Setelah gagal di Babak Semi Final Liga Bank Mandiri Indonesia (LBMI) VII Tahun 2001 silam, Persebaya harus bekerja keras menyambut musim yang baru. Karena Tim Persebaya menghadapi masalah internal yang pelik. Mulai dari sakitnya Walikota Surabaya yang juga Ketua Umum Persebaya, H. Sunarto Sumoprawiro, masalah investor yang bakal masuk, masalah pemain dan pelatih. Banyaknya masalah ini pada akhirnya nanti membuat Persebaya Surabaya dan Bonek bersedih. Karena untuk pertama kalinya sepanjang sejarah, Persebaya Surabaya harus terdegradasi dari Kompetisi Divisi Utama.

Dimulai dari urusan pelatih. Pasca gagalnya Rudy William Keeltjes di musim lalu, pengurus Tim Bajul Ijo bergerak cepat dengan menunjuk pelatih baru. Kali ini yang ditunjuk adalah legenda Persebaya Surabaya lainnya, yaitu Sinyo Hartono. Namun sayang belum lama melatih tim, Sang Pelatih harus menghadap ke Illahi pada tanggal 13 Desember 2001 silam karena sakit. Penggantinya adalah pelatih legendaris nan karismatik lainnya, yakni Rusdy Bahalwan. Namun nama besar dan kemampuan Rusdy pun tak mampu menyelamatkan Persebaya Surabaya dari degradasi.

Terkait investor dan sakitnya Cak Narto ternyata membawa dampak besar di kubu Persebaya Surabaya. Salah satunya adalah tidak adanya dana untuk mengikat pemain asing. Walhasil di musim ini Persebaya Surabaya murni mengandalkan para pemain lokal dan pemain hasil dari didikan kompetisi internal Persebaya Surabaya sendiri.Dari nama pemain lokal, terdapatlah nama ujung tombak Ahmad Junaidi dan pemain tengah Bambang Harsoyo. Ahmad Junaidi pernah memperkuat Persebaya Surabaya dahulu di Liga Dunhill I 1994/95 sebelum akhirnya kembali lagi dengan predikat top skor klub Arema Malang musim lalu. Sedangkan Bambang Harsoyo datang dengan karir yang bersinar dari klub Barito Putra Banjarmasin. Sedang dari kompetisi internal, muncul nama-nama seperti Firman Basuki, Iswandi Dai, Iswandi Yasin, Irfan Junaidi, Endra Prasetya, Suroso, Hendri Puji, Zainul Arifin, Sugianto, Ahmad Musyafak, Imron Hermawan hingga terakhir Suwito alias Jialing. Ini pun masih didampingi pemain-pemain senior seperti Bejo Sugiantoro yang didaulat menjadi kapten tim musim itu, Khairil Anwar Ohorella, Mursyid Effendi, Uston Nawawi, Reinald Pietersz, I Komang Putra dan Agung Setyabudi.

Menghadapi partai perdana di kandang sendiri melawan Gelora Putra Delta pada tanggal 13 Januari 2002, Persebaya Surabaya malah takluk 0-1. Ribuan penonton meluapkan kekecewaannya dengan mengivasi lapangan. Di partai kedua, Persebaya Surabaya mampu memetik hasil imbang 1-1 melawan tuan rumah Barito Putra Banjarmasin. di partai ketiga, Bejo Sugiantoro dkk harus bertanding di Bontang melawan PKT Bontang. Sejatinya Persebaya Surabaya unggul dahulu di menit ke-15 melalui Bambang Harsoyo. Namun kartu merah kontroversial terhadap Bambang Harsoyo dalam sebuah insiden kecil memicu kubu Tim Bajul Ijo mundur dari pertandingan. Sesuai dengan perintah manajer tim saat itu, H. Santo.Dan benar saja, tanpa ampun Persebaya dihukum kalah 0-3 dan dikurangi 3 poin.

Dan memang sepanjang musim Persebaya Surabaya bermain angin-anginan. Seperti pada foto tersebut, Persebaya Surabaya dipecundangi Persijatim Solo FC 0-2 di kandang sendiri. Dari 22 kali bertanding, Persebaya hanya mencetak 24 gol dan kebobolan 31 gol dengan 6 kali kemenangan, 5 kali seri dan 11 kali kalah.

Semoga masa lalu bisa menjadi pelajaran yang berharga di masa mendatang.(dpp)