Sepak bola selalu melahirkan kejutan-kejutan. Dari yang tidak mungkin, menjadi mungkin, menjadi momen tarik ulur emosi siapapun yang terlibat di dalamnya, dan kita berada disana. Olah raga popular ini selalu saja menjadi tumpuan segala aspek kehidupan masyarakat, mulai dari sosial, ekonomi, dan bahkan politik, tak sesekali masuk dalam geliat bersamanya.

Sepak bola memiliki kompleksitas dan beragam persoalan mendasari perjalanan sebuah tim secara teknis maupun manajerialnya. Konsep industri menjadi pilihan strategis klub untuk sustainable. Siap tidak siap, kita harus mencebur diri di dalamnya, sebagaimana sepak bola sebagai hiburan atau tumpuan simbol primordialisme.

Persebaya Surabaya, klub sarat prestasi dan pemilik sejarah panjang kelam dan gemilang adalah kiblat sepak bola nasional. Klub yang menjadi bagian pendiri PSSI ini paling banyak memiliki catatan bersama kelompok supporternya yang bernama Bonek. Bonek memiliki prestasi luar biasa, suppoter yang mampu menghidupkan kembali Persebaya saat di berangus federasi dan dualisme, sejarah telah mencatat itu.

Dengan catatan tersebut, bonek semakin menggurita daya jangkaunya. Bonek tak lagi identik arek surabaya, melainkan Indonesia. Industri Persebaya tak berdiam diri melihat luapan kwantitas bonek yang semakin meluas, maka Persebaya memanfaatkan hal tersebut dalam totalitas industri, termasuk pengembangan bisnis yang luas dengan dan atas nama Persebaya.

Profesionalitas semacam ini menjadi pintu masuk bonek meletakan harapan ala konsumen, sebagaimana sebutan “costumer” oleh Presiden klub ini. Konsumen adalah konsumen, sebagaimana dalam koridor dagang yang di lindungi oleh yayasan ataupun lembaga perlindungan konsumen, maka benturan kiasan ini menjadi menarik ketika harapan konsumen tak sesuai selera.

Preambule diatas adalah mata rantai ketertautan apa yang telah terjadi pada laga Persebaya versus Madura United (19 Juni 2019) dalam lanjutan babak 8 besar Piala Indonesia. Torehan Persebaya di awal musim 2019 dan turnamen tak mendapatkan kemenangan. 4 kali berlaga dan uji coba tak menghasilkan jaminan ‘mutu’ sebuah tim dengan kemegahan yang di milikinya. Kalah melawan Bali United, draw di kandang kontra Kalteng Putra dan PSIS Semarang, celakanya dalam uji coba dengan klub peserta liga 3 PSID Jombang, Persebaya ditahan imbang.

Bonek dan siapapun yang mencintai Persebaya pasti meradang. Bagaimana bisa sebuah klub besar harus tertatih-tatih seperti itu. Maka, desakan dan tuntutan tak terelakan. Persebaya melakukan percepatan evaluasi yang berakhir dengan di lepasnya pelatih fisik mereka, Rudi Eka. Efektifkah evaluasi itu? sejauh mana hasil pemusatan latihan di Bali sebelum liga di mulai? Pertanyaan ini menghias linimasa bonek dengan beragam cara penyampaiannya.

Tiba di masa segala kekesalan kostumer terakumulasi dan membuncah. Pitch invasion dilakukan oleh bonek di saat injury time menyisakan 3 (tiga) menit ketika kontra Madura United di leg 1 Piala Indonesia. Kejadian itu menuai pro-kontra di kalangan bonek, sebab itu masih menyimpan “misteri” dan kemungkinan-kemungkinan. Namun, nasi telah menjadi bubur, rambatan semangka berbuah siri, semua sudah terjadi.

Pitch invasion yang dilakukan bonek adalah ekspresi kekecewaan. Semua tribun bertanggung jawab bahwa aksi tersebut adalah kesepakatan bersama. Sepak bola sebagaimana tersebut diatas menjadi peletakan ekspetasi tertinggi oleh konsumen yang berharap sesuatu yang terbeli tak boleh mengecewakan secara produk. 3 menit terbuang tentu teramat sulit menyepadankan Liverpool versus AC Milan di final Champions 2005, atau peristiwa serupa yang memanfaatkan 3 menit tersisa untuk mengubah dan merubah kemungkinan-kemungkinan.

Dahlan Iskan dalam bukunya “1 tangis 1000 tawa”, ketika beliau menjabat kepala PLN mencontohkan peristiwa heroik final Champions di Istambul Turki 2005 silam, hal itu ketika beliau men-deadline pembangkit di pelosok sulawesi, dimana kepala cabang pesimis bahwa “byar pet” disana teratasi dalam waktu sebulan. Artinya, 3 menit di sepak bola segalanya bisa terjadi, dan itu tidak menutup kemungkinan terjadi juga di Persebaya saat itu.

Bonek telah melampiaskan kekesalan raihan Persebaya dengan baik. Pitch invasion membawa spanduk pesan moral telah menyadarkan Persebaya secara industri, bahwa hasil produk tak boleh buruk di setiap laga nya. Biarlah pitch invasion Kinsey Wolanski dan personel band punk “Pussy Riot” asal Moscow Rusia menjadi rekayasa terbaik event organizer/panpel, untuk menaikan rating sesuai pengakuan Kinsey di channel “virtual uncensored”, bahwa pitch invasion ini adalah rekayasa. Apakah bonek melakukan rekayasa serupa? tentu tidak jawabnya.

Kemungkinan dalam sepak bola saling bertautan satu dengan lainnya. Apa yang telah terjadi biarlah menjadi instropeksi antara managemen dan supporter. Apa yang menjadi pendorong hasil buruk maka segeralah tim dan managemen berbenah, pun demikian supporter yang terkasih, pitch invasion tak harus di ikuti perusakan (Vandalisme). Bagi kita, kemungkinan memperbesar ruang kemungkinan, agar publik tak menemukan satupun sudut kemungkinan untuk berkata tidak mungkin bonek seperti itu.