Hingga saat ini nama seorang Putu Yasa begitu lekat di memori pendukung Persebaya Surabaya. Penjaga gawang asal Denpasar, Bali bernama lengkap I Gusti Putu Yasa ini memang begitu dicintai publik Surabaya karena aksi-aksinya yang heroik dan menawan di setiap pertandingan Persebaya Surabaya.

Pemain kelahiran 1 Januari 1961 ini mulai menginjakkan kakinya di Kota Surabaya saat diterima bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di Kantor Inspeksi dan Pengawasan Bea dan Cukai Tj. Perak pada tahun 1983. Atmosfir kantor yang memang mendukung kegiatan olahraga, khususnya Sepak Bola, membuat bakat I Gusti Putu Yasa sebagai penjaga gawang semakin terasah. Terlebih Bea dan Cukai Tj. Perak kala itu sering mengikuti turnamen Sepak Bola antar instansi.

I Gusti Putu Yasa kemudian bergabung dengan klub internal Persebaya, PS Sasana Bhakti. Karena ketangguhannya di bawah mistar gawang, tak perlu waktu yang lama kiper berkumis tebal ini kemudian ditarik masuk memperkuat Persebaya untuk Kompetisi Perserikatan 1984/85.

Hadirnya Putu Yasa di bawah mistar gawang Persebaya memberikan jaminan keamanan tersendiri. Dan dia selalu menjadi pilihan utama di sektor penjaga gawang Tim Bajul Ijo. Kecuali ketika cedera, akumulasi kartu dan saat Persebaya “kalah” 0-12 dari Persipura Jayapura di Konpetisi Perserikatan 1987/88.

Selama enam tahun memperkuat Persebaya Surabaya, I Gusti Putu Yasa mempersembahkan satu gelar mayor kampiun Kompetisi Perserikatan 1987/88 dan sejumlah gelar minor lainnya (seperti Piala Persija 1988). Dan selama itu pula dirinya juga dipanggil untuk memperkuat Timnas Indonesia di berbagai ajang. Prestasi tertingginya sebagai pemain Tim Garuda adalah medali emas SEA Games Jakarta 1987.

Usai Persebaya Surabaya tumbang 0-2 di partai final Kompetisi Perserikatan 1989/90, I Gusti Putu Yasa mengumumkan pengunduran dirinya dari hingar bingar Sepak Bola nasional dengan alasan ingin fokus berkarir sebagai pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Bisa dikatakan, I Gusti Putu Yasa adalah salah satu pemain yang memulai karir semi-pro dan menutup karir bersama Persebaya Surabaya. Atau kalau kata anak zaman now, “one man club player”. (dpp)

 

*kredit foto Bajulijo.net