Persebaya Surabaya memulai lagi kampanye kompetisi Liga Bank Mandiri VII 2001 dengan tatapan optimis. Dengan pelatih baru, Rudy William Keltjes dan beberapa nama-nama pemain baru, membuat seluruh elemen tim optimis menyambut Liga Indonesia edisi ketujuh ini.

Pemain-pemain rekrutan dari luar diantaranya : I Komang Putra, Hendra Komara, bek sayap Agung Setyabudi, Rahel Tuasalamony, Andy Kopouw dan terakhir kiper Muhammad Halim yang direkrut di tengah musim karena kiper utama, I Komang Putra cedera parah. Ditambah para pemain asing yang diantaranya Jacksen F. Tiago, Marcelo Pereira, Jaldecir Deca dos Santos dan Roni Pereira. Khusus nama Roni, dikontrak menggantikan Jacksen F. Tiago yang hengkang ke klub Petrokima Putra Gresik. Sedangkan dari hasil kompetisi internal Persebaya menyumbangkan nama-nama seperti Agung Widodo, Muhammad Mauli Lessy, Endra Prasetya, Sugianto dan Abdul Rahman.

Tim Bajul Ijo kembali ditempatkan di Wilayah Timur dan memulai kompetisi pada tanggal 14 Januari 2001 dengan hasil tidak cukup baik. Melawat ke klub tetangga Gelora Putra Delta yang bermarkas di Sidoarjo hanya mampu bermain imbang tanpa gol. Namun setelahnya Persebaya Surabaya tiga kali berurutan meraih kemenangan di kandang sendiri.

Di musim kompetisi ini, Persebaya Surabaya mencatatkan rekor fantastis yang belum mampu dipecahkan oleh tim Persebaya di musim yang lalu (2018). Yakni mencatatkan 11 kemenangan berurutan mulai dari 18 Februari 2001 dengan kemenangan 1-0 atas PKT Bontang di kandang hingga tanggal 1 Juli 2001 saat mencukur Persijap Jepara 5-0 di Stadion Gelora 10 November, Tambaksari.

Pada klasemen akhir Wilayah Timur, Persebaya Surabaya menduduki posisi kedua dibawah klub PSM Makassar. Sebetulnya di tanggal 15 Juli 2001, Bejo Sugiantoro dkk bisa saja muncul sebagai juara wilayah andai mampu mengalahkan PSM Makassar di kandang sendiri. Namun sayang, Tim Juku Eja mampu menahan imbang Tim Bajul Ijo tanpa gol. Dengan diwarnai kegagalan bomber asal Brazil, Roni Pereira mencetak gol di menit terakhir dari titik putih. Performa pemain bernomor punggung 30 ini sepanjang musim memang mengkilap. Sayang cedera menyudahi kecemerlangannya tersebut. Tanpa kehadiran goal-getter setipe Roni, lini depan Persebaya Surabaya tumpul.

Memasuki Babak 8 Besar, Persebaya Surabaya yang bermain di Stadion Teladan, Medan bergabung di Grup A bersama dengan jawara Wilayah Barat PSMS Medan, Persib Bandung dan Barito Putra Banjarmasin. Di pertandingan pertama Persebaya Surabaya harus menghadapi seteru klasiknya PSMS Medan. Di pertandingan yang keras ini, Green Force harus mengakui keunggulan Tim Ayam Kinantan 2-1. Beruntung pada pertandingan kedua Persebaya Surabaya mampu memetik kemenangan tipis 1-0 atas Barito Putera Banjarmasin lewat gol tunggal Uston Nawawi di menit ke-15. Persebaya Surabaya dihadapkan pada pertandingan hidup dan mati di laga ketiga. Musuhnya lagi-lagi lawan lama, Persib Bandung. Sekali lagi keberuntungan masih menaungi Arek-Arek Karanggayam ini. Di babak perpanjangan waktu, Reinald Pietersz mencetak gol tunggal bagi Tim Bajul Ijo di menit-115 dan menjadi satu-satunya gol dalam laga melawan Tim Maung Bandung ini. Persebaya lolos sebagai runner-up Grup A.

Di Babak semi final yang berlangsung di Stadion Gelora Bung Karno pada tanggal 4 Oktober 2001, Persebaya Surabaya lagi-lagi dhadapkan dengan musuh lawasnya di era Perserikatan yakni Persija Jakarta. Bermain tanpa striker utama Roni Pereira yang cedera parah, permainan Bejo Sugiantoro dkk terlihat monoton dan membosankan. Persija yang diperkuat oleh duet striker Bambang Pamungkas dan Arek Kediri yang juga mantan pemain Persebaya Surabaya di musim sebelumnya, Budi Sudarsono berulang kali mengancam gawang Persebaya yang dikawal oleh M. Halim. Hasilnya Tim Macan Kemayoran mengoyak gawang Tim Bajul Ijo terlebih dahulu melalui kaki Luciano Leandro di menit ke-44. Persebaya Surabaya memberikan respon balasan di menit ke-64 melalui tendangan penalti Uston Nawawi. Sayang ketiadaan target man di lini depan Green Force membuat bola selalu berkutat di lini tengah dan lini belakang sendiri saja. Dan akhirnya kekhawatiran itu terjawab. Persija membobol gawang Persebaya melalui skema tendangan penjuru. Kali ini yang mencetak gol adalah Antonio “Toyo” Claudio. Memanfaatkan blunder yang dilakukan oleh M. Halim, Toyo mencuri bola dan menceploskan bola kedalam gawang yang kosong. Dan gol ini menjadi gol terakhir yang terjadi pada pertandingan big match ini. Pupus sudah asa Persebaya Surabaya meraih gelar juara keduanya di musim ini. (dpp)