Menyebut nama Persebaya, kita tidak akan bisa melepasnya begitu saja dengan dua kata lainnya, yakni Kota Surabaya dan Bonek atau bondho nekat. Tiga kata itu seakan tidak terpisahkan. Adanya Persebaya, bisa jadi karena adanya Kota Surabaya dan setalah itu adanya Persebaya memuncul kan adanya Bonek. Di mana Persebaya berlaga, di situ ada Bonek.

secara historis perjalanan Kota Surabaya dan bagi Bonek, Persebaya sendiri juga bukan sekedar tim sepak bola. Persebaya menjadi simbol pemersatu warga kota. Orang mendengar Surabaya, pasti yang terpikir adalah Persebaya dan Bonek. Ditinjau dari perjalanan historis sebuah kota, tentu saja Surabaya tidak bisa dilepaskan dari perjalanan historis Persebaya.  Apabila kita merujuk pada keberadaan SIVB (Soerabaiasche Indonesische Veotbal Bond) 1927 sebagai cikal bakal Persebaya, maka Persebaya sebagai sebuah klub yang didirikan oleh orang-orang bumiputera di Surabaya yang bertujuan untuk lebih bisa mengembangkan permainan sepakbola bagi kalangan bumiputera, di saat ini memiliki usia sembilan puluh satu tahun. Apabila Persebaya diakui sebagai dua entitas yang saling berkaitan antara SVB (Soerabaiasche Voetbal Bond) yang didirikan di tahun 1910-an dan SIVB, maka usia Persebaya sudah lebih dari satu abad.

Dari segi usia tersebut, tentu saja Persebaya tidak bisa dihilangkan begitu saja dalam sejarah Kota Surabaya dan dihilangkan dalam memori serta benak masyarakat Surabaya. Persebaya bukan hanya sekadar warisan kota yang harus dicintai dan dilestarikan. Akan tetapi Persebaya adalah (bagian) sejarah Kota Surabaya itu sendiri. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan apabila masyarakat Surabaya begitu mencintai Persebaya, terlebih lagi bagi suporter Persebaya yaitu Bonek.

Sementara itu, berkaitan dengan bonek, kita bisa menjabarkan Bonek melalui dua pendekatan. Menurut Fajar Junaedi dalam bukunya yang berjudul “Bonek, Komunitas Suporter Pertama dan Terbesar di Indonesia” istilah Bonek mengandung unsur kata benda, yakni sebagai pendukung Persebaya. Namun, Bonek juga bisa menjadi kata kerja. Artinya, Bonek bukan hanya sekadar kelompok suporter, namun sudah menjadi ikon heroisme melalui perjuangan mendukung tim kesayangannya melalui istilah “mbonek”.

Jadi tidak heran, jikalau Bonek akan bersikap dan bersuara jikalau Persebaya “didzalimi”. Mereka bisa marah kalau tim kebanggannya “diinjak-injak”. Namun demikian, tentu saja di saat ini, kemarahan itu sudah dapat disalurkan dalam bentuk yang lebih elegan, positif, dan kreatif.

Ketika PSSI tidak mengakui Persebaya 1927 yang berlaga di IPL sebagai Persebaya yang asli, Bonek pun bergerak. Saat itu, mereka mengenal baik secara emosional maupun kesejarahan Persebaya yang berlaga di IPL. Loyalitas Bonek semakin kentara karena mereka tetap mendukung Persebaya di mana pun berada termasuk saat berlaga di IPL. Semakin Persebaya ditindas, Bonek semakin solid. Bonek menganggap, penindasan oleh pemegang otoritas harus dilawan. Perlawanan ini mereka anggap sebagai perjuangan karena rasa cinta dan ikut memiliki.

Hal ini bisa dilihat bahwa karakter warga Surabaya maupun sekitar Surabaya, khususnya yang mengidentifkasi dirinya sebagai Bonek, memiliki karakter yang berbeda dengan kota-kota lainnya. Setiap kali mereka saling menyapa dengan sebutan “Arek”, ada semacam heroisme atau nuansa perjuangan yang muncul dari spirit peristiwa 10 November 1945 yang akan selalu melekat dengan Persebaya dan Surabaya.

Pada perkembangannya, arus demokrasi dan kemajuan teknologi juga membuat ekspresi Bonek tidak menjadi sebuah hal yang tunggal. Elemen Bonek pun semakin banyak dan berkembang yang mana di dalamnya memiliki ciri khas masing-masing yang unik. Hal ini tidaklah menjadi hambatan dan permasalahan selama hal tersebut mendorong Bonek semakin progresif dan lebih kreatif. Justru, apa yang sedang dihadapi oleh Persebaya dan Bonek menjadi momentum yang bagus untuk seluruh elemen Bonek, masyarakat Surabaya yang cinta dengan Persebaya, bersama manajemen untuk bisa duduk bersama-sama untuk satu suara.

Keterlibatan aktivis-aktivis Bonek dan masyarakat yang selama ini memerjuangkan Persebaya menjadi poin penting. Begitu juga keterlibatan para akademisi, seperti sejarawan, sosiolog dan praktisi hukum, baik secara langsung maupun tidak langsung ikut berperan serta memberikan pemikiraannya demi perjuangan dan kebaikan Persebaya. Saat ini, Persebaya telah kembali diakui dan dapat berkompetisi lagi di Liga Indonesia. Berjuang dari Liga Dua pun, Persebaya meraih juara. Ayo kita cintai klub ini bersama-sama. Kita dukung dengan penuh kebanggaan dan dengan cara yang terhormat dan baik pula.

 

*sebagian tulisan ini pernah dimuat di Surya, 3 April 2013 saat Persebaya dikeluarkan oleh PSSI dan tidak boleh ikut berkompetisi. Beberapa data dan pandangan ditambahkan dalam tulisan ini.