Riono Asnan Di Stadion Gelora 10 November Tambaksari, Surabaya

Berstatus sebagai runner-up kompetisi sebelumnya, pengurus Persebaya Surabaya tidak bergerak secepat biasanya dalam hal menggaet pemain, untuk mengarungi musim kompetisi musim ini. Yang menarik adalah kebijakan manajer tim untuk selalu menggunakan jasa pelatih yang juga pernah mantan pemain di Persebaya Surabaya. Kali ini yang ditunjuk adalah Riono Asnan. Mantan pemain Tim Bajul Ijo era tahun 1970-an ini seangkatan dengan Rusdy Bahalwan, pelatih Persebaya di kompetisi sebelumnya.

Debutnya di kompetisi Liga Indonesia VI dimulai tanggal 7 November 1999. Saat itu Persebaya Surabaya menahan imbang tuan rumah PSIM Jogjakarta 1-1 di Stadion Mandala Krida, Jogjakarta. Sempat unggul dahulu melalui sundulan Reinald Pieters di menit ke-12, Laskar Mataram menyeimbangkan kedudukan melalui tendangan dari jarak dekat striker Gatot Ismawan di menit ke-38.

Riono Asnan juga pernah merasakan ketatnya atmosfir Piala Winners Asia 1999. Sayang Persebaya yang tidak sejumlah pemain intinya karena dipanggil timnas dan pergi ke klub lain harus puas dengan menelan kekalahan di laga tandang dan kandang. Di Sriraket, Thailand digunduli 5-0 dan pada leg kedua di Surabaya menyerah 0-1. Tetapi tak adil bila kita hanya melihat hasilnya saja. Sisi positifnya adalah keberanian Riono memainkan sejumlah pemain muda. Kombinasi antara pemain didikan kompetisi internal Persebaya dan materi Timnas Indonesia U-19. Salah satu pemain muda yang beraksi di pentas ini kelak dikemudian hari akan dikenang sebuah nama : Mat Halil. Yang menjelma menjadi salah satu legenda Persebaya Surabaya.

Perjalanan Riono bersama Persebaya Surabaya sebetulnya terlihat mulus dan baik-baik saja. Namun seiring terjadinya penundaan pertandingan Green Force melawan lawannya di liga ditambah hasil seri yang kerap menyapa, sedikit banyak mempengaruhi performa pemain di lapangan. Walhasil kursi Riono mulai panas ketika Persebaya Surabaya kalah pertama kali oleh tuan rumah Petrokimia Putra 1-2 di Stadion Gelora 10 November pada tanggal 27 Februari 2000. Lho kok tuan rumahnya Petro ? Ya, sebetulnya ini adalah laga usiran karena Petro tak mendapat ijin menggelar pertandingan di Gresik ketika itu.

Kekalahan dari Petrokimia inilah membuat api seruan pemecatan yang digaungkan oleh Bonek mulai membahana. Padahal ketika itu Persebaya Surabaya baru bermain 7 kali. Dengan raihan 2 kemenangan, 4 imbang dan sebuah kekalahan.

Pada akhirnya sejarah mencatat, karir Riono Asnan usai hanya dengan melakoni sembilan pertandingan resmi bersama Persebaya Surabaya. Dan akhirnya Riono secara resmi mengundurkan diri dari kursi pelatih Tim Bajul Ijo. Alasannya sederhana : dia tidak kuat dengan tekanan yang diberikan oleh Bonek kepadanya.

Terima kasih Pak Riono Asnan. Jasamu bersama Persebaya Surabaya akan selalu kami kenang. (dpp)