Tulisan ini pertama kalinya muncul di emosijiwaku.com.

Mengusung tagline kejayaan tahun 1988, Persebaya mendesain kostum pramusimnya seperti yang dikenakan pada era 80-an. Dengan tidak meninggalkan warna kebesaran hijaunya dengan sedikit kombinasi warna putih vertikal yang menghiasi baju tempur klub kebanggaan arek–arek Suroboyo itu. Sebenarnya Persebaya pernah mengeluarkan desain serupa namun dengan aksen garis putih horizontal. Seperti kostum yang digunakan Persebaya pada tahun 2011/12 pada perhelatan Indonesian Premier League.

Untuk material kostum Persebaya menggunakan bahan polyester, bahan model seperti ini memang sudah menjadi perkembangan di dunia kostum bola. Dengan karakteristik yang ringan bahan ini memang lebih cepat kering. Jadi pemain akan lebih merasa nyaman dalam memakainya.

Pada design dan pengaplikasian (sponsor dan sizing) Persebaya menggunakan metode sublime atau printing. Untuk ini sudah sering kita jumpai pada kostum–kostum kesebelasan Ligina. Selain biaya yang terjangkau ditambah mudah untuk fix and match-nya.

Untuk bagian collar atau kerah, manajemen menanggalkan desain lama (model polo) dengan memilih motif v-neck dengan memodifikasi sedikit dibagian pangkal pundak. Mungkin desain ini dimaksudkan agar punggawa Bajul Ijo lebih nyaman saat mengenakan kostum Persebaya. Ditambah untuk pemain dengan postur dada yang bidang akan terlihat sungguh matching karena bentuk dada akan terlihat. Namun sebaliknya untuk postur–postur pemain yang lain, nice try.

Pada bagian crest atau logo didada Persebaya menggunakan material polyflex print and cut. Pada material ini mepunyai kelebihan dan kekurangan. Dari segi fans untuk perawatan material ini cenderung lebih sulit dibanding woven atau sejenisnya. Namun sebagai peruntukan kostum sebagaimana mestinya, ini bisa membantu pemain merasa nyaman. Dalam arti sirkulasi keringat yang lebih mudah dan lebih ringan materialnya. (*)