Apparel Reebok sempat menjadi sponsor tunggal pemasok perlengkapan seluruh tim Liga Indonesia pada musim 1998/99 dan 1999/00. Termasuk Persebaya tentunya yang kala itu menjadi salah satu tim yang sangat diperhitungkan untuk menjadi jawara, dengan squad bertabur bintangnya.

Sebut saja Hendro Kartiko, Musa Kallon, Aji Santoso, Reinold Pietersz, Bejo Sugiantoro, Mursid Efendi, Uston Nawawi, Anang Ma’ruf, dan sederet nama beken lainnya.

Tapi nyatanya, pada era itu, tepat di dua musim dengan apparel asal Inggris tersebut, menyisakan pula dua luka yang mendalam bagi Persebaya Surabaya dan pendukungnya.

Adalah ketika pertandingan final musim 1998/99, tepatnya pada 9 April 1999, secara mengejutkan dan menyakitkan Persebaya Surabaya yang bermaterikan pemain-pemain mewah malah dipaksa kalah melawan PSIS Semarang yang bermaterikan pemain-pemain yang tergolong biasa-biasa saja, berkat gol tunggal ‘Diego’ Tugiyo.

Jersey Persebaya musim 1999/00 milik Alm. Eri Iriyanto yang dipajang di museum piala di mess Eri Iriyanto, Karanggayam, Surabaya

Masih belum sembuh luka di final kala itu. Lagi-lagi pada Bulan April setahun berikutnya, tepatnya pada 3 April 2000, dan lagi-lagi juga ketika melawan tim dari Jawa Tengah, PSIM Yogyakarta. Salah seorang gelandang terbaik yang dimiliki Persebaya Surabaya dan Timnas Indonesia, Eri Iriyanto meregang nyawa setelah insiden benturan keras dengan pemain PSIM asal Gabon, Samson Kinga, di Stadion Gelora 10 Nopember Surabaya. Kini jersey Reebok yang terakhir kali dikenakan almarhum telah diabadikan di museum di mess Eri Iriyanto, Karanggayam Surabaya untuk mengenang kepergiannya.

Dua duka, dua luka yang mendalam bagi seluruh insan Persebaya Surabaya, yang dua-duanya dialami ketika mengenakan apparel Reebok. (*)