Arsip Foto Pemerhati Sejarah Persebaya

Semenjak liga 1 bergulir tahun ini (23/08/2018), banyak kalangan pecinta Persebaya Surabaya menginginkan permainan klub kesayanganya tersebut menunjukkan karakter yang mencirikan tradisi Arek Suroboyo. Memang, untuk membangun karakter itu bukanlah perkara yang mudah seperti membalikkan tangan. Perlu persiapan dan juga usaha kerja keras dari manajemen, staf kepelatihan, militansi pemain dan dukungan bonek yang selalu kritis terhadap Persebaya untuk mewujudkan semua itu.

Keinginan tersebut bukanlah sesuatu hal yang mengherankan karena Persebaya memiliki sejarah panjang dalam perjalanan persepakbolaan Indonesia serta menjadi salah satu klub yang turut melahirkan PSSI di tahun 1930 sebagai alat perjuangan bangsa saat era kolonial Belanda.

Hingga paruh musim Liga 1 2018, semua kalangan pecinta Persebaya dan bonek harus terus bersabar untuk melihat permainan Persebaya dengan karakter Arek Suroboyo. Saat ini, raihan yang dicapai Persebaya di Liga 1, masih tertatih di papan bawah dan bahkan berjuang lepas dari jurang degradasi. Hasil ini pun membawa perubahan dalam manajemen Persebaya. Pelatih kepala Alfredo Vera dan Chalid Basalamah sebagai Manager pun harus meletakkan jabatannya sebagai bentuk tanggungjawab prestasi Persebaya sampai paruh musim ini.

Harapan untuk melihat karakter permainan Persebaya yang khas Arek Suroboyo muncul saat Bejo Sugiantoro ditunjuk sebagai caretaker menggantikan Alfredo Vera. Harapan besar berada di punda sang legenda hidup Persebaya untuk menghidupkan harapan tersebut. Kita semua pasti bertanya, apa sebenarnya yang dimaksudkan dengan permainan yang berkarakter Arek Suroboyo.

Bejo Sugiantoro menerjemahkan karakter tersebut sebagai permainan tim yang ngotot dan tidak mau kalah. Saat mengalahkan Persela di pertandingan perdananya sebagai caretaker tim asuhannya pun menang dengan skor mencolok. “Kami melakukan pressing ketat, tetapi memang tidak harus 90 menit kami pressing terus. Meski situasional, mau tidak mau karakter Surabaya harus masuk di setiap pertandingan,” kata Bejo saat setelah pertandingan (05/08/2018).

Sementara itu, seperti dilansir oleh Jawa Pos. Oryza yang merupakan salah satu bonek menyatakan bahwa, “Pemain Persebaya dalam beberapa kali laga menunjukkan fighting spirit khas Arek Suroboyo. Ini terlihat saat melawan Bhayangkara FC. Mereka tertinggal 0-2 tapi bisa bangkit dan menyamakan kedudukan menjadi 3-3. Saat melawan Persib Bandung, mereka tertinggal 0-3, dan memberikan perlawanan hingga kalah 3-4. fighting spirit ini adalah modal penting sekaligus senjata yang memang seharusnya dimiliki sebuah tim besar, termasuk Persebaya. Fighting spirit ini jadi senjata andai Persebaya ditangani pelatih yang tepat.”

Selalu belajar dari sejarah panjang Persebaya

Saat ini, Djanur telah terpilih menjadi pelatih Persebaya. Bejo yang mengawali bangkitnya karakter Arek Suroboyo itu pun berpesan bahwa pelatih kepala Persebaya, tentunya harus mengerti karakter Persebaya dan juga paham kemauanya bonek, karena Bajul Ijo dan bonek tak bisa di pisahkan. Selain itu, tak dimungkiri bahwa pelatih Persebaya juga harus lebih memahami bagaimana karakter bonek, terutama mengusahakan hasil maksimal yang didapat tim dengan permainan. Kalau sudah paham karakter Persebaya, pelatih tentu akan tahu secara permainan apa yang diinginkan bonek yakni dengan bermain ngotot, ngeyel serta pantang menyerah.

Jauh sebelum saat ini, Mahargono dalam laporannya di Majalah Liberty, 10 September 1960 yang berjudul “Perkembangan Persebaja” menjelaskan bahwa permaian Persebaya banyak ditopang oleh anak-anak muda Surabaya hasil didikan internal yang berbakat. Anak-anak muda yang berkolaborasi dengan pemain yang lebih senior menunjukkan kesungguhan untuk bermain sebaik-baiknya, baik semangat maupun teknik dan taktik permainan yang mengandalkan kerjasama.

Ketua komisi kesebelasan Persebaya saat itu, W.S. Kotambonan memuji permainan Persebaya “jang dibutuhkan sekarang ini adalah ‘fighters’, jaitu pemain-pemain muda jang sanggup bertempur, sanggup memforceer satu goal djika ada kesempatan sedikitpun, berani bersentuhan dengan lawan”.

Spirit Gelora 10 November

Sebelum bermain di Gelora Bung Tomo, Persebaya memiliki home based di Stadion Gelora 10 November (G 10 N), Tambak Sari.  Menengok ke belakang, raihan manis Persebaya di G 10 N adalah saat mengalahkan Persija 2-1 dan meraih meraih juara Liga Indonesia tahun 2004. Secara kebetulan dalam pertandingan terakhir 23 Desember 2004 itu Persebaya juga bertemu Persija Jakarta. Saat itu, Persebaya menjadi tim pertama yang berhasil menjadi juara Liga Indonesia dua kali dan berhasil menjuarai puncak Liga Indonesia setelah juara di divisi utama.

G 10 N bagi Persebaya bukan hanya sekedar stadion dan lapangan sepak bola. Perubahan nama dari stadion Tambak Sari menjadi G 10 N memiliki spirit dan semangat untuk menguatkan semangat perjuangan Arek-Arek Suroboyo. Juniansyah dalam skripsinya di Ilmu Sejarah Unair yang berjudul “Stadion Tambak Sari Surabaya 1954-1970” menjelaskan bahwa stadion ini direnovasi dalam rentang tahun 1968-1969 untuk menyambut PON VII yang diselenggarakan di Surabaya. Stadion Tambaksari berubah menjadi stadion yang megah dengan adanya penambahan kapasitas tempat duduk menjadi 35.000 dan pemasangan lampu untuk pertandingan malam hari.

Pada momen PON di Surabaya inilah nama Stadion Tambaksari diganti namanya menjadi Stadion G 10 N yang melambangkan perjuangan heroik Arek-Arek Suroboyo dalam pertempuran 10 November 1945. Hal ini mununjukkan bahwa karakter arek suroboyo, spirit perjuangan tanpa lelah dilekatkan dalam stadion ini dengan tujuan tim kebanggaan bonek ini bias bermain ngosek.

Alumni Karanggayam

Lapangan Karanggayam merupakan salah satu faktor pembentuk karakter Arek Suroboyo. Lapangan  Karanggayam sebagai tempat penghasil talenta muda sepak bola di Surabaya, terletak tepat di belakang G 10 N dalam ulasan Eka Prasetya di EJ. Lapangan ini hanya memiliki satu tribun penonton yang terletak di bagian barat dengan kursi tribun yang terbuat dari kayu. Para pecinta sepak bola Surabaya akrab menyebutnya dengan nama lapangan Karanggayam. Selain terletak persis di belakang stadion G 10 N, lapangan Karanggayam juga bersebelahan dengan Wisma Eri Irianto.

Lapangan Karanggayam difungsikan sebagai lapangan pendamping dari stadion G 10 N, baik itu untuk latihan pemain persebaya maupun digelarnya kompetisi internal yang selalu menghasilkan bibit pemain kaliber tim nasional.Lapangan legendaris tersebut akrab sekali dengan pegelaran kompetisi usia dini maupun remaja.

Kejuaraan-kejuaraan kelompok umur pun sering kali digelar di lapangan yang menjadi saksi bisu lahirnya talenta-talenta muda Surabaya. Tim satelit Persebaya atau dengan nama lain PS Kopa yang sekarang berlaga di Liga 3 Nasional pun menjadikan lapangan Karanggayam sebagai home base mereka. Tim yang berisi pemain-pemain muda potensial tersebut juga dilatih oleh duo legenda persebaya Mat Halil dan Maura Hally.

Pada akhirnya, berdasarkan dinamika sepak bola di Srabaya, nama-nama tenar di persepakbolaan Indonesia pun pernah merasakan tempaan di karanggayam hingga menjadi pemain level nasional. Seperti Mursyid Effendi, Bejo Sugiantoro, Jatmiko, Slamet Nurcahyo yang sekarang menjadi dirijen lapangan tengah Madura United, Anang Ma’ruf, dan Mat Halil. Punggawa penting di timnas Indonesia di tiap level pun diperkuat alumi karanggayam yakni Andik Vermansyah (timnas senior), Evan Dimas (timnas senior dan U-23), serta Rachmat Irianto (timnas U-19). Lapangan Karanggayam selalu memiliki cerita dan tak pernah habis untuk memproduksi talenta-talenta potensial sepakbola di Indonesia.

Tugas Bejo dan Djanur

Persebaya saat ini masih berada di peringkat ke-13 klasemen Liga 1 dengan torehan poin 25. Menurut Djanur, Persebaya memiliki skuad yang mumpuni dan merata setelah mengamati performa Persebaya mengalahkan PSBI Blitas dengan 14 gol tanpa balas (02/09/2018). Komposisi pemain saat mengalahkan PSBI inilah akan menjadi kerangka utama Persebaya di bawah asuhan Djanur di sisa kompetisi Liga 1 2018.

Baik, pemain inti maupun pengganti menunjukkan permainan yang moncer meski PSBI bukanlah lawan sepadan Persebaya. Tidak bias dimungkiri hal ini menunjukkan awal yang positif bahwa di tangan dingin Bejo saat transisi pergantian pelatih, Persebaya sebenarnya memiliki potensi besar untuk bangkit seperti Arek-Arek Suroboyo memertahankan harga diri kotaya saat peristiwa 10 November 1945.Djanur seperti dilansir oleh Jawa Pos (04/09/2018), telah berkomunikasi baik dengan Bejo Sugiantoro.

Djanur juga bakal mempertahankan filosofi ngeyel khas Suroboyo dan Bejo pun siap menjadi jembatan antara coach Djanur dan pemain.

Ayo bangkitlah Persebaya… Wani!!!