Poernomo Kasidi bersama Pemain Persebaya saat merayakan juara Liga (diambil dari emosijiwaku.com)
Poernomo Kasidi bersama Pemain Persebaya saat merayakan juara Liga (diambil dari emosijiwaku.com)

“Ilmu pengetahuan harus digunakan untuk menggiring Persebaya ke tahta juara.” Ujar Agil H. Ali, manajer Seribu Kiat Persebaya, saat memberikan keterangannya terkait strategi untuk memuluskan langkah Persebaya menjuarai Kompetisi Divisi Utama PSSI Perserikatan 1987-1988.

Sepakbola, menurut Agil, tidak hanya cara menang saja, melainkan juga memasukkan unsur ilmu pengetahuan baik pikologi, sosiologi, eksakta, maupun humanistik. Meski Persebaya dianggap menciderai sportivitas sepakbola, paska tragedi ‘mengalah’ 12 gol tanpa balas dari tamunya –Persipura– tanggal 21 Februari 1988, agar menjegal langkah PSIS yang di tahun kompetisi sebelumnya berhasil menceburkan Persebaya ke dalam babak enam kecil, tetapi cara berpikir rasional Persebaya kala itu musti mendapat apresiasi, minimal kecerdikan Persebaya dalam membaca dan memanfaatkan nihilnya regulasi tentang match fixing dan upaya mematahkan keinginan bandar –entah dari PSSI maupun di luar lapangan– yang tidak memfavoritkan Persebaya melaju ke partai final, serta rasa humanistik yang ditampakkan untuk memberi harapan bagi saudara di Pulau Papua, Persipura.

Wiracarita agung Persebaya yang selalu diingat sampai sekarang tersebut dilatarbelakangi oleh peristiwa mengecewakan yang tergores di akhir musim sebelumnya, di mana saat itu Persebaya harus menunda euforia gelar juara setelah pada laga grandfinal melawan PSIS di Senayan berakhir 1-0 untuk kemenangan skuat “Mahesa Jenar”. Oleh karena itu, Persebaya  langsung melakukan evaluasi total guna menghadapi musim 1987-1988. Berjalan gesit, hal yang ditempuh pertama kali adalah mereformasi kepengurusan Persebaya. Siapapun yang berpotensi membikin konflik harus diganti. Selain itu, tekad untuk menyatukan visi dan misi Persebaya atas nama kebanggaan “arek-arek Suroboyo” mulai masif dikampanyekan di semua lini, sebab ini sudah membawa harga diri wilayah. Dalam teori Ashabiyah Ibnu Khaldun, identifikasi demikian membawa dampak berupa sangat kencangnya suatu ikatan dan tujuan karena mengintegrasikan manusia ke dalam kekuatan sosial-budaya (Mukadimah Ibnu Khaldun: 2001). Ashabiyah ini melahirkan kesadaran, kepaduan, dan persatuan kelompok untuk mencapai target bersama. Walhasil, bisa dikatakan, semua komponen Surabaya saat itu benar-benar bergotongroyong mewujudkan visi “Persebaya harus juara”.

Singkatnya, Persebaya telah menjadi ruh dan harga diri Surabaya. Keseriusan ini berbuah manis. Para pemain yang lebih banyak berasal dari pembinaan klub internal Surabaya mendapat efek niat baik, tekad, dan keseriusan demi membanggakan Surabaya. Diracik dari tangan pengurus baru, Persebaya telah melahirkan generasi The Dream Team di segala lini. Tidak instan, para pemain itu lahir dari seleksi dan penempaan berbasis profesionalitas yang tinggi. Mereka disiplin di dalam dan bersahaja di luar. Hubungan antar pemain penuh dengan ketenggangrasaan. Pemain muda tidak sungkan meminta pemain senior mengajari teknik menjabat-erat bola. Bahkan saling pengertian ini berlanjut di hal-hal non-teknis lainnya, sampai urusan peribadatan dan keluarga.

Setelah ilmu manajemen dan kampanye masif dijalankan, tinggal strategi power dan hegemony memainkan peran, “PSIS harus disingkirkan”. Taktik yang digunakan saat itu adalah menjungkalkan PSIS lewat permainan ‘mengalah’ dari Persipura, persis seperti yang dilakukan PSIS yang mengalah dari PSM di tahun sebelumnya. Kenapa Persipura? Jawabannya mungkin akan menggetarkan kita –kemanusiaan. Dalam wawancaranya, Agil menegaskan, bahwa “Kami (Persebaya) memilih jalan untuk menyelamatkan dan membahagiakan rakyat Papua. Idola mereka satu-satunya tinggal Persipura… Saudara-saudara kita di Papua belum merasakan hasil pembangunan seperti yang dirasakan saudara-saudara kita di Jawa. Satu-satunya kebanggaan saudara-saudara kita di Papua harus diangkat…”

Rentetan dinamika permainan di dalam dan luar lapangan yang diatur sedemikian rupa oleh Persebaya untuk menghentikan ambisi PSIS di atas dapat dibaca lebih seru lagi dalam buku Suhu Oerip dan Muis “Sepak Bola Gajah Paling Spektakuler” (2016).Sebagai catatan reflektif, buku ini perlu dan penting untuk dieja kembali sebab terdapat‘nilai’ di balik kepenulisannya, yakni iktikad yang kuatuntukmembangunkan kritisisme pecinta sepak bola tanah air lewat evaluasi totalpada ‘sejauh mana niatan dan kesungguhan publik untuk menciptakan kejayaan sepakbola Indonesia’.

Oleh karena dorongan baik tersebut, buku yang ketika dilihat dari judul terkesan biasa saja itu, justru menyimpan kritik tajam dan saran yang sungguh berlian bagi kemajuan olahraga yang merakyat ini, seakan ia hendak mengajak publik untuk mempertebal tekad dalam melawan kejanggalan sepak bola nasional, mulai dari pembelian glamour, kedisiplinan yang mulai redup, fasilitas yang kurang menunjang, PSSI yang mulai digerogoti kepentingan bandar, dan match fixing yang nyata-nyata telah diperangi FIFA sejak 2005 (hanya saja PSSI lupa).

Akhirnya, “Dari hal-hal seperti ini, bukankah kita akan diperkaya dalam pemahaman kita tentang kehidupan manusia, oleh sesuatu yang terjadi di lapangan sepakbola? Sepakbola merupakan bagian kehidupan, atau sebaliknya, kehidupan manusia merupakan sebuah unsur penunjang sepakbola?” (KH. Abdurrahman Wahid, 1994)