pencitraan secara visual. Hal inilah yang kemudian melahirkan yang namanya budaya visual.

Dalam tradisi lisan pertama, kebanggaan atas sebuah klub karena “penceritaan kembali” dari orang yang lebih dulu mengetahui klub tersebut, maka kebanggaan itu bisa diejawantahkan dalam semangat (spirit). Kecintaan atas klub sepak bola bisa mendarah daging bahkan memengaruhi ritme hidupnya. Imajinasi menjadi sangat liar. Dampak berikutnya adalah menumbuhkan komunitas-komunitas yang memiliki kecintaan yang sama. Di sinilah fanatisme tercipta.

Dalam tradisi lisan pertama ini hampir jarang ditemui analisis modern a la pundit bola yang secara objektif menilai kualitas klub yang dicintai itu. Bahkan tradisi lisan pertama membuat kita enggan mendengarkan kisah kehebatan tim lain. Hal ini terjadi karena kecintaan yang telah mendarah daging melalui “penceritaan kembali” serta melahirkan semangat dalam bentuk fanatisme.

Senjata utama dari tradisi lisan ini adalah sejarah. Sejarah dijadikan mitos, atau dengan kata lain sejarahlah yang menentukan prospek sebuah klub atau tim nasional suatu negara. Klub atau negara yang tidak mempunyai “sejarah” dalam sepak bola hampir mustahil dijadikan sebagai unggulan dalam sebuah kompetisi sepak bola.

Dalam kelisanan kedua, maka mau tidak mau, suka atau tidak suka, pencitraan secara visual dari klub lawan bisa dinikmati tiap hari. Tidak hanya melalui televisi, namun juga melalui t-shirt, stiker di mobil, sampul DVD tentang gol-gol legendaris, film, tayangan di Youtube, mural, graffiti, topi, bahkan juga mimpi.

Kemunculan media-media pop itu bisa mereduksi derajat fanatisme atau bahkan justru lebih menaikkan derajat fanatisme. Hal ini dipicu atas makin terbukanya kita karena kemudahan media, bahwa ternyata ada klub yang lebih hebat di luar yang dituturkan. Pilihannya adalah apakah masih setia atau mulai berganti haluan.

Jika kemudian kemunculan media-media pop tersebut justru lebih menaikkan gengsi fanatisme, maka rusuh antar suporter bisa terjadi hanya karena provokasi gambar yang ada di t-shirt, gerakan provokatif pencetak gol saat selebrasi di televisi, keberbedaan warna kaus yang dipakai di stadion, stiker klub lawan yang ditempel di mobil, atau hanya karena plat mobil yang menunjukkan kota dari klub lawan. Kelisanan kedua dalam budaya visual menjadi demikian banal, vulgar, dan serba mempertontonkan dipandang sebagai sebuah kewajiban dalam penanda identitas.

Kelisanan kedua berikutnya yang juga memunculkan representasi dari kompetisi sepak bola di Eropa ini adalah melalui maskot. Dalam sejarah tradisi lisan generasi pertama, segala citraan visual hanya terekam dalam ingatan, semangat, dan mitos. Tentu saja dengan konstruksi-konstruksi yang sangat bebas untuk diimajinasikan. Nah, dalam kelisanan kedua ini, penyelenggaraan acara tidak cukup hanya diwakili oleh logo melainkan juga maskot.

Kompetisi sepak bola di Eropa saja baru sadar pentingnya maskot pada tahun 1980 saat penyelenggaraan Euro Cup di Italia. Maskot pertamanya adalah Pinokio. Sebagai catatan, maskot sendiri sudah lama dipakai oleh berbagai kegiatan organisasi di dunia sejak tahun 1800-an. Jika dalam era teknologi pada akhirnya maskot menjadi citra visual yang penting, maka bisa ditarik kesimpulan, kelisanan kedua menjadikan segala sesuatunya menjadi demikian menarik dan menghibur.

Sekarang semua orang memiliki versi sendiri siapa yang dijagokannya. Bukan oleh pengaruh satu orang dan turun temurun, melainkan oleh citraan-citraan visual yang sering dijumpai oleh mata dan membentuk opini sendiri melalui kelisanan kedua.***

——

*Artikel ini adalah hasil dari bongkar-bongkar email tanggal 18 Juni 2012. Konteks artikel di atas adalah saat ada gelaran Euro Cup 2012.