Salam Satu Nyali…

Surabaya adalah Persebaya. Surabaya adalah Bonek. Stigma itu kini seolah sudah melekat. Setidaknya itu yang menjadi perhatian kami, Bonek Writer Forum (BWF). Bahkan pada saat pandemi Covid-19, nama Bonek ribuan kali disebut, terutama yang berkaitan dengan aksi nekat. Netizen menuliskan ’Bonek’ untuk merepresentasikan tindakan masyarakat Surabaya saat menghadapi pandemi ini.

Sebagai kelompok suporter asal Surabaya, sudah pasti Bonek adalah pendukung setia dan memiliki militansi tinggi untuk Persebaya, klub sepak bola asal kota pahlawan. Atas dasar kecintaan kepada Persebaya inilah BWF yang beranggotakan Bonek penyuka literasi sepak bola terbentuk.

Tujuan BWF sangat sederhana: mengembangkan dunia literasi sepak bola. Kami mendirikan situs khusus untuk kisah-kisah Persebaya dan Bonek dengan alamat www.sejarahpersebaya.com. Situs ini terbuka bagi siapa saja untuk berpartisipasi.

Menyambut HUT Persebaya ke 93, 18 Juni 2020, anggota BWF ingin mengenang dan berbagi pengalaman terkait dengan Persebaya, kenangan sedih, pahit, senang, dan manis. Mulai dari kenangan di Tambaksari, kecopetan, jual sepeda agar bisa menonton Persebaya, hingga sandal pedhot.

Kami ingin bernostalgia masa kanak-kanak dan remaja kami dengan Persebaya melalui Koran BWF ini. Harapannya, kami bisa menginspirasi khalayak tentang dunia tulis menulis. Gol terakhir yang kami inginkan adalah literasi tentang sepak bola tidak akan pernah mati.

Setelah menerbitkan buku pertama berjudul Make Persebaya 92eat Again di tahun 2019, Akhir Mei 2020 lalu BWF kembali menerbitkan buku ke dua yang didedikasikan untuk pencegahan dan penanganan Covid-19, berjudul Tolak Bala Sepak Bola.

Saat ini, Bonek bukan hanya sebuah kelompok suporter. Bonek saat ini sudah menjadi konstruksi sosial masyarakat, terutama di Surabaya. Apapun yang terkait dengan Surabaya selalu dihubungkan dengan Bonek. Nek Aku Bonek Koen Kate Lapo?

WANI!
Tukang Kentheng

KORAN BWF