Ahmad Junaidi adalah pengguna kostum bernomor punggung sembilan belas sebelum digunakan oleh (alm.) Eri Irianto di musim 96/97 dan nomor ini dipensiunkan di tahun 2000 silam. Penyerang gesit asal Probolinggo ini memakai nomor tersebut di dua tahun pertama penyelenggaraan Liga Dunhill. Yakni di musim 94/95 dan musim 95/96.

Penyerang muda ini awalnya menimba ilmu sepak bola di klub PS Akas Probolinggo. Sebelum akhirnya direkrut pada tahun 1993 oleh klub anggota kompetisi internal Persebaya, PS Suryanaga yang dimiliki oleh Michael Sanjaya.

Di dua musim awalnya bersama Tim Bajul Ijo, Ahmad Junaidi banyak mendapatkan ilmu dari para seniornya sesama penyerang di dunia Sepak Bola. Diantaranya Ibnu Grahan, Dodik Suprayogi dan Muhammad Ajid. Meski ketika itu jarang diturunkan secara reguler, tak jadi permasalahan besar bagi seorang pemain muda sepertinya.

Ketika kontraknya tak lagi diperpanjang, Juned, panggilan akrabnya, kemudian berturut-turut mencoba peruntungan dengan bermain bersama Mitra Surabaya, PKT Bontang dan Arema Malang. Dirinya membawa PKT Bontang menjadi runner-up di Liga Indonesia VI musim 1999/00. Sedangkan di Liga Indonesia VII musim 2001, Ahmad Junaidi yang berkostum Arema Malang menjelma menjadi striker tajam dengan torehan 14 gol. Hal inilah yang mengundang minat Persebaya Surabaya untuk merekrut kembali Ahmad Junaidi untuk musim selanjutnya.

Dan memang sejarah menuliskan bahwa akhirnya Ahmad Junaidi membubuhkan tanda tangan kontraknya bersama Persebaya Surabaya di Liga Indonesia VIII musim 2002. Namun sayang, konflik internal di kubu Tim Bajul Ijo saat itu membuat performa tim anjlok dan berimbas kepada penampilan Ahmad Junaidi pula. Sepanjang musim yang memalukan ini Arek Probolinggo ini hanya mengemas satu gol serta akhirnya Persebaya harus degradasi untuk pertama kalinya dalam sejarah. (dpp)