Aleksandar Dimitrov Kostov atau Sasho – panggilan akrabnya – lahir di Sofia, Bulgaria pada 2 Maret 1938. Karier sepak bolanya dimulai pada klub Levski Sofia pada 1957. Posisi naturalnya adalah seorang penyerang. Pria Bulgaria ini juga memperkuat negaranya dalam dua event Piala Dunia, yakni Piala Dunia 1962 di Chili dan Piala Dunia 1966 di Inggris.

Sasho adalah pelatih asing pertama dalam sejarah Persebaya yang dikontrak untuk menghadapi Kompetisi Liga Dunhill II pada tahun 1995. Saat itu keran pemakaian pemain dan official asing bagi klub perserikatan baru dibuka. Sehingga Persebaya Surabaya bergerak cepat untuk mencari pelatih dan legiun asing.

Akhirnya setelah ditawari oleh agen pemain ISA pimpinan Angel Ionita, Persebaya Surabaya kepincut untuk mengontrak Aleksandar Dimitrov Kostov ini. Sasho dikontrak setahun untuk menangani tim Bajul Ijo berkompetisi di Liga Indonesia II tahun 1995-1996.

Di era kepelatihannya, direkrut pula trio pemain asing pertama yang memperkuat Green Force. Saat itu Persebaya merekrut pemain asing dari Eropa Timur, yaitu midfielder Plamen Iliev Kazakov asal Bulgaria, playmaker Antonic Dejan asal Serbia (ketika itu masih bernama Yugoslavia), dan striker Nadoveza Branko asal Montenegro (waktu itu masih bergabung bersama Yugoslavia). Sayang kinerja dua pemain asing yang disebut belakangan kurang menggembirakan. Akhirnya mereka pun harus dicoret dari tim. Bahkan, Branko dicoret sebelum putaran pertama usai.

Selama di menjadi pelatih kepala Persebaya Surabaya, Sasho dibantu oleh dua orang asisten pelatih, yakni Winarto dan A.A. Rae Bawa.

Pun di era Sasho inilah, Persebaya menjamu klub raksasa penghuni Eredivisie Liga Belanda, PSV Eindhoven, pada laga persahabatan yang dilaksanakan 6 Januari 1996 di Stadion Gelora 10 November Tambaksari, Surabaya. Pertandingan ini sendiri berakhir 2-6 untuk keunggulan tim tamu PSV Eindhoven. Dua gol Persebaya kala itu dicetak oleh duet ujung tombaknya, yakni Dodik Suprayogi pada menit ke-4 dan Arek Malang, Muhammad Ajid pada menit ke-63.

Selama membesut Persebaya Surabaya di Liga Indonesia II tahun 1995-1996, Sasho hanya mampu membawa Bajul Ijo finish di peringkat 7 dari 16 konstentan. Kemasukan 45 gol dan kebobolan 35 gol. Dengan catatan 12 kemenangan, 11 hasil seri, dan 7 kekalahan dengan jumlah poin 47. Hanya selisih 1 poin dari peringkat enam Putra Samarinda yang lolos ke babak enam besar ketika itu. Nyaris, bukan?

Satu catatan kecil saya adalah Sasho tak ragu menurunkan Bejo Sugiantoro yang saat itu baru berusia 18 tahun untuk mengawal lini belakang Persebaya sedari awal pertandingan. Beberapa taktiknya memang terlihat unik. Salah satunya adalah Sasho kerap memasang Bejo Sugiantoro sebagai pemain depan tatkala lini depannya mandul gol. Memang kecepatan, skill, dan ketangguhan ayah dari bek Persebaya 2017, Rachmat Irianto, saat itu amatlah prima. Dan hal ini pun berbuah manis. Beberapa kali arek Ngaglik ini mencetak gol-gol penting bagi Persebaya.

Ingat gol tendangan jarak jauh Bejo mengelabui kiper Persma Manado, Rudy Momot? Ketika itu Persebaya bermain imbang 2-2 ketika dijamu Persma Manado di Stadion Klabat, Manado. Gol ini adalah buah kecerdikan Sasho memainkan Bejo sebagai pemain depan. Disaat pemain depan Persebaya dirasakan tumpul.

Dahulu, penerjemah Sasho didatangkan dari CCCL (Pusat Kebudayaan Perancis) yang berpusat di Jl. Darmokali, Surabaya. Karena Sasho ini tidak begitu fasih berbahasa Inggris. Dia hanya fasih berbahasa Prancis, selain bahasa Bulgaria tentunya. Kini CCCL ini bertransformasi menjadi IFI Surabaya dan berkantor di Gedung AJBS Jl. Ratna, Surabaya.

Di usianya yang senja, Sasho masih tercatat sebagai pemandu bakat klub awal di mana Sasho memulai karier sepak bolanya, yaitu klub Levski Sofia, Bulgaria. (dpp)

*Disarikan dari buku Persebaya And Them : Jejak Legiun Asing Tim Bajul Ijo.