Ilustrasi: Arya

Bernama lengkap Antonio Carlos de Mello Machedo. Pria Brasil ini dilahirkan di Rio de Jainero, Brasil pada 10 April 1967. Ia tiba di Indonesia pertama kali pada musim kompetisi Liga Dunhill 1994-1995 bersama Petrokimia Putra Gresik dan tergabung bersama dua pemain asing lainnya. Yaitu Jacksen F. Tiago (Brazil) dan penjaga gawang stylish Darryl Sinnerine (Trinidad & Tobago). Bersama klub asal Kota Pudak, Gresik pemain tengah flamboyan ini membawa Petrokimia menjadi runner up Kompetisi Liga Dunhill I edisi 1994-95.

Pada kompetisi Liga Dunhill II musim 1995-96, Carlos de Mello bergabung dengan Mitra Surabaya, klub saudara muda dari Persebaya. Di tim yang dilatih oleh pelatih kawakan M. Basri ini prestasi terbaik Carlos de Mello adalah membawa Mitra Surabaya ke babak semifinal, sebelum akhirnya dikandaskan juara saat itu, Bandung Raya, melalui adu tendangan penalti. Andaikan tidak terjadi tragedi gas air mata di sela-sela pertandingan, bisa jadi Mitra Surabaya yang akan menghadapi Persebaya Surabaya di final. Dan terjadilah all Surabaya’s final. Andai…

Carlos de Mello sendiri rutin terpilih sebagai starter dalam pergelaran Perang Bintang Wilayah Timur vs Bintang Wilayah Barat yang saat itu rutin dilaksanakan oleh salah satu televisi swasta di Indonesia mulai tahun 1994 hingga 1995. Tak tanggung-tanggung, Carlos de Mello dua kali berturut-turut ikut dalam acara ini. Ini menandakan betapa masyarakat sepak bola Indonesia sangat mengidolakannya dan mengenal kemampuannya.

Pada musim Liga Kansas tahun 1996-1997, di bawah pimpinan Walikota Surabaya saat itu, Soenarto Sumoprawiro, Persebaya gencar melakukan perekrutan pemain bintang di berbagai lini. Salah satu yang direkrut saat itu adalah Carlos de Mello ini. Di Persebaya, sesuai permintaannya, Carlos mendapatkan nomor punggung 8.

Gelandang bergaya flamboyan ini mempunyai panggilan kesayangan dari para Bonek, yakni “Si Bebek”. Ini karena gaya bermainnya yang klemar-klemer (malas/lemas) dengan perut yang agak membuncit seperti “bebek”. Meskipun demikian, aksinya di Gelora 10 November Tambaksari selalu dinantikan para bonek. Umpan-umpannya betul-betul memanjakan lini serang Persebaya yang ketika itu dihuni oleh Jacksen F. Tigao dan Reinald Pieters.

Pelatih Persebaya waktu itu, Rusdy Bahalwan, meminta Carlos untuk selalu menservis secara maksimal lini depan Green Force. Salah satu hasilnya adalah kompatriotnya, Jacksen F. Tiago, penyerang utama Persebaya Surabaya saat itu, memperoleh gelar top scorer kompetisi dengan 26 gol.

Sepanjang karirnya di Indonesia, nama Carlos de Mello selalu dibandingkan dengan beberapa rekan sebangsanya yang memiliki level yang sama dengan dirinya. Sebut saja Luciano Leandro yang bersinar bersama PSM Makassar dan Persija Jakarta serta Jaldecir Jesus dos Santos atau yang akrab dipanggil Deca yang malang melintang di Indonesia bersama Mataram Indocement, PSS Sleman dan Persebaya di kemudian hari.

Selama berkarier di Indonesia, Carlos de Mello mampu mempersembahkan dua gelar juara untuk dua klub berbeda, yakni Persebaya pada Liga Kansas tahun 1996-1997 dan PSM Makassar pada kompetisi Liga Bank Mandiri musim kompetisi 1999-2000.  Pada tahun 2017 yang lalu, Carlos de Mello menjadi Pelatih Liga 2 Indonesia, yaitu PSGC Ciamis. (dpp)