Tulisan ini dimuat di Majalah Tempo edisi 27 Desember 2004. Kenangan Persebaya juara Liga Indonesia 2004.

BERKALI-KALI Jacksen Ferreira Tiago mengepalkan kedua tangannya sambil berlari di tengah Stadion Gelora 10 November Tambaksari, Surabaya. “Ini mukjizat…, ini mukjizat…,” teriaknya hampir tak terdengar, tenggelam oleh gemuruh sorak-sorai penonton. Begitulah pelatih Persebaya ini menumpahkan rasa bungah setelah anak asuhannya mampu menekuk Persija Jakarta 2-1 pada pertandingan terakhir Liga Indonesia, Kamis sore pekan lalu.

Kemenangan itu mengantar Persebaya menjadi juara Liga Indonesia 2004. Dengan nilai 61 yang dikumpulkan di ujung kompetisi, klub berjuluk Bajul Ijo itu tak tertandingi oleh dua pesaing beratnya, Persija dan PSM Makassar. Persija akhirnya hanya mengantongi total poin 60. PSM sebenarnya juga memiliki nilai 61 setelah mengalahkan PSMS Medan, juga dengan skor 2-1, pada hari yang sama. Tapi tim Juku Eja itu harus puas jadi runner-up karena kalah dalam selisih gol. PSM memasukkan 46 gol dan kemasukan 29, adapun Persebaya mampu menggelontorkan 55 gol dan hanya kebobolan 26 gol.

Sempat ditunda satu setengah jam karena lapangan Tambaksari diguyur hujan, pertarungan sore itu berlangsung sengit. Pada menit-menit awal, Bajul Ijo langsung menekan, dan strategi ini membuahkan hasil. Gawang Persija, yang dijaga Samsidar, bisa dijebol lewat tendangan keras penyerang Persebaya, Danilo Fernando, pada menit ke-9.

Buat mengejar ketertinggalan, Persija giliran terus-menerus menggedor pertahanan lawan. Upaya ini baru berhasil pada babak kedua, tepatnya menit ke-52. Umpan Gustavo Ortiz disapu dengan sembrono oleh pemain Persebaya, Mat Halil. Bola malah meluncur deras ke gawang Hendro Kartiko, dan gol. Tapi, dua menit kemudian, Persebaya mampu menjebol lagi gawang Persija lewat sundulan kepala Luciano de Souza.

Kendati sudah unggul lagi 2-1, Jacksen masih tampak cemas. Tak seperti pelatih Persija, Sergei Dubrovin, yang terlihat kalem, lelaki 36 tahun ini kerap menggigit ibu jari tangan kanannya. Itu karena Hendro Kartiko ditekan habis, terutama pada menit-menit terakhir. Dia baru benar-benar plong setelah wasit Aeng Suparlan meniupkan peluit panjang. Jacksen berhasil mengantarkan Persebaya menjadi juara.

Itu keberhasilan yang kedua kali bagi Jacksen. Ketika masih menjadi striker, orang Rio De Janeiro, Brasil, ini juga mampu membawa Bajul Ijo merebut juara liga pada 1997. Saat itu ia pun ter-catat sebagai penceplos gol terbanyak, 26 gol.

Ayah dua anak itu datang ke Indonesia sepuluh tahun silam. Mula-mula ia memperkuat Petrokimia Putra Gresik dan mampu membawa klub ini menjadi runner-up Liga Indonesia I. Sempat bergabung selama satu musim dengan PSM Makassar, akhirnya ia pindah ke Persebaya dan langsung menuai sukses pada 1997. Dan tujuh tahun kemudian ia pun sukses sebagai pelatih Persebaya.

Kunci keberhasilan Jacksen sebagai pelatih terletak pada kemampuannya dalam mendekati dan mengenal anak-anak asuhannya. Dia tak segan berdiskusi tentang banyak hal dengan para pemainnya, termasuk bagaimana membuat latihan yang lebih bervariasi dan menyenangkan. “Jacksen lebih tampak sebagai teman daripada pelatih,” ujar Leonardo Guiterrez, gelandang asal Cile yang selama dua musim terakhir memperkuat Persebaya.

Sentuhan itu ternyata mujarab. Sang pelatih mampu mengantar Persebaya menjadi klub pertama yang menjuarai Liga Indonesia untuk kedua kalinya. Padahal, beberapa pekan sebelumnya, sebenarnya PSM dan Persija yang berpeluang lebih besar karena poin yang mereka kumpulkan saat itu lebih banyak. Mungkin benar yang dibilang Jacksen, ini mukjizat. (*)