Salah Satu Hasil Dokumentasi Penulis Saat Event Cinta dan Kebanggaan.

Seperti seorang bayi yang dinantikan kehadirannya di dunia ini, ia tidak dapat memilih ingin dilahirkan dari rahim wanita yang seperti apa bentuk dan karakteristiknya. Yang ada ialah ia terbiasa dan dilatih oleh kedua orang tuanya selama masa tumbuh kembangnya. Sama seperti Bonek dan Bonita, ketika mereka mampu mengerti mengapa merekia hadir di stadion, kenapa mereka disebut Bonek dan Bonita, dan untuk apa mereka mau melakukan segala hal untuk klubnya yang kadangkala semua itu tidak mampu dipahami oleh sebagian masyarakat awam tentang loyalitas Bonek dan Bonitanya.

Ya, kita sedang membahas momen dari Bonek yang sedang ramai jadi bahan pergunjingan dan hujatan oleh lainnya ketika mendukung Persebaya melawan Madura United (19/06) dalam gelaran Piala Indonesia di Gelora Bung Tomo Surabaya. Sering mengalami kekalahan atau hasil seri baik di Shopee Liga 1 2019 atau Piala Indonesia membuat Bonek merasakan kekecewaan yang mendalam. Kemarin malam, puncak kekecewaan itu berubah menjadi amarah yang sulit dibendung dan sulit dihentikan. Banyak pro dan kontra yang mengiringi langkah Bonek dalam menyuarakan kritikannya. Ketika sebagian orang berpendapat sisa tambahan waktu 3 menit terakhir yang bisa dimanfaatkan untuk mencetak gol, aksi menyalakan suar dan sebagian Bonek yang turun ke lapangan sembari membentangkan spanduk bertuliskan “Jangan Bikin Malu Surabaya” justru menjadi balasan kritikan masyarakat awam dengan menyebut kami ini sebagai Bonek yang telah mempermalukan klub dan Surabaya.

Melihat dan membaca linimasa twitter dan instagram, banyak yang menghujat Bonek dengan berpendapat bahwa masih ada hal lain yang bisa dilakukan untuk mengkritisi manajemen klub tanpa harus membuat kerusakan dan kericuhan di dalam stadion. Tapi, apakah masyarakat awam itu mengerti sejauh apa kritikan Bonek ini mampu tersampaikan ke manajemen? Jika dengan kritik melalui media sosial atau bahkan bertemu langsung dengan perwakilan manajemen belum ada progres perihal permainan para punggawa Persebaya untuk meraih kemenangan, lalu harus kepada siapa lagi Bonek mampu menyuarakan suaranya dengan lantang tentang kebaikan klub ini?.

Kebaikan menurut Bonek yang satu dengan Bonek yang lainnya memang berbeda. Sebagian berpendapat hal ini sudah usaha maksimal dari pelatih dalam memberikan instruksi para pemain di lapangan. Sebagian lagi merasa, Bonek terlalu banyak menuntut A hingga Z dalam perekrutan pemain, perihal harga tiket, perihal siapa yang harus dicoret dan siapa yang masih layak untuk dipertahankan. Percayalah, segala harapan dan kritikan yang bagi sebagian orang dianggap tidak menghargai kerja keras manajemen dan para pemain adalah demi kebaikan klub, demi kembalinya masa kejayaan Persebaya seperti dulu dan memberikan kesan angker dan kapok untuk tim lawan. Bonek tidak serta merta mengkritik tanpa mau berbenah dan introspeksi diri, Bonek tidak terus-menerus meminta manajemen untuk berjuang dengan benar demi solidnya dan meningkatnya permainan tim setiap pertandingan dengan menentukan mana pemain dan pelatih yang cocok untuk direkrut. Stop menghujat Bonek karena tuntutan dan kritikan seperti itu. Jauh sebelum klub ini bangkit, jauh sebelum klub ini mengalami dualisme, Bonek sudah sering menyaksikan klub kebanggaannya menelan kekalahan secara beruntun. Jika bicara tentang perjuangan dan berjuang, jangan lupa, ketika mengalami mati suri selama beberapa tahun Bonek tidak pernah berhenti untuk terus berjuang dengan keyakinanya. Memperjuangkan nasib klub ini kesana kemari, dari demo beberapa tempat di Surabaya, gruduk Jakarta jilid 1 dan 2, gruduk Bandung, hingga membuahkan hasil yang membuat Bonek merasakan kemenangan yang sesungguhnya. Kemenangan ketika klub yang selama ini mereka yakini kebenarannya diakui kembali statusnya sebagai salah satu anggota klub di PSSI. Masihkah kalian meragukan dukungan dan loyalitas Bonek?

Sebagian masyarakat awam menganggap Bonek adalah sumber permasalahan kejadian kemarin malam, Boneklah yang merusak nama baik Surabaya, Boneklah yang mempermalukan Persebaya karena mereka turun ke Lapangan. Ya, bicara tentang pendapat masyarakat yang awam dengan Bonek dan Persebaya, mereka tidak perlu meminta ijin kepada Bonek untuk sekadar berpendapat seperti Bonek yang juga menyuarakan pendapatnya. Walau Bonek tahu, tidak sedikit pula yang berpendapat adalah mereka yang hanya tau Persebaya dan Bonek melalui siaran pertandingan di televisi, mendengarkan radio dan membaca berita tentang Persebaya dan Bonek. Mereka yang ceriwis dalam berpendapat melalui akun sosial medianyapun belum tentu pernah hadir untuk mbonek ke stadion, atau sekadar bertemu dan duduk bersama Bonek untuk berdiskusi tentang perjuangan Bonek selama ini. Mereka mampu seenaknya berkomentar miring dan menghujat Bonek, tetapi mereka tidak mempunyai kemauan untuk mau cari tahu tentang Bonek dan pemikirannya. Yang mereka tahu, Bonek yang menyalakan suar di setiap tribun, Bonek yang turun ke lapangan dan menyalakan petasan adalah Bonek perusuh, sekumpulan orang-orang sampah yang mempermalukan dirinya sendiri dan kota tercintanya.

Kesannya arogan, terlihat paling berani dan seperti preman yang punya kuasa besar dengan massa dan kekuatannya, ya? Bukan, bukan. Suara-suara lantang itu tidak hanya ketika beryanyi, tetapi suara-suara lantang itu juga perihal melihat permainan klub ini yang angin-anginan. Bonek yang mengalami masa transisi dalam prosesnya untuk berbenah diri, tidak sedikit apresiasi yang ditunjukkan kepada Bonek. Kegiatan yang bersangkutan dengan publikpun sering dilaksanakan, hingga banyak remaja perempuan, anak-anak kecil, para ibu yang tidak segan untuk hadir ikut suami, ikut anaknya, atau dari keinginannya sendiri untuk menyaksikan Persebaya berlaga, baik dalam laga kandang dan tandang. Stadion ramah anak, ramah untuk perempuan dan para ibu-ibu, diakui sangat memberikan rasa aman dan nyaman, dan diakui pula berkat peran manajemen dalam membantu proses Bonek untuk kearah lebih baik selama ini. Lalu, ketika momen kemarin malam terjadi, apresiasi itu hilang seketika menjadi hujatan yang bagai arus deras di sungai. Apakah Bonek kapok? Apakah Bonek menyesal? Tentunya tidak. Kenapa begitu? Karena sejak dulu, Bonek dan Bonita tidak pernah ngoyo dan berusaha untuk dikemas media menjadi suporter yang dikenal ramah dan cinta damai. Sejak lama Bonek selalu dipandang sebelah mata layaknya lirik lagu dari Efek Rumah Kaca. Sejak dulu pula Bonek meyakini tidak ada apresiasi 100% yang baik untuk mereka. Jadi, ketika hujatan itu mengiringi langkah mereka dalam menyuarakan kritikannya dengan lantang dan dianggap mempermalukan dirinya sendiri, Bonekpun tidak merasa kaget dan malu. Mereka sudah kebal dengan nyinyiran seperti itu.

Mengutip kalimat dari Mas Andhi BJ, dedengkot Bonek Jabodetabek;”berarti Bonek masih manusia, sudah sewajarnya Bonek mempunyai rasa marah, kecewa, dsb.”Bagi Bonek yang dianggap “berulah” dikandang sendiri, apa itu menakutkan? Mungkin menakutkan karena seketika yang dipikirkan adalah anak-anak kecil dan para ibu yang harus menyelamatkan anak mereka agar tidak menjadi korban, walau penulis pikir, yang turun kebawah adalah remaja dan orang dewasa yang sudah cukup mempunyai mental berani untuk turun ke lapangan. Setidaknya di Gelora Bung Tomo, dikandang sendiri, Bonek tahu mereka bukan yang mempunyai kuasa 100% atas klub ini. Namun, loyalitas dan cinta mereka kepada klub dan jajarannya sendiri jangan ragukan itu. Masih lebih baik, turun ke lapangan menyuarakan kritikan atas kekecewaan yang lama dipendam bercampur amarah yang saling mempengaruhi satu sama lain. Coba tengok dan cari tahu Bonek di masa lampau. Ketika laga lawan Arema Malang di Gelora 10 November tahun 2006 silam, bagaimana kekecewaan yang begitu sulit dibendung atas hasil yang diraih punggawa Persebaya, bagaimana lampu penerangan lapangan dan tribun di dalam stadion dirusak, beton-beton yang menjadi pijakan berdiri ataupun untuk diduduki seketika bisa hancur dan dilemparkan oleh manusia-manusia yang seketika pula seperti superhero di film-film dengan kekuatannya bercampur amarah mampu melemparkan bongkahan beton ke dalam lapangan, bagaimana para pedagang di setiap tribun, terutama penulis yang saat kejadian berada di tribun skor bersama ayahanda melihat langsung kesigapan pedagang untuk menutupi dagangan dan wajahnya, mundur dan berusaha membentengi diri mereka ditembok paling atas saat chaos terjadi. Gentingnya keadaan untuk turun memasuki lorong, rasa was-was dan bau pesing karena beberapa yang kencing sembarangan semakin menambah suasana yang sulit untuk dilupakan. Kericuhan tidak berhenti disitu, penulispun dengan mata kepala sendiri menyaksikan “masa sulitnya” Bonek membendung amarahnya hingga merusak dan membakar mobil penyiaran televisi Antv. Kobaran api yang begitu besar, keadaan yang tidak kondusif semakin menambah suasana mencekam kala itu bagi penulis yang saat itu masih duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama. Hingga peristiwa itu disebut tragedi Asusemper.

Bonek saat ini jauh lebih tertata dan tau arah untuk mengkritik klub kebanggaannya. Tau bagaimana mengkritik manajemen. Jelas tertata, karena dari masa lalu yang begitu menakutkan dan membuat bulu kuduk berdiri karena was-was. Bonek belajar untuk lebih baik. Sulit memang untuk berperilaku seperti kata Pram di bukunya yang berjudul:Bumi Manusia. “Kau terpelajar, harus bersikap adil sejak dalam pikiran”. Meminta keadilan untuk memberikan suguhan permainan yang bukan hanya menarik tapi juga mampu meraih kemenangan. Kenapa harus bersikap adil? Adil mengikuti kata hati, ketika apa yang harus diubah dan diperbaiki hanya menjadi angin lalu bagi sebagian jajaran manajemen yang sedang duduk tenang menyaksikan pertandingan dari kejauhan. Klub ini punya sejarah panjang, masa kejayaan yang selalu diingat oleh semua Bonek disetiap generasinya, yang selalu dibanggakan oleh para pemain legenda disetiap eranya berkarir di Persebaya. Itu terlihat ketika penulis sempat berjumpa dan mewawancarai sebagian punggawa era 80-an. Tapi sejarah besar saja tidak cukup untuk menghidupi klub ini agar berumur panjang. Maka untuk menghidupi klub ini, lengkap dengan para pemainnya, official dan manajemennya, penulis akui bangga ketika tahu seorang Azrul Ananda yang awalnya anti dengan Bonek dan sepakbola terutama Persebaya, mau mengambil alih, memimpin Persebaya dengan timmya yang solid. Jangan lupa, selain mempunyai kemampuan yang tidak usah diragukan, Presiden klub harus mempunyai kemauan juga untuk duduk bersama Bonek (lagi), mendengarkan suara-suara dan masukan Bonek. Klub tanpa suporter adalah hal yang mustahil. Dibalik perilaku yang belum baik dan masih berbenah, suporter tetaplah suporter. Kalah menang, tiket tetap terjual. Kalah menang akan ada Paido Boys dan Manajemen Boys-sebutan untuk kubu Bonek yang pro dan kontra manajemen. Akan ada pemain datang dan pergi, tapi Bonek tetaplah Bonek, tak akan terganti meski dimakan jaman dan usia. Namun, jika Presiden klub dan manajemen menganggap Bonek yang tadinya suporter lebih cocok disebut customer, maka Bonek masih punya hak untuk mengeluhkan, komplain dan meminta pelayanan dan produk terbaik dari “penyedia” jasa dan barang ketika yang disebut customer merasa ada yang tidak pas dan merugikan mereka.

Penulis merasa bangga dan tidak malu dengan kejadian kemarin malam. Kenapa? Ya kenapa harus malu, karena dari Bonek yang turun ke lapangan. Kita jadi tahu bahwa masih ada yang peduli dan kritis dengan keadaan klub ini yang sedang tidak baik-baik saja. Penulispun sempat mendapat pertanyaan:”Apa tidak takut dan khawatir akan memberikan contoh buruk karena sebagian yang turun ke lapangan jika dilihat dari kejauhan masih ada yang berusia remaja?”. Kenapa harus takut, karena melalui anak-anak yang berusia remaja regenerasi itu akan terus berjalan dan berganti. Melalui merekalah, segala doa, kritikan, harapan, ide-ide yang belum tersampaikan mampu mereka sampaikan secara langsung. Dan mereka yang turun ke lapangan ataupun yang ikut mengkritisi manajemen dari tribun akan tahu, bahwa dukungan dan kepedulian ternyata tidak berhenti sebatas pagar tribun. Anak-anak itu berhak menentukan sikap, karena menjadi Bonek dan Bonita, diapresiasi dan dihujat adalah satu kesatuan yang sulit dipisahkan.

Sampai kapanpun, jangan pernah ragu dan malu untuk memilih menjadi Bonek dan Bonita. Mari tularkan energi positif. Mari jaga loyalitas untuk klub kebanggaan bersama. Mari kembangkan kemampuan dari apa yang bisa dilakukan untuk membantu membuka mata, hati dan telinga masyarakat umum kenapa harus bangga menjadi Bonek dan Bonita. Karena dimanapun kamu berada, ketika beraktifitas di ruang publik ataupun dalam bangunan, bertemu dengan banyak orang, perilaku apa yang kita tunjukkan, ucapan seperti apa yang kita utarakan, itulah kita. Karena apa yang kita tunjukkan akan mempengaruhi dan membentuk mindset mereka kepada kita. Paling utama dan penting, jangan hanya cinta dan dukungan yang terus dijaga, tapi juga kritikan dan keberanian dalam menyuarakan dengan lantang yang harus terus dipupuk, karena Bonek pantang untuk dibungkam.