Persebaya Juara

SP – Usai menjuarai Divisi I (kini setara Liga 2) 2003, Persebaya langsung berbenah menghadapi Liga Indonesia 2004. Liga yang disponsori Bank Mandiri ini bertitel “Liga Pro X”, mengacu pada penyelenggaraan ke 10 Liga Indonesia sejak 1994. Kasta tertinggi Liga Indonesia musim itu menganut sistem kompetisi penuh, artinya setiap klub harus sanggup mengarungi kompetisi dengan mengunjungi semua Pulau dari Sumatera hingga Papua.

Green Force yang tidak mau ketinggalan kereta, langsung melakukan perekrutan para pemain bintang lokal & asing seperti Hendro Kartiko, Kurniawan Dwi Yulianto, Yeyen Tumena, Anang Ma’ruf, Sugiantoro, Uston Nawawi, Danilo Fernando, dan Christian Carrasco. Para pemain yang berjasa membawa Persebaya promosi ke kasta tertinggi  Liga Indonesia seperti Khairil Anwar, Endra Prasetya, Mursyid Effendi, dan Leonardo Gutierrez masih dipertahankan. Pelatih Jacksen F. Tiago pun juga masih dipertahankan dalam tim, dengan support penuh dari manajer baru Saleh Ismail Mukadar.

Awalnya, perjalanan Persebaya sangat mulus di awal musim. Dengan materi pemain bertabur bintang, kemenangan-kemenangan dengan skor besar beberapa kali diraih di Tambaksari, seperti kemenangan atas Semen Padang & Persikota masing-masing dengan skor 5-0, Persipura dibabat 4-1, dan juara bertahan Persik Kediri pun dikalahkan dengan skor 2-0. Dalam laga penuh rivalitas dengan Persela pun Persebaya mampu tampil superior di Stadion Surajaya Lamongan dengan kemenangan telak 4-0 sekaligus membungkam Lamongan fans yang meneror Persebaya sepanjang laga.Bonek pun seolah teringat kembali dengan kejayaan Green Force era 1997 yang begitu digdaya menjadi juara dengan kemenangan-kemenangan dengan skor telak.

Namun kenyataan kadang tak seindah impian. Memasuki putaran kedua, grafik permainan Persebaya terus mengalami penurunan. Diawali dengan kekalahan 0-1 dari PSS Sleman di kandang sendiri, lalu kemudian kalah 0-1 dari Persik di Kediri, dan puncaknya adalah kekalahan memalukan dari Persela Lamongan 0-1 di Tambaksari yang disusul kerusuhan besar oleh Bonek yang mengamuk dan merusak Stadion Gelora 10 November Tambaksari. Di sisi lain, PSM dan Persija terus melaju. Pada bulan Agustus 2004, Green Force pun hanya berada di peringkat ketiga di bawah dua seteru klasik itu. Semua seolah gelap. Harapan juara nyaris sirna.

Keretakan internal pun menyeruak. Bonek yang kecewa dengan performa para pemain Persebaya mulai meneror para pemain pujaan mereka sendiri saat sesi latihan resmi tim. Khairil Anwar yang coba menegur justru menjadi korban aksi pemukulan oleh beberapa oknum Bonek yang mengejeknya saat berlatih. Pelatih Jacksen F. Tiago yang merasa frustasi sempat menyatakan diri akan mengundurkan diri dari tim dan berencana pulang ke Brasil di akhir musim untuk membuka usaha restoran. Beruntung, manajemen Persebaya masih mempercayai Jacksen agar perpecahan tim tidak makin menjadi. Sebuah keputusan tepat bagi masa depan Persebaya dan Jacksen sendiri.

Peruntungan Persebaya mulai berubah pada bulan Oktober 2004, PSM dan Persija beberapa kali tersandung oleh lawan-lawannya sehingga perolehan poin mereka mulai bisa dikejar kembali oleh Persebaya. Dalam laga big match 25 November 2004, PSM hanya mampu bermain imbang 1-1 dengan Persija di Mattoanging. Beberapa kemenangan krusial justru bisa diraih Persebaya antara lain saat menang 2-0 atas Persipura di Jayapura, serta dua kemenangan dramatis 3-2 atas PSPS Pekanbaru di Tambaksari dan 2-1 atas Pelita Krakatau Steel pada laga usiran di Gresik.

Kemenangan atas Pelita membawa Persebaya, PSM, dan Persija sama-sama berpeluang menjadi kampiun pada Liga Indonesia 2004. Macan Kemayoran Persija memetik hasil krusial dengan kemenangan 1-0 atas Persela di Lamongan, sehingga mereka sukses menjadi pemuncak klasemen dengan 60 poin dan hanya butuh seri di Tambaksari untuk menjadi juara liga. Persebaya dan Juku Eja PSM dituntut harus menang untuk bisa menjadi juara karena sama-sama memiliki poin 58, namun beban PSM paling berat karena harus menang telak atas tim “kuda hitam”PSMS Medan karena kalah selisih gol atas Green Force Persebaya.

Akhirnya laga yang dinanti-nanti itu tiba. Kamis, 23 Desember 2004 partai puncak antara Persebaya dan Persija Jakarta  dihelat di Stadion bersejarah Gelora 10 November Tambaksari Surabaya. Karena peluang juara kedua tim paling besar, maka trofi juara pun sudah disiapkan di Kota Pahlawan. Bonek membanjiri dan memenuhi stadion, membuat The Jak (kelompok supporter Persija) yang ingin hadir untuk mendukung timnya di stadion, harus gigit jari. Hujan sangat deras yang mengguyur Kota Surabaya saat itu membuat garis-garis lapangan yang berwarna putih harus dicat 9 kali karena lenyap tersapu air hujan. Meskipun demikian, akhirnya laga bisa tersaji tepat waktu.

Di awal laga, Persebaya tampil heroik dan mampu unggul cepat lewat sepakan dahsyat Danilo Fernando dari luar kotak penalti menit 5 . Namun Persija yang tetap tampil tenang dan berani perlahan-lahan mampu menguasai permainan. Trio Bambang Pamungkas, Elie Aiboy, dan Budi Sudarsono yang disokong Gustavo Hernan Ortiz  tampil sangat cemerlang sore itu dan akhirnya anak asuh Sergei Dubrovin mampu menyeimbangkan Skor 1-1 lewat gol bunuh diri Mat Halil yang salah mengantisipasi crossing Ortiz (menit ke 50).

Persija dan The Jak sudah bersiap merayakan gelar juara Liga Indonesia karena hasil seri sudah cukup bagi mereka untuk menjadi juara. Namun Persebaya tak menyerah begitu saja. Tiga menit setelah gol Persija, Uston Nawawi melakukan umpan lambung kaki kiri ke kotak penalti Macan Kemayoran yang disundul dengan sempurna oleh Luciano Souza. Kiper Syamsidar yang sudah terlanjur keluar sarang gagal menjangkau bola. Persebaya 2, Persija 1. Sisa pertandingan itu bagai neraka bagi pemain Persebaya dan Bonek karena pemain Persija all out keluar menyerang untuk menyeimbangkan skor. Sedikitnya lima kali peluang emas diperoleh Bambang Pamungkas cs. Namun semuanya selalu patah baik karena finishing yang tak sempurna, membentur mistar gawang, maupun dikarenakan penampilan Hendro yang sangat baik. Kemenangan Persebaya 2-1 akhirnya tidak berubah hingga wasit Aeng Suarlan meniupkan peluit panjang.

Kemenangan ini tak pelak membuat stadion serasa runtuh oleh kegembiraan Bonekmania menyambut gelar kedua bagi Persebaya di ajang Liga Indonesia setelah 1997. Di tempat lain, PSM hanya mampu menang tipis 2-1 atas Ayam Kinantan PSMS Medan, sehingga mereka hanya berada di peringkat kedua karena walaupun punya nilai yang sama dengan Persebaya (61), Juku Eja kalah selisih gol. Sedangkan Persija harus puas turun ke peringkat ketiga di hari terakhir kompetisi.

Ketika Persebaya gagal menjadi juara Liga Indonesia pada 1999 setelah kalah 0-1 di final oleh PSIS Semarang, banyak Bonek yang menangisi hasil tersebut. Bagaimana bisa tim yang dalam tiga laga sebelumnya musim itu tidak pernah menang dan bahkan tidak bisa mencetak gol ke gawang Persebaya (seisih gol 0-5 untuk head to head vs Persebaya sebelum final) tiba-tiba bisa menang dan menjadi juara? Ternyata Tuhan memberikan jawabannya pada 23 Desember 2004.

Persebaya 1999 tidak juara karena tim itu sedang dilingkupi kesombongan yang berlebihan sehingga menganggap remeh lawan yang dianggap jauh lebih inferior seperti PSIS. Berbeda dengan Persebaya 2004 yang mengalami banyak ujian dan cacian, namun dengan semangat “man jadda wa jadda” (siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil) akhirnya diberikan jalan oleh Tuhan dengan “Miracle of Tambaksari” alias keajaiban Tambaksari pada 23 Desember 2004 dengan menjadi juara Liga Indonesia di hari terakhir kompetisi dengan mengalahkan tim kandidat kuat juara Persija Jakarta 2-1. (Iwan Rachmadi)