Supriadi di depan logo Persebaya (sumber foto: bolalob.com)

Tenang, itu hanyalah judul yang ditulis karena perbincangan yang ramai mengenai kemungkinan logo Persebaya akan berganti. Adalah Emosijiwaku di Twitter yang (selalu) memulai perbincangan pintar yang memancing perhatian Bonek dan Bonita. Tema perbincangan yang ramai menjelang pertandingan Persebaya melawan Persik kemarin ini sebenarnya sudah diperbincangkan jauh hari sebelumnya. Cak Tulus pernah melemparkan wacana ini saat nyangkruk waktu digelar Bonek Academy di Ciputra World tahun 2018.

Awal Cak Tulus mengangkat hal tersebut adalah saat ia melihat bagaimana logo Persebaya ini memiliki kelemahan secara visual, diantaranya adalah detail dalam logo yang tidak mudah teraplikasikan dengan baik di berbagai media karena tingkat keterbacaannya yang lemah. Adakah yang tahu ada berapa kotak dalam tekstur di kulit buaya? Ada berapa garis yang muncul di sirip hiu? Agak sulit, karena logo ini kemudian ketika diperbanyak oleh berbagai produsen merchandise, misalnya, akan berbeda-beda tafsir. Detail-detail seperti ini jugalah yang menjadikan logo Persebaya ini memiliki tingkat keterbacaan rendah.

 

 

 

 

 

 

 

Lantas adakah dampak dari tingkat keterbacaan yang rendah tersebut? Ada, dan biasanya adalah tak konsisten. Tidak konsisten di sini konteksnya adalah saat logo Persebaya tampil di berbagai media dengan berbagai teknik produksinya. Tak bisa dipungkiri kharisma Persebaya yang begitu besar menjadikan citra klub ini mudah ditemui dalam berbagai macam merchandise. Namun akan mudah ditemui pula betapa tidak konsistennya logo Persebaya diterapkan. Warna garis di Tugu Pahlawan ada yang berwarna hitam, ada pula yang berwarna biru muda. Selain itu karena unsur-unsur di dalam logo Persebaya yang serba rumit, maka akan sulit pula menampilkan detail yang sangat kecil itu untuk diaplikasikan di media yang memiliki ukuran kecil. Tingkat keterbacaan lagi-lagi sangat rendah.

Namun demikian, positifnya logo Persebaya mampu menciptakan top of mind tidak hanya dari intern (manajemen) namun juga suporter dan non suporter. Jika saja logo Persebaya tersebut dipotong-potong tetap saja potongannya masih dikenali sebagai Persebaya. Peristiwa penyobekan logo Persebaya di Stadion Kanjuruhan Malang adalah bukti mengenai identitas Persebaya yang sangat kuat. Logo yang dibuat sendiri (direproduksi) oleh suporter Arema dan kemudian disobek-sobek sendiri menjadi bukti bagaimana kekuatan Persebaya melalui identitasnya.

Kapankah Logo (Bisa) Berganti?

Logo adalah identitas. Logo adalah citra. Maka logo adalah citraan visual yang merupakan representasi dari identitas. Selama ini Bonek begitu bangga jika mengenakan pakaian apa pun yang ada logo Persebayanya. Persebaya sudah menjadi identitas mereka. Tak peduli apakah ia berdomisili di Surabaya maupun luar kota Surabaya. Persebaya ya Persebaya.

Tak heran jika kemudian ada pendapat yang mengatakan bahwa jika logo Persebaya diubah maka akan berubah pula sangarnya. Dalam konteks tersebut, maka yang dimaksudkan dari pendapat tersebut adalah berubah citranya. Maka pertanyaan berikutnya adalah kapan logo itu bisa berubah? Jika berubah, apakah akan berubah pula karakter dan citra Persebaya ke depan?

Dalam berbagai literatur dan pengamatan dari data, maka logo bisa berubah itu jika ada penyebabnya. Pertama, berubahnya kepemilikan suatu organisasi/perusahaan/lembaga/dll, maka berubah pula visi dan misinya. Kedua, untuk menyesuaikan dengan perubahan zaman, maka identitas visual bisa berubah menyesuaikan dengan trend yang sedang terjadi. Ketiga, ada pengembangan. Hal ini terjadi jika organisasi/klub/kelompok memiliki sayap yang lain yang menempel pada induknya, misalnya pengembangan bisnis atau makin berkembangnya anggota. Keempat, ada merger atau penggabungan perusahaan/lembaga. Kelima, untuk menyegarkan ingatan publik. Terkadang ada kejenuhan jika melihat visual yang sama. Keenam, faktor budaya sehingga harus menyesuaikan dengan budaya setempat. Ketujuh, untuk membentuk citra baru. Biasanya hal ini dilakukan jika ada suatu kasus tertentu yang melibatkan organisasi, atau untuk memperbaiki dari citra buruk.

Nah, dari tujuh alasan suatu perusahaan/lembaga melakukan perubahan logo tersebut, maka Persebaya sebenarnya sudah memenuhi semua syarat tadi. Jika dibandingkan dengan logo klub sepakbola di Indonesia, seperti PSM Makassar dan Persita Tangerang yang baru-baru ini mengubah logonya, maka Persebaya sebenarnya juga telah layak mengubah logonya. Kepemilikan yang berbeda, pengembangan bisnis store untuk makin dekat dengan Bonek, perubahan zaman termasuk bagaimana pengelolaan manajemen klub secara modern, citra klub dan Bonek yang makin bagus dan selalu menjadi media darling. Hal yang harus selalu diingat adalah bagaimana perubahan status pengelolaan klub dari yang memakai APBD kota kini beralih ke PT Persebaya, sehingga logo Persebaya yang selama ini sangat identik dengan logo pemerintah kota bisa pelan-pelan bergeser.

Kapankah Logo Persebaya Berganti?

Pertanyaan penting kemudian adalah jika sudah memenuhi semua syarat di atas, maka sebaiknya kapan logo Persebaya bisa berganti? Jawabannya bisa kapan saja. Namun yang harus selalu diingat adalah mengubah logo bukan perkara yang gampang. Tidak bisa (jika) logo sudah diubah maka akan kemudian sedikit-sedikit diubah hanya karena jenuh atau bosan. Logo berubah juga bukan hanya karena ingin sok modern atau mengikuti perubahan trend di zaman yang makin kompetitif ini. Berubahnya logo haruslah didasarkan pada pertanyaan mengapa logo harus berubah. Bahwa logo berubah karena telah memenuhi syarat-syarat di atas, maka yang menjadi tantangan selanjutnya adalah dengan mempertanyakan kembali: Persebaya ingin dikenal dan dikenang sebagai klub yang seperti apa? Ini dulu.

Logo Persebaya yang banyak “variasi”nya (jika tidak bisa menyebutnya sebagai ketidak-konsistenan logo) adalah juga bukti bagaimana logo Persebaya ini begitu rumit. Logo Persebaya yang benar-benar berubah adalah saat menjelang kompetisi Liga Primer Indonesia (LPI) tahun 2011. Setelahnya logo Persebaya kembali lagi ke “versi” lama. Dalam keputusan sertifikat merek yang diterbitkan oleh Kementerian Hukum dan HAM bertanggal penerimaan 22 April 2013, logo yang dipilih manajemen baru saat kembali ke liga adalah logo dengan versi lama dengan penanda Tugu Pahlawan berwarna biru muda dan bola berwarna dominan hitam. Dalam sertifikat tersebut, perlindungan hak merek diberikan untuk jangka waktu 10 tahun (hingga 22 April 2023) dan setelahnya bisa diperpanjang. Nah, bisa disimpulkan tahun 2023 adalah kemungkinan logo Persebaya bisa berubah dengan mempertimbangkan segala macam pertimbangan di atas.

Segala perubahan pasti menuai kontroversi tak terkecuali klub-klub mapan dunia. Sebut saja Juventus, Manchester City, Arsenal, Tottenham Hotspur, Manchester United, Aston Villa, West Ham, Inter Milan, (sempat juga) Everton, dan masih banyak klub lainnya. Banyak klub yang berganti logo menuai penolakan dari fans-nya. Everton adalah klub yang sebenarnya akan berganti logo namun karena kerasnya penolakan dari Evertonian, maka klub memutuskan untuk kembali ke logo lama. Mungkin klub ini satu-satunya yang gagal mengubah logo. Yang lain jalan terus meski menuai kritik dari fansnya.

Mengapa terjadi penolakan? Fans menolak logo baru biasanya terjadi karena tidak ada sosialisasi dari klub sehingga cenderung mendadak. Selain itu logo ditolak untuk berubah karena justru dilakukan di saat yang terpuruk, misalnya saat klub terdegradasi ke level bawah. Fans Arsenal juga sempat melakukan perlawanan pada logo baru, karena klub tidak melibatkan fans dalam melakukan perubahan identitas visualnya. Yang paling cerewet adalah fans Manchester City karena logo tidak mencantumkan lagi tagline bahasa latin mereka dan tidak ada teks “FC” sebagai singkatan dari Football Club. Alasan tersebut mirip dengan penolakan fans Everton karena mencopot tagline berbahasa latin yang kadung mendarah daging.

Liverpool adalah klub yang termasuk paling sering mengganti logo. Dimulai dari tahun 1950 yang mengubah logo lama di tahun kelahirannya yaitu tahun 1892, kemudian berubah lagi di tahun 1955, 1968, 1976, 1987, 1992, 1993, 1999, 2017. Jika melihat tahun perubahannya, begitu berdekatan. Namun inilah yang unik: logo Liverpool tahun 1999 dipakai berbarengan dengan logo tahun 2017 hingga sekarang. Selain itu yang unik adalah: perubahan logo Liverpool ini tidak menuai keriuhan Kopites. Tak ada perlawanan dari mereka. Cerewet apalagi, tidak ada, padahal Kopites dikenal sebagai suporter di Inggris yang sangat keras. Kecerewetan Kopites biasanya terjadi saat klub menerbitkan jersey terbaru di musim baru. Model jersey dan warna sangat menjadi fokus dari Kopites. Namun untuk perubahan logo terbukti bahwa perubahan logo Liverpool bisa berubah dengan mulus dan tetap memiliki identitas yang kuat dan bahkan bertambah semakin kuat. Bisa jadi karena ada dua alasan. Pertama, klub sangat dekat dengan fansnya, sehingga fans dilibatkan dalam perubahan logo. Kedua, prestasi. Nama Liverpool sudah mengakar dan merasuk dalam fansnya yang tidak hanya di Inggris, namun juga di belahan dunia lainnya. Artinya, jika ingin mengubah logo, maka ubahlah pada saat yang tepat, yaitu saat menuai banyak prestasi atau saat menjadi juara di liga yang sangat kompetitif. Dalam bahasa yang lain, mau diubah berapa kali pun, nama Liverpool selalu ada di hati fansnya.

Jadi jika ditanya kembali kapan logo Persebaya bisa berubah? Ya benahi dulu klub ini dengan pencapaian juara dan juara, karena pada dasarnya logo adalah identitas mengenai citra yang ingin dibangun. Citra baik dan positif apalagi citra Persebaya sebagai klub Sang Juara itu sudah mengakar kuat di semua pihak. Sehingga dengan demikian, maka logo mau diubah kapan pun kebanggaan terhadap Persebaya tak akan luntur.**

 

*dosen DKV UK Petra | anggota Bonek Writer Forum