Nadoveza Branko adalah buah bibir di Surabaya ketika dia tiba pertama kali di Bandara Juanda, Surabaya pertengahan tahun 1995 silam. Dia bersama Dejan Antonic dan Plamen Kazakov disambut bak artis telenovela ketika itu oleh ratusan suporter Persebaya Surabaya.

Melakoni berbagai pertandingan uji coba pramusim, striker asal Yugoslavia ini bermain stabil, menarik dan mampu mencetak gol. Ditambah lagi parasnya yang mirip seperti artis, maka tak ayal namanya pun dielu-elukan oleh banyak suporter yang menyaksikan langsung di lapangan hijau kala itu.

Hingga akhirnya Branko merasakan ujian sesungguhnya, kompetisi Liga Dunhill II 1995/96. Lawan perdana adalah Persegres Gresik, yang diatas kertas mudah dilumat oleh Aji Santoso dkk. Namun apa yang terjadi? Persebaya hanya mampu menang tipis 1-0 melalui gol tunggal Dejan Antonic dan Branko menyia-yiakan banyak peluang emas.

Publik pun masih sabar menunggu dari pertandingan ke pertandingan. Namun ternyata penampilan Branko memang “begitu-begitu” saja. Sering “mejen” alias mandul di depan gawang lawan dan kurang bertenaga ketika melawan pemain musuh menjadi catatan khusus pemain bernomor punggung tujuh ini.

Pengurus Persebaya pun pada akhirnya mencoret namanya di akhir putaran pertama kompetisi. Tapi Branko masih beruntung bisa memperoleh klub baru. Di putaran kedua, pemain berkarakter “stylish” ini bergabung dengan klub sekota, Assyabaab Salim Grup Surabaya (ASGS). (dpp)