Nugroho Mardiyanto menempel ketat striker Persib, Hilton Moreira pada pertandingan lanjutan Liga Super Indonesia (LSI) 2009/2010 di Stadion Gelora 10 November Surabaya, 14 Februari 2010. (Dok. Pikiran Rakyat)

2005, ketika itu, anak muda asal Sidoarjo bernama Nugroho Mardiyanto mendapat satu kesempatan yang nantinya akan menjadi sebuah catatan manis perjalanan karirnya.

Ia berhasil memperoleh kepercayaan pelatih Persebaya saat itu, Jacksen F. Tiago untuk masuk ke squad senior setelah memperkuat Persebaya Junior di 2002 dan Surabaya Muda pada 2003.

Tercatat Cak Nug -sapaan Nugroho Mardiyanto- telah membela Persebaya Surabaya dari musim 2005 hingga 2010 dan dikenal sebagai pemain belakang dengan tipe lugas, keras, dan memiliki pressing ketat khas permainan tim arek Suroboyo. Di musim pertama Cak Nug mengenakan nomer punggung 25, sebelum ia akhirnya lebih dikenal sebagai pemain dengan langganan nomer 4 selama masa baktinya di squad Green Force.

“Ya sebetulnya waktu itu pengennya pakai nomer 4, tapi kan sebelumnya masih ada bang Yeyen (Tumena) yang pakai nomer itu, dan masih belum tau apa beliau masih akan bertahan dan pakai nomer 4 lagi, jadi ya saya memilih nomer yang tersedia. Saat itu saya cuma fokus main buat Persebaya, luar biasa bangga rasanya membela tim juara ujarnya menceritakan pengalamannya.

Cak Nug juga terbilang sangat beruntung karena bisa menimba ilmu dengan para seniornya saat itu yang termasuk jajaran pemain belakang terbaik Indonesia, sebut saja Bejo Sugiyantoro, Mursyid Effendi, dan Nova Ariyanto. “Saya banyak sekali belajar dari Kaji Bejo (Sugiyantoro) dan Abah Mung (Mursyid Effendi) di latihan. Mereka termasuk senior yang tidak pelit ilmu. Awalnya saya grogi pas dapat kesempatan masuk senior. Apalagi saya ingat Kaji Bejo orangnya gak banyak omong. Semua sungkan sama beliau, apalagi pemain muda. Kalau Abah Mung lebih cair di luar lapangan. Lebih grapyak dan sering guyon kenangnya.

Selain mendapat ‘didikan’ dari para seniornya, karakter permainannya tentu banyak dibentu oleh pelatih-pelatih hebat macam Jacksen F. Tiago, Freddy Muli, Danurwindo, Rudy Keltjes hingga Aji Santoso. Kalau pelatih yang paling berkesan ya om Freddy (Muli), dia gila fisik. Pemain dihajar habis-habisan soal fisik kalau sama dia. Tapi dari situ karakter ngeyel dan kuat kita terbentuk,pungkasnya.

Prestasi terbaiknya tentu ialah ketika ia berhasil membawa Persebaya Surabaya menjuarai Divisi 1 di musim 2006, sekaligus promosi ke Divisi Utama, kasta tertinggi di Liga Indonesia saat itu. Sukses selalu untuk karirmu, Cak Nug! (*)

Nb: Beberapa data diambil dari arsip Pemerhati Sejarah Persebaya