Ada berapa banyak striker murni berkualitas di negeri ini? Tak banyak bukan? Tapi dari yang tak banyak itu salah satunya adalah “Si Kepala Emas”, begitu julukan tersohor yang disematkan kepada pria asli Gondanglegi, Kabupaten Malang ini. Memang mayoritas golnya dicetak melalui sundulan.

Syamsul Arifin adalah mantan pemain amatir klub Gama Gondanglegi sebelum akhirnya pindah memperkuat klub internal Persebaya, Mitra Surabaya pada tahun 1975. Baru pada tahun 1976, pria paruh baya yang kini tinggal di kawasan Tenggilis Mejoyo ini memperkuat Persebaya B (junior) di sejumlah turnamen-turnamen regional. Seperti Piala Jusuf di Ujung Pandang, Piala Tugu Muda di Semarang, Piala Jayakarta di Jakarta dan tentu saja Piala Surya di Surabaya.

Namanya pun sempat disisipkan dalam skuat senior di Kompetisi Perserikatan 1977/78 yang kala itu sukses menggapai gelar juara. Meski jarang dimainkan saat itu. Penampilannya yang gemilang di Persebaya B ketika bermain di Piala Jusuf Makassar, membuatnya dipanggil memperkuat PSSI Muda.

Sampai tahun 1979, Syamsul Arifin memperkuat Persebaya sebelum akhirnya pindah memperkuat NIAC Mitra di kompetisi Galatama. Bersama klub milik Agustinus Wenas ini karirnya semakin moncer dan bersinar terang.

Tapi karena sempat cedera dan NIAC Mitra tengah melakukan regenerasi, namanya kemudian dicoret. Dan dirinya pun kembali mengurusi Tambak Udang milik mertuanya di kawasan Gresik. Ini terjadi sekitar tahun 1985.

Usai nyaris degradasi di kompetisi Perserikatan 1985/86, Persebaya kemudian berbenah dengan serius. Salah satu pemain yang direkrut adalah Syamsul Arifin. Tiga musim di Persebaya menghasilkan sebuah gelar juara (1987/88), dua kali runner-up (1986/87 dan 1989/90) dan sebuah gelar Top Skor Kompetisi Perserikatan 1987/88 dengan 18 gol. (dpp)