Bonek Dicaci Tak Mati, Dipuji Tak Terbang Tinggi!

Persebaya belum bangkit. Pertandingan terakhir Persebaya melawan Madura United, mereka tak juga meraih kemenangan. Hal itu membuat Bonek gerah. Mereka sempat melakukan aksi pitch invasion ketika pertandingan melawan Madura United, Rabu (19/06) lalu. Aksi ini kemudian menimbulkan pro dan kontra bagi sebagian pihak. Ada yang mendukung aksi Bonek tersebut, tapi ada juga yang menyalahkan karena dianggap merugikan.

Pada masa lalu, Bonek pernah sangat ditakuti bahkan dibenci masyarakat karena dianggap sering melakukan aksi tak terpuji. Seiring berjalannya waktu dan kebangkitan Persebaya dari tidur panjangnya, Bonek berubah menjadi kelompok suporter yang juga dikagumi masyarakat. Mereka telah melakukan berbagai macam kegiatan sosial. Aksinya dalam mendukung Persebaya pun sering membuat tubuh merinding karena sikap terpujinya.

Sebenarnya, aksi yang dilakukan Bonek sekitar tiga hari lalu itu adalah hal yang wajar. Mereka ingin memperlihatkan kekecewaannya pada tim dan segenap orang-orang yang mempermainkan Persebaya, kecintaan mereka. Tiap suporter tentu memiliki caranya masing-masing dalam menunjukkan emosi negatif ketika tahu tim kesayangannya gagal meraih kemenangan ataupun mengungkapkan emosi positifnya ketika timnya menang.

Penelitian yang berjudul Emotional Dynamics of Soccer Fans at Winning and Losing Games mengungkap bahwa, menghadiri suatu pertandingan sepak bola sebagai suporter atau fans memungkinkan individu untuk mengalami peningkatan gairah dalam bentuk kegembiraan dan provokasi atau agresi. Emosi dapat ditunjukkan melalui ekspresi wajah maupun perilaku, seperti mimik muka sedih, menangis, tertawa, melempar barang-barang di sekitarnya, atau memeluk orang di sebelahnya.

Termasuk aksi pitch invasion yang dilakukan oleh Bonek pada Rabu malam lalu, itu hanyalah sebagian dari respons emosi negatif yang dialami oleh mereka. Jika memang ada beberapa pihak yang tak setuju dengan aksi tersebut, hal itu adalah wajar. Karena hal itu merupakan bagian dari dinamika kelompok. Apalagi dalam kelompok sebesar Bonek, akan ada banyak konflik yang menyertai sebagai proses mempertahankan eksistensi. Semakin besar kelompok dan semakin banyak anggota kelompok, maka akan semakin beragam karakter orang di dalamnya yang memungkinkan perbedaan pendapat.

Cinta Bonek pada Persebaya tak perlu diuji. Mereka sudah menjawabnya selama puluhan tahun, bahkan mungkin melebihi logika manusia. Berbuat baik ataupun buruk, mereka sudah terbiasa mendapatkan stigma negatif. Bonek tetaplah Bonek. Mereka tak akan mati meski berulang kali dicaci dan mereka juga akan berusaha tak tinggi hati meski dipuji atas perbuatan baik yang sudah dilakukan.